Profile Isma Savitri

Isma Savitri

Setelah bergabung di Tempo pada 2010, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro ini meliput isu hukum selama empat tahun. Berikutnya, ia banyak menulis isu pemberdayaan sosial dan gender di majalah Tempo English, dan kini sebagai Redaktur Seni di majalah Tempo, yang banyak mengulas film dan kesenian. Pemenang Lomba Kritik Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019 dan Lomba Penulisan BPJS Kesehatan 2013.




  • Tak Berhenti Menyengat: Suara Kartun Asia Tenggara Kini
    Selingan

    Tak Berhenti Menyengat: Suara Kartun Asia Tenggara Kini

    Perkara kartun kerap melentikkan kontroversi di berbagai negara. Kritik yang dikemas jenaka pun kadang membuat orang tersentil. Kita tentu ingat geger kartun Nabi Muhammad dalam mingguan Charlie Hebdo yang membuat kantor media Prancis itu ditembaki. Belasan orang meninggal, termasuk kartunis media itu. Jauh sebelum itu, pada 2005, media Denmark Jyllands-Posten menerbitkan kartun yang sama. Kondisi di Asia Tenggara tak jauh berbeda. Tiga tahun lalu, kantor Tempo di Palmerah, Jakarta, disambangi ratusan orang dari Front Pembela Islam yang memprotes kartun di majalah ini.

    Demokrasi yang tumbuh di ASEAN tak dibarengi dengan kebebasan para kartunisnya. Sebagian seniman gambar diringkus polisi, sedangkan yang lain berkarya dalam kecemasan akan persekusi. Menandai kondisi ini, kartunis politik Malaysia, Zunar, dan organisasi nirlaba Hujah Ehsan menggelar pameran daring The ASEAN Human Rights Cartoon Exhibition pada 3-30 Mei 2021. Bertema “Hak Asasi di Negeri Sendiri”, pameran itu menampilkan 100 kartun kritis karya 37 kartunis dari 5 negara: Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Myanmar.

  •  Joe Taslim, Sang Antagonis Mortal Kombat
    Sinema

    Joe Taslim, Sang Antagonis Mortal Kombat

    Joe Taslim memerankan Sub-Zero, tokoh penjahat dalam film yang diadaptasi dari game legendaris Mortal Kombat. Kaya pertarungan brutal yang indah, tapi lemah pada plot kisah.

  • Penyair Misterius, Pendukung Sastra Anak
    Selingan

    Penyair Misterius, Pendukung Sastra Anak

    Tak banyak kenangan tersisa tentang Sugiarti Siswadi, penulis yang juga aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat. Ia peduli terhadap literasi anak dan vokal dalam soal pemberdayaan perempuan.

  • Prasangka terhadap Orang Tionghoa Bukanlah Takdir
    Selingan

    Prasangka terhadap Orang Tionghoa Bukanlah Takdir

    Setelah 12 tahun, buku karya Widjajanti W. Dharmowijono tentang pencitraan orang Cina dalam novel Indo-Belanda bertarikh 1880-1950 akhirnya dirilis Penerbit Ombak pada 5 April 2021. Perilisan ini disyukuri Inge—panggilan akrab Widjajanti—karena dulu naskah yang bersumber dari disertasinya di Universiteit van Amsterdam itu pernah ditolak penerbit Belanda. Namun Inge tetap berkukuh pada keinginannya semula: bukunya harus terbit dalam bahasa Indonesia dan dibaca khalayak negeri ini.

