Laporan Khusus 26/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Si mata merah yang Ingin Hidup 1.000 Tahun

Dalam sebuah sajaknya, Chairil Anwar menyebut dirinya ”Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”. Lalu, dalam sajaknya yang lain, Chairil juga menulis optimistis: ”Aku mau hidup seribu tahun lagi!”. Namun, pada tahun terakhir menjelang kematiannya, dia sadar, hidup yang diinginkannya serba mustahil: ”Hidup hanya menunda kekalahan… sebelum pada akhirnya kita menyerah.”

Enam puluh tujuh tahun sudah Chairil meninggalkan kita. Ia meninggal pada 1949 di usia relatif muda: 27 tahun. Ia menderita. Penuh paradoks. Tapi dari kemiskinan penyair kurus berwajah tirus dengan mata merah ini lahir sajak-sajak yang memperkaya bahasa Indonesia. Chairil menjadi sebuah ikon. Riwayat hidup dan puisi-puisinya memperkaya kita semua. Ia adalah perwujudan sepenuhnya dari pepatah Ars longa, vita brevis. Hidup itu singkat, seni itu abadi.

i

Kita guyah lemah

Sekali tetak tentu rebah

Segala erang dan jeritan


Kita pendam dalam keseharian

161831320885

Mari berdiri merentak

Diri-sekeliling kita bentak

Ini malam bulan akan menembus awan

Seorang pahlawan tak harus selalu diangkat dari kalangan militer. Tidak pula wajib dimunculkan dari kaum politikus. Dia bisa juga datang dari sosok bohemian yang hidupnya di jalanan. Menggelandang dari satu tempat ke tempat lain, dengan mengidap penyakit tifus dan disentri, tapi pemikiran-pemikiran dan gairah ciptanya menyala-nyala.

Pembaca, menyambut perayaan Kemerdekaan RI kali ini, Tempo menurunkan edisi khusus yang lain daripada yang lain. Biasanya pada bulan Agustus kami mengupas figur politikus dan negarawan, seperti Sukarno, Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Douwes Dekker, dan Hamengku Buwono IX, tapi kini kami mengulas tuntas hidup seorang penyair, yaitu Chairil Anwar.

Chairil bagi kami memiliki peran penting dalam membangun inspirasi dan imajinasi bangsa ini. Ia adalah seorang perintis jalan bagi sastra modern Indonesia. Sebagaimana pernah dikatakan Profesor A. Teeuw, sumbangan terbesar Chairil adalah keberhasilannya meyakinkan bahwa bahasa Indonesia, bahasa yang pada 1940-an masih amat muda itu, ternyata merupakan bahasa yang menyimpan tenaga besar.

Tahun-tahun ketika Chairil menciptakan sajak-sajaknya, bahasa Indonesia adalah bangunan yang belum lengkap. Bahasa Indonesia banyak mengalami pergantian ejaan serta masih berusaha melepaskan diri dari bahasa daerah yang mengepung dan menjadi bahasa utama hampir seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan peran sastra pun pada masa-masa itu kerap diragukan, disepelekan. Chairil dengan gagah ada di lapangan yang masih minoritas itu. ”Hal yang menakjubkan dalam puisinya adalah puisi itu mematangkan bahasa Indonesia yang belum matang dan belum cukup digerakkan itu,” kata Profesor A. Teeuw.

Chairil sendiri pada 1945 mengatakan demikian.

”Sekarang: Hoppla! Lompatan yang sejauhnya penuh kedara-remajaan bagi negara remaja ini. Sesudah masa mendurhaka pada Kata, kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar, mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, mimpi, pengharapan, cinta dan dendam manusia. Kata ialah kebenaran!!!”

Kutipan artikel Chairil Anwar berjudul ”Hoppla!” yang dimuat dalam majalah Pembangoenan Desember 1945 tersebut membuktikan bahwa tatkala negara baru berumur 4 bulan itu Chairil pun sadar energi yang bisa membangkitkan energi ini adalah energi bahasa Indonesia.

Asrul Sani, sahabat Chairil yang bersama Rivai Apin menerbitkan kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir, mengatakan memang Chairil Anwar mempunyai rasa bahasa yang luar biasa untuk memberi makna pada kosakata baru Indonesia. Dalam penulisan puisi, dia sangat profesional. Teknik penulisan sajaknya unggul betul. Dia melepaskan bahasa dari aturan baku tata bahasa. Asrul Sani menulis, bagi Chairil, bahasa adalah alat untuk mengutarakan sesuatu. ”Jadi, kalau perlu, dia bengkokkan bahasa itu untuk menjelaskan apa yang ingin dia utarakan,” kata Asrul.

