Laporan Khusus 23/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Nini Mengingat Ninik

DI usianya yang ke-78, Nini Toeraiza Toeloes sudah lupa banyak hal. Termasuk tanggal lahirnya sendiri. Tapi ada satu peristiwa yang tak hilang dari ingatan Nini, yakni pemberian nama depannya. Dari ayahnya, Nini tahu nama depannya baru ditambahkan setelah kedatangan seorang Ninik.

Bang Nik—begitu Nini dulu memanggilnya—tak lain adalah Chairil Anwar. Air mata Nini merebak ketika Tempo menyebut nama penyair itu pada pertemuan dua pekan lalu di rumahnya di Jalan Bangka Buntu, Jakarta Selatan. ”Dia abangku. Dia yang kasih namaku,” kata perempuan itu dengan bibir bergetar.

i

DI usianya yang ke-78, Nini Toeraiza Toeloes sudah lupa banyak hal. Termasuk tanggal lahirnya sendiri. Tapi ada satu peristiwa yang tak hilang dari ingatan Nini, yakni pemberian nama depannya. Dari ayahnya, Nini tahu nama depannya baru ditambahkan setelah kedatangan seorang Ninik.

Bang Nik—begitu Nini dulu memanggilnya—tak lain adalah Chairil Anwar. Air mata Nini merebak ketika Tempo menyebut nama penyair itu pada pertemuan dua pekan lalu di rumahnya di Jalan Bangka Buntu, Jakarta Selatan. ”Dia abangku. Dia yang kasih namaku,” kata perempuan itu dengan bibir bergetar.

Chairil dan Nini sama-sama berayahkan Toeloes bin Manan. Setelah berpisah dengan ibu Chairil, Toeloes menikahi perempuan asal Guguak, Payakumbuh, bernama Syariah Ramadana. Selang setahun, pada 28 Desember 1938, lahirlah putri sulung mereka yang dinamai Toeraiza Toeloes. Adik-adik Toeraiza kelak juga diberi nama senada: si kembar Toehilwa dan Toehilwi serta si bungsu Toechairiah.


Chairil, yang saat itu berusia 16 tahun, senang sekali mendengar kabar kelahiran adik perempuannya. Ia menyambangi kediaman Toeloes di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Chairil memohon kepada Toeloes agar adiknya diberi nama Nini.

161819561069

Toeloes mempertanyakan pilihan itu karena Chairil sendiri dipanggil Ninik sedari kecil. ”Tidak apa. Aku Ninik pakai K, dia Nini,” ujar Chairil—sebagaimana diingat Nini dari cerita ayahnya. Toeloes akhirnya sepakat.

Dalam ingatan Nini, abangnya adalah lelaki lucu dan flamboyan. ”Tubuhnya tinggi dan jari-jarinya panjang seperti papaku.”

Nini kecil juga pernah dibawa Chairil mengunjungi rumah Mak Leha—panggilan ibu kandung Chairil, Siti Saleha. Hubungan dua keluarga itu cukup baik walaupun Saleha telah berpisah dengan Toeloes. Chairil dekat dengan ibu tirinya. Mama Dona—begitu sapaannya—pernah mengajak Chairil ke kampungnya di Payakumbuh.

Setelah Chairil hijrah ke Batavia, pada 1940, tak ada lagi persinggungan Nini dengan abangnya. Nini berpindah-pindah dari Pangkalan Brandan ke Medan, Bukittinggi, Pekanbaru, hingga Rengat, mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pamong praja.

Semasa mengungsi di Bukittinggi, Toeloes sempat berjumpa dengan Hamka. Menurut Dwiyana Bravani, putri kedua Nini, kakeknya memang memiliki lingkaran pergaulan yang luas.

Toeloes lalu bercerita kepada Nini tentang pertemuan dengan Hamka. Lelaki tinggi besar itu menangis. Kabar yang dibawa Hamka menggugahnya. ”Sudah dengar kabar anakmu di Jakarta? Jadi penyair dia sekarang,” Nini menirukan perkataan penulis Di Bawah Lindungan Ka'bah itu kepada Toeloes.

Dalam kenangan Nini, kabar itu membuat ayahnya terharu. Toeloes sudah lama tak mengirimkan uang kepada Chairil yang merantau ke Jakarta. Subsidi berhenti setelah Chairil menolak melanjutkan sekolah. ”Uang sudah disetop. Ternyata Bang Nik masih bisa jadi orang,” kata Nini.

Ketika terjadi penyerbuan Rengat yang mengambil nyawa Toeloes, Dona dan anak-anak mengungsi ke Pekanbaru. Kemudian mereka melanjutkan hidup di kampung Dona di Guguak. Nini lalu mengambil sekolah guru taman kanak-kanak di Padang. Ia menikah dengan pegawai bank, Djohan Arifin, dan dikaruniai lima anak perempuan.

Meski perjumpaan mereka singkat, kebanggaan Nini kepada Chairil tak lekang. Ia hafal sajak-sajak Chairil dan sering mendeklamasikannya ketika menjadi penyiar di Radio Republik Indonesia Padang. Nini juga senang membuat sajak, termasuk tentang peristiwa kematian tragis Toeloes yang disaksikannya sendiri.

Memang tak ada peninggalan tertentu dari Chairil untuk Nini, kecuali nama depan yang terus dipakai hingga kini. Walau begitu, ada satu tempat khusus di dinding ruang tengah rumah Nini. Poster besar Chairil Anwar yang sedang merokok tergantung di sana dalam bingkai kayu.

Suatu ketika Dwiyana menurunkan poster itu karena meyakini Islam melarang pajangan gambar makhluk hidup di dalam rumah. Nini marah besar. ”Abangku satu-satunya itu, jangan diturunkan!” ujarnya meraung. Poster itu tak pernah dicopot lagi—sampai sekarang.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819561069



Laporan Khusus 23/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.