Rumah Kenangan, Teater Normal Baru dari Happy Salma, Wulan Guritno, dan Reza Rahadian - Seni - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bukan Rumah Kertas

Titimangsa Foundation memproduksi sebuah drama keluarga. Seluruh penanganan pentas sebagaimana pertunjukan teater di masa normal. Disajikan secara daring berbayar. Antusiasme penonton lumayan.

 

i Ratna Riantiarno dan Butet Kartaredjasa dalam Rumah Kenangan garapan sutradara Agus Noor, yang ditayangkan secara online lewat indonesiakaya.com 15-16 Agustus 2020. Dokumentasi Titimangsa Foundation
Ratna Riantiarno dan Butet Kartaredjasa dalam Rumah Kenangan garapan sutradara Agus Noor, yang ditayangkan secara online lewat indonesiakaya.com 15-16 Agustus 2020. Dokumentasi Titimangsa Foundation

WIJAYA Sastro tersedak. Ia terbatuk-batuk berat. Butet Kartaredjasa yang memainkan laki-laki 70 tahun itu mengurut dadanya, seolah-olah terasa nyeri. Duduk di kursi goyang dan bersarung, dengan leher dibelit syal, rambut dan jenggotnya putih kelabu awut-awutan. Terasa benar lelaki yang diperankan Butet itu tengah menderita sakit berat. Ia mantan pejabat yang hidupnya jatuh karena dihubung-hubungkan dengan korupsi. Sedikit saja ada pembicaraan tentang korupsi yang dikaitkan dengannya, emosinya naik. Dan kondisi tubuhnya yang rentan langsung merosot.

Butet kali ini agak lain. Selama ini, entah di Teater Gandrik entah dalam pertunjukan rutinnya di Indonesia Kita, ia selalu menampilkan akting yang banyak disusupi komedi. Sebagai aktor, celetukan-celetukannya yang penuh satire ditunggu penonton. Improvisasinya yang cerdas dan jenaka sudah menjadi trademark. Tapi, dalam drama Rumah Kenangan ini, selama satu jam lebih ia menjadi aktor yang tak tergoda untuk sedikit pun menyentil sana-sini. Dan ia bermain sepenuhnya sebagai aktor berakting realis.

Reza Rahardia dan Wulan Guritno dalam Rumah Kenangan garapan sutradara Agus Noor, yang ditayangkan secara online lewat indonesiakaya.com 15-16 Agustus 2020. Dokumentasi Titimangsa Foundation


Drama yang ditulis dan disutradarai Agus Noor ini adalah sebuah terobosan di kala pandemi. Drama ini pertunjukan baru, bukan rekaman pertunjukan lawas, dipentaskan tanpa penonton di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja di Yogyakarta. Setnya berupa sebuah ruang jembar yang diandaikan sebagai ruang tamu dengan banyak bingkai foto. Lalu di pojok kanan terdapat meja makan dengan gorden hijau pembatas ruangan yang digulung. Sementara itu, di samping kanan meja tamu kursi goyang diletakkan. Set demikian ditata oleh Iskandar Loedin dan Deden Bulqini, sementara pencahayaan ditata Deray Setyadi. Pertunjukan ini direkam dengan kamera dan disiarkan lewat www.indonesiakaya.com secara berbayar.

Sebuah “TV play”, mungkin itu istilah yang cocok untuk menyebut pertunjukan ini. Drama ini mengangkat problem rumah tangga sehari-hari yang mengingatkan pada naskah-naskah realis lama Utuy Tatang Sontany atau Motinggo Busye. Drama dibuka dengan cekcok kecil antara Sastro dan Amelia (Ratna Riantiarno), istri keduanya, mengenai masalah obat yang harus diminum Sastro setiap hari. Juga pertengkaran mulut Sastro dengan anak tirinya, Randy (Reza Rahadian). Kedua adegan itu menjadi eksposisi atau pintu masuk yang mulus bagi drama yang hendak menampilkan sebuah potret keluarga bermasalah ini. Duet Riantiarno dan Butet terasa kuat dan natural. Permainan Ratna yang kalem dan terkesan sabar juga tak sebagaimana ketika ia bermain dalam pertunjukan musikal Teater Koma, apalagi di pentas-pentas Koma yang bertema wayang (Mahabharata dan lain-lain). Naskah Agus Noor sendiri mengingatkan pada naskah-naskah realis awal Nano Riantiarno, seperti Cermin.   

Adegan kedatangan Mutiara (Happy Salma), anak Sastro dari istri pertama yang sudah sepuluh tahun minggat, menjadikan konflik dalam tubuh keluarga itu makin terang. Ia datang bersama sahabatnya, Mona (Wulan Guritno). “Untuk apa kau pulang. Aku sakit. Tapi lebih sakit orang tua yang ditinggalkan anaknya,” kata Sastro. Segera kita ketahui, Mutiara tak menyukai Amelia dan Randy. Mutiara tak mengakui Amelia sebagai ibunya dan Randy sebagai adik tirinya. Sampai di sini kita sudah bisa meraba rumah Sastro itu merupakan rumah penuh kenangan buruk bagi penghuninya.

