Edisi 15 Agustus 2016

  • Rio 2016
    Angka

    Rio 2016

    Sejak Olimpiade modern digelar untuk pertama kalinya di Athena, 120 tahun lalu, baru kali ini multievent adu ketangkasan dan ketahanan raga itu berlangsung di Amerika Selatan.

  • Penyair yang Dimakan Semangat Zaman
    Laporan Khusus

    Penyair yang Dimakan Semangat Zaman

    TIGA tahun masa pendudukan Jepang di Indonesia menciptakan sejumlah situasi yang menyedihkan. Misalnya, keharusan bagi pribumi menjadi romusha, berbagai bentuk kekerasan militer Jepang, dan kondisi ekonomi yang berantakan. Tapi, di sisi lain, pendudukan Jepang juga memunculkan sema­ngat anti-kolonialisme Barat.

    Berkobarnya gairah anti-Barat tak lepas dari konsep Asia Timur Raya yang terus dipompakan Jepang. Melalui konsep ini, Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda di institusi pendidikan dan percakapan sehari-hari. Hanya bahasa Indonesia dan Jepang yang diizinkan. Komisi Istilah dibentuk kala itu. Komisi ini diketuai Sutan Takdir Alisjahbana dan diisi sejumlah sastrawan, pujangga, serta penyair pribumi. Istilah-istilah Belanda diindonesiakan di sana. Boleh dibilang, Jepang memberi kesempatan kepada bahasa Indonesia untuk berkembang, baik di bidang akademis maupun sastra.

  • Chairil Yang Bikin Baper Tapi Keren
    Laporan Khusus

    Chairil Yang Bikin Baper Tapi Keren

    CHAIRIL Anwar adalah penyair yang namanya paling dikenal, kisah hidupnya paling menarik perhatian, buku puisinya paling sering dicetak ulang, dan hari kematiannya dimuliakan. Ia pun penyair yang larik puisinya paling sering dikutip dan dijadikan semacam aforisma, misalnya ”Sekali berarti, sudah itu mati”, ”Nasib adalah kesunyian masing-masing”, ”Mampus kau dikoyak-koyak sepi”, ”Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar”, dan ”Hidup hanya menunda kekalahan”.

    Sudah begitu banyak pembicaraan mengenai penyair pelopor Angkatan 45 tersebut sehingga menulis lagi tentangnya mungkin akan merupakan pengulangan yang membosankan. Salah satu ulasan terbaik tentang Chairil dan karyanya adalah tulisan Sapardi Djoko Damono, ”Chairil Anwar Kita”, yang dimuat sebagai kata penutup untuk buku kumpulan puisi Chairil, Aku Ini Binatang Jalang (Gramedia, cetakan pertama 1986). Pada bagian akhir tulisannya, Sapardi mengatakan, ”Sebagian besar sajak Chairil Anwar mungkin sekali sudah merupakan masa lampau, yang tidak cukup pantas diteladani para sastrawan sesudahnya. Namun, beberapa sajaknya yang terbaik menunjukkan bahwa ia telah bergerak begitu cepat ke depan, sehingga bahkan bagi banyak penyair masa kini taraf sajak-sajaknya tersebut bukan merupakan masa lampau tetapi masa depan, yang mungkin hanya bisa dicapai dengan bakat, semangat, dan kecerdasan yang tinggi.”

  • Chairil, Aku, dan Sjuman djaya
    Laporan Khusus

    Chairil, Aku, dan Sjuman djaya

    Skenario ini dapat menangkap roh sang penyair. Riwayat hidup Chairil Anwar disuguhkan dengan begitu hidup, berjiwa, dan mendetail.

  • Patung-patung Sang Penyair
    Laporan Khusus

    Patung-patung Sang Penyair

    Selain di kawasan taman Monas dan Sekolah Taman Siswa, Jakarta, patung Chairil Anwar ternyata ada di Malang, Jawa Timur. Masih dipertanyakan apakah Chairil pernah singgah di sana pada 1947.

  • Rokok dan Pose Sadar Gaya
    Laporan Khusus

    Rokok dan Pose Sadar Gaya

    Foto dengan pose merokok adalah potret terpo­puler Chairil Anwar. Siapa pemotretnya? Perupa Agus Suwage pun terinspirasi.

  • Si Binatang Jalang dan Paus Sastra
    Laporan Khusus

    Si Binatang Jalang dan Paus Sastra

    Hans Bague Jassin sedang membaca naskah di ruang redaksi majalah Panji Pustaka pada suatu siang di tahun 1943 ketika seorang pemuda ceking bermata merah dengan rambut awut-awutan menyodorkan sebuah sajak berjudul ”Nisan”. Terpukau oleh sajak tersebut, Jassin kemudian mengajak pemuda yang tak lain Chairil Anwar itu mengobrol.

