Laporan Khusus 21/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Eksekusi Mati Sang Bupati

Toeloes bin Manan, ayah Chairil Anwar, tewas dibunuh tentara Belanda. Mayatnya dibuang ke sungai.

i

Deru mesin puluhan pesawat tempur seketika memecah keheningan langit Kota Rengat, Kabupaten Indragiri, Riau. Beberapa detik kemudian, rentetan peluru dan bom menghunjam dari udara.

Himron Saheman menceritakan suasana Rengat yang mencekam pada suatu pagi sekitar 70 tahun silam. Himron, kini 90 tahun, melihat ratusan warga Rengat berlarian menyelamatkan diri dari serangan pesawat Mustang milik Belanda itu. Tak sedikit yang hilang nyawa lantaran gagal mencari tempat berlindung. ”Tentara Belanda membabi-buta,” kata Himron ketika ditemui Tempo di Pekanbaru, Riau, pada awal Agustus lalu.

Himron bersama kawan-kawannya dari Tentara Republik Indonesia melawan dengan menembakkan peluru ke arah pesawat. Tapi kekuatan musuh terlampau besar. Himron dkk semakin kesulitan tatkala puluhan pesawat Dakota menerjunkan ratusan tentara Belanda. Begitu mendarat, serdadu Belanda langsung menyerbu kota. ”Mereka menembaki penduduk tanpa ampun,” ujarnya. Himron beruntung karena berhasil menyelamatkan diri dan keluar dari Rengat.


Serangan hari itu dikenal sebagai Peristiwa Rengat, 5 Januari 1949. Kala itu, Rengat merupakan ibu kota Kabupaten Indragiri. Bupatinya bernama Toeloes bin Manan, ayah penyair Chairil Anwar. Toeloes menjabat sejak pertengahan 1948.

161830824910

Menurut Harto Juwono dan Yosephine Hutagalung dalam Tiga Tungku Sejarangan: Sejarah Kesultanan Indragiri sampai Peristiwa 5 Januari 1949, penyerbuan Rengat merupakan bagian dari operasi militer Belanda untuk menguasai kota-kota di wilayah Riau. Kala itu, Belanda menerapkan taktik bumi hangus.

Belanda menyerang Indragiri dengan dua alasan. Pertama, Belanda menduga tentara Indonesia di sekitar Riau menarik diri ke Indragiri dan membangun pertahanan di sana. Padahal di Rengat hanya ada sekitar 600 tentara pejuang dengan senjata dan amunisi yang morat-marit. Alasan lain, Belanda tergiur oleh kekayaan alam wilayah itu.

Selama hampir satu jam pesawat perang Belanda menggempur pusat kegiatan warga Rengat, seperti pasar dan permukiman. Akibat gempuran udara itu, Kampung Sekip, tempat Bupati Toeloes dan stafnya berkantor, porak-poranda. Serangan susulan oleh pasukan terjun Belanda membuat tentara Indonesia dan warga Kota Rengat semakin kocar-kacir. Hanya dalam waktu dua jam, Belanda berhasil menguasai seluruh kota.

Tak hanya melancarkan serangan udara, pasukan Belanda pun menggelar operasi ”pembersihan”. Serdadu Belanda mencari sisa-sisa tentara Indonesia yang bersembunyi di tengah warga sipil. Terjadilah pembantaian besar-besaran terhadap kaum pribumi. Semua orang yang dicurigai ditangkap. Mereka digiring menuju Lapangan Rengat, dijajarkan, lalu diberondong tembakan. Selain tentara, sejumlah polisi dan pamong praja Indragiri menjadi korban pembantaian.

Hampir 2.000 orang tewas dalam rangkaian serbuan dan pembersihan itu. Sebagian mayat ditimbun massal. Sebagian lain dihanyutkan begitu saja ke Sungai Indragiri. Bupati Toeloes termasuk korban pembantaian. Menurut Himron, Toeloes tewas ditembak tentara Belanda dalam perjalanan menuju kantornya. Mayatnya dibuang ke Sungai Indragiri.

Anak perempuan Toeloes, Nini Toeraiza, punya versi agak berbeda soal kematian sang ayah. Perempuan 78 tahun ini mengatakan ayahnya diseret dari depan rumah mereka ketika terjadi operasi pembersihan. Padahal Toeloes bukan tentara yang ikut berperang. Setelah ditembak, mayat Toeloes dicampakkan begitu saja ke Sungai Indragiri. ”Persis di seberang rumah kami,” ujar Nini.

Cerita yang sama disampaikan Nini kepada Raja Belanda Willem-Alexander melalui surat pada akhir Februari lalu. Nini berharap pemerintah Belanda meminta maaf atas tragedi Rengat 70 tahun lalu itu.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830824910



Laporan Khusus 21/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.