Isma Savitri | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co
Profile Isma Savitri

Isma Savitri

Setelah bergabung di Tempo pada 2010, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro ini meliput isu hukum selama empat tahun. Berikutnya, ia banyak menulis isu pemberdayaan sosial dan gender di majalah Tempo English, dan kini sebagai Redaktur Seni di majalah Tempo, yang banyak mengulas film dan kesenian. Pemenang Lomba Kritik Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019 dan Lomba Penulisan BPJS Kesehatan 2013.




  • Jurnalis dan Penerjemah dari Minang
    Selingan

    Jurnalis dan Penerjemah dari Minang

    MUHAMAD Radjab adalah sosok jurnalis yang dilupakan. Pada masanya, ia produktif menulis buku dan menerjemahkan naskah dari berbagai bahasa. Lelaki kelahiran Sumpur, Sumatera Barat, 21 Juni 1913, ini juga seorang poliglot. Dia fasih berbicara dan menulis dalam lima bahasa: Inggris, Belanda, Arab, Jerman, dan Prancis. Setahun terakhir, tiga bukunya diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka dan Kepustakaan Populer Gramedia, yakni Catatan di Sumatra, Perang Padri di Sumatra Barat, dan Semasa Kecil di Kampung.

    Buku-buku itu tak ubahnya catatan antropologis dan sosiologis yang diracik Radjab dengan napas jurnalistik. Sebagai pewarta, Radjab pernah berkiprah di tujuh media. Bermula dari harian lokal, Persamaan, ia lalu ikut mendirikan Indonesia Raya bersama Mochtar Lubis dan berkarya di Kantor Berita Antara. Ia tutup usia di Padang pada usia 57 tahun, saat menghadiri seminar sejarah dan budaya di Batusangkar. Tempo melaporkan dari kampung halaman Radjab, menyusuri kenangan tentang dirinya dari para putranya.

  • Jejak Radjab: Jurnalis dan Penerjemah dari Minang
    Selingan

    Jejak Radjab: Jurnalis dan Penerjemah dari Minang

    MUHAMAD Radjab adalah sosok jurnalis yang dilupakan. Pada masanya, ia produktif menulis buku dan menerjemahkan naskah dari berbagai bahasa. Lelaki kelahiran Sumpur, Sumatera Barat, 21 Juni 1913, ini juga seorang poliglot. Dia fasih berbicara dan menulis dalam lima bahasa: Inggris, Belanda, Arab, Jerman, dan Prancis. Setahun terakhir, tiga bukunya diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka dan Kepustakaan Populer Gramedia, yakni Catatan di Sumatra, Perang Padri di Sumatra Barat, dan Semasa Kecil di Kampung.

    Buku-buku itu tak ubahnya catatan antropologis dan sosiologis yang diracik Radjab dengan napas jurnalistik. Sebagai pewarta, Radjab pernah berkiprah di tujuh media. Bermula dari harian lokal, Persamaan, ia lalu ikut mendirikan Indonesia Raya bersama Mochtar Lubis dan berkarya di Kantor Berita Antara. Ia tutup usia di Padang pada usia 57 tahun, saat menghadiri seminar sejarah dan budaya di Batusangkar. Tempo melaporkan dari kampung halaman Radjab, menyusuri kenangan tentang dirinya dari para putranya.

  • Naskah-naskah Palembang yang Terlupakan
    Iqra

    Naskah-naskah Palembang yang Terlupakan

    KESULTANAN Palembang Darussalam yang ditaklukkan Belanda pada 1821 pernah memiliki sebuah perpustakaan besar berisi koleksi manuskrip. Sultan Mahmud Badaruddin II, penguasa Kesultanan Palembang dua abad silam, dikenal sebagai pencinta literasi. Ia ingin menjadikan kesultanannya sebagai pusat studi Islam dan sastra. Tatkala Kesultanan Palembang diserbu Belanda, sang Sultan diduga mengosongkan perpustakaan dan menyebarkan koleksi manuskripnya ke rumah-rumah bangsawan agar selamat. Para filolog Palembang kini berusaha melacak naskah-naskah itu.

  • Sebuah Respons untuk #BlackLivesMatter
    Layar

    Sebuah Respons untuk #BlackLivesMatter

    Festival film daring We Are One membuat kategori khusus untuk minoritas. Tak hanya menyoroti problem diskriminasi.

  • Suara Misterius dari Langit Cayuga
    Sinema

    Suara Misterius dari Langit Cayuga

    The Vast of Night membalut kisah fiksi ilmiah dalam film misteri yang menegangkan. Mengandalkan narasi ketimbang efek visual.

  • Seorang Yahudi 'Pemberontak' dan Kehidupan setelah Mati
    Seni

    Seorang Yahudi 'Pemberontak' dan Kehidupan setelah Mati

    Film adalah hiburan yang paling dicari di masa pandemi ini. Berikut ini rekomendasi film yang bisa Anda tonton di Netflix dan Amazon Prime Video.

