Profile Isma Savitri

Isma Savitri

Setelah bergabung di Tempo pada 2010, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro ini meliput isu hukum selama empat tahun. Berikutnya, ia banyak menulis isu pemberdayaan sosial dan gender di majalah Tempo English, dan kini sebagai Redaktur Seni di majalah Tempo, yang banyak mengulas film dan kesenian. Pemenang Lomba Kritik Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019 dan Lomba Penulisan BPJS Kesehatan 2013.




  • M Bloc dan Seni Digital Baru
    Seni

    M Bloc dan Seni Digital Baru

    Pertama kali digelar di Teater Salihara pada 2019, Media Art Globale 2021 akan berlangsung secara daring dan luring, di M Bloc Space, Jakarta, dan JNM Bloc, Yogyakarta. Mengusung tema kebun Indonesia.

  • Tumurun dan Sketsa-Sketsa Sudjojono
    Seni

    Tumurun dan Sketsa-Sketsa Sudjojono

    Museum Tumurun di Solo membeli 38 sketsa almarhum S. Sudjojono mengenai penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung. Butuh pendekatan dua tahun.

  • Kisah Sendu Suryanaga
    Selingan

    Kisah Sendu Suryanaga

    Pengelolaan klub bulu tangkis Suryanaga Surabaya, yang melahirkan maestro seperti Rudy Hartono dan Alan Budikusuma, kini megap-megap. Kekurangan murid.

  • Grafiti di Tembok Mungil
    Seni

    Grafiti di Tembok Mungil

    Museum of Toys memamerkan sekitar 300 karya dalam "Museum of Walls". Grafiti berukuran kecil.

  • Metal Madrasah: Dari Garut ke Wacken Open Air
    Selingan

    Metal Madrasah: Dari Garut ke Wacken Open Air

    Perjalanan tiga dara berhijab asal Garut yang tergabung dalam Voice of Baceprot mengusung musik metal hingga pentas di Jerman. Mereka sepanggung dalam festival Wacken Open Air 2022 bersama Judas Priest, Limp Bizkit, dan Slipknot.

  • Sutardji Mengolah Permainan Kata Tradisi Melayu
    Selingan

    Sutardji Mengolah Permainan Kata Tradisi Melayu

    Bagaimana sastrawan Taufik Ikram Jamil menulis biorgrafi Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri: Biografi Kesaksian. Rupanya ilham Sutardji menulis puisi mantra jauh sampai ke puisi Prancis.

  • Sutardji: Pembebasan Kata-kata dan Makna
    Selingan

    Sutardji: Pembebasan Kata-kata dan Makna

    Penyair Sutardji Calzoum Bachri berusia 80 tahun. Penyair Taufik Ikram Jamil meluncurkan biografinya berjudul Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri: Biografi Kesaksian yang membahas riwayat hidup Sutardji semenjak kecil. Bagaimana Sutardji Calzoum Bachri membuat puisi mantra?

  • Kisah Kotaro yang Tinggal Sendiri
    Sinema

    Kisah Kotaro yang Tinggal Sendiri

    Kotaro Lives Alone menghidangkan drama keseharian Jepang dari kacamata seorang bocah 5 tahun. Diangkat dari cerita manga Kotaro wa Hitorigurashi karangan Mami Tsumura, film ini sarat adegan haru tapi jauh dari klise.

     

  • Perempuan yang Hamil oleh Mobil Cadillac
    Selingan

    Perempuan yang Hamil oleh Mobil Cadillac

    Julia Ducournau menjadi perempuan kedua yang memenangi penghargaan Palme d’Or dalam Festival Film Cannes ke-74 setelah 28 tahun. Titane tidak bisa dilihat memakai logika lurus karena tokoh utamanya hamil oleh mobil Cadillac.

  • Gelanggang Olahraga: Riwayat Musik Bawah Tanah
    Selingan

    Gelanggang Olahraga: Riwayat Musik Bawah Tanah

    Pada 1970-1990-an, selain menjadi arena olahraga, gelanggang olahraga (gelora) di berbagai kota menjadi ajang pentas musik. Keberadaan gelora malah banyak melahirkan musikus berbakat daripada olahragawan. Gelora Saparua, Bandung, misalnya, sempat menjadi tempat komunitas musik bawah tanah (underground) yang melahirkan banyak band pada 1990-an. Mereka di antaranya Burgerkill, Puppen, Jasad, Koil, PAS Band, Pure Saturday, dan Dajjal, yang kini “besar” dan menjadi pionir sejumlah kelompok musik anyar.

    Di luar Bandung, sejumlah gelora menyimpan kenangan akan kejayaan grup musik lokal. Ada Gelora Manahan (Solo), Bulungan (Jakarta), juga Pulosari (Malang). Sayangnya, sebagian gelora itu sudah dirobohkan. Ada pula yang masih berdiri, tapi tak lagi menghidupi kegiatan seni. Sepatah memori kejayaan gelora sebagai wadah para seniman terekam dalam film dokumenter tentang Gelora Saparua, yang tayang pada Juni lalu di sejumlah kanal streaming. Karya sutradara Alvin Yunata itu melahirkan pertanyaan: perlukah melahirkan kembali gelora sebagai kawah kreativitas anak muda di tengah zaman yang serba digital? Simak reportasenya.

