Laporan Khusus 20/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bohemian Pertama Jakarta

Pada 1942, Chairil Anwar pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, Saleha, karena berpisah dengan ayahnya, Toeloes, yang menikah lagi. Di Jakarta ia miskin bahkan telantar. Ia menggelandang dari satu tempat ke tempat lain. Untuk bertahan hidup, ia sering mencuri kecil-kecilan. Namun di ”kampung besar” ini pula Chairil ditempa. Intelektualitasnya berkembang. Bacaannya bertambah banyak. Wawasannya semakin luas.

i

Dalam Lingkaran Sjahrir
Sebagai keponakan dan tinggal di rumah Sutan Sjahrir, Chairil dekat dengan berbagai kalangan, termasuk tokoh pergerakan nasional. Ia pernah menjadi kurir untuk menyampaikan informasi penting dari Sjahrir.


SITI Latifah Herawati Diah hanya bisa mengingat dua hal tentang Chairil Anwar, yakni syair dan Sutan Sjahrir. Perempuan yang pada 3 April lalu berusia 99 tahun itu bercerita, satu kali pernah Chairil datang ke rumahnya di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Chairil datang untuk menemui suaminya, Burhanuddin Mohammad Diah. Herawati lupa kapan tepatnya. ”Yang saya masih ingat, Chairil membacakan 'Aku' dengan penuh semangat,” katanya saat ditemui Tempo, Jumat dua pekan lalu.

Menurut Herawati, Chairil dekat dengan suaminya, yang juga seorang wartawan era kemerdekaan. Dari suaminya, Herawati mengetahui Chairil adalah keponakan Sjahrir, tokoh pergerakan nasional yang menjadi perdana menteri pertama Indonesia. Namun Herawati tak bisa mengingat bagaimana hubungan paman dan keponakan itu.


Sejumlah catatan menyebutkan Chairil adalah keponakan Sjahrir dari keluarga ibunya, Saleha. Chairil dan ibunya datang ke Batavia pada 1941. Keduanya ketika itu kemudian menumpang di rumah Sjahrir di Jalan Dambrink atau kini Jalan Latuharhary 19. Pada saat bersamaan, Sjahrir juga baru kembali dari Banda Neira, Maluku, setelah diasingkan tujuh tahun oleh Belanda bersama tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya. Usia Sjahrir 13 tahun lebih tua ketimbang Chairil.

161820078199

Chairil kemudian bertemu dengan anak angkat Sjahrir dari Banda Neira. Salah satunya Des Alwi. Des tinggal sekamar dengan Chairil. Seperti diungkapkan Des Alwi dalam bukunya, ­Friends and Exiles: A Memoir of The Nutmeg Isles and The Indonesia Nationalist Movement (Cornell Seap on Sea, 2008), Chairil yang dia panggil Ninik memiliki kemampuan bahasa Inggris dan Belanda sangat baik. Dengan dua bahasa ini, menurut Des, Chairil kerap berdebat tentang apa pun dengan Sjahrir. Di mata Des, Chairil adalah kutu buku. Menurut Des, Sjahrir sangat mengagumi kecerdasan keponakannya ini. Sjahrir juga menyuntikkan pemikiran-pemikiran ideologis kepada Chairil.

Dari Des, Chairil untuk pertama kalinya mendapatkan cerita tentang Kepulauan Maluku. Misalnya, tentang bagaimana sakralnya pohon pala dan mitos tentang datu. Des juga yang memperkenalkan Chairil kepada Leonardine Hendriette Tamaela atau dikenal Dien Tamaela. Gadis berdarah Maluku itu tinggal dengan kedua orang tuanya tidak jauh dari rumah Sjahrir saat di pengasingan tersebut.

Chairil semakin tertarik pada Maluku setelah mendengar cerita tentang wilayah itu dari Dien. Saat keduanya makan di sebuah restoran, Dien bercerita tentang datu keturunannya yang pertama di Maluku, dari Radjawane sampai akhirnya Tamaela. Kekaguman Chairil terhadap cerita Dien tentang Maluku kemudian dituangkan dalam sajak ”Cerita buat Dien Tamaela”.

