Laporan Khusus 13/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Di Balik 'Krawang-Bekasi'

PADA November 1945, Perdana Menteri Sjahrir memerintahkan semua personel Tentara Keamanan Rakyat dan badan-badan perjuangan keluar dari Kota Jakarta. Maklum, tentara Sekutu-Inggris dan Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) yang masih bercokol kerap digempur pasukan Indonesia. Padahal ibu kota akan dijadikan kawasan diplomasi.

Maka tentara Indonesia pun hijrah dan mengambil posisi di pinggiran Jakarta, seperti Cakung, Kranji, Pondok Gede, Bekasi, Tambun, Cikarang, Cibarusah, Karawang, dan Cikampek. Rupanya, keluarnya tentara ini juga diikuti sebagian aparat pemerintahan sipil, pedagang, wartawan, sastrawan, fotografer, hingga seniman—termasuk Chairil Anwar.

i

PADA November 1945, Perdana Menteri Sjahrir memerintahkan semua personel Tentara Keamanan Rakyat dan badan-badan perjuangan keluar dari Kota Jakarta. Maklum, tentara Sekutu-Inggris dan Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) yang masih bercokol kerap digempur pasukan Indonesia. Padahal ibu kota akan dijadikan kawasan diplomasi.

Maka tentara Indonesia pun hijrah dan mengambil posisi di pinggiran Jakarta, seperti Cakung, Kranji, Pondok Gede, Bekasi, Tambun, Cikarang, Cibarusah, Karawang, dan Cikampek. Rupanya, keluarnya tentara ini juga diikuti sebagian aparat pemerintahan sipil, pedagang, wartawan, sastrawan, fotografer, hingga seniman—termasuk Chairil Anwar.

Evawani Alissa, putri Chairil Anwar, mengisahkan, sepanjang akhir 1945-1947 itu, ayahnya memilih menetap di Karawang. ”Ayah saya kan menikah dengan ibu saya, Hapsah, di Karawang,” katanya.


Rupanya, NICA yang dibantu Sekutu tidak puas hanya menduduki Jakarta. Mereka juga ingin menguasai lumbung padi dan perkebunan sepanjang Bekasi-Karawang. Berkali-kali penjajah mencoba menembus pertahanan Indonesia di pinggiran Jakarta ini, tapi gagal. Serangan darat dan udara dilakukan amat sengit setelah 26 serdadu Belanda dibunuh di belakang tangsi polisi Bekasi, awal Desember 1945. Orang-orang Belanda itu diringkus setelah melakukan pendaratan darurat di Rawa Gatel, Cakung, Bekasi.

161830689191

Serangan tersebut lalu dilanjutkan dengan ratusan pertempuran yang dikenal dengan agresi militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Peristiwa inilah yang direkam Chairil Anwar dalam sajaknya berjudul ”Krawang-Bekasi”. Istimewanya, Chairil tidak hanya melakukan perenungan di balik meja belaka untuk puisinya itu. Maman S. Mahayana, kritikus sastra dari Universitas Indonesia, mengatakan Chairil terlibat langsung dalam pertempuran seperti halnya Pramoedya Ananta Toer, yang terlibat dalam pertempuran dan lalu ditulisnya dalam novel Di Tepi Kali Bekasi. ”Jadi puisi 'Krawang-Bekasi' itu merupakan pengalaman hidup,” ujarnya.

Pengalaman langsung Chairil itu juga digambarkan dalam skenario film yang dibuat Sjuman Djaya, Aku. Pada scene 105-106, misalnya, digambarkan ketika Bekasi dibombardir Sekutu dan Belanda, Chairil Anwar dan Hapsah menyaksikan langsung kehebohan para pejuang mempertahankan diri.

Sedangkan pada scene 107, Sjuman Djaya menulis, Chairil yang tengah melakukan perjalanan dari Karawang ke Bekasi menyaksikan mayat bergelimpangan di arus air sungai, di tebing, di jembatan-jembatan, di rawa-rawa, di atas pohon, atau di atas truk-truk dan pedati yang terbakar, di mana-mana. Semuanya itu, tulis Sjuman Djaya, dilihat dengan mata kepala Chairil sendiri. Dia tampak sekali terpengaruh, terpukul, dan teraniaya.

Sajak itu akhirnya berumur sangat panjang. Sampai hari ini sajak tersebut terus dibaca orang. Oleh sebagian kalangan, ”Krawang-Bekasi” dituding sebagai plagiat dari sajak Archibald MacLeish berjudul ”The Young Dead Soldiers”. Namun sastrawan Sapardi Djoko Damono tidak sependapat. Menurut dia, bisa saja Chairil menerjemahkan karya MacLeish itu, tapi hanya sebagai inspirasi untuk membuat setting baru. Kata dia, ”The Young Dead Soldiers” dibuat di Eropa pada masa Perang Dunia II tanpa menyebut nama tempat. Sedangkan Chairil jelas-jelas menyebut Karawang dan Bekasi. ”Dia memberikan konteks baru sehingga maknanya meningkat.”

Bertarikh 1949, sajak itu ikut membuat nama Chairil Anwar akan selalu dikenang.

Kami sekarang mayat

berilah kami arti

berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

kenang-kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi....


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830689191



Laporan Khusus 13/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.