Layar 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Nyanyian Annie dan Tuan Roosevelt

Annie merupakan drama musikal berlatar Amerika tatkala pada 1930-an mengalami resesi ekonomi. Annie adalah sosok gadis yatim-piatu berumur 11 tahun yang suka kabur dari panti asuhan untuk mencari orang tuanya. Ia kemudian diadopsi seorang jutawan yang mempertemukannya dengan Presiden Roosevelt.

Dipentaskan di Jakarta, dengan sutradara yang sama saat Annie pertama kali pada 1970-an dipentaskan di Broadway dan mendulang sukses besar, tontonan ini menghangatkan hati. Annie menyebarkan pesan optimisme: besok akan lebih baik daripada hari ini. Tomorrow, tomorrow, you're always a day away.

i

Ekonomi Amerika Serikat pada 1930-an menurun dramatis. Indeks bursa saham anjlok. Banyak bank gulung tikar. Pabrik-pabrik merumahkan buruh. Zaman itu disebut Depresi Besar. Penganggur ada di mana-mana. Jalanan New York dipenuhi pemandangan gelandangan kelaparan.

Presiden Franklin D. Roosevelt dan tim penasihatnya nyaris kehilangan harapan. Ia baru menggantikan Presiden Herbert Hoover pada 1933. Krisis yang dimulai pada masa Herbert Hoover semakin menjadi-jadi. Kekerasan multirasial merebak di sudut-sudut kota. Di tengah rapat genting tentang masa depan negara, seorang gadis cilik berambut merah yang dibawa sahabat sang Presiden, miliarder Oliver Warbucks, masuk ke ruangan kepresidenan dengan senyum lebar. Ia lincah. Ia bukan anak pemalu. Segera, ia mengajak sang Presiden bernyanyi. Tentang hari esok yang cerah (Tomorrow).

The sun'll come out


Tomorrow

161819910763

Bet your bottom dollar

That tomorrow

There'll be sun!

Just thinkin' about

Tomorrow

Clears away the cobwebs,

And the sorrow

‘Til there's none!

The sun'll come out

Tomorrow

So ya gotta hang on

‘Til tomorrow

Come what may

Tomorrow!

Tomorrow!

I love ya

Tomorrow!

Lagu penuh semangat itu mencerahkan Roosevelt. Setelah beberapa menit turut bernyanyi dan menari bersama si gadis kecil, Roosevelt pun mendeklarasikan, ”Aku sudah memutuskan, pemerintahanku akan optimistis tentang masa depan bangsa ini!”

Kisah gadis kecil bernama Annie yang mampu meyakinkan Presiden Roosevelt ini tampil di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, sepanjang dua pekan lalu. Tentu sosok Annie adalah fiksi. Namun oleh banyak kritikus teater tontonan keluarga ini dianggap memotret situasi politis era Amerika terkena malaise besar. Saat itu Roosevelt dianggap berjibaku menyelamatkan dan memulihkan perekonomian negara. Annie adalah simbol pemberi harapan Amerika mampu keluar dari kemelut.

Annie yang hadir di Jakarta adalah versi klasik sesuai dengan pentas pertamanya di Broadway pada 1977. Ia juga dibesut oleh sutradara yang sama ketika Annie pertama kali dipentaskan 39 tahun lalu: Martin Charnin. ”Kami ingin mengembalikan pentas ini sesuai dengan aslinya,” kata manajer panggung Suzayn Mackenzie Roy. Pertunjukan ini diproduksi Troika Entertainment sejak 2015. Sebelumnya, pentas ini telah dibawa tur keliling Amerika Serikat, kemudian dilanjutkan dengan tur internasional.

Mengambil setting tahun 1933, pentas dibuka dengan adegan di sebuah kamar panti asuhan reyot. Miss Hannigan, pengurus panti, adalah perempuan gendut dan kejam yang mempertahankan panti asuhan semata demi uang santunan. Annie adalah salah satu anak yang tinggal di panti asuhan itu. Dia hangat, berani, dan percaya bahwa orang tuanya masih ada di luar sana.

Menjelang Natal, miliarder Oliver Warbucks menginginkan mengundang seorang yatim-piatu untuk tinggal dan dijamu di rumahnya selama dua minggu. Secara kebetulan sekretaris Warbucks mencari yatim-piatu itu di panti asuhan tempat Annie. Annie saat itu baru kabur dari panti asuhan karena ingin mencari orang tuanya. Ia dibawa kembali oleh polisi ke panti asuhan. Annie kemudian terpilih sebagai anak yang bakal dijamu Warbucks. Tingkah gadis kecil itu meluluhkan hati Warbucks, yang biasanya hanya peduli pada bisnis dan keuntungan. Warbucks bersedia membantu Annie menemukan orang tuanya.