Beta Pattiradjawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu

... ...

Betta Pattiradjawane, menjaga hutan pala

Beta api di pantai. Siapa mendekat

Tiga kali menyebut beta punya nama

... ...

Sejarawan Rusdi Husein mengatakan Sjahrir dan orang-orang dekatnya banyak mempengaruhi kehidupan Chairil. Selain mengenal anak-anak angkat Sjahrir, menurut Rusdi, Chairil mulai banyak berhubungan dengan tokoh politik dan pergerakan serta seniman lain. Tokoh pergerakan di lingkaran Sjahrir yang dekat dengan Chairil adalah Soedjatmoko atau Koko, Sudarpo, juga Subadio Sastrasatomo atau Kiyuk. Ketiganya dikenal sebagai ”The Sjahrir's Boys” atau lingkaran dalam kelompok Sjahrir. ”Tapi Chairil tetap memilih menjadi penyair, tidak mau menjadi politikus seperti mereka,” kata Rusdi.

Berada di lingkaran Sjahrir, Chairil juga mengenal banyak wartawan. Menurut sejumlah literatur tentang Chairil, selain dengan Herawati dan suaminya, Chairil juga berteman dengan banyak wartawan di era kemerdekaan. Dua di antaranya Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis. Rusdi Husein mengatakan Chairil memiliki banyak teman wartawan karena ia kerap melibatkan diri dalam aktivitas politik dan perjuangan Sjahrir. Dalam banyak kegiatan, baik sebagai tokoh pergerakan maupun ketika menjadi perdana menteri, Sjahrir kerap mengajak wartawan. ”Chairil hanya ikut-ikutan,” kata Rusdi.

Chairil juga pernah menjadi ”kurir” penting bagi Sjahrir pada awal Agustus 1945. Ketika itu Sjahrir meminta Chairil menyampaikan informasi tentang Jepang yang kalah oleh Sekutu kepada para pemuda dan mahasiswa pejuang. Inilah pesan Sjahrir yang kemudian menggerakkan semua pejuang hingga berujung pada penculikan Sukarno dan Mohammad Hatta agar keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Jika tidak dilakukan, demikian menurut Sjahrir, Belanda yang membonceng Sekutu akan kembali menjajah Indonesia.

Informasi penting itu didengar Sjahrir melalui siaran radio luar negeri yang ketika itu sangat dilarang oleh Jepang. Jika ada yang kedapatan mendengar dan menyebarkan siaran radio negara-negara pendukung Sekutu, tentara Jepang akan langsung menangkap orang itu.

Menurut kesaksian Subadio Sastrasatomo, dalam buku Soebadio Sastrosatomo, Pengemban Misi Politik, terbitan 1995, yang ditulis Rosihan Anwar, semua pesawat radio di Batavia ketika itu disegel. Hanya ada satu frekuensi radio Jepang yang boleh didengar, yakni Hosso Kyoku. Sjahrir mendapatkan radio gelap itu dari Chairil. Radio Philips yang dipakai Sjahrir untuk memantau siaran luar negeri ini dibeli Chairil dari seorang nyonya Belanda yang tengah kesulitan ekonomi karena suaminya ditahan Jepang.

Menurut Subadio, pada 10 Agustus 1945, Chairil bergegas menemuinya di kantor Komisi Bahasa Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 23 . Kepada Subadio, Chairil yang menjadi ”kurir” informasi dari Sjahrir membawa berita penting yang diperoleh dari radio luar negeri itu: Amerika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. ”Saya menyampaikan berita dari Sjahrir itu ke kelompok pemuda dan teman-teman,” kata Subadio.

