Laporan Khusus 14/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Yang Patriot, yang Eros, dan yang Belum Rampung

PEREMPUAN dan revolusi, dua tema itu senantiasa menggoda Chairil Anwar. Di tengah gelegak pertempuran dan diplomasi, ia tampil dengan sajak-sajaknya yang patriotik. Sajak ”Diponegoro”, misalnya, sangat populer hingga kini. Chairil juga masyhur dengan puisi cinta yang ditujukan kepada beberapa wanita. Siapa saja wanita Chairil? sejauh mana hubungan mereka? Ternyata Chairil juga menyisakan sejumlah sajak yang belum selesai ditulis. Adakah itu sajak asmara atau sajak yang merefleksikan kancah peperangan?

i

Laskar di Balik Meja dan Medan Pertempuran
Chairil Anwar tidak hanya menulis puisi berdasarkan imajinasi, tapi juga terlibat langsung dalam hiruk-pikuk revolusi.


PIGURA dengan bingkai kuning emas yang memudar itu diletakkan di atas sebuah pengeras suara hitam berbentuk kotak di ruang Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta. Posisinya agak miring dengan bagian atas menyandar ke dinding. Letak pigura itu berjarak sekitar dua meter dari foto H.B. Jassin berbaju batik dalam pose dua pertiga badan, yang menempel di dinding. Di dalam pigura itu, di atas batu berwarna krem, terpahat sajak tulisan tangan Chairil Anwar. Judulnya: ”Persetujuan dengan Bung Karno”.

Lalu ada foto Chairil sedang merokok dalam ukuran kecil yang ditempel dalam posisi miring di sudut kanan atas bidang. ”(Karya) itu dibikin Motinggo Busye,” kata salah seorang pegawai Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Rabu sore dua pekan lalu. Bingkai puisi Chairil itu diletakkan terpisah dengan bingkai puisi penyair Indonesia lainnya, yang juga karya Busye.


Ditulis pada 1948, ”Persetujuan dengan Bung Karno” berbunyi:

161831189774

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

dipanggang di atas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

”Puisi itu sangat nasionalis,” ucap Rachmat Djoko Pradopo, mantan guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Saat itu, menurut dia, suasana memang sedang bergolak setelah kemerdekaan 1945. Orang-orang melancarkan perlawanan dan pemberontakan terhadap penjajah Belanda. ”Bagaimanapun, seorang penyair akan terpengaruh oleh suasana politik zaman itu,” ujar Rachmat, yang juga penyair.

Sejarawan Mona Lohanda menggambarkan, pada saat puisi itu ditulis, di beberapa tempat terjadi gejolak dan pertempuran. ”Tapi sifatnya lokal,” kata mantan peneliti di Arsip Nasional Republik Indonesia ini.

Pertempuran besar pada tahun itu terjadi di Yogyakarta—yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Penyerbuan Yogya itu diikuti dengan penangkapan tokoh-tokoh Republik, seperti Sukarno, Hatta, dan Sjahrir. Lalu, pada sebuah pagi, mereka dinaikkan ke pesawat tempur dan diterbangkan ke Bangka atas perintah Kolonel D.R.A. Van Langen. ”Saya menduga sajak itu ada kaitannya dengan Yogya yang diserbu,” tutur sejarawan kelahiran Tangerang pada 1947 itu.

Puisi lain yang kental semangat perjuangan adalah ”Krawang-Bekasi”. Maman S. Mahayana, pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mengatakan Chairil menulis puisi ”Krawang-Bekasi” bukan berdasarkan imajinasi di belakang meja saja, melainkan juga terlibat langsung dalam hiruk-pikuk perjuangan (Baca: ”Di Balik 'Krawang-Bekasi'”).

Chairil bersama seniman dan pemuda lain juga ikut mencetuskan sejumlah slogan pembakar semangat perjuangan. Slogan tersebut antara lain ”merdeka atau mati”, ”berjuang sampai titik darah penghabisan”, dan ”ayo bung rebut kembali”. Menurut Maman, pada 1945-1948, Belanda tidak hanya melakukan serangan senjata, tapi juga serangan psikologi. Nah, ”Para seniman ikut serta dalam perjuangan melawan Belanda itu.”

Keterlibatan Chairil dalam gebalau revolusi juga dicatat oleh sejarawan Australia, Robert Bridson Cribb, dalam bukunya, Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949. ”Pada 1946, sastrawan yang memilih bergabung dengan laskar, seperti Chairil Anwar, menerbitkan suplemen kesusastraan di dalam surat kabar Siasat yang diberi nama 'Gelanggang',” tulis Cribb. Namun ia tidak mengupas lebih dalam peran Chairil.

Sejumlah referensi juga menyebutkan pada masa itu Chairil suka berkumpul dengan pemuda pejuang. Salah satunya di Jalan Menteng 31, yang kini menjadi Gedung Joang di Jalan Menteng Raya, Jakarta. ”Sajak 'Malam' ditulis di markas API,” ujar penyair Hasan Aspahani, yang menulis buku Chairil Anwar: Sebuah Biografi. Angkatan Pemuda Indonesia (API) bermarkas di gedung bekas hotel milik warga Belanda itu.

