Laporan Khusus 18/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bukan Orang Kantoran

Chairil Anwar pernah bekerja secara formal sebagai pegawai di sejumlah kantor dan media massa. Bukan dunianya, ia hanya bertahan tiga bulan.

i

Sekitar 1943. Merasa gagal berdagang barang bekas, Chairil Anwar mencoba jadi orang kantoran. Atas jasa Des Alwi, ia mendapat pekerjaan di kantor Mohammad Hatta. Suatu pagi, Des Alwi mengajaknya berkunjung ke rumah Mohammad Hatta dan memperkenalkan Chairil kepada ayah angkatnya itu. Des Alwi mempromosikan Chairil menguasai bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda dengan sangat lancar. ”Bila perlu, Om boleh tes saja dia,” ujar Des Alwi, seperti diungkapkannya dalam bukunya, Friends and Exiles: A Memoir of The Nutmeg Isles and The Indonesian Nationalist Movement.

Kembali dari pembuangannya di Banda Neira, menurut sejarawan Anhar Gonggong, Mohammad Hatta lebih bersikap kooperatif kepada Jepang. Hatta kala itu mendapat posisi penting sebagai Kepala Kantor Penasihat Bala Tentara Jepang Pusat (Chuo Sangi In). Gedung Chuo Sangi In ini kemudian menjadi Gedung Pancasila, yang berada di kompleks Kementerian Luar Negeri RI di Jalan Pejambon 6, Jakarta.

Di kantor itu Chairil diterima sebagai penerjemah di kantor statistik. Tugasnya menerjemahkan dan menyalin informasi dan data dari bahasa Jerman dan Belanda. Dalam ingatan Des Alwi, Chairil dibayar 60 gulden sebulan. Jumlah itu sangat cukup untuk hidup pada zaman Jepang. Sejak bekerja itulah Chairil dan ibunya tak lagi menumpang di rumah Sutan Sjahrir. Ia menetap di kampung Kwitang.


Namun itu tak bertahan lama. Dua atau tiga bulan jadi orang kantoran, Chairil tidak betah. Ia lebih sering tak masuk kantor. Gayus Siagian, salah satu teman dekat Chairil, dalam tulisannya, ”Percikan Hidup Chairil Anwar”, yang terbit di Suluh Indonesia pada 27 April 1960, menuturkan bagaimana sikap Chairil yang tak mau menjadi pegawai. Ia bahkan mengejek teman-temannya sendiri yang bekerja di pusat kebudayaan bentukan Jepang itu. ”Benci aku melihat mereka. Jiwa pegawai negeri. Seniman apa itu?” tulis Gayus, mengutip Chairil. Gayus menyebut Chairil juga pernah ”makan gaji” saat bekerja di museum.

161819833484

Hingga usai Perang Dunia II, Chairil tak pernah terikat dengan pekerjaan formal. Sutan Takdir Alisjahbana dalam bukunya, Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1984), mengenang Chairil sangat menggebu-gebu dalam urusan sastra. Takdir bersama Chairil pernah merancang majalah Pujangga Baru versi baru selepas Jepang jatuh. Tapi rencana itu tidak pernah terwujud.

Keduanya juga pernah merancang majalah Arena. Tapi lagi-lagi rencana itu gagal. ”Usahanya untuk membentuk sebuah organisasi yang sadar berjuang untuk kebudayaan baru tak tercapai oleh karena sifatnya Chairil Anwar yang gelisah, sering berubah-ubah, sering tak menepati janji, dan lain-lain,” tulis Takdir.

Januari 1948, Chairil bekerja di Opbouw-Pembangoenan dengan tugas khusus mencari naskah untuk dipublikasi. Chairil mengelola majalah Gema Suasana. Chairil menjadi anggota redaksi bersama Mochtar Apin, Rivai Apin, dan Baharudin Marasutan, dengan Asrul Sani sebagai sekretaris redaksi. Kantor majalah itu di Gunung Sahari 84, Jakarta.

Namun di kantor itu lagi-lagi Chairil tak betah. Ia hanya sanggup bertahan sampai edisi ke-3—sementara Gema Suasana sendiri hanya bertahan sampai edisi ke-6. Chairil lalu merancang satu majalah baru bernama Air Pasang. Tapi rencana itu tak pernah terwujud. Pelukis Soedarso mengenang Chairil pernah pula bekerja dan tinggal di biro reklame Elite di kawasan Senen. Menurut Hasan Aspahani, penulis buku Chairil Anwar: Sebuah Biografi (2016), memang ada kesaksian yang mengatakan Chairil bekerja berbulan-bulan di sana. Diperkirakan pada akhir 1948 hingga ia meninggal pada April 1949.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819833484



Laporan Khusus 18/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.