    Chairil, yang dikenal Jassin semasa di Medan, kemudian menunjukkan sajak-sajaknya yang lain. Jassin mengusulkan puisi tersebut dimuat. Tapi Armijn Pane, Pemimpin Redaksi Panji Pustaka, menolaknya karena melihat karya Chairil terlampau menonjolkan individualisme. Armijn khawatir majalahnya kena sensor karena saat itu Jepang sedang mengkampanyekan slogan kebersamaan Asia Raya. ”Ini sangat disayangkan. Saya merasa sajak Chairil perlu diketahui publik,” kata Jassin dalam wawancara dengan Tempo pada 1989.

  • Suara dari Dalam Kubur
    Laporan Khusus

    Suara dari Dalam Kubur

    Setelah kematiannya, Chairil Anwar dipuja sekaligus dicerca dengan tuduhan plagiat. Simbol Angkatan 45.

  • Setangkai Kemboja di Petak 7827
    Laporan Khusus

    Setangkai Kemboja di Petak 7827

    JIRAT setinggi 120 sentimeter itu menjulang di tengah Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. Bentuknya seperti pena yang terbuat dari marmer berwarna putih. Pada batangnya terukir sepenggal bait sajak: ”Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang.”

    Nisan tersebut menjadi penanda kuburan Chairil Anwar. Di bagian bawah bait puisi tertera nama ”Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45”.

  • Makam Terlupakan dan Sebuah Ikon
    Laporan Khusus

    Makam Terlupakan dan Sebuah Ikon

    Menjelang usia 27 Tahun, Chairil Anwar berpulang. Meski makamnya di Karet sekarang tak banyak disambangi orang, sampai kini suaranya tetap terdengar dari dalam kubur. Setelah mati, ia menjadi ikon. Ia ditabalkan H.B. Jassin sebagai tokoh sentral Angkatan 45. patungnya dibuat di sebuah kota. Seorang sutradara ingin memfilmkan kisahnya. Seorang perupa kontemporer juga terilhami sebuah potret legendarisnya.

  • Corat-coret di Tiga Buklet
    Laporan Khusus

    Corat-coret di Tiga Buklet

    Chairil menitipkan banyak manuskrip kepada H.B. Jassin. Inilah puisi-puisinya yang belum pernah dipublikasikan.

  • Bersua Lewat Buku Sastra
    Laporan Khusus

    Bersua Lewat Buku Sastra

    Dari sebuah foto di buku, Evawani berkenalan dengan Chairil untuk pertama kali.

  • Fragmen Cinta Penyair Ahasveros
    Laporan Khusus

    Fragmen Cinta Penyair Ahasveros

    Kisah gelora asmara Chairil Anwar tertuang dalam banyak sajak. Namun semua cinta terampas darinya.

  • Di Balik 'Krawang-Bekasi'
    Laporan Khusus

    Di Balik 'Krawang-Bekasi'

    PADA November 1945, Perdana Menteri Sjahrir memerintahkan semua personel Tentara Keamanan Rakyat dan badan-badan perjuangan keluar dari Kota Jakarta. Maklum, tentara Sekutu-Inggris dan Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) yang masih bercokol kerap digempur pasukan Indonesia. Padahal ibu kota akan dijadikan kawasan diplomasi.

    Maka tentara Indonesia pun hijrah dan mengambil posisi di pinggiran Jakarta, seperti Cakung, Kranji, Pondok Gede, Bekasi, Tambun, Cikarang, Cibarusah, Karawang, dan Cikampek. Rupanya, keluarnya tentara ini juga diikuti sebagian aparat pemerintahan sipil, pedagang, wartawan, sastrawan, fotografer, hingga seniman—termasuk Chairil Anwar.

  • Yang Patriot, yang Eros, dan yang Belum Rampung
    Laporan Khusus

    Yang Patriot, yang Eros, dan yang Belum Rampung

    PEREMPUAN dan revolusi, dua tema itu senantiasa menggoda Chairil Anwar. Di tengah gelegak pertempuran dan diplomasi, ia tampil dengan sajak-sajaknya yang patriotik. Sajak ”Diponegoro”, misalnya, sangat populer hingga kini. Chairil juga masyhur dengan puisi cinta yang ditujukan kepada beberapa wanita. Siapa saja wanita Chairil? sejauh mana hubungan mereka? Ternyata Chairil juga menyisakan sejumlah sajak yang belum selesai ditulis. Adakah itu sajak asmara atau sajak yang merefleksikan kancah peperangan?

  • Berguru kepada Mentor dari Timur
    Laporan Khusus

    Berguru kepada Mentor dari Timur

    Chairil Anwar menulis dua sajak untuk Laurens Koster Bohang. Sahabat, abang, sekaligus guru yang mempengaruhi pemikiran dan karya-karyanya.