  • Perjamuan Terakhir Sang Presiden Malioboro
    Selingan

    Perjamuan Terakhir Sang Presiden Malioboro

    Penyair Umbu Landu Paranggi wafat pada Selasa dinihari, 6 April lalu. Pria kelahiran Sumba Timur itu menutup usia di Rumah Sakit Bali Mandara, Sanur, Bali, dalam usia 77 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka bagi para murid dan penggemar syair-syair etniknya. Umbu adalah mentor bagi banyak seniman di Jawa dan Bali. Dia pernah "menggelandang" di Yogyakarta dan menghidupkan komunitas seniman Persada Studi Klub yang bermarkas di Malioboro. Setelah pindah ke Bali pun dia teguh menjadi guru puisi bagi penyair-penyair muda yang bernaung di komunitas puisi. Walau menggembleng banyak seniman, Umbu memilih jalan sunyi. Dia menjauhi sorotan dan mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia seni. 

     

  • Jurus Fantasi, Peta Cina, dan Cerita Silat Kho Ping Hoo
    Selingan

    Jurus Fantasi, Peta Cina, dan Cerita Silat Kho Ping Hoo

    Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo pernah berjaya pada zamannya. Saat kebanyakan penulis cerita silat Indonesia menyadur kisah pengarang Cina pada 1950-an, Kho Ping Hoo menyusun sendiri lakonnya. Lahir di Sragen, 95 tahun lalu, Kho Ping Hoo muda mulai menulis karena kondisi ekonomi. Sebagai pengarang ia produktif. Tercatat ada ratusan judul yang ia lahirkan, sebagian di antaranya berlatar Cina dan sisanya Indonesia. Bu Kek Siansu menjadi salah satu yang fenomenal. Terdiri atas 24 jilid, buku itu masih menyihir penggemarnya hingga kini karena plot ceritanya yang menarik dan sarat filosofi. Karyanya yang lain juga populer, walau sejumlah muatan sejarah dan geografis tentang Cina di bukunya disebut-sebut meleset dari fakta. Namun para pembaca “mengampuni” hal itu karena bagaimanapun tulisan Kho Ping Hoo hanyalah fiksi. Untuk mengenang lelaki yang wafat pada 1994 itu, Roemah Bhinneka pada 15 Maret 2021 menggelar diskusi secara daring. Dalam diskusi, lahir gagasan untuk memperkenalkan lagi Kho Ping Hoo kepada para pembaca belia.

  • Tubuh Lama dalam Ruang Baru
    Seni

    Tubuh Lama dalam Ruang Baru

    Teater Payung Hitam menggelar Festival Teater Tubuh secara daring, medio Maret 2021. Format video mendukung transformasi tubuh dari ruang ke ruang. 

  • Satire Sosial dalam Senyum Rosamund
    Sinema

    Satire Sosial dalam Senyum Rosamund

    Rosamund Pike terpilih sebagai Aktris Komedi Terbaik dalam Golden Globe 2021 lewat film I Care a Lot. Memerankan wali yang mengeruk harta orang lanjut usia.

  • Dari Bukittinggi sampai Makassar
    Selingan

    Dari Bukittinggi sampai Makassar

    Acara perayaan seabad usia Usmar Ismail digelar di berbagai kota. Dari Bukittinggi, kota kelahiran Usmar, sampai Makassar dan Jakarta.

  • Kisah Dokter Mary yang Kontroversial
    Sinema

    Kisah Dokter Mary yang Kontroversial

    Serial Mary Kills People mengisahkan dokter yang bekerja sambilan membantu praktik euthanasia. Membaurkan unsur thriller psikologi, drama kedokteran, dan kisah keluarga.

     

     

  • Sang Pencetus Badan Bahasa
    Selingan

    Sang Pencetus Badan Bahasa

    Dalam Kongres Bahasa Indonesia 1930, Sanusi Pane mengusulkan pembentukan institusi pengembangan bahasa Indonesia. Idenya terwujud pada 1948, menjadi lembaga yang kini disebut Badan Bahasa.

  • Paradoks Waktu di Tangan Christopher Nolan
    Sinema

    Paradoks Waktu di Tangan Christopher Nolan

    Tenet menjadi film pertama dari Christopher Nolan yang menyorot dunia spionase. Kembali mengusung narasi paradoks perjalanan antarwaktu.

