Laporan Khusus 17/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Di Pusaran Pelukis Rakyat

Dia tak hanya bergerak di antara penyair, tapi juga pelukis. Menelusup di hampir semua pelukis rakyat.

i

Chairil Anwar dan ­Affandi punya hubungan akrab. ”Ayah memanggilnya Ril, sedangkan Om Chairil memanggil Ayah dengan Di dan Ibu dengan panggilan Ceuceu,” kata Kartika Affandi, 82 tahun.

Putri maestro seni rupa Affandi itu mengenang, sekitar 1942, tatkala ia berumur 8-9 tahun, Chairil sering bertandang ke rumahnya di Jalan Jawa 28 A (kini Jalan H O.S. Cokroaminoto), Menteng. Kartika ingat si Om sering datang sendirian, menginap dan pulang sesukanya. ”Om Chairil juga punya kunci rumah kami,” ujarnya. Chairil bukan orang lain bagi keluarga Affandi.

Menurut Kartika, perkenalan ayahnya dengan Chairil terjadi sejak kepindahan Affandi dari Bandung ke Jakarta pada 1942. Affandi diajak Sukarno bergabung dengan tokoh nasional, bekerja di Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Affandi ditempatkan bersama seniman lain, seperti Dullah, Agus Djaja, S. Sudjojono, Henk Ngantung, dan Hendra Gunawan. Mereka adalah pentolan pelukis pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), Seniman Muda Indonesia (SMI), atau Lima Bandung.


Setelah di Putera, mereka pun masuk ke bagian seni rupa Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan Jepang). Mereka dipekerjakan Jepang dalam proyek membuat poster penyemangat perjuangan. Para seniman sering berkumpul di kantor Keimin Bunka Shidoso atau di rumah Affandi dan Sudjojono.

161831007314

Affandi menjadi salah satu sahabat Chairil. Sering kali Chairil ngobrol hingga larut malam di rumah maestro asal Cirebon ini. Chairil datang dan pergi sesuka hati. Tapi Affandi tak mempersoalkan hal itu. Dia pun mafhum dengan ke­bengalan pemuda ini.

Suatu ketika Affandi pernah mengajaknya melukis di daerah pelacuran di Tanah Abang. Kartika pun diajak serta. Setelah selesai melukis, Affandi pun beranjak pulang seraya mengajak Chairil. ”Gua sudah selesai menggambar. Lu mau ikut pulang atau gua tinggal,” kata Affandi. ”Ditinggal aja, deh,” ujar Kartika menirukan jawaban spontan Chairil. Rupanya, kejadian ini berbuntut.

Perempuan yang jadi model di lokalisasi itu mendatangi rumah Affandi untuk menagih bayaran. ”Saya mencari Tuan karena Tuan tadi malam tidak membayar saya,” ujarnya. Istri Affandi, Maryati, menurut Kartika, kaget karena Affandi semalam tak pergi ke mana pun. Affandi lalu menyelesaikan urusan ini dan membangunkan Chairil. Si pemuda pun dengan enteng menjawab, ”Brur, tolong deh, dibayari dulu.” Masalah pun ­selesai.

Soal urusan perempuan dan lokalisasi, Chairil juga sering datang bersama pelukis Basuki Resobowo ke kawasan Senen, Jakarta Pusat. Konon, Basuki sering menyambangi kawasan itu untuk ikut merasakan kehidupan ”akar rumput” sebagai seniman Marxis. ”Basuki suka juga, tapi tidak separah Chairil,” ujar Hersri Setiawan, penyunting buku Basuki, Bercermin di Muka Kaca: Seniman, Seni, dan Masyarakat.

Chairil pernah terpesona oleh lukisan telanjang Basuki yang pernah dipajang dalam pameran SMI Madiun pada 1947. Saking terpesonanya, ia pun membuat puisi tentang lukisan itu dan diberi judul Surga. ”Hebat kau, Bas. Semua yang kau ceritakan ada di lukisan itu,” kata Chairil kepada Basuki. Keduanya memang sama sejalan dalam hal bohemian.

Urusan lokalisasi malah akhirnya ikut menyumbang terwujudnya poster perjuangan yang diminta Bung Karno. Chairil pernah membuat slogan legendaris ”Bung Ajo Bung” untuk poster perjuangan yang dibuat Affandi. Menurut Tedjabayu, anak Sudjojono, ide poster itu sesungguhnya datang dari Sudjojono, lalu dilukis oleh Affandi dengan model pelukis Dullah. Tatkala gambar poster sudah jadi tinggal dibubuhi kalimat slogan, datang Chairil. Ia langsung diminta urun rembuk. Dengan enteng dia bilang, ”Bung Ajo Bung”. Semua yang hadir pun tertawa. Pasalnya, kalimat itu adalah kata-kata yang sering digunakan perempuan di pelacuran Senen ketika merayu calon pelanggan. Hersri menguatkan cerita Tedjabayu tersebut. ”Basuki bilang, itu Chairil celananya masih basah.”