Satu hal yang dihindari Chairil adalah melibatkan diri dalam rapat Sjahrir dan para pemuda di rumah pamannya itu. Kalaupun harus nimbrung, seperti yang dikisahkan Sjuman Djaya lewat buku skenario Aku terbitan Pustaka Utama Grafiti pada 1987, Chairil sekadar ingin meminta cerutu dari Sjahrir. Ini misalnya terjadi pada November 1945. Ketika itu Chairil menyela rapat pemuda yang dipimpin Sjahrir di rumahnya. Sjahrir saat itu sudah menjadi perdana menteri. ”Selamat pagi, Bapak Perdana Menteri. Ada yang sedang penting rupanya. Saya interupsi sebentar cuma buat ini, kok...,” ujar Chairil sambil mengambil beberapa batang cerutu di depan Sjahrir dan bergegas meninggal ruangan itu.

Bung Kecil—begitu panggilan Sjahrir—tidak marah melihat kelakuan keponakannya tersebut. Sjahrir biasanya kemudian hanya memanggil Chairil. ”Ril, sini dulu! Kenalkan kawan-kawan ini.”

l l l

Mulai kelam

Belum buntu malam

Kami masih saja berjaga

Thermophylae

Jagal tidak dikenal

Tapi nanti

Sebelum siang membentang

Kami sudah tenggelam

Hilang…

Sajak ini menandai kiprah Chairil secara fisik dalam pergerakan nasional, tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Sajak itu ditulis di Markas Angkatan Pemuda Indonesia di Menteng 31, Jakarta, yang sekarang dikenal dengan Gedung Joang. Di tempat inilah Sukarno, Mohammad Hatta, Amir Sjarifuddin, dan Ki Hadjar Dewantara mengajarkan nasionalisme. Menurut penulis buku Chairil Anwar: Sebuah Biografi, Hasan Aspahani, di tempat ini Chairil menyerap gairah perjuangan. ”Aktivitas Chairil ini dilaporkan ke Sjahrir,” ujar Hasan.

Selain di Gedung Joang, Chairil leluasa bergerak di sejumlah asrama yang menjadi pusat perjuangan pemuda dan mahasiswa di Jakarta. Misalnya di asrama milik perguruan tinggi Islam di Jalan Prapatan 10 dan asrama di Jalan Cikini. Chairil leluasa bergerak dari asrama satu ke asrama lain karena para pemuda dan mahasiswa itu menghormatinya sebagai keponakan Sjahrir. Chairil juga kerap ikut bersama Sjahrir berkunjung ke jaringannya di Bandung, Cepu, Yogyakarta, hingga Surabaya. ”Di sana ada kegiatan pemuda yang dipimpin Sjahrir,” kata Abu Bakar Lubis dalam bukunya, Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, dan Saksi, 1992. Ia ketika itu mahasiswa kedokteran yang dekat dengan Sjahrir.

A.M. Chandra, saksi sejarah, mengatakan kerap melihat Chairil, dengan bajunya yang kusut dan rambut tidak pernah disisir, muncul di asrama Patuk, Yogyakarta, bersama Des Alwi, Abu Bakar Lubis, dan Ali Algadri. ”Mereka anak muda kaki tangan Sjahrir, mempertaruhkan nyawa menjadi penghubung pusat perjuangan di Jakarta dengan pusat perjuangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ujar Chandra, seperti tertulis dalam artikel ”Chairil Anwar dan Perjuangannya” di Sinar Harapan, 28 April 1971.

Menurut Des Alwi, Chairil melengkapi diri dengan sepucuk pistol. Des menyebut dia—termasuk Chairil—sebagai pasukan bawah tanah. Jika tidak terpakai, kata Des, pistol itu disimpan di dalam tanah dengan dibungkus kain agar tidak berkarat.

Kendati sangat bangga kepada Sjahrir, Chairil tidak pernah menulis sajak khusus untuk sang paman. Justru untuk Sukarno, Chairil menulis sebuah sajak, ”Persetujuan dengan Bung Karno”. Hingga kemudian, pada 1948, Chairil membuat sajak ”Krawang-Bekasi”, yang satu baitnya menyebutkan Sjahrir dan memposisikan pamannya itu sejajar dengan Sukarno dan Hatta, nama-nama yang dalam sajak itu harus dijaga bangsa Indo­nesia.

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskanlah jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Sjahrir


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161820078199



Laporan Khusus 20/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.