Laporan Khusus 11/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bersua Lewat Buku Sastra

Dari sebuah foto di buku, Evawani berkenalan dengan Chairil untuk pertama kali.

i

EVAWANI Alissa masih berumur delapan tahun ketika mengetahui pertama kali Chairil Anwar. Sewaktu ia duduk di bangku kelas III Sekolah Rakyat Latihan (kini Sekolah Dasar Manggarai), seorang guru memperlihatkan kepadanya sebuah buku karangan Hans Bague Jassin berjudul Chairil Anwar. Di dalam buku itu terdapat sebuah fotonya dengan keterangan: anak penyair Chairil Anwar.

Dengan kepolosan anak kecil, Evawani menukas, ”Bukan. Bapak saya ada di rumah. Namanya Achmad Natakusumah.” Meski begitu, Iip—nama kecil Evawani—merasa heran. Musababnya, foto dalam buku tersebut memang potret dirinya yang baru diambil beberapa pekan sebelumnya di Studio Tik Kong di Jatinegara.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, dia jadi teringat perkataan yang kerap diucapkan para tetangga kepadanya bahwa dia mirip Chairil. Lantas siapa Chairil?


”Oh, itu salah cetak. Chairil itu tetangga kita yang sayang sekali sama Iip. Kamu anak Mama sama Pak Achmad,” ujar Evawani menirukan perkataan ibunya, Hapsah Wiraredja, yang mencoba menutupi identitas sang penyair. Putri tunggal Chairil Anwar ini menceritakan pengalaman pertamanya mengenal sang ayah kepada Tempo, akhir Juli lalu, di kantornya di Pondok Gede, Jakarta Timur.

161831245954

Hapsah dan Chairil menikah pada 6 September 1946. Namun Hapsah kerap meributkan Chairil yang tak punya pekerjaan tetap. Sembilan bulan kemudian, tepatnya 17 Juni 1947, Evawani lahir. Kelahiran Iip pun tak bisa memperbaiki suasana rumah tangga mereka. Keduanya berpisah.

Chairil wafat saat Evawani baru berumur 1 tahun 10 bulan. Dan Hapsah masih merahasiakan siapa Chairil sebenarnya kepada Evawani kecil hingga peristiwa di sekolahnya itu terjadi. Tak syak, rahasia itu akhirnya terbongkar. Adalah Ibrahim, adik kandung Hapsah, yang membongkar identitas ayah kandung Evawani.

Menurut Evawani, Hapsah tentu punya alasan kenapa menyembunyikan rahasia tersebut. Pertama, Eva masih amat kecil untuk tahu siapa Chairil. Kedua, saat itu Hapsah sudah menikah lagi dengan Achmad Natakusumah. Setelah pengakuan Hapsah, Chairil bagi Eva bukan lagi orang asing yang berada di sampul buku.

Pernah suatu hari Hapsah memberi Evawani sebuah novel berjudul Pulanglah Dia Si Anak Hilang karangan Andre Gide yang diterjemahkan Chairil dalam cetakan sederhana. Pada halaman muka buku itu, Chairil menulis untuk anaknya: ”Iip, buku ini banyak salah cetak. Nanti kalau kita banyak uang kita beli mesin cetak, kita cetak sendiri.”

Sayangnya, buku tersebut hilang sewaktu dipinjam Sjuman Djaya, sutradara yang menggarap film Si Doel Anak Betawi (1972). Sjuman kala itu hendak membuat film otobiografi Chairil Anwar.

Tak banyak warisan yang ditinggalkan Chairil untuk anaknya selain mata dan rambut merahnya. Ini yang kerap membuat Hapsah terkenang pada sosok mantan suaminya. ”Saat saya kurang tidur dan tampak acak-acakan, Mama sering bilang, 'Tidur sana. Kalau begitu, kamu benar-benar mirip Chairil',” ucap Evawani.

Warisan Chairil lainnya ialah pesan agar kelak Eva tidak memanggilnya ”Papa”. ”Aku kan masih muda, nanti Iip memanggil aku pakai namaku saja,” tutur Eva mengenang pesan Chairil kepada Hapsah. ”Aku berharap Iip jadi pintar seperti aku dan tekun seperti kamu.”

Eva dewasa ternyata tak mengikuti jejak ayahnya yang bergelut di dunia kesusastraan. Pada 1970, ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Lalu ia melanjutkan pendidikan profesi kenotariatan di FHUI. Eva pernah bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan sempat mengajar di almamaternya.

Kini perempuan 69 tahun itu sibuk mengurus kantor notarisnya. Pernikahannya dengan jurnalis Ibnu Sarwono (almarhum) dianugerahi tiga anak dan empat cucu.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831245954



Laporan Khusus 11/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.