Profile Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad




  • Antigon
    Catatan Pinggir

    Antigon

    Dewa-dewa membuat hukum yang tak perlu karena mereka tak mengenal kefanaan. Seorang raja di bumi membuat hukum, meskipun tidak bagus, sebab ia manusia—ia harus menjaga hidup yang serba mungkin.

  • Gelar
    Catatan Pinggir

    Gelar

    Gelar, yang dianggap simbol pengakuan, sebenarnya tak sepenuhnya bersifat dialogis. Gelar ditentukan setelah ada otoritas untuk menilai prestasi seseorang. Perlu ada hakim yang sabdanya tak untuk diragukan: universitas, istana, atau ketua adat.

  • Cem
    Catatan Pinggir

    Cem

    Setidaknya sampai awal abad ke-17, dalam imperium Turki Usmani, sang pengganti tak ditentukan berdasarkan urutan kelahiran. Prinsip suksesi brutal: yang kuat yang dapat. Persaingan bengis.

  • Blabag
    Catatan Pinggir

    Blabag

    Papan tulis, kita tahu, adalah tempat guru menuliskan ajaran dan murid menyimak. Teknologi bersahaja itu memungkinkan pemberian dan penerimaan ilmu berlangsung. Akhirnya blabag kayu ini tak terpisahkan dari sang pengajar. Ia jadi penandanya yang pertama dan penghabisan, seperti bendera dalam sebuah suasana hancur.

  • Kekerasan
    Catatan Pinggir

    Kekerasan

    Hukum lex talionis yang terkenal (“satu mata dibalas satu mata”)—yang bermula dari zaman Babilonia, kemudian diadopsi kitab Yahudi, buku undang-undang Romawi, dan hukum Islam—adalah hukum pembalasan: orang yang mencederai orang lain harus dibalas setimpal dengan kerusakan yang diakibatkannya pada sang korban.

  • Napoleon
    Catatan Pinggir

    Napoleon

    Para sejarawan mencatat bagaimana orang ini berhasil mengubah Prancis, Eropa, dan bagian lain dunia: setelah Revolusi Prancis membabat tatanan feodalisme, ia, perwira tentara revolusi, muncul sebagai “Konsul” dari puing-puing politik. Dalam posisi itu, Napoleon menyusun dan memberlakukan sistem perundang-undangan baru.

  • Syahrazad
    Catatan Pinggir

    Syahrazad

    Memang kematian dan kebuasan tak lenyap karena 1001 Malam, tapi hidup bisa sedikit lebih baik dengan cerita dan orang-orang yang membawakannya.

  • Sir Joon
    Catatan Pinggir

    Sir Joon

    Tapi “dunia Melayu” di dalam novel ini bukan sebuah dunia yang tertutup dengan dasar yang kedap. Setidaknya, dalam novel ini, dunia yang seperti itu tak jadi “warna lokal”. Biasanya, dalam kritik sastra, yang disebut “warna lokal” adalah sesuatu yang bisa diidentifikasikan—karena utuh, homogen, dan distingtif: deskripsi lanskap, adat istiadat, dan dialek setempat dalam cerita.

  • “Panggil Aku…”
    Catatan Pinggir

    “Panggil Aku…”

    Bahasa Kartini, bahasa seorang berusia 20-an, seperti badai, meskipun tak segera kelihatan. Tak linear, tak datar. Ungkapan hiperbolik muncul di pelbagai bagian, terutama ketika ia menyebut sesuatu (atau seseorang) yang disukainya. Tanda seru bertaburan.

     

  • Laut
    Catatan Pinggir

    Laut

    Pesisir adalah dunia yang dilihat, dengan rasa ingin tahu dan terkesima, dari suatu jarak--dari luar.

  • TMII
    Catatan Pinggir

    TMII

    TMII mencerminkan pandangan yang hanya menerima hidup sebagai status quo--seakan-akan dalam tiap fenomena, dalam tiap beda, hanya ada sifat yang kekal.

  • Citra
    Catatan Pinggir

    Citra

    “Daging”, “mata”, “kulit”—yang fisik dan yang psikis—telah membentuk bahasa kekerasan rasisme. Juga di Indonesia.

  • Tubuh
    Catatan Pinggir

    Tubuh

    Badan telah divonis: “lemah”. Tapi ada paradoks yang dilupakan. Di satu pihak, agama-agama memaparkan tubuh sebagai bagian diri kita yang gelap, payah, dan penuh risiko. Namun, tanpa disadari, tubuh juga jadi kerepotan utama agama-agama.

  • Aljazair
    Catatan Pinggir

    Aljazair

    Memang, kita punya buku sejarah dan menganggap di sanalah masa lalu direkam sebagai ingatan. Tapi ingatan adalah produk hari ini, dan hari ini bukanlah sebuah stasiun tempat kenangan jeda, tak berubah.

  • Itihasa
    Catatan Pinggir

    Itihasa

    Dendam, pembalasan, dan tokoh gelap memberi kita rasa lebih dari sekadar mencandu cerita kekerasan: kita merasa menemukan cerita tentang “keadilan”, dan menjadikannya sebuah wacana moral.

  • Berita, Cerita, Berita
    Catatan Pinggir

    Berita, Cerita, Berita

    Tempo lahir dan mengubah corak majalah. Sebelumnya, sebuah berkala mingguan adalah sejenis toko-serba-ada. 

  • Tedjabayu
    Catatan Pinggir

    Tedjabayu

    Catatan hariannya bukan sebuah monolog, bukan sebuah nyanyi sunyi: bahkan dalam sel yang paling sempit dan tekanan paling buas—terutama di Nusakambangan, kamp yang ternyata lebih mengerikan ketimbang Pulau Buru—ia bersuara bersama orang lain.

  • Etalase
    Catatan Pinggir

    Etalase

    Kata the desert of the real mengesankan bahwa “yang-riil” adalah dunia yang remuk, kalang-kabut, antah-berantah, tak dapat diutarakan dalam bahasa, terutama jika dilihat dari dunia yang tertata. Di Indonesia, kita berada justru di “gurun” itu: banjir, tanah longsor, dan gempa tak putus-putusnya terjadi.

  • Kematian
    Catatan Pinggir

    Kematian

    Maut selalu bersama kita dalam satu gerbong. Ia bukan memotong perjalanan. Ia bagian perjalanan.

  • Data
    Catatan Pinggir

    Data

    Dengan kemajuan teknologi teleskop Hubble kita tampak hanya menghuni sebiji planet kecil di satu galaksi, sementara ada dua triliun galaksi bertebaran dalam keluasan semesta. Manusia bukan pusat.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.