Laporan Khusus 19/26

Sebelumnya Selanjutnya
text

Lontang-Lantung di Batavia

Pada zaman pendudukan Jepang, hidup semakin sulit. Untuk bertahan, Chairil mencuri, menjual barang kawannya tanpa memberi tahu pemiliknya.

i

Sejak Belanda bertekuk lutut kepada Jepang, Maret 1942, hubungan antara wilayah Sumatera dan Jawa terputus. Di Batavia, berpindahnya kekuasaan ke tangan tentara Dai Nippon ini memutarbalikkan kehidupan semua orang, termasuk Chairil Anwar. Ia tak lagi mendapat kiriman uang dari ayahnya, yang masih tinggal di Medan.

Menurut Hasan Aspahani, dalam bukunya, Chairil Anwar: Sebuah Biografi (2016), terputusnya hubungan dengan ayahnya di Medan membuat Chairil yang terbiasa hidup berkecukupan dengan kiriman ayahnya itu tiba-tiba harus mencari nafkah sendiri.

Chairil dan ibunya, Saleha, menumpang di rumah Sutan Sjahrir di Jalan Dambrink atau sekarang Jalan Latu­harhary 19 (kantor firma hukum Elza Syarief dan rekan), Menteng. Mereka hidup serba kekurangan. Mereka bisa bertahan dengan menguangkan apa saja yang berharga untuk dijual, sambil berharap situasi akan lekas membaik. ”Ia sempat bekerja di kantor Jepang, tapi itu bukan dunianya,” kata Hasan dalam bukunya.


Sjahrir, yang menolak bekerja sama dengan Jepang, pun hidup dalam keterbatasan ekonomi. Namun Sjahrir kadang-kadang mendapat santunan dari kawan-kawan seperjuangannya. Senasib dengan Chairil adalah Des Alwi, anak angkat Sjahrir dan Mohammad Hatta dari Banda Neira. Keduanya sama-sama penganggur.

161830983538

Dalam situasi sulit itu, Chairil punya ide berdagang barang bekas. Ia memulai kongsi usaha bersama Des Alwi dengan modal dari Sjahrir 500 gulden. Pernah suatu hari Chairil dan Des Alwi ”mengambil barang” dari nyonya Belanda. Sjahrir tak suka. Tapi mencuri, menjual barang milik kawannya tanpa pemberitahuan, kelak menjadi kebiasaan dan perilaku Chairil untuk bertahan hidup.

Tak lama kemudian Sjahrir pindah rumah ke Jalan Maluku 19. ”Rumah itu agak kecil, sehingga Chairil dan ibunya harus mencari tempat tinggal lain,” kata Des Alwi dalam bukunya, Friends and Exiles: A Memoir of The Nutmeg Isles and The Indonesia Nationalist Movement (2008). Des Alwi ingat, saat itu Chairil pindah ke rumah seorang temannya di Sawah Besar, kemudian ke Kwitang. Setelah itu ia selalu berpindah dari satu rumah ke rumah lain.

Hans Bague Jassin, sastrawan yang juga sahabat Chairil, dalam wawancara yang dimuat di Tempo edisi 30 September 1989, menceritakan Chairil yang lontang-lantung, tidak punya pekerjaan tetap. ”Dia memilih mengabdi pada seni,” kata Jassin.

Chairil datang mengunjungi rumah atau kantor Jassin, keluar-masuk semaunya saja. Tingkah lakunya seenaknya. Terkadang dia datang naik becak dan meminta Jassin membayarnya. Bila masuk ke rumah dan Jassin tak ada, dia sering meminjam mesin ketik atau buku. Ada yang dikembalikan, ada yang tidak. ”Saya kesal buku-buku ini tak kembali, karena saya sudah memberi catatan-catatan di pinggirnya,” kata Jassin.

Hampir semua temannya di masa itu sebenarnya pernah menjadi tempat ampiran Chairil. Ia menumpang tidur atau sekadar makan siang. ”Badannya ceking seperti kekurangan makan. Mungkin karena itu dia selalu datang ke rumah saya tepat jam makan siang, ha-ha-ha...,” kata sastrawan dan wartawan Mochtar Lubis kepada Tempo pada medio Maret 1992. ”Dia itu seperti parasit,” ujar ­Daoed ­Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang pernah bertemu dengan Chairil.