Dari Jakarta, Affandi kemudian pindah ke Yogyakarta. Setelah Agresi Militer Belanda II pada 1948, Affandi balik ke Jakarta. Ia memiliki sanggar di Taman Siswa, Kemayoran. Menurut pelukis Nashar dalam bukunya, Nashar untuk Nashar, Chairil bahkan hampir setiap hari datang di sanggar tersebut. Di sana Nashar sering pergi dan ngopi bersama Chairil. Nashar sering membuat sketsa orang-orang kecil. Chairil juga pernah mengusiknya dengan pertanyaan tentang penderitaan orang kecil, sehingga membuat Nashar sering tercenung.

Sering juga Chairil datang ke tempat tinggal Sudjojono di Jalan Segara, Jakarta. Pertemanan Sudjojono dengan Chairil sudah terjalin sebelumnya. Bahkan ketika Sudjojono dan seniman lain mengungsi ke Yogyakarta lalu kembali lagi ke Jakarta. Suatu saat dia minta Sudjojono melukis dirinya. Rupanya, dia melihat buku Andre Gide, De Nieuwe Spijzen, yang dibeli Mia Bustam, istri pertama Sudjojono. Mia membeli di tempat loakan. Andre Gide adalah penulis Prancis favorit Chairil. Chairil kemudian menerjemahkan karya Gide: Le Retour de l'enfant Prodigue menjadi Pulanglah Dia si Anak Hilang (diterbitkan Pustaka Rakyat, cetakan pertama 1948)

”Iya, Ibu pernah cerita, Chairil minta dilukis. Tapi Bapak menyuruh Chairil harus membawa cat putih karena persediaan cat putih habis,” ujar Tedjabayu, anak sulung Mia Bustam. Chairil menepati janji dan membawa sebuah tube besar cat putih hasil curian dari persediaan cat milik pelukis Jepang peranakan Prancis, Yamamoto. Chairil sempat datang beberapa kali untuk berpose dalam lukisan, tapi setelah itu dia menghilang.

Di Yogyakarta, pelukis dan sastrawan Nasjah Djamin dalam bukunya mengingat pertemuannya dengan Chairil. Saat itu, pada 1947, dia, Zaini A., serta Waki­djan belajar melukis dan menjadi anggota baru SMI di Yogyakarta. Nasjah datang dari Sumatera Utara bersama ­Daoed Joe­soef, Sam Soeharto, dan Tino Sidin. Dia terpesona oleh gaya Chairil yang pandai bicara.

Nasjah bertemu lagi dengan Chairil pada 1948. Saat itu Nasjah dan Wakidjan bekerja di Balai Pustaka. Balai Pustaka saat itu dipimpin oleh St. K. Pamuntjak. Di tempat itu ada sastrawan Idrus, Utuy Tatang Sontani, Achdiat Kartamihardja, Saleh Sastrawinata, Hasan Amin, Anas Ma'ruf, dan Rusman Sutiasumarga. Idrus, yang pendiam, teratur, dan tekun bekerja di belakang meja di bagian tipografi, menurut Nasjah, kurang disukai Chairil karena keteraturannya itu.

Bagian tipografi dipimpin oleh pelukis Baharudin. Kepada Baharudinlah Chairil sering meminta uang. Di ruang ini pula Chairil sering membacakan puisinya meski sering tak diacuhkan. Tatkala Chairil mendapat borongan sajak dari Pamuntjak, dia sering pulang bertiga dengan Nasjah, Wakidjan, dan kemudian pergi ke sanggar Affandi di Taman Siswa. Di sana, saat malam Nasjah sering mendapati Chairil seperti orang kesepian. Chairil beberapa kali menawarkan rokok Highway-nya. Chairil pun pernah meminta Nasjah dan Wakidjan melukis dirinya. Mereka mengiyakan dan membuat sketsanya, tapi tak selesai. Asmoro Hadi dan Mochtar Apin sempat pula membuat lukisan Chairil.

Pelukis Tino Sidin pun sempat mempunyai kenangan dengan Chairil pada sekitar 1949. Suatu ketika Chairil tiba-tiba mengajak makan Tino dan mentraktirnya. Tino Sidin heran tiba-tiba Chairil punya uang. Putri Tino, Panca Takariyati, 51 tahun, ingat ayahnya pernah bercerita tentang kejadian itu. ”Uang dari mana, Ril?” kata Tino kepada Chairil sebagaimana ditirukan Titik—panggilan Panca Takariyati. ”Dari penjualan baju lu,” ujar Chairil enteng. Rupanya, Chairil mengambil baju Tino tanpa setahu Tino dan melegonya.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831007314



Laporan Khusus 17/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.