  • Chairil dalam Sepotong Terpal Becak
    Laporan Khusus

    Chairil dalam Sepotong Terpal Becak

    LUKISAN bergaya ekspresionis itu terpajang di salah satu dinding galeri pribadi Chris Darmawan, kolektor sekaligus pemilik Galeri Semarang, di kediamannya di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Lukisan berukuran 79 x 96 sentimeter itu terlihat buram. Warna gelap mendominasi lukisan berpigura kayu itu. Cukup sulit menangkap gambaran kepala kuda dan surainya. Yang terlihat cukup jelas adalah figur seorang lelaki dengan pakaian setelan berwarna putih, juga sepasang betis perempuan yang berkulit terang. Itulah karya Affandi berjudul Chairil Anwar, yang dilukis menjelang kematian sang penyair.

    Lukisan itu menggambarkan Chairil Anwar di mata sang sahabat, Affandi. Karya tersebut menggambarkan pemuda Chairil yang konon mempunyai semangat bagai seekor kuda, sedangkan betis perempuan menyimbolkan kekuatan sekaligus kelemahan Chairil terhadap perempuan.

  • Di Pusaran Pelukis Rakyat
    Laporan Khusus

    Di Pusaran Pelukis Rakyat

    Dia tak hanya bergerak di antara penyair, tapi juga pelukis. Menelusup di hampir semua pelukis rakyat.

  • Bukan Orang Kantoran
    Laporan Khusus

    Bukan Orang Kantoran

    Chairil Anwar pernah bekerja secara formal sebagai pegawai di sejumlah kantor dan media massa. Bukan dunianya, ia hanya bertahan tiga bulan.

  • Lontang-Lantung di Batavia
    Laporan Khusus

    Lontang-Lantung di Batavia

    Pada zaman pendudukan Jepang, hidup semakin sulit. Untuk bertahan, Chairil mencuri, menjual barang kawannya tanpa memberi tahu pemiliknya.

  • Bohemian Pertama Jakarta
    Laporan Khusus

    Bohemian Pertama Jakarta

    Pada 1942, Chairil Anwar pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, Saleha, karena berpisah dengan ayahnya, Toeloes, yang menikah lagi. Di Jakarta ia miskin bahkan telantar. Ia menggelandang dari satu tempat ke tempat lain. Untuk bertahan hidup, ia sering mencuri kecil-kecilan. Namun di ”kampung besar” ini pula Chairil ditempa. Intelektualitasnya berkembang. Bacaannya bertambah banyak. Wawasannya semakin luas.

  • Eksekusi Mati Sang Bupati
    Laporan Khusus

    Eksekusi Mati Sang Bupati

    Toeloes bin Manan, ayah Chairil Anwar, tewas dibunuh tentara Belanda. Mayatnya dibuang ke sungai.

  • Pustaka Impian Taeh Baruah
    Laporan Khusus

    Pustaka Impian Taeh Baruah

    Chairil Anwar pernah menulis puisi di gubuk bekas surau di kampung halaman ayahnya. Rencana pembangunan gedung pustaka tak kunjung jadi kenyataan.

  • Nini Mengingat Ninik
    Laporan Khusus

    Nini Mengingat Ninik

    DI usianya yang ke-78, Nini Toeraiza Toeloes sudah lupa banyak hal. Termasuk tanggal lahirnya sendiri. Tapi ada satu peristiwa yang tak hilang dari ingatan Nini, yakni pemberian nama depannya. Dari ayahnya, Nini tahu nama depannya baru ditambahkan setelah kedatangan seorang Ninik.

    Bang Nik—begitu Nini dulu memanggilnya—tak lain adalah Chairil Anwar. Air mata Nini merebak ketika Tempo menyebut nama penyair itu pada pertemuan dua pekan lalu di rumahnya di Jalan Bangka Buntu, Jakarta Selatan. ”Dia abangku. Dia yang kasih namaku,” kata perempuan itu dengan bibir bergetar.

  • Yang Tertinggal dan yang Hambus
    Laporan Khusus

    Yang Tertinggal dan yang Hambus

    Akar kepenyairan Chairil dapat ditelusuri di Medan. Sebagian besar telah hilang.

  • Medan, Sastra, dan Tragedi Keluarga
    Laporan Khusus

    Medan, Sastra, dan Tragedi Keluarga

    KEDUA orang tua Chairil Anwar berasal dari kalangan kelas atas. Ayahnya, Toeloes bin Manan, seorang controleur, pegawai tinggi di era kolonial Belanda. Ibunya, Saleha, putri bangsawan Koto Gadang, Sumatera Barat, yang punya pertalian saudara dengan ayah Sutan Sjahrir—perdana menteri pertama Indonesia. Kedua orang tua Chairil bercerai dan ayahnya menikah dengan perempuan lain.