Bermain sebagai Annie adalah gadis 12 tahun bernama Heidi Gray. Tak seperti Annie versi klasik dengan rambut keriting yang ikonik, Heidi tampil dengan rambut lurusnya. Ia baru mengenakan wig keriting pada adegan terakhir. Walau begitu, Heidi adalah aktor yang kuat. Ia mampu membawakan lagu-lagu legendaris dari pentas ini, seperti Maybe, It's the Hard Knock Life, dan tentunya Tomorrow dengan suara lantang yang jernih dan menyentuh hati.

Jakarta adalah kota pertama yang didatangi dalam tur internasional pentas musikal Annie produksi Troika Entertainment. Total ada 16 pertunjukan dalam dua pekan. Sebagaimana pentas-pentas drama musikal Broadway pada umumnya, pergantian set terus-menerus yang menghadirkan berbagai suasana adalah keunggulan pertunjukan ini. Set berubah secara efisien dari kamar tidur tempat yatim-piatu yang kumuh, jalanan New York tengah malam, Central Park, ruang tamu mewah Warbucks, kantor presiden, dan rumah presiden. Tatkala kabur dari panti asuhan di jalanan New York saat larut malam disajikan, Annie bertemu dengan seekor anjing kecil putih lucu yang kemudian diberi nama Sandy. Pentas menghadirkan anjing putih pudel betulan.

Lagu-lagu yang dinyanyikan Annie, Presiden Roosevelt, hartawan Warbucks, dan kor anak-anak kecil panti asuhan memang memikat. Hingga kini, kisah Annie masih menjadi salah satu yang paling banyak dipentaskan. New York Times mencatat ada 700-900 pentas Annie di Amerika Serikat setiap tahun.

Sejarah cerita Annie dapat ditelusuri hingga tahun 1885. Seorang penyair bernama James Whitcomb Riley menulis puisi berjudul ”The Elf Child”. Riley terinspirasi se­orang anak yatim-piatu bernama Allie. Gara-gara salah cetak, nama Allie entah bagaimana berganti menjadi Annie. Nama itu bertahan terus hingga menginspirasi komikus Harold Gray membuat komik strip tentang ”Annie si Yatim-Piatu Cilik”.

Komik Harold Gray pertama kali muncul di New York Daily News pada 5 Agustus 1924. Annie digambarkan sebagai gadis berambut keriting, berbaju merah, dan—yang paling unik—matanya putih semua. Komik ini dengan cepat menjadi terkenal karena Gray dengan berani memasukkan pandangan politiknya dalam kisah petualangan si gadis cilik. Pada 1937, polling majalah Fortune menempatkan komik strip Annie sebagai komik paling populer di Amerika Serikat.

Ide mengadaptasi Annie menjadi pertunjukan musikal sudah dipikirkan Martin Charnin pada 1972. Ia mengajak penulis buku Thomas Meehan dan komposer Charles Strouse untuk turut mengembangkan cerita. Tiga orang ini tumbuh pada 1930-an dan memutuskan membuat latar cerita Annie pada periode yang sama demi nostalgia.

Produksi musik Annie pertama dilangsungkan di Alvin Theatre Broadway pada 1977 itu adalah sebuah pemecahan rekor. Pentas ini mampu bertahan selama enam tahun berturut-turut. Drama musikal ini masuk 11 nominasi Tony Award dan berhasil meraih Tony Award—untuk kategori musik terbaik. Tony Award adalah penghargaan untuk karya-karya drama Broad­way. Dua lagu yang disajikan dalam Annie, Tomorrow dan It's the Hard Knock Life, menjadi lagu yang populer.

Kesuksesan ini menggoda produser film. Pada 1979, Columbia Pictures membeli hak untuk mengadaptasi Annie dengan biaya US$ 50 juta. Pemenang Oscar, John Huston, direkrut menjadi sutradara. Pemainnya antara lain Albert Finney sebagai Oliver Warbucks dan aktor muda Aileen Quinn sebagai Annie. Film ini masuk nominasi Golden Globe dan Oscar, tapi tak menang. Tak laku juga di pasar. Martin Charnin bahkan dikabarkan tak suka versi adaptasi ke layar perak ini karena ikatan emosi antara Annie dan Warbucks terasa lemah. Selain itu, lagu Tomorrow yang merupakan nomor paling hit dari versi musikalnya justru tak ditonjolkan.

Pada 2014, dibuat ulang film Annie. Baik versi musikal Charnin maupun film Huston selalu berpusat pada aktor-aktor kulit putih. Termasuk pula produksi Troika Entertainment. Barangkali inilah yang menjadi alasan film remake Annie terbaru yang rilis pada 2014 menggunakan aktor kulit hitam.

Annie diperankan oleh Quvenzhané Wallis, sementara ayah angkatnya (di sini bernama William Stacks) diperankan Jamie Foxx. Film produksi Village Roadshow Pictures dan Overbrook Entertainment itu mengangkat Annie di era modern. Stacks adalah pengusaha telepon seluler yang mencalonkan diri sebagai Wali Kota New York. Annie memperjuangkan berdirinya ”Black Youth Education Facility” untuk membantu anak-anak tuna-aksara.

