Profile Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad




  • Etalase
    Catatan Pinggir

    Etalase

    Kata the desert of the real mengesankan bahwa “yang-riil” adalah dunia yang remuk, kalang-kabut, antah-berantah, tak dapat diutarakan dalam bahasa, terutama jika dilihat dari dunia yang tertata. Di Indonesia, kita berada justru di “gurun” itu: banjir, tanah longsor, dan gempa tak putus-putusnya terjadi.

  • Kematian
    Catatan Pinggir

    Kematian

    Maut selalu bersama kita dalam satu gerbong. Ia bukan memotong perjalanan. Ia bagian perjalanan.

  • Data
    Catatan Pinggir

    Data

    Dengan kemajuan teknologi teleskop Hubble kita tampak hanya menghuni sebiji planet kecil di satu galaksi, sementara ada dua triliun galaksi bertebaran dalam keluasan semesta. Manusia bukan pusat.

  • Ondel-ondel
    Catatan Pinggir

    Ondel-ondel

    Ondel-ondel, yang dulu konon mengiringi acara para bangsawan Jayakarta, kini menjadi bagian hidup orang yang tak berpunya yang sadar dirinya tak sedang berada di panggung.

  • The Crown
    Catatan Pinggir

    The Crown

    Kekuasaan berhasil bukan karena menindas dengan bedil dan menyuap dengan uang, tapi karena efektif memainkan ilusi.

  • Fragile
    Catatan Pinggir

    Fragile

    Tapi wabah adalah perang tanpa perbatasan. Tak ada ruang dan waktu yang bisa ditata lengkap dan stabil dalam indeks dan peta. Penularan dan penyembuhan berlangsung dalam endapan sikap yang berbeda-beda tentang hidup, penyakit, dan kematian.

  • Mata
    Catatan Pinggir

    Mata

    Mata—berbeda dengan kuping—memang menyerap benda-benda sebidang demi sebidang, tak sekaligus. Penglihatan pun jadi raja. Tak lagi manusia mengenal obyek dengan mendengarkan, mencium, dan merabanya.

  • Nazareno
    Catatan Pinggir

    Nazareno

    Alkitab melarang orang beriman membuat gambar manusia dan menyembah berhala, seperti ketentuan kedua agama Ibrahimi yang lain. Sejarah dunia Kristen menyaksikan beberapa kali letusan “ikonoklasme”, gerakan menghancurkan patung: di abad ke-8 dan ke-9 di Bizantium, dan di awal abad ke-16 di Eropa, ketika orang Protestan membakar arca dan lukisan di gereja-gereja.

  • Ajaib
    Catatan Pinggir

    Ajaib

    Mungkin Marion tak melihat hubungannya dengan yang ilahi sebagai hanya soal percaya kepada Tuhan. Hubungannya lebih berupa pengakuan akan kasih—dan kasih, meskipun sebagai “cinta dengan cara sederhana”, lebih dahsyat ketimbang iman.

  • Cerita
    Catatan Pinggir

    Cerita

    Saya bayangkan Airlangga sadar: di atas takhta, ia terbelah. Ia berkuasa dan juga ia tak berkuasa. Ada sebuah patung yang menggambarkannya duduk di punggung garuda, sebagai Wishnu. Tapi dengan kiasan itu sekalipun, tegak di kendaraan sakti di angkasa, ia tetap tak bisa—justru tak bisa—mengetahui apa yang terjadi.

  • Familikrasi
    Catatan Pinggir

    Familikrasi

    Familikrasi, sebagaimana oligarki, mengandung cacat dasar, bahkan lebih gerowong. Sementara pangkal oligarki adalah kekayaan—yang tak jarang diperoleh dengan jerih payah—pangkal familikrasi satu hal yang didapat tanpa upaya: hubungan biologis.

  • Mishima
    Catatan Pinggir

    Mishima

    Berdiri di tepi tembok tinggi yang mengelilingi lapangan barak, dengan kepala diikat bandana yang dihiasi kata-kata dari sejarah samurai, Mishima menyerukan kudeta. Ia ingin mengubah Jepang.

  • Iklanisme
    Catatan Pinggir

    Iklanisme

    Kebenaran datang dan pergi dengan lekas, sekejap menyala sekejap padam, seperti senter di tangan seseorang yang lari dikejar.

  • Das
    Catatan Pinggir

    Das

    Akhirnya buruh hanya elemen dalam sebuah konfigurasi, nama yang terasa berbobot karena berasosiasi dengan “dunia modern”. Ia bagian dari industri, dan industri bagian dari zaman baru, dan zaman baru itulah yang penting. Buruh bukan realitas sehari-hari; ia makhluk mithologi yang harus digambarkan sedang “timbul dari lautan zaman yang gemuruh”.

  • Billie
    Catatan Pinggir

    Billie

    Jazz is the big brother of Revolution, kata Miles Davis.

  • Sekko
    Catatan Pinggir

    Sekko

    Woce mati hanya satu kali. Tak seorang pun akan menyebutnya pengecut. Pengecut mati beribu kali sebelum ajal.

  • Amir
    Catatan Pinggir

    Amir

    Mungkin sebab itu dalam sajak-sajak Amir Hamzah saya tak pernah menemukan nama Muhammad, rasul dalam syahadatnya. Bukan karena ia murtad, tapi karena puisi dan zamannya tak lagi hidup dengan akar (iman, tradisi, asal-usul) yang lurus, tunggal, menghunjam.

  • Buruh
    Catatan Pinggir

    Buruh

    Tampak sikap Bung Karno juga ambivalen. Sosok “marhaen”-nya memang pak tani miskin yang kebetulan dijumpainya di tepi jalan. Tapi, seperti bagi Marx, Engels, Lenin, dan Mao, petani itu harus ditransformasi.

  • Ruslan
    Catatan Pinggir

    Ruslan

    Goenawan Mohamad

  • Marang
    Catatan Pinggir

    Marang

    Dalam gerak itu, sang Buddha bebas dari apa yang disebut Nietzsche sebagai Geist der Schwere, “roh” atau “semangat” yang memberat, yang monumental, permanen, berbobot, penuh pesan kebenaran, angker, tegar. Buddha Ugo, sebagaimana Zarathustra Nietzsche, adalah antithesis terhadap itu semua: senyuman terbaik adalah yang menyambut waktu, menyambut gerak men-jadi yang tak selalu disadari.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.