  • Si mata merah yang Ingin Hidup 1.000 Tahun
    Laporan Khusus

    Si mata merah yang Ingin Hidup 1.000 Tahun

    Dalam sebuah sajaknya, Chairil Anwar menyebut dirinya ”Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”. Lalu, dalam sajaknya yang lain, Chairil juga menulis optimistis: ”Aku mau hidup seribu tahun lagi!”. Namun, pada tahun terakhir menjelang kematiannya, dia sadar, hidup yang diinginkannya serba mustahil: ”Hidup hanya menunda kekalahan… sebelum pada akhirnya kita menyerah.”

    Enam puluh tujuh tahun sudah Chairil meninggalkan kita. Ia meninggal pada 1949 di usia relatif muda: 27 tahun. Ia menderita. Penuh paradoks. Tapi dari kemiskinan penyair kurus berwajah tirus dengan mata merah ini lahir sajak-sajak yang memperkaya bahasa Indonesia. Chairil menjadi sebuah ikon. Riwayat hidup dan puisi-puisinya memperkaya kita semua. Ia adalah perwujudan sepenuhnya dari pepatah Ars longa, vita brevis. Hidup itu singkat, seni itu abadi.

  • Percaya Kesaksian Freddy Budiman
    Indikator

    Percaya Kesaksian Freddy Budiman

    KEPALA Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian cemas akan tingkat kepercayaan publik yang semakin ambruk terhadap korps kepolisian. Dia merujuk pada informasi yang ditulis Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar tentang pengakuan persekongkolan Freddy Budiman dengan aparat, termasuk polisi, untuk bisa mengimpor dan mengedarkan narkotik di Indonesia.

    Menurut Tito, informasi Haris sebenarnya masih sumir karena tidak menyebut pelaku dan waktu kejadian. ”Tapi siapa yang lebih dipercaya? Tentu pihak Haris,” katanya di Denpasar, Rabu pekan lalu.

  • Chairil
    Kartun

    Chairil

    Menyambut perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2016, Tempo menulis laporan khusus tentang sosok penyair Chairil Anwar. Pada Tempo edisi 1 Februari 1986, Goenawan Mohamad menulis Catatan Pinggir dengan judul ­”Chairil”. Berikut ini Catatan Pinggir itu.

    SEANDAINYA Chairil Anwar hidup hari ini, mungkin lebih baik ia tak menulis sajak. Indonesia di tahun 1986 tak sama dengan Indonesia di awal 40-an. Tentu, saya sendiri tak tahu persis bagaimana tanah air menjelang 1945. Tapi mungkin kita bisa membayangkannya: suatu masa ketika pikiran besar dan kecil telah ramai bergulat. Harapan-harapan, untuk sebuah negeri yang bebas, mekar. Pemikir dan penyair sibuk, juga asyik.

  • Keberatan Artikel Jaring Laba-laba
    Surat

    Keberatan Artikel Jaring Laba-laba

    MAJALAH Tempo edisi 1-7 Agustus 2016 di halaman 68-70 memuat artikel berjudul ”Jaring Laba-laba di Jalur Pantura”. Isi artikel tersebut adalah reportase hasil wawancara Tempo dengan Saudara Kris Suyanto, Presiden Direktur PT Katama Suryabumi.

    Disebutkan bahwa Saudara Kris Suyanto adalah pemegang hak paten teknologi fondasi Jaring Laba-laba (Jalla), tapi apa yang disampaikan sebenarnya adalah prestasi dari Konstruksi Sarang Laba-laba (KSLL).

  • ORASI ILMIAH<br /><B>Nurheni Wijayanto, Bambang Sapta Purwoko, Siswadi</B>
    Album

    ORASI ILMIAHNurheni Wijayanto, Bambang Sapta Purwoko, Siswadi

    TIGA guru besar Institut Pertanian Bogor ini membacakan orasi ilmiah di hadapan senat IPB pada Sabtu dua pekan lalu. Nurheni, guru besar Fakultas Kehutanan, membawakan orasi sistem agroforestri yang menjadi masa depan pengelolaan hutan produksi. Profesor Bambang tentang pengembangan teknik kultur antera dan aplikasinya pada percepatan pemuliaan tanaman padi di Indonesia. Sedangkan Profesor Siswadi menyoroti peran analisis Procrustes, serangkaian ukuran matematika yang berfungsi menganalisis distribusi dalam pengambilan keputusan.

  • Demi Performa Optimal
    Etalase

    Demi Performa Optimal

    OLIMPIADE bukan hanya ajang unjuk kebolehan para atlet. Perhelatan ini juga merupakan arena bagi pabrikan perlengkapan olahraga untuk memamerkan produk terbarunya. Selain memberikan kenyamanan saat dipakai, inovasi perlengkapan dan kostum ditujukan untuk menggenjot performa olahragawan. Berikut ini beberapa kostum baru yang dikenakan olahragawan papan atas di Rio de Janeiro, brasil.

  • Neng Mungil Menjaga Tradisi Medali
    Olahraga

    Neng Mungil Menjaga Tradisi Medali

    Cabang angkat besi meraih dua medali perak di Olimpiade. Buah dari pembinaan sistematis dan berkelanjutan.

