Laporan Khusus 10/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Corat-coret di Tiga Buklet

Chairil menitipkan banyak manuskrip kepada H.B. Jassin. Inilah puisi-puisinya yang belum pernah dipublikasikan.

i

Kertas-kertas cokelat yang tampak tua itu terdiri atas tiga jilid. Tebalnya masing-masing belasan halaman dan diberi sampul dengan label bertulisan ”Chairil Anwar”. Sebagian halaman di tiga buklet tipis yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin itu berisi puisi atau seperti puisi yang belum selesai dan semacam ­aforisme.

Inilah sebagian kecil dari manuskrip berharga yang dulu dititipkan Chairil kepada Jassin. Hasan Aspahani, penyair yang belakangan intens meneliti Chairil Anwar, menyatakan bahwa tulisan-tulisan di buklet itu belum dipublikasi. Oyon Sofyan, pustakawan di pusat data itu yang dekat dengan Jassin, membenarkan bahwa sebagian corat-coret Chairil tersebut belum pernah diterbitkan.

Tapi tak semua halaman di tiga buklet itu berisi puisi. Beberapa halaman kosong. Sebagian lainnya berisi potongan kalimat yang sukar terbaca atau tak jelas maknanya.


Ada halaman, misalnya, yang cuma berisi sebaris kalimat, entah catatan entah sepotong puisi yang belum jadi, seperti ”Malam itu kurasa diriku terlutjut”. Ada pula halaman yang berisi semacam judul: ”Batu Nisan Francois Villon”, yang mungkin merujuk pada Francois Villon, penyair Prancis abad ke-15 yang tak jelas makamnya.

161831289244

Di salah satu halaman, ada sebuah puisi berbahasa Belanda yang di pojok kanan atas bertulisan ”J.C. Bloem”. Apakah nama ini merujuk pada Jakobus Cornelis Bloem, penyair Belanda pada awal abad ke-20? Penelusuran di Internet menunjukkan tak ada puisi Bloem semacam ini. Ada pula puisi berbahasa Belanda yang tanpa judul dan tanpa keterangan apa pun.

Hasan memastikan bahwa sang pujangga itu, ”Tidak pernah menulis dalam bahasa Belanda.” Artinya, dua puisi itu bukan puisi Chairil. ”Saya kira itu salinan sebelum dia terjemahkan,” ujar Hasan.

Ada pula puisi berbahasa Indonesia tanpa judul yang di bagian bawahnya tercantum ”W.H. Auden: Sonnet”. Hasan memperkirakan ini adalah puisi terjemahan yang belum selesai atas karya ­Auden, penyair Inggris terkenal pada awal abad ke-20. ”Chairil banyak menggarap Auden pada hari-hari akhirnya,” kata Hasan.

Terjemahan yang tak selesai itu dimuat oleh Jassin di buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956). ”Tiga baris lagi belum diterdjemahkan,” tulis Jassin mengenai puisi itu. Di buku tersebut, Jassin juga melampirkan puisi ”Sonnet” dalam bahasa Belanda yang terdiri atas tiga bait.

Ada pula puisi berjudul ”Hari Tua”. Puisi itu juga dimuat Jassin dalam bukunya tersebut. Namun, menurut Jassin, ”Tidak djelas oleh penjair mana.”

Coretan-coretan tangan Chairil itu ditulis dengan pena atau pensil. Beberapa kata dicoret dan diganti dengan kata lain. Hal ini menunjukkan jejak proses kreatif Chairil.

Manuskrip dan arsip tentang Chairil Anwar termasuk yang paling banyak dalam koleksi pusat data tersebut. Selain Charil, ”Yang banyak dokumentasinya antara lain Rendra dan N.H. Dini,” kata Kepala Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Ariany Isnamurti, pekan lalu. Sayangnya, karena keterbatasan anggaran, dokumen dan arsip itu belum banyak yang disimpan dalam bentuk digital.

Di sini kami menampilkan sebagian besar coretan dan puisi Chairil dalam bahasa Indonesia dari tiga buklet itu. Kami menampilkan apa adanya, termasuk ejaan yang dipakai Chairil.

Kami juga menyertakan beberapa tulisan Chairil lain yang belum terbit sebagai kumpulan puisi, meski sudah diulas Jassin, misalnya dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45. Contohnya adalah ”Fragmen Buat H”. Jassin, yang memakai judul ”Fragmen” untuk puisi itu, menyebutnya sebagai terjemahan dari karya Conrad Aiken, ”Preludes to Attitude”.

l l l

Kepada Jassin

Tapi jang boleh kita harapkan ialah

bahwa ia satu waktu akan sampai djuga

ke dunia tenang

(Di bawah tulisan ini ada catatan sebagai berikut: ”Kutipan dari karangan HB Jassin: 'Chairil Anwar Penjair Revolusioner Indonesia' dalam Panja Raja Th II No.16, 1/7. 'Dalam sadjak jang tak djadi rupanja Chairil Anwar mau mendjawab utjapan ini.'”)