  • Hans Pols: Dokter Jawa Menyadari Diskriminasi
    Selingan

    Hans Pols: Dokter Jawa Menyadari Diskriminasi

    Pada zaman kolonial, perjuangan juga digerakkan para dokter pribumi lulusan School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Wawancara dengan Hans Pols, penulis buku Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia.

  • Dokter-dokter tanpa Alat Pelindung
    Selingan

    Dokter-dokter tanpa Alat Pelindung

    Para dokter pribumi dan mantri menjadi pahlawan korban wabah pes yang meremukkan Malang sejak 1910. Dokter Cipto Mangunkusumo menjadi ikon yang juga vokal di media massa.

  • Kisah Wabah dan Karantina di Hindia Belanda
    Selingan

    Kisah Wabah dan Karantina di Hindia Belanda

    Berbagai gelombang wabah menghantam Indonesia di zaman Hindia Belanda. Dari pagebluk kolera dan pes pada abad ke-18, ke-19, dan awal abad ke-20 sampai Flu Spanyol menerjang. Situasinya mirip seperti sekarang. Setelah terlambat menangani wabah, pemerintah akhirnya menerapkan karantina wilayah. Banyak hal yang bisa dipelajari dari wabah pada tempo dulu. Strategi mitigasi, isolasi yang tepat, dan gerak cepat kebijaksanaan diperlukan.

     

  • Kembali Belajar Lewat TVRI
    Laporan Khusus

    Kembali Belajar Lewat TVRI

    Pemerintah menyediakan sejumlah platform belajar di rumah agar bisa dijangkau siswa di berbagai daerah. Tak semua anak dan guru mudah beradaptasi.

  • Menari dari Titik Nol
    Seni

    Menari dari Titik Nol

    Institut Seni Indonesia Surakarta menginisiasi gerakan 24 jam menari yang disebarluaskan secara daring. Merayakan Hari Tari Sedunia.

  • Drama Perampok Bertopeng Dali
    Sinema

    Drama Perampok Bertopeng Dali

    Sempat kurang laku di Spanyol, Money Heist kini menjadi serial televisi terpopuler sejagat. Atributnya turut menjadi fenomena.

  • Pentas Daring di Kuburan
    Seni

    Pentas Daring di Kuburan

    Kamateatra Art Project dan Komunitas Teater Kaki Langit menghelat pertunjukan di ruang publik. Bertema pandemi corona, pentas ditayangkan di YouTube.

  • Empat Album Rekomendasi
    Seni

    Empat Album Rekomendasi

    AWAL tahun ini, sejumlah grup musik melahirkan album penuh dan mini dalam bentuk cakram padat dan digital. Salah satunya Efek Rumah Kaca, yang mengusung semangat baru lewat Jalan Enam Tiga.

  • Pro-Kontra Kiai Naga Siluman
    Selingan

    Pro-Kontra Kiai Naga Siluman

    Setelah dikembalikan pemerintah Belanda kepada Indonesia pada 10 Maret lalu, Museum Nasional belum juga memamerkan keris legendaris milik Diponegoro alias Raden Mas Ontowiryo. Rupanya ada pro dan kontra soal keaslian keris berjulukan Kiai Naga Siluman itu. Benarkah keris itu tosan aji milik pangeran Yogyakarta yang diserahkan 190 tahun lalu? 

  • Dikuburkan di Mana Bandayudha?
    Selingan

    Dikuburkan di Mana Bandayudha?

    Pangeran Diponegoro dimakamkan bersama keris Bandayudha di Makassar, Sulawesi Selatan. Lokasi makamnya masih dipertanyakan hingga kini.

  • Teater Personal ala Papermoon Puppet
    Seni

    Teater Personal ala Papermoon Puppet

    Sejumlah pementasan teater dibatalkan dan ditunda karena wabah virus corona. Tiket pertunjukan online Papermoon Puppet seharga Rp 100 ribu, tapi diminati.

  • Konser Donasi dari Musikus
    Seni

    Konser Donasi dari Musikus

    Sejumlah musikus menggalang dana terkait dengan dampak virus corona. Konser streaming dari rumah masing-masing.

  • Kaki-kaki TIM yang Terlupakan
    Seni

    Kaki-kaki TIM yang Terlupakan

    Gelanggang remaja di Jakarta dulu adalah satelit Taman Ismail Marzuki. Kegiatannya menjadi pilar TIM. Untuk membuat ekosistem seni jakarta berkualitas, pembenahan dinilai harus dimulai dari gelanggang remaja.

  • 120 Tahun Tjamboek Berdoeri
    Selingan

    120 Tahun Tjamboek Berdoeri

    Peringatan 120 tahun kelahiran jurnalis legendaris asal Malang, Jawa Timur, Kwee Thiam Tjing alias "Tjamboek Berdoeri” dirayakan pada pada  23 Februari 2020 lalu dengan sebuah perjalanan napak tilas di kota kelahirannya. Dia adalah saksi sejarah berbagai momentum penting bangsa kita. 

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    8 artikel gratis setelah Register.