  • Loyo karena Ponsel
    Kesehatan

    Loyo karena Ponsel

    Paparan radiasi ponsel membuat kualitas sperma menurun. Disarankan tak terlalu sering mengantongi ponsel di saku celana.

  • Batik...
    Catatan Pinggir

    Batik...

    Di pakaian seragam para atlet untuk Olimpiade di Rio, di restoran Indonesia di Amsterdam, di ruang tamu para pejabat di Jakarta, di tas cendera mata konferensi internasional di Bali, ”Indonesia” adalah batik, ukiran garuda, kain songket.... Hiasan-hiasan yang tak lagi jadi pemanis, tapi penanda.

    Dalam sejarahnya, penanda itu lama-kelamaan mengeras, membeku, memberati. Perannya sebagai ornamen hilang; ia bisa ditampilkan dengan selera estetik yang minimal dan dorongan komunikatif yang maksimal. Dalam perkembangannya, gambar ”garuda” harus dibuat sesuai dengan standar, sesuai dengan kelaziman, agar mudah dipahami, meskipun bentuknya kaku. Ia bukan lagi karya desain. Ia pesan ideologis. Umumnya didukung kekuasaan, ia diulang-ulangi sebagai mantra visual. Ia kegemaran para pejabat yang cemas bila melihat apa saja yang baru dan tak biasa. Ia, penanda yang membeku itu, dijaga para birokrat, makhluk yang hidup dengan s.o.p.

  • Berkat
    Bahasa

    Berkat

    Orang-orang biasa mengingat adegan dalam peristiwa 17 Agustus 1945: Sukarno membaca teks proklamasi. Adegan itu dianggap paling bersejarah di Indonesia. Sukarno berpakaian rapi dan berpeci, berdiri di depan alat pelantang suara. Di buku tebal berjudul Dibawah Bendera Revolusi (1965), pembaca disuguhi adegan lanjutan: Sukarno mengangkat kedua tangan sedang berdoa. Gambar itu jarang diingatkan untuk mengenang 17 Agustus 1945. Apa isi doa Sukarno? Kita menduga isi doa sesuai dengan kalimat terakhir dalam pidato setelah pembacaan teks proklamasi. Sukarno berkata, ”Insja Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita!”

    Kita diajak mengerti berkat sebagai ungkapan pilihan dalam peristiwa bersejarah. Ungkapan itu berasal dari bahasa Arab, masuk kamus bahasa Jawa, Melayu, dan Indonesia. Raden Sasrasoeganda dalam Baoesastra Melajoe-Djawa (1916) mengartikan berkat sebagai ”sawab betjik” atau ”pangestoe”. Kita simak juga Kitab Arti Logat Melajoe (1940) susunan D. Iken dan E. Harahap. Berkat berarti ”selamat, sentosa, sempena”, Di Kamoes Indonesia (1942) garapan E. St. Harahap, berkat diartikan ”toeah, kekoeasaan, chasiat”. Sukarno mungkin telah memahami pelbagai arti berkat di kamus-kamus sebelum menggunakannya dalam tulisan dan pidato.

  • Bisnis Ilegal Pasti Merapat ke Aparat Keamanan
    Wawancara

    Bisnis Ilegal Pasti Merapat ke Aparat Keamanan

    Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo membentuk tim investigasi untuk menelusuri pengakuan terpidana mati perkara narkotik, Freddy Budiman, yang mengatakan ada keterlibatan jenderal TNI bintang dua dalam bisnis haram Freddy. Pengakuan Freddy itu disampaikan kepada Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakambangan, Jawa Tengah, pada 2014.

    Haris menuliskan pengakuan Freddy itu di media sosial beberapa waktu lalu. Buntutnya, Tentara Nasional Indonesia dan Badan Narkotika Nasional melaporkan Haris ke polisi. ”Kami minta polisi memberi informasi yang fokus terhadap bintang dua itu, lalu kita lakukan cek silang bersama-sama. Kalau ada terdakwa, ya, alhamdulillah. Saya ingin bersih-bersih,” kata Gatot.

  • Masa Depan Daya Saing Indonesia
    Kolom

    Masa Depan Daya Saing Indonesia

    Reshuffle kabinet kembali terjadi pada 27 Juli lalu. Kali ini pos menteri dan kepala badan yang terkait langsung dengan daya saing ekonomi, yakni perdagangan, perindustrian, dan investasi, mengalami perubahan. Ini adalah momen yang tepat untuk kembali mengingat bahwa peningkatan daya saing memang bersifat jangka panjang tapi harus dipikirkan sejak sekarang.

    Kali ini tantangannya cukup berat karena ekonomi Cina diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan dari 6,9 persen tahun lalu ke 6,5 persen tahun ini (Dana Moneter Internasional/IMF 2016). Besarnya proporsi Cina terhadap ekonomi dunia dan tingginya peran industri Tiongkok dalam 15 tahun terakhir membuat ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh sedikit dari 3,1 persen pada 2015 ke 3,2 persen tahun ini. Kelesuan ekonomi Cina dan dunia tentu berdampak pada Indonesia sehingga kita diperkirakan hanya tumbuh sedikit dari 4,8 persen (2015) menjadi sekitar 5 persen (2016).

  • Salah  Sebut  Pegawai
    Pokok dan Tokoh

    Salah Sebut Pegawai

    SEPEKAN setelah dilantik menjadi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo mengaku belum beradaptasi dengan jabatan barunya. Dia menyebut anggota staf di kementeriannya dengan karyawan dan direktur jenderal dengan direksi. ”Saya masih belum on kalau saya sudah jadi menteri,” kata Eko di kantor Tempo, Kamis dua pekan lalu.

    Eko, yang berlatar belakang korporasi, mengatakan hal itu masih terjadi saat dia memimpin rapat di kantor barunya. Pria kelahiran Jakarta, 21 Mei 1965, ini bahkan pernah menyebut Istana dengan kantor. ”Dalam sebuah rapat, saya masih sebut karyawan-karyawan,” ujarnya.

  • Tak Mau Gila  Jabatan
    Pokok dan Tokoh

    Tak Mau Gila Jabatan

    Keinginan Rizal Ramli, 61 tahun, untuk beristirahat dan membaca buku yang menumpuk di kamarnya tak terkabul. Setelah tak menjadi menteri lagi, ia justru sibuk menerima tamu. ”Maunya saya istirahat dulu sehabis kerja keras setahun lebih, jalan-jalan, dengar musik, dan membaca buku,” kata Rizal saat ditemui Tempo di kantornya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis dua pekan lalu.

    Sehari setelah perombakan kabinet pada 27 Juli lalu, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman itu kebanjiran tamu. Menurut Rizal, hampir semua tamu yang datang ke kantor dan rumahnya itu punya niat sama, yaitu mendukung dia mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. ”Yang datang itu nelayan, mahasiswa, aktivis partai, rakyat biasa. Semuanya menyatakan simpati dan mengutarakan kekecewaannya,” ujarnya.

  • Pengalaman Pertama
    Pokok dan Tokoh

    Pengalaman Pertama

    Jero Happy Salma Wanasari, 36 tahun, harus bekerja keras untuk mempersiapkan diri tampil dalam pementasan teater Bunga Penutup Abad di Gedung Kesenian Jakarta, 25-27 Agustus nanti. ”Makin deg-degan dan masih terus berlatih. Pekan ini sudah mulai latihan intensif dan lepas naskah,” ujar Happy ketika dihubungi Tempo, Selasa pekan lalu.

    Happy, yang selama ini tinggal di Bali, pun rela mengungsi sementara ke rumahnya di Jakarta. Ia memboyong serta putrinya yang berusia setahun, Tjokorda Sri Kinandari Kerthyasa. Biasanya, ia berkunjung ke Jakarta sebulan sekali.

  • Annie dari South Carolina
    Layar

    Annie dari South Carolina

    Heidi Gray tidak lulus dalam seleksi pertama audisi pemeranan Annie. Tapi ia pantang menyerah.

  • Nyanyian Annie dan Tuan Roosevelt
    Layar

    Nyanyian Annie dan Tuan Roosevelt

    Annie merupakan drama musikal berlatar Amerika tatkala pada 1930-an mengalami resesi ekonomi. Annie adalah sosok gadis yatim-piatu berumur 11 tahun yang suka kabur dari panti asuhan untuk mencari orang tuanya. Ia kemudian diadopsi seorang jutawan yang mempertemukannya dengan Presiden Roosevelt.

    Dipentaskan di Jakarta, dengan sutradara yang sama saat Annie pertama kali pada 1970-an dipentaskan di Broadway dan mendulang sukses besar, tontonan ini menghangatkan hati. Annie menyebarkan pesan optimisme: besok akan lebih baik daripada hari ini. Tomorrow, tomorrow, you're always a day away.

  • Dua Dekade Setelah Dolly Lahir
    Ilmu dan Teknologi

    Dua Dekade Setelah Dolly Lahir

    Dolly hidup pendek lantaran sakit-sakitan dan mengalami penuaan dini. Hasil kloning ulang dari DNA yang sama memiliki harapan hidup lebih panjang.

  • Tyo, Sukarno, dan Pancasila
    Film

    Tyo, Sukarno, dan Pancasila

    Selama 70 menit, Tyo Pakusadewo memerankan Sukarno yang tengah berpidato. Rekonstruksi sejarah lahirnya Pancasila.

  • Gunting Tajam Sri Mulyani
    Opini

    Gunting Tajam Sri Mulyani

    Menteri Keuangan Sri Mulyani mengusulkan pemangkasan anggaran belanja Rp 133,8 triliun. Pusat dan daerah ikut menanggung.

  • Koruptor Tak Perlu Belas Kasihan
    Opini

    Koruptor Tak Perlu Belas Kasihan

    Syarat peringanan hukuman bagi koruptor hendak diperlunak. Menyepelekan persoalan korupsi.

  • Ide Serampangan Menteri Muhadjir
    Opini

    Ide Serampangan Menteri Muhadjir

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy melontarkan ide ”sekolah seharian”. Tanpa kajian, gagasan ini hanya bikin gaduh.

  • Chairil, Yang Tetap Hidup
    Opini

    Chairil, Yang Tetap Hidup

    SETIAP tahun, dalam perayaan tujuh belas agustusan, kita selalu membutuhkan Chairil yang ­urakan, kurang ajar, tapi melahirkan karya-karya yang cemerlang dan segar. Dari Meulaboh sampai Merauke, sajak-sajak Chairil dibacakan. Chairil seperti bagian dari bangsa Indonesia yang pernah ada, dan terus dirindukan.

    Chairil hidup dan berkarya tatkala nasionalisme bangsa ini bergolak, dan harapan akan kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang kemudian berlanjut dengan perjuangan bersenjata melawan Agresi Militer Belanda I dan II. Dalam suasana revolusioner ini, di antara perang dan gagasan-gagasan besar dan bebas, Chairil yang memberontak terhadap segala yang mapan itu tampak seperti alternatif dalam setiap perjalanan bangsa di kemudian hari.

  • Rongsokan Penghasil Setrum
    Inovasi

    Rongsokan Penghasil Setrum

    NAMA lengkap alat ini Established Self-Sustain­able Alternative So­urce of Energy for Society from Salt Water and Using Reused Materials. Disingkat menjadi Edula. Penghasil listrik ini terbuat dari dua jenis limbah logam, yakni pelat tembaga dan lembaran aluminium.

    Pencipta Edula adalah lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Tiga berasal dari Jurusan Teknik Kimia, yakni Faqih Nurfajrin, Ika Novita S., dan M. Shokhibul Izza. Dua lagi Yulisyah Putri Daulay dari Teknik Industri dan Muhammad Nabil Satria Faradis dari Teknik Mesin. Mereka dibimbing Himawan Tri Bayu Murti Petrus dari Center of Advanced Materials and Mineral Pro­cessing UGM.

  • Momen
    Nasional

    Momen

    TUJUH partai politik bersepakat berkoalisi melawan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Ketujuh partai ini bakal mengusung satu pasangan calon untuk menandingi Basuki, yang telah diusung tiga partai politik, yaitu Partai Golkar, NasDem, dan Hanura. ”Semangat dari semua partai bisa membawa calon yang head-to-head dengan Ahok,” kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jakarta Gembong Warsono, Senin pekan lalu.

    Tujuh partai penantang Ahok—panggilan Basuki—adalah PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, dan Partai Amanat Nasional. Meski bersepakat melawan Basuki, mereka belum memutuskan calon yang diusung. Mereka telah memutuskan tujuh kriteria calon Gubernur DKI Jakarta, yakni arif, beradab, bijaksana, santun, beretika, bersih, dan cerdas.

  • Napas Baru Pengembang Pulau G
    Nasional

    Napas Baru Pengembang Pulau G

    Luhut Binsar Pandjaitan membuka peluang melanjutkan proyek reklamasi Pulau G. Potensi kerusakan lingkungan menjadi catatan penting.

  • Posisi Baru Mantan Ajudan
    Nasional

    Posisi Baru Mantan Ajudan

    Komisaris Jenderal Syafruddin disebut-sebut calon kuat Wakil Kepala Kepolisian RI. Menunggu Budi Gunawan pindah posisi.

  • Ini Tuduhan Gila
    Nasional

    Ini Tuduhan Gila

    Direktur Pembangunan Sarana dan Prasarana Desa Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Gunalan, menyangkal pernah membuat proyek fiktif dan menerima setoran dari pejabat daerah. Dalam wawancara dengan Prihandoko dari Tempo pada Rabu pekan lalu, dia mengaku sudah menjelaskan semua tuduhan kepada atasannya.

  • Main Proyek Pejabat Lama
    Nasional

    Main Proyek Pejabat Lama

    Seorang pejabat di Kementerian Desa terindikasi memainkan sejumlah proyek dan menerima komisi di muka. Ada bukti pengiriman uang.

  • Ketika Gonggong Menyasar Marina
    Nasional

    Ketika Gonggong Menyasar Marina

    Enam orang ditangkap karena dicurigai menyiapkan serangan teror di Batam dan Singapura. Terhubung dengan Bahrun Naim.

  • Momen
    Internasional

    Momen

    Kebakaran hebat melanda kawasan selatan Prancis dan Portugal, Rabu malam pekan lalu. Sedikitnya empat orang tewas, puluhan rumah hangus, serta ribuan penduduk, termasuk turis, diungsikan akibat amukan si jago merah.