Rosihan Anwar juga menuturkan, ­Chairil kerap main ke rumahnya di Paviliun Pegangsaan Barat Nomor 6 (kini Apartemen Menteng). ”Chairil Anwar pun sering mampir,” tutur Rosihan dalam bukunya, Belahan Jiwa: Memoar Kasih Sayang Percintaan Rosihan Anwar dan Zuraida Sanawi. Rumah itu menjadi saksi pertengkaran Chairil dan Hapsah, istrinya, hampir setiap hari.

Tempat lain yang paling sering disinggahi adalah sanggar pelukis Affandi di Taman Siswa di Jalan Garuda, Kemayo­ran, atau di Jalan Jawa (sekarang Jalan H O.S. Cokroaminoto) 28A, Menteng. Keduanya berteman sejak kepindahan ­Affandi dari Bandung ke Jakarta pada 1942-1943.

Menurut Kartika Affandi, anak Affandi, Chairil sering datang sendirian dan pulang sesukanya, juga sering menginap di rumahnya. ”Karena Om Chairil juga punya kunci rumah kami,” kata Kartika kepada Tempo. Saat itu usia Kartika 8 atau 9 tahun.

Menjelang kematiannya, Chairil menumpang di rumah karikaturis Indonesia Raya, Sam Soeharto. Soeharto indekos di rumah Miftah Abdul Jassin bin Haji Jassin di Paseban 3G. Rumah yang dipecah menjadi ruko-ruko 3A-H itu sekarang sudah bukan milik keluarga Miftah. Kepada Ajip Rosidi, Sobron Aidit menuturkan bahwa Chairil sering menginap di rumahnya di kawasan Gondangdia Kecil, Menteng.

Chairil bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya membaca dengan mencuri. Salah satu kenakalannya yang melegenda adalah aksinya bersama Asrul Sani. Suatu hari Chairil pernah mengajak Asrul mencuri buku filsafat di toko buku terbesar bernama Van Dorp. Sekarang toko buku itu menjadi kantor dealer Toyota Astra. Van Dorp dulu dikenal sebagai toko buku yang menjual buku-buku bagus. Mereka salah ambil buku berjudul Also Sprach Zarathustra karangan filsuf Friedrich Nietzsche.

Chairil punya pembenarannya sendiri: tak apa-apa mencuri kalau di toko milik orang Belanda. ”Bangsa mereka juga merampok kekayaan negeri kita,” katanya. Maka, jika kawan-kawannya membutuhkan buku, mereka mengandalkan Chairil untuk mengambil buku sonder bayar.

Dia tak pernah tertangkap basah. Salah satu pelanggannya adalah sastrawan dan wartawan Mochtar Lubis. Chairil tak pernah membayar utang, kecuali dengan buku-buku yang dia ”selundupkan” keluar tanpa lewat kasir. ”Chairil menyumbang perpustakaan saya dengan buku-buku curiannya,” kata Mochtar. ”Saya tahu betul, Chairil sangat ahli mencuri buku di Van Dorp.” Dia juga sering meminjam buku milik perpustakaan USIS (United States Information Service) untuk Mochtar Lubis dan tidak mengembalikannya.

Namun keberuntungannya tak begitu bagus di hadapan Kenpetai (polisi Jepang). Chairil berulang kali ditangkap lantaran mencuri macam-macam barang: dari cat hingga seprai. Mia Bustam, istri maestro lukis Sudjojono, mengenang peristiwa itu dalam buku Sudjojono dan Aku.

Suatu hari, Chairil minta dilukis oleh Sudjojono. Karena persediaan cat putihnya hampir habis, Chairil mengandalkan kelicinannya mencuri. Namun kali ini dia tertangkap dan disiksa Kenpetai. Dalam kesempatan lain, Saleha, ibunda Chairil yang tahu bahwa anaknya sering berada di Kantor Bahasa Indonesia, mengabarkan bahwa Chairil ditahan. Ia ketahuan mencuri seprai sehingga beberapa kawannya terpaksa mengumpulkan uang seharga seprai itu untuk menebusnya.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830983538



Laporan Khusus 19/26

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.