  • Ritual-ritual Kuno Penolak Wabah
    Selingan

    Ritual-ritual Kuno Penolak Wabah

    JAUH sebelum pandemi Covid-19 mengoyak bumi, berbagai daerah di Nusantara sudah beberapa kali berhadapan dengan pagebluk yang memakan korban jiwa. Kondisi itu memunculkan beragam kearifan lokal yang bertaut erat dengan tradisi untuk mencegah ataupun melawan wabah. Ritual itu tak hanya berupa perapalan mantra dan doa, tapi juga tari-tarian, syair, serta upacara tradisional yang sebagian di antaranya masih dilestarikan sampai sekarang. Di Bali, misalnya, dikenal tari sakral sanghyang yang memadukan gerak tari dan trans, juga kidung, yang dilakukan untuk mengenyahkan bala dan memohon perlindungan dewata.

    Ada pula metode penyembuhan dan ramuan tradisional yang dipercaya berkhasiat mengobati penyakit dari masa ke masa. Bermacam ritual itu termaktub dalam buku Menolak Wabah yang dirilis Penerbit Ombak bekerja sama dengan Borobudur Writers & Cultural Festival Society, akhir tahun lalu. Buku yang terbagi menjadi dua jilid itu memuat puluhan karya tulis yang menggali kearifan lokal penolak wabah, dari relief, manuskrip, sejarah rempah, hingga ritual budaya.

  • Perkenalkan: Dua Anjing Jalanan
    Sinema

    Perkenalkan: Dua Anjing Jalanan

    June & Kopi memberi warna baru dalam industri film Indonesia. Menyuguhkan hubungan manusia dengan hewan dan memotret realitas anjing jalanan.

  • Saat Cosplay Pindah ke Layar Gawai
    Seni

    Saat Cosplay Pindah ke Layar Gawai

    Untuk pertama kali, ekshibisi budaya pop dan anime Indo Comic Con digelar secara daring. Para pelaku cosplay beradaptasi dengan kondisi pandemi.

  • Pertama dari Indonesia
    Selingan

    Pertama dari Indonesia

    Orang-orang Bloomington masuk daftar sastra terbitan Penguin Classics. Kisahnya dinilai tak tergerus zaman.

  • Desainnya Dipilih Sukarno, Pekerjanya Seniman Yogyakarta-Bandung
    Selingan

    Desainnya Dipilih Sukarno, Pekerjanya Seniman Yogyakarta-Bandung

    Abdul Latief salah satu saksi mata pendirian dan pengelolaan pertama Sarinah yang masih hidup. Kesaksiannya bermanfaat untuk mendapatkan informasi tentang lokasi awal relief di Sarinah.

  • Orang Jalanan Pelintas Zaman
    Memoar

    Orang Jalanan Pelintas Zaman

    Ketokohan Sarwono Kusumaatmadja, 77 tahun, melintasi rezim. Pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat ketika masih mahasiswa, dia menjadi orang sipil pertama yang jadi sekretaris jenderal dewan pimpinan pusat Golkar. Presiden Soeharto pernah mencoba menariknya masuk ke lingkaran dekat pembisiknya.  

    Sarwono menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1988-1993) dan Menteri Lingkungan Hidup (1993-1998). Sedangkan pada masa reformasi, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menunjuk Sarwono sebagai Menteri Eksplorasi Kelautan (1999-2001). Sampai sekarang, pengaruhnya masih terasa sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim serta anggota staf ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

  • 9 Album Rekomendasi
    Laporan Khusus

    9 Album Rekomendasi

    Inilah sembilan album yang direkomendasikan Tempo.

  • Kaus Kaki dan Puisi Rangga
    Seni

    Kaus Kaki dan Puisi Rangga

    Empat ilustrator membuat visualisasi puisi Aan Mansyur dari buku Tidak Ada New York Hari Ini. Menggabungkan puisi dengan seni rupa dan musik.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.