Malam itu kurasa diriku terlutjut

Hari Tua

Tetaplah padaku, Djuita, sebab api makin mati

andjingku dan aku sudah tua, ketuaan bakal mengelana

Lelaki bernapsu teruna bikin menghilang pantjaran air terbang

sangat kaku bakal mentjinta

untuk madju, terlalu beku untuk bertjinta

Kuambil buku dan dekatkan diri pada dia

Bolak balik lembaran kuning lama; dari menit ke menit

djam berdetik kena kalbuku; sebuah kawat kering

Bergerak

aku tak kuasa lajari lautanmu, aku tak kuasa edari

Ladangmu, djuga pegununganmu, djuga lembahmu

Tidak bakal lagi, djuga tidak pertarungan nun disana

Dimana perwira muda kumpulkan lagi barisan jang

petjah

Hanja tinggal tenang sedangkan pikiranku mengenangkan

keindahan njala api dari keindahan

(Di bagian atas dan bawah puisi ini ada sejumlah catatan yang kabur)

Biar malam kini lalu

tjinta tapi mimpi masih ganggu

jang bawa kita bersama sekamar

Tidak ada jang diberi gampang sadja. Kadang2 mesti kita tjari

Gedong2 besar berdesak-desakan dalam metari

di belakangnja terdjalin djerudji

djauh tersembunji gubuk dan teratak kedji

Tidak apapun bisa menentukan nasib kita:

hanja tubuh berpasti; sibesar dan si ketjil rata2

mentjoba bertambah naik, deretan rumah sakit sadja

memperingatkan bahwa kita semua berderadjat

sama

Siapapun, djuga polisi, tetap menjajangi anak-anak:

mereka tjeritakan tentang masa sebelum para perwira

mengenal sepi serta kehabisan langkah

(di bawah sajak ini tertulis: "W. H. Anden: Sonnet”)

Pertarungan kesusastraan Indonesia untuk berdiri sendiri dalam kedudukan dan makna

Mari Tjintaku

Demi Allah, kita djedjakkan kaki dibumi pedat,

Bertjerita tentang radja2 jang mati dibunuh rakjat;

Papar-djemur kalbu, terangkan djalan darah kita

Hitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan

teliti kemenangan. Aku sudah saksikan

Sendja keketjewaan dan putus asa jang bikin tuhan djuga turut

tersedu

membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi, dalam kuburnja.

Sekali kugenggam Waktu, Keluasan ditangan lain

Tapi kutjampurbaurkan hingga hilang tudju.

Aku bisa nikmatkan perempuan luar batasnja, tjium

matanja, kutjup rambutnja, isap dadanja djadi

gersang

Fragmen Buat H

Tiada lagi jang akan diperikan? Kuburlah semua ihwal,

Dudukkan diri beristirahat, tahanlah dada jang menjesak

Lihat keluar, hitung-pisah warna jang bermain didjendela

Atau nikmatkan lagi lukisan2 didinding pemberian teman2 kita.

atau kita omongkan Ivy Jang ditinggalkan suaminJa,

djatuhnja pulau Okinawa. Ata.u berdiam sadja

Kita saksikan hari djadi tjerah, djadi mendung,

Mega dikemudikan angin

- Tidak, tidak, tidak sama dengan angin ikutan kita....

... maka tidak ada jang menerima

menggema suara

maka tiap kata jang

mendjelma tahi bintang?

... maka tak ada jang membalas

menggema suara

irama bagi njanji angin

Melupakan dan Mengenang

Kau asing, aku asing,

Dipertemukan oleh djalan jang tidak pernah bersilang

Kau menatap, aku menatap

Kebuntuan rahsia jang kita bawa masing-masing

98

Kau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat gunung?

Lupa diri terlambung tinggi ?

Dan djuga

diangkat dari rumah sakit satu kerumah sakit lain

mengungsi dari kota satu kekota lain ? Aku

sekarang djalan dengan 1 Y2 rabu.

Dan

Pernah pertjaja pada kemutlakan soal. .....

Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir pertemuan

memperlekas datang siang ? Adakah


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831289244



Laporan Khusus 10/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.