  • Ayah Tunggal dan Kritik Gender
    Sinema

    Ayah Tunggal dan Kritik Gender

    Film Fatherhood menyuguhkan problem pengasuhan anak dan gender dengan kemasan komedi. Masih bermain-main di permukaan.

     

  • Dunia Baru dari Hallyu
    Selingan

    Dunia Baru dari Hallyu

    Kesuksesan industri hiburan Korea Selatan turut mengerek perekonomian negara tersebut. Undang-undang tentang wajib militer pun sampai diubah demi bintang pop. K-pop menjadi ladang devisa bagi Korea Selatan.

  • Didepak karena Ingin Jadi Presiden
    Memoar

    Didepak karena Ingin Jadi Presiden

    Sebagai putra diplomat, masa kecil Marzuki Darusman dihabiskan di sejumlah negara. Sempat kuliah di Jerman Timur, sebelum bergabung dengan Golkar (Golongan Karya).

  • Diteror Bom, Berkantor di Hotel
    Memoar

    Diteror Bom, Berkantor di Hotel

    Semasa menjadi Jaksa Agung, Marzuki Darusman menjerat sejumlah koruptor dan kroni-kroni Soeharto. Dihujani teror, dijauhi kawan di Golkar.

  • Membuat 'Tjoet Nja' Dhien' Kinclong kembali
    Sinema

    Membuat 'Tjoet Nja' Dhien' Kinclong kembali

    Proses restorasi film Tjoet Nja' Dhien berlangsung sejak 2017. Ongkosnya sekitar Rp 3 miliar ditanggung oleh Belanda.

  • Kontroversi Paduan Suara Asmaul Husna dan ‘New Istiqlal’
    Selingan

    Kontroversi Paduan Suara Asmaul Husna dan ‘New Istiqlal’

    Lantunan Asmaul Husna dari kelompok paduan suara Jakarta Youth Choir (JYC) di Masjid Istiqlal, Jakarta, menggegerkan media sosial pada pertengahan Mei lalu. Kor itu dianggap menodai masjid. Narasi yang berkembang juga menyudutkan JYC, yang dianggap memberi sentuhan gereja terhadap masjid rancangan Friedrich Silaban itu. Namun betulkah begitu? Sejumlah ulama menganggap alunan Asmaul Husna oleh JYC justru memperkuat peran masjid sebagai pusat peradaban dan kebudayaan Islam. Citra ini sejatinya diharapkan muncul pada Istiqlal setelah direnovasi untuk pertama kalinya semenjak 42 tahun lalu.

  • Tak Berhenti Menyengat: Suara Kartun Asia Tenggara Kini
    Selingan

    Tak Berhenti Menyengat: Suara Kartun Asia Tenggara Kini

    Perkara kartun kerap melentikkan kontroversi di berbagai negara. Kritik yang dikemas jenaka pun kadang membuat orang tersentil. Kita tentu ingat geger kartun Nabi Muhammad dalam mingguan Charlie Hebdo yang membuat kantor media Prancis itu ditembaki. Belasan orang meninggal, termasuk kartunis media itu. Jauh sebelum itu, pada 2005, media Denmark Jyllands-Posten menerbitkan kartun yang sama. Kondisi di Asia Tenggara tak jauh berbeda. Tiga tahun lalu, kantor Tempo di Palmerah, Jakarta, disambangi ratusan orang dari Front Pembela Islam yang memprotes kartun di majalah ini.

    Demokrasi yang tumbuh di ASEAN tak dibarengi dengan kebebasan para kartunisnya. Sebagian seniman gambar diringkus polisi, sedangkan yang lain berkarya dalam kecemasan akan persekusi. Menandai kondisi ini, kartunis politik Malaysia, Zunar, dan organisasi nirlaba Hujah Ehsan menggelar pameran daring The ASEAN Human Rights Cartoon Exhibition pada 3-30 Mei 2021. Bertema “Hak Asasi di Negeri Sendiri”, pameran itu menampilkan 100 kartun kritis karya 37 kartunis dari 5 negara: Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Myanmar.

  •  Joe Taslim, Sang Antagonis Mortal Kombat
    Sinema

    Joe Taslim, Sang Antagonis Mortal Kombat

    Joe Taslim memerankan Sub-Zero, tokoh penjahat dalam film yang diadaptasi dari game legendaris Mortal Kombat. Kaya pertarungan brutal yang indah, tapi lemah pada plot kisah.

  • Penyair Misterius, Pendukung Sastra Anak
    Selingan

    Penyair Misterius, Pendukung Sastra Anak

    Tak banyak kenangan tersisa tentang Sugiarti Siswadi, penulis yang juga aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat. Ia peduli terhadap literasi anak dan vokal dalam soal pemberdayaan perempuan.

  • Prasangka terhadap Orang Tionghoa Bukanlah Takdir
    Selingan

    Prasangka terhadap Orang Tionghoa Bukanlah Takdir

    Setelah 12 tahun, buku karya Widjajanti W. Dharmowijono tentang pencitraan orang Cina dalam novel Indo-Belanda bertarikh 1880-1950 akhirnya dirilis Penerbit Ombak pada 5 April 2021. Perilisan ini disyukuri Inge—panggilan akrab Widjajanti—karena dulu naskah yang bersumber dari disertasinya di Universiteit van Amsterdam itu pernah ditolak penerbit Belanda. Namun Inge tetap berkukuh pada keinginannya semula: bukunya harus terbit dalam bahasa Indonesia dan dibaca khalayak negeri ini.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.