Semua pemain berakting wajar, rata-rata mampu menghidupkan karakter. Wulan Guritno cukup bisa memerankan Mona, orang luar yang berposisi sebagai katalis yang menjadikan semua rahasia keluarga Sastro terbuka. Mona mula-mula mendekati Randy, yang tengah bermain gitar. Karakter Randy, anak muda yang merasa memiliki bakat besar dalam menciptakan lagu tapi bermalas-malasan dan jenuh dengan suasana rumah, ditampilkan mengalir oleh Reza. Karakter Mutiara yang membenci ibu tirinya pun tak diekspresikan terlalu berlebihan oleh Happy Salma. Namun Agus Noor tetap mempertahankan gaya akting Susilo Nugroho (pembantu keluarga Sastro bernama Parto) sebagaimana aktingnya di Teater Gandrik yang penuh banyolan. Hanya, porsinya tidak “seliar” ketika Susilo “ndagel” di panggung Gandrik.

Yang membuat drama ini bermakna adalah ia mampu meyakinkan kita bahwa apa yang tersaji bisa menjadi sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi—mungkin di sekitar kita. Kisah Mutiara menyembunyikan diri sebagai pekerja malam dan kepulangannya yang ternyata disebabkan oleh ditutupnya klub malam tempatnya sehari-hari menjadi penari (mungkin erotic dancer) karena wabah cukup masuk akal dan membuat naskah ini memiliki konteks kekinian yang kuat—karena memang selama masa Covid-19 klub-klub malam di Jakarta rata-rata tak beroperasi. Kita juga melihat sedari awal ruangan ditata dengan banyak foto keluarga yang ternyata bukan semata hiasan. Dalam sebuah dialog, Randy mengeluh fotonya tak pernah ada di album foto keluarga. Kita tahu foto-foto di ruangan (tanpa foto dirinya) sesungguhnya menjadikan ia merasa terasing di rumah sendiri.

“Kami lebih dulu latihan di Zoom, lalu empat kali latihan bertemu fisik di Padepokan. Pertunjukan tanpa cut, running terus seperti di panggung,” tutur Butet Kartaredjasa. Semua aktor dan kru set artistik dari Jakarta dan Bandung menginap selama seminggu di Yogyakarta. “Untuk kamera, kami dibantu Fourcolours, menggunakan tiga kamera dengan switcher,” ucap Heliana Sinaga, asisten sutradara. Fourcolours adalah komunitas film di Yogyakarta yang terbiasa dengan produksi film indie. Tak mengherankan beberapa adegan terasa ber-angle sinematik. Saat adegan Reza dan Wulan bercakap di kursi, kamera menyorot dari samping. Kamera juga menangkap ekspresi Butet secara close-up yang menampakkan putih janggutnya—sesuatu yang tak tertangkap apabila kita menonton di panggung.

Happy Salma dan Wulan Guritno dalam Rumah Kenangan garapan sutradara Agus Noor, yang ditayangkan secara online lewat indonesiakaya.com 15-16 Agustus 2020. Dokumentasi Titimangsa Foundation

Hal yang paling berhasil dari adegan adalah saat semua rahasia terbuka—klimaks seolah-olah berjalan otomatis. Mutiara tak mengira justru ibunya dulu yang ternyata merebut ayahnya dari Amelia. Sang ibu—sahabat Amelia—menyembunyikan surat-surat cinta Sastro kepada Amelia. Sastro pun lantas menganggap Amelia menolaknya dan akhirnya membuatnya menikahi sang ibu. Adegan Sastro yang meletup emosinya karena tak disangka-sangka bahwa Mona ternyata keponakan dari orang yang memfitnahnya melakukan korupsi serta adegan Randy yang balik memarahi ayah tirinya lantaran tak pernah dianggap sebagai anak adalah adegan ledakan yang seolah-olah mengeluarkan batu besar yang selama ini terpendam di dalam hati mereka. Ledakan yang tiba-tiba seperti katarsis, membersihkan diri mereka.

Dan setelah itu semuanya luruh, menghasilkan suatu kondisi yang tak terduga. Mutiara mendadak memanggil Amelia, yang selama sepuluh tahun tak dianggapnya sebagai ibu, dengan kata “Mama”. “Tiba-tiba aku bisa diterima sepenuhnya di rumah ini,” ujar Amelia. Plot drama sesungguhnya biasa, tapi karena dimainkan dengan takaran dan porsi yang pas, terasa tidak klise atau melelahkan. Drama ini terasa tak terlalu pendek dan tidak terlalu lama. Saat curtain falls, tentu kita tak bisa mendengar aplaus penonton di rumah. Hanya, dari tim produksi diinformasikan bahwa selama pertunjukan dua hari, jumlah penonton yang membeli tiket seharga Rp 50 ribu sebanyak 2.539. Sebuah angka yang lumayan. Walhasil, pentas drama ini bisa menjadi model untuk pertunjukan daring (online) di masa pandemi, bahkan seusai pandemi.

Tak syak, pandemi memang adalah tragedi. Tapi naskah drama ini ingin melihat sisi lain yang bukan hanya soal kematian. Pandemi justru menjadi awal dimulainya kehangatan sebuah keluarga. Rumah yang tadinya seolah-olah sebuah rumah kertas—yang goyah terus-menerus—kini, di masa pandemi, perlahan akar-akarnya kuat kembali.

SENO JOKO SUYONO

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-28 03:24:29

Reza Rahadian Seniman Teater Wulan Guritno Happy Salma Pentas Seni

Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB