Laporan Khusus 25/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Medan, Sastra, dan Tragedi Keluarga

KEDUA orang tua Chairil Anwar berasal dari kalangan kelas atas. Ayahnya, Toeloes bin Manan, seorang controleur, pegawai tinggi di era kolonial Belanda. Ibunya, Saleha, putri bangsawan Koto Gadang, Sumatera Barat, yang punya pertalian saudara dengan ayah Sutan Sjahrir—perdana menteri pertama Indonesia. Kedua orang tua Chairil bercerai dan ayahnya menikah dengan perempuan lain.

i

Remaja Flamboyan Maniak Buku
Chairil muda dimanja berlebihan. Sudah gemar membaca buku dan menggoda perempuan.


CERMIN itu beratnya minta ampun. Tak bisa diangkat dengan satu tangan. Tingginya sekitar satu setengah meter, lebar setengah meter, berbingkai kayu hitam. Di sudut kanan atas tertempel selembar foto sepia yang telah terkelupas di sana-sini.

Foto itu menampakkan bagian kepala dan dada seorang lelaki muda. Ia difoto dari samping, sedang menatap tajam ke depan, kantong matanya tebal. ”Abuk yang menempelkan foto itu waktu masih muda dulu,” kata Dynni Ferianty, 34 tahun.


”Abuk” adalah panggilan Dynni untuk neneknya, Siti Chairani. Tak banyak yang tahu penyair Chairil Anwar memiliki seorang kakak perempuan—ya ­Chairani itu. Foto tua di cermin itu adalah potret Chairil semasa remaja. Itu satu-satunya foto yang tersisa dari periode Chairil di Medan.

161830874946

Cermin beserta foto yang melekat di permukaannya itu kemudian diwariskan Chairani kepada anak perempuannya, Risna Lydia. Risna meneruskannya kepada Dynni, putri bungsunya.

Tempo menemui Dynni pada akhir Juli lalu di rumahnya di Jalan Harmonika Baru, Medan. Dia belum lama bercerai dan baru saja pindah ke kontrakan dua kamar itu bersama dua putra yang masih kecil. Cermin bersejarah itu hampir saja ketinggalan di depan kamar mandi rumah Dynni sebelumnya.

Menurut Dynni, neneknya lahir di Medan pada 1 Agustus 1919 dari pasangan Toeloes bin Manan dan Siti Saleha binti Datuk Paduko Tuan. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 26 Juli 1922, Chairil Anwar pun lahir.

Saleha dan Chairani hingga wafatnya tinggal di sebuah rumah di Jalan Gajah Mada 38, persis di seberang Taman Gajah Mada. Saleha wafat pada 23 Januari 1976. Putri sulungnya menyusul setahun kemudian.

Pada zaman Belanda, permukiman di Jalan Gajah Mada itu adalah kompleks perumahan ambtenaar alias pamong praja. Orang-orang menyebutnya ”kompleks gedong”. Sampai kini permukiman di sekitar taman itu masih berupa deretan rumah besar berpagar tinggi.

Tamannya menjadi tempat penghuni kompleks berolahraga—atau minum es kelapa pada sore hari. Malamnya tempat itu menjadi lokasi transaksi pelacur yang memamerkan diri di atas becak motor.

Ketika Belanda menduduki Medan, Toeloes, Saleha, dan dua anak mereka sempat tinggal di rumah itu. Setelah kematian Chairil, foto ukuran besar adik lelakinya pernah dipajang Chairani di ruang tamu rumah. ”Model rumahnya gaya Belanda, yang dikelilingi halaman rumput luas di sekelilingnya,” ujar Dynni.

Ke rumah itu pula Hans Bague Jassin mengirimkan surat untuk mengabarkan kematian sang penyair. Jassin mengalamatkan surat bertanggal 11 Mei 1949 itu kepada Saleha dan Abdul Halim. Halim adalah suami Chairani yang bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Chairani belakangan juga dikenal sebagai Ani Halim.

Pada 1993, keturunan Ani menjual rumah beserta tanah itu kepada seorang bupati. Rumah itu lalu dirobohkan, berganti dengan rumah baru dari bata merah. Rumah bata itu pun kini kosong. Semak rimbun tumbuh tinggi di hala­mannya.

l l l

TOELOES bukan orang sembarangan. Pada zaman Belanda, pangkatnya controleur. Setelah kemerdekaan, ia diangkat jadi Bupati Indragiri.

Toeloes lahir di Taeh, Payakumbuh, pada 8 Maret 1902. Pada usia belasan, ia merantau ke Medan. Dalam ingatan Nini Toeraiza Toeloes, putri Toeloes dari istri keduanya, ayahnya berperawakan tinggi besar. Kulitnya putih, rambutnya hitam bersaput merah. ”Seperti orang Belanda,” kata Nini kepada Tempo.

Di Medan, Toeloes remaja menumpang di rumah Datuk Paduko Tuan, yang berasal dari Koto Gadang dan masih punya pertalian saudara dengan ayah Sutan Sjahrir. Datuk Paduko Tuan dan istrinya yang asli Surabaya mempunyai putri bernama Saleha. Demikianlah Toeloes dan Saleha bertemu, lalu menikah.

Secara fisik, Saleha bertolak belakang dengan Toeloes. Ia pendek dan gendut. Kegemarannya mengisap cerutu. Dia pandai memasak. ”Kalau ngomongin dia, kami memanggilnya Uyang Tomat karena pipinya yang tembam dan putih kemerahan,” ujar Dynni.

Karakter Tuan Ambtenaar dan Uyang Tomat sama-sama keras. Pernikahan mereka diwarnai pertengkaran yang tak mengenal damai sedikit pun.

Sjamsulridwan, teman masa kecil Chairil di Medan, pernah menulis tentang keluarga ini dalam Kenang-kenangan: Chairil Anwar Semenjak Masa Kanak-kanak, yang terbit di Mimbar Indonesia pada Maret-April 1959. ”Keduanya sama-sama galak, sama-sama keras hati, sama-sama tidak mau mengalah,” demikian ia ­menulis.

Di tengah suasana inilah Chairani dan Chairil Anwar dibesarkan. Secara ekonomi, keluarga ini berkecukupan. Toeloes dan Saleha memanjakan anak-anak mereka dengan memenuhi setiap keinginan. Lebih-lebih si anak laki-laki bungsu. Panggilan kesayangannya adalah Ninik.

Ninik selalu dibelikan motor-motoran, sepeda, dan mainan terbaik. Begitu pula soal makanan. ”Bukan hal aneh bagi Chairil, sebagai kanak-kanak, menghabiskan seekor ayam goreng sendiri saja,” kata Sjamsulridwan, teman Chairil di Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Saking sayangnya, bila si buyung bertengkar dengan kawan sepermainan, Toeloes ikut turun tangan. Dia siap mengasah golok untuk menghadapi siapa pun yang cari perkara dengan anaknya.

Sejak umur lima tahun, Chairil ikut ayahnya berpindah-pindah tugas dari satu kota ke kota lain: Siak Sri Indrapura, Tanjung Balai, Pangkalan Brandan. Pernah pula ia tinggal bersama nenek dan datuknya di Medan, menyusul Chairani yang lebih dulu dititipkan kepada ­mereka.

Kepada penulis biografi Hasan Aspahani, Nini Toeraiza menyatakan bahwa nenek Chairil dikenal dengan nama Mak Tupin. Chairil dekat sekali dengannya. Mak Tupin wafat setelah Chairil hijrah ke Jakarta. Kematian itu membekas betul hingga lahirlah sajak ”Nisan”, yang dipersembahkan Chairil untuk nenek­anda. Sajak bertarikh Oktober 1942 itu disebut sebagai sajak pertama Chairil di Jakarta—yang langsung menarik perha­tian Jassin.

Baik ketika tinggal bersama orang tuanya maupun dengan neneknya, Chairil selalu dimanjakan dan dicukupi. ”Tidak ada satu kesempatan di mana ia rela dijadikan kurang,” Sjamsulridwan mengenang.

Chairil menjadi anak yang keras kepala dan tak mengenal batas. Di sisi lain, ia cerdas dan bergaul luas. Kegemarannya pada perempuan telah pula dimulai pada masa ini.

Sjamsulridwan mengingat, sejak di HIS, sahabatnya itu telah menggaet gadis-gadis tercantik di sekolah atau sekitar rumahnya. Si flamboyan tak ragu menggunakan cara-cara radikal untuk mencuri hati pujaannya. Ia pernah menantang pemuda-pemuda satu kampung agar dapat mengencani seorang gadis yang tinggal di sana.

Untungnya, di tengah gejolak pubertas dan hujan perhatian dari orang-orang di sekitarnya, Chairil tak lupa membaca buku. Ini rupanya menurun dari Toe­loes. ”Papaku punya banyak sekali buku,” kata Nini, yang juga tumbuh menjadi peminat buku.

Toeloes membangun budaya intelektual yang baik di rumahnya. Anak-anaknya harus bersekolah. Mereka cakap berbahasa Belanda. Bakat seni dikembangkan. Sementara Chairil menjadi penyair, kakaknya lebih tertarik pada musik. Kelak Ani menjadi guru piano dan membuat sanggar orkes Minang, bahkan band Hawaiian, di rumahnya.

Kegemaran membaca pernah membuat Chairil remaja tertimpa masalah. Dalam sebuah wawancara dengan H.B. Jassin pada 1969, Saleha berkisah bahwa anak bungsunya itu pernah dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa.

Saat itu Chairil dan Mak Leha sedang berada di rumah di Pangkalan Brandan. Chairil membacakan satu bagian dari buku Layar Terkembang karangan Sultan Takdir Alisjahbana untuk ibunya, dengan lagak seorang deklamator. Suara keras itu memancing polisi datang. Chairil lalu dibawa ke kantor polisi dan dicecar karena buku tentang emansipasi perempuan yang terbit pada 1936 itu dianggap sensitif.

l l l

PERNIKAHAN Toeloes dan Saleha ternyata tak bisa dipertahankan. Meski tak resmi bercerai, pasangan ini mulai hidup terpisah sejak Chairil duduk di Meer ­Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Toeloes menikah lagi dengan seorang perempuan jelita asal Guguak, Payakumbuh, bernama Ramadana.

Ramadana, yang kemudian dikenal sebagai Mama Dona, lahir pada 1910. Dia putri Tuanku Lareh (”Laras”, birokrat setara dengan camat). Keluarga ini terpandang di Guguak, kampung yang jaraknya dua jam naik delman dari Taeh—tempat asal Toeloes. Mereka mempunyai rumah gadang, tanda kebesaran sebuah famili di ranah Minang.

Ketika menikah dengan Toeloes, Dona janda dengan dua anak. Pernikahan kedua ini, menurut Sjamsulridwan, tak dapat diterima Chairil. Ia jadi benci dan dendam kepada ayahnya. Kebencian ini menjadi pemicu keinginan Chairil pergi dari Medan menuju Batavia. ”Jiwa Chairil mulai gelisah dan menginginkan kehidupan lain,” tulis Sjamsulridwan.

Cerita ini tak diakui keturunan Toeloes dan Dona. Menurut Nini Toeraiza, Chairil dekat dengan Dona. Remaja 16 tahun itu sangat gembira ketika tahu dia mendapat adik perempuan. Ia datang ke rumah Toeloes dan Dona khusus untuk memberi nama kepada adiknya. ”Kasih nama Nini saja, Bah,” ujar Chairil kepada abahnya, seperti ditirukan Nini.

Walau begitu, kira-kira tiga tahun setelah kelahiran Nini pada 1938, Chairil memang hijrah ke Jakarta. Ahmad Syubbanuddin Alwy dalam buku Derai-derai Cemara menulis kepergian Chairil ke Jakarta terjadi saat ia kelas II MULO, pada usia 19 tahun.

Rencananya dia akan melanjutkan sekolah di Jakarta. Tak lama Mak Leha, yang masih patah hati karena pernikahannya berakhir, menyusul putra bung­sunya.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830874946



Laporan Khusus 25/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.