Belum lagi bila kita membicarakan betapa penerimaan sajak Chairil begitu membekas sampai ke tingkat akar rumput. Sebut saja sajak ”Aku”, ”Diponegoro”, dan ”Krawang-Bekasi”, yang penuh vitalitas dan boleh dibilang sampai sekarang dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI banyak dibacakan di kampung-kampung. Lirik-liriknya pun banyak dihafal orang.

Secara estetika, kehadiran sajak-sajak Chairil merupakan perlawanan terhadap estetika Pujangga Baru. Menurut Profesor Sapardi Djoko Damono, hampir semua sajak 1945-1950 tergolong sajak gelap alias susah dipahami. Itu karena banyak penyair Indonesia menggunakan bahasa Indonesia yang masih tak begitu mereka kuasai. Sedangkan Chairil memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang luar biasa.

Sapardi menambahkan, kehebatan Chairil adalah kemampuan dia menggunakan bahasa baru. Sering dia memasukkan kosakata baru yang membuat sajak-sajaknya langsung terlihat bedanya. Chairil adalah seorang kutu buku. Dia banyak membaca. Rujukannya banyak ke luar, terutama ke Barat. Chairil mungkin tak memahami betul semua bacaannya. Dia hanya mengerti sedikit-sedikit. ”Namun dalam puisi-puisinya dia tak peduli menambahkan kata 'zonder' dari Belanda atau kata 'iseng' dari Betawi, tapi berhasil, dan membuat sajaknya luar biasa,” kata Sapardi . Menurut Sapardi, keberhasilan Chairil adalah keberhasilan memasukkan kata-kata sehari-hari ke dalam sajaknya. ”Jadi menghargai Chairil adalah menghargai usahanya mengangkat bahasa baru. Kalau tema-tema puisinya, sih, sama dengan penyair lain,” ujar Sapardi.

Dalam catatan H.B. Jassin, sepanjang hidupnya, Chairil telah membuat 94 tulisan. Terdiri atas 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan.

Chairil Anwar adalah sosok yang tak mau menyerah. Seperti sebuah moto yang dikutip di awal pengantar ini, yang diucapkan Chairil dalam pidato di muka Angkatan Baru Pusat Kebudayaan, 7 Juli 1943, ia memang penyair yang berani hidup menderita demi sebuah pencarian. Chairil tak pernah bisa bekerja kantoran. Ia selalu meninggalkan meja kerjanya, pindah ke pekerjaan lain. Meskipun begitu, hasilnya sama. Ia tetap memilih jalanan.

Menurut Nasjah Djamin dalam buku Hari-hari Akhir Si Penyair, kebiasaan Chairil adalah menenteng map ke mana-mana. Dan isi map itu, selain kertas-kertas berisi sajak-sajaknya dan sajak-sajak orang lain (ia beberapa kali bekerja sebagai redaktur), ternyata potongan-potongan halaman buku yang dirobeknya entah dari mana. ”Mungkin dari perpustakaan, toko buku, atau milik kawan,” kata Nasjah Djamin. Chairil bergaul di segala lini. Tempat nongkrong-nya di mana-mana. Chairil, misalnya, bergaul erat dengan para pelukis. Di Jakarta, Chairil sering berkumpul dengan Affandi dan Sudjojono. Ia menyayangkan banyaknya sastrawan yang tak mau kenal dengan seni lukis.

Untuk edisi ini, selain mengundang Sapardi Djoko Damono, kami menghadirkan penulis Chairil Anwar: Sebuah Biografi, Hasan Aspahani, untuk berdiskusi. Adapun putri Chairil, Evawani Alissa, kami temui untuk mengungkap sisi-sisi personal dan humanis ayahnya. Dari perjumpaan dengan ketiganya, kami mendapat info, masih banyak faset kehidupan Chairil yang belum terungkap di luar aspek kepenyairan dan sajak-sajaknya. Misalnya tentang keluarga besarnya, perempuan-perempuan yang mengaguminya, pergaulannya dengan para seniman, dan kematian ayahnya

Pada 28 April 1949, sang ”Binatang Jalang” menyerah. Ia pergi meninggalkan bermacam kesan. Orang ingat tubuhnya kurus, matanya merah, tapi senantiasa riang dan gelisah. Ia urakan, liar, petualang kumuh, tapi seorang intelektual yang memiliki passion bagi kemerdekaan.

Pada 1945 itu ia menulis:

Hopplaa!! Dunia–terlebih kita–yang kehilangan kemerdekaan dalam segala makna, menikmatkan kembali kelezatannya kemerdekaan. Hopplaa! Melompatlah! Nyalakan api murni! Mari kawan-kawan seangkatan, kita pahat tugu pualam Indonesia sempurna.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831320885



Laporan Khusus 26/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.