    Di Prancis, beberapa titik api bergabung, membentuk kolom api dan merembet ke kota pelabuhan Marseille di tepi Laut Mediterania. Ratusan kilometer ke arah barat, api menyapu Funchal, ibu kota Pulau Madeira, di Portugal.

  • Berdemokrasi Gaya Tentara
    Internasional

    Berdemokrasi Gaya Tentara

    Rakyat Thailand setuju terhadap konstitusi yang disponsori militer. Pemilih kurang pengetahuan tentang apa saja yang hilang dan berbagai kelemahan yang ada.

  • Kebijakan Koboi Perangi Narkotik
    Internasional

    Kebijakan Koboi Perangi Narkotik

    Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte mengobarkan perang terhadap narkotik dengan meminta polisi dan warganya menumpas sendiri para pengedar dan gembong. Kebijakannya dikritik, dia menantang pemberlakuan darurat militer.

  • Rayuan Maut Geng Narkotik
    Hukum

    Rayuan Maut Geng Narkotik

    Merri Utami untuk sementara lolos dari eksekusi mati. Korban rayuan sindikat narkotik.

  • Alot Perkara di Tangan Jaksa
    Hukum

    Alot Perkara di Tangan Jaksa

    Kasus pembakaran lahan tiga perusahaan di Kalimantan Barat tak kunjung masuk pengadilan. Polisi dan jaksa beda pendapat soal unsur kelalaian.

  • Gigi Mundur Remisi Koruptor
    Hukum

    Gigi Mundur Remisi Koruptor

    Pemerintah berencana memperlonggar aturan remisi, termasuk untuk terpidana korupsi. Komisi antikorupsi masih menentang.

  • MOMEN
    Ekonomi dan Bisnis

    MOMEN

    PT Angkasa Pura II segera mengaudit internal Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten. Gara-garanya, daya listrik Terminal 3 sempat putus pada hari pertama beroperasi, Selasa pekan lalu. ”Hasilnya akan saya minta segera setelah audit internal selesai,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Suprasetyo di Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Rabu pekan lalu.

    Suprasetyo mengatakan pemicu padamnya listrik adalah korsleting. Tapi kategorinya minor karena daya listrik yang padam hanya terjadi di area Gate 11 dan 12 Terminal 3. ”Tidak ditopang UPS (uninterruptible power supply) karena bukan area prioritas,” ujarnya. Area prioritas antara lain tempat check-in penumpang dan eskalator.

  • Tancap Gas Memangkas Belanja
    Ekonomi dan Bisnis

    Tancap Gas Memangkas Belanja

    Pemerintah untuk kedua kalinya memotong anggaran buat menekan defisit. Sejumlah kalangan pesimistis target penerimaan tax amnesty bisa tercapai.

  • Ketika Angka Berbicara
    Ekonomi dan Bisnis

    Ketika Angka Berbicara

    Angka tak bisa berbohong. Ketika pasar keuangan di Indonesia sedang menikmati lonjakan harga, banyak orang menghubungkannya dengan pengampunan pajak. Jika angka yang bicara, ternyata tidaklah demikian adanya. Sejauh ini aliran dana repatriasi program amnesti pajak belum berpengaruh secara nyata ke pasar.

    Hingga Rabu pekan lalu, total harta yang sudah dilaporkan baru Rp 15,5 triliun. Sebagian besarnya adalah harta dalam negeri, Rp 13 triliun. Harta di luar negeri yang tidak direpatriasi Rp 1,7 triliun. Sedangkan harta dari luar negeri yang sudah dibawa pulang ternyata hanya Rp 747,9 miliar, terlalu kecil untuk merangsang pasar. 

  • Catatan Pinggir

    Di pakaian seragam para atlet untuk Olimpiade di Rio, di restoran Indonesia di Amsterdam, di ruang tamu para pejabat di Jakarta, di tas cendera mata konferensi internasional di Bali, ”Indonesia” adalah batik, ukiran garuda, kain songket.... Hiasan-hiasan yang tak lagi jadi pemanis, tapi penanda.

    Dalam sejarahnya, penanda itu lama-kelamaan mengeras, membeku, memberati. Perannya sebagai ornamen hilang; ia bisa ditampilkan dengan selera estetik yang minimal dan dorongan komunikatif yang maksimal. Dalam perkembangannya, gambar ”garuda” harus dibuat sesuai dengan standar, sesuai dengan kelaziman, agar mudah dipahami, meskipun bentuknya kaku. Ia bukan lagi karya desain. Ia pesan ideologis. Umumnya didukung kekuasaan, ia diulang-ulangi sebagai mantra visual. Ia kegemaran para pejabat yang cemas bila melihat apa saja yang baru dan tak biasa. Ia, penanda yang membeku itu, dijaga para birokrat, makhluk yang hidup dengan s.o.p.

    Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.