Cameron Diaz turut tampil dalam film ini sebagai Miss Hannigan. Sebagai film keluarga, Annie produksi 2014 cukup menyenangkan untuk ditonton. Hal yang mengganggu justru peran Cameron Diaz yang tak cocok menjadi Miss Hannigan. Benarlah jika kemudian ia dinominasikan sebagai Aktris Pendukung Terburuk dalam Golden Raspberry Award.

Pementasan drama musikal Annie di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, membutuhkan lima kontainer untuk mengangkut semua properti. Semua dikapalkan langsung dari Amerika melalui pela­buhan Portland, Oregon. Suzayn Mackenzie mengatakan mereka tak berani mengambil risiko mencari kebutuhan properti di negara tujuan tur karena khawatir tak cocok dengan spesifikasi. Semua aktor juga asli sana, termasuk tujuh anak perempuan dan dua ekor anjing. Dua anjing ini bergantian berperan sebagai Sandy, anjing lucu yang menjadi sahabat Annie. ”Mereka anjing profesional yang sangat pintar,” kata Heidi Gray, pemeran Annie.

Tak sulit mengikuti cerita Annie walau disajikan dalam bahasa Inggris. Dialognya sederhana karena banyak pemeran anak dalam pentas ini. Koreografi tarian pun menarik dan menggunakan properti unik, seperti adegan anak-anak panti asuhan yang menari dengan peralatan pel atau adegan gelandangan New York yang menari dengan cangkir sup.

Miss Hannigan menjadi peran paling menarik. Ia serakah tapi lagaknya jenaka. Caranya menjilat polisi, Oliver Warbucks, hingga Presiden Roosevelt selalu berhasil menjadi ledakan humor di tengah dialog yang serius. Ia memperlakukan anak-anak panti asuhan dengan kejam tapi mereka mampu berbalik melawannya. Miss Hannigan menyebut minuman beralkohol sebagai obat, yang kemudian dijadikan lelucon oleh anak-anak.

Sedari dulu, karakter Hannigan memang menjadi bagian penting dari legenda Annie. Peraih Tony Award untuk Aktris Terbaik bukanlah Andrea McArdle, yang memerankan Annie pertama. Penghargaan itu justru jatuh ke tangan Dorothy Loudon sebagai Hannigan.

Akan halnya karakter Annie meniupkan aura positif dari segala sisi. Tak ada yang bisa menghentikan semangatnya. Tatkala kabur dari panti asuhan, ia bergabung dengan sekerumunan gelandangan yang kelaparan. Mereka sama sekali tak memiliki uang. Mereka tadinya adalah pegawai yang terkena PHK massal akibat resesi.

”Bagaimana kalau kantong kita kosong begini?” keluh seorang gelandangan.

”Setidaknya kita masih punya kantong, untuk menghangatkan tangan,” jawab Annie.

Dialog dan lelucon pentas ini banyak mengangkat tokoh Amerika pada 1930-an, seperti Presiden Herbert Hoover dan gangster Al Capone. Sebuah adegan bahkan didedikasikan khusus untuk melantunkan kor yang mengkritik Presiden Hoover, karena dianggap memulai kebangkrutan ekonomi Amerika. Lirik nyanyian itu bengal. Para gelandangan yang tadinya hidupnya lumayan mapan mencaci Herbert Hoover sebagai tikus got.

Today we're living in a shanty

Today we're scrounging for a meal

Today I'm stealing coal for fires

Who knew i could steal?

I used to winter in the tropic

I spent my summers at the shore used to throw away the paper—

He don't anymore

We'd like to thank you: Herbert Hoover

For really showing us the way

We'd like to thank you: Herbert Hoover

You made us what we are today

Prosperity was ‘round the corner

The cozy cottage built for two

In this blue heaven

That you

Gave us

Yes!

We're turning blue!

They offered us Al Smith and Hoover

We paid attention and we chose

Not only did we pay attention

We paid through the nose.

In ev'ry pot he said ”a chicken”

But Herbert Hoover he forgot

Not only don't we have the chicken

We ain't got the pot!

Hey Herbie

You left behind a grateful nation

So, Herb, our hats are off to you

We're up to here with admiration

Come down and share some Christmas dinner

Be sure to bring the missus too

We got no turkey for our stuffing

How bout we stuff you

We'd like to thank you, Herbert Hoover

For really showing us the way

You dirty rat, you Bureaucrat, you

Made us what we are today

Memang, bagi sebagian penonton yang tak akrab dengan sejarah Amerika, tentu lelucon ini tak dapat memancing tawa. Hal seperti ini pernah terjadi di Kanada. Penonton jarang tertawa karena tak paham dengan lelucon yang terkait dengan tokoh-tokoh Amerika masa dulu. Suzayn Mackenzie menilai penonton di Jakarta lebih baik dalam hal ini. ”Penonton di sini lebih berpengetahuan dan sangat responsif,” katanya. Nyatanya memang penonton Jakarta tertawa. Entah karena betul paham entah semata karena tingkah pemain memang kocak.

Moyang Kasih Dewimerdeka, Seno Joko Suyono


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819910763



Layar 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.