Sajak ”Malam” memang tidak populer, tapi isinya tentang perjuangan. Puisi itu dimuat dalam buku Derai-derai Cemara yang disunting Taufiq Ismail. Di bawah sajak itu memang ditulis tempat penciptaan, yakni Markas API, Menteng 31, 1945. Sebelumnya, sajak itu dimuat di Panca Raya edisi 1 Desember 1946.

MALAM

Mulai kelam

belum buntu malam

kami masih berjaga

—Thermopylae?—

—jagal tidak dikenal ?—

tapi nanti

sebelum siang membentang

kami sudah tenggelam

hilang....

Markas API, Menteng 31, 1945

Menurut Hasan, kunci untuk memahami sajak itu adalah kata ”Thermopylae”, yakni lokasi per­tempuran pasukan Persia dengan Yunani pada 480 Sebelum Masehi. Persia menyerang dengan 150 ribu tentara dan Yunani bertahan dengan 7.000 anggota pasukan. Meski dimenangi Persia, tulis Hasan, pertempuran itu contoh bagus bahwa semangat patriotik adalah kekuatan penting dalam mempertahankan tanah kelahiran.

Setelah Proklamasi 1945 adalah tahun-tahun yang berat, tapi Chairil yakin malam tak akan buntu. ”Karena itu, kami masih saja berjaga. Patriotisme adalah modal terbesar,” kata Hasan, mengulas bagian puisi tersebut.

A.M. Hanafi, salah seorang pentolan Menteng 31, melukiskan kenangannya bersama Chairil dengan mengutip judul puisi ”Krawang-Bekasi” di bukunya, Menteng 31: Membangun Jembatan Dua Angkatan. Hanafi menyebutkan Chairil ”pernah bersama-sama kami sejak dari Menteng 31 sampai ke Krawang-Bekasi”.

Yang dimaksud ”kami” adalah pemuda seperti Sukarni, M. Nitihardjo, Adam Malik, Wikana, Chaerul Saleh, Pandu Wigana, Kusnaeni, Darwis, Johar Nur, dan Arminanto. Lalu ada empat serangkai: Bung Karno, Bung Hatta, KH Mas Mansyur, dan Ki Hadjar Dewantara, yang memimpin mereka.

Hanafi mengutip judul puisi tersebut, ”Sekaligus sebagai pengungkap rasa hormat dan sayang kepada sang penyair. Kelak jika ada kesempatan memungkinkan terkandung niat pada saya untuk mencatat pengalaman kami bersama-sama Chairil.”

Namun keterlibatan Chairil di medan pertempuran diragukan oleh Ajip Rosidi. Sastrawan ini mengatakan keterlibatan Chairil tidak dengan secara langsung memegang senjata dalam perang, tapi lewat sajak-sajak yang ia tulis. ”Tentu saja sajaknya menggambarkan nasionalisme. Ia bergerak,” ujar Ajip.

Salah satu sajak yang menggambarkan nasionalisme itu dan pasti ditulis dengan kekuatan imajinasi adalah ”Diponegoro”.

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini

tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang

(Februari 1943)

Diponegoro, yang lahir pada 11 November 1785, putra tertua dari Sultan Hamengku Buwono III (1811-1814), sangat keras dalam menghadapi, melawan, dan menentang Belanda secara terbuka. Tapi ia liat, tidak mudah penjajah menangkapnya. Belanda pun menggelar sayembara berhadiah 50 ribu gulden bagi siapa saja yang bisa meringkus Pangeran Jawa itu. Akhirnya, dengan sebuah muslihat, Diponegoro pun ditangkap.

Dalam sajak yang ditulis pada 1943 ini, Chairil memperlihatkan kekagumannya kepada pahlawan nasional itu dan menggelorakan kembali semangat sang tokoh. Salah satu ungkapan yang sangat populer dan diambil dari sajak itu adalah ”Sekali berarti, sudah itu mati”. ”Karya itu mendapat pujian dari Jepang,” kata Ajip Rosidi.

Nasionalisme Chairil sudah tertanam jauh sebelum kemerdekaan diproklamasikan. Menurut Ajip, Chairil pernah dekat dengan orang-orang Belanda menjelang penyerahan kedaulatan Indonesia. Itu terlihat saat dia diangkat menjadi redaktur majalah Gema Suasana. Tapi ia hanya bekerja selama satu-dua bulan. Menurut Maman S. Mahayana, Chairil tidak tahu majalah itu dibiayai Belanda. ”Setelah tahu, ia keluar,” ucapnya.

Maman mengungkapkan, sejak zaman Jepang, Chairil sudah menentang penjajah. Itu terlihat saat dia berpidato di depan Angkatan Baru Pusat Kebudayaan pada 7 Juli 1943. Sikap penentangannya terlihat dalam moto pidato yang, menurut Maman, berisi hinaan kepada para sastrawan pro-Jepang. Moto itu berbunyi:

”Kita guyah lemah/Sekali tetak tentu tak rebah/Segala erang dan jeritan/Kita pendam dalam keseharian//Mari berdiri merentak/Diri-sekeliling kita bentak/Ini malam bulan akan menembus awan.”

Naskah pidato ini kemudian dimuat di majalah Zenith edisi Februari 1951. ”Setelah merdeka, tentu saja sikapnya lebih kuat,” ujar Maman.

Chairil memang terlihat selalu bersemangat soal kebebasan. Setidaknya seperti tergambar dalam puisi yang ditulis pada 1948 ini:

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831189774



Laporan Khusus 14/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.