Laporan Tempo dari Belanda: Misteri Lukisan Terakhir Van Gogh - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Auvers-sur-Oise dan Lukisan Terakhir Van Gogh

Terkurung di rumahnya di Strasbourg, Prancis, di tengah pandemi Covid-19, sejarawan seni Wouter van der Veen tak sengaja mengungkap misteri lokasi lukisan terakhir Vincent van Gogh dibuat sebelum perupa itu bunuh diri. Peristiwa ini bertepatan dengan 130 tahun kematian Van Gogh. Ikuti laporan Tempo dari Belanda.

i Foto kartu pos Rue Daubigny, Auvers-sur-Oise, pada 1905, digabung secara digital dengan lukisan Tree Roots karya van Gogh pada 1890. arthénon
Foto kartu pos Rue Daubigny, Auvers-sur-Oise, pada 1905, digabung secara digital dengan lukisan Tree Roots karya van Gogh pada 1890. arthénon

LUKISAN itu tergantung di dinding tersendiri di lantai tiga Museum Van Gogh, Amsterdam, Belanda. Lukisan berjudul Tree Roots tersebut terasa menduduki tempat khusus: ia terpancang di tengah ruangan yang menceritakan episode akhir hidup pelukis Vincent van Gogh.

Warna-warna gebyar yang menjadi ciri khas Van Gogh begitu kentara. Namun tidak demikian dengan gambarnya. Sementara biasanya obyek yang digambar Van Gogh tak sukar diidentifikasi, lukisan berukuran 50 x 100 sentimeter itu samar mengungkap makna coretan sang maestro. Tapi, dari judulnya, perlahan kita akan menangkap bahwa figur berlekuk biru di atas kanvas itu adalah bonggol kayu dan akar di antara belukar. Sementara itu, di bagian sebelah kiri bawah lukisan tersebut, kanvas terlihat lebih kosong. Beberapa akar terlihat belum disepuh warna biru.

Foto kartu pos Rue Daubigny, Auvers-sur-Oise, 1905. arthénon


Informasi di samping lukisan memberi keterangan sebagai berikut: “Walau ada mitos bahwa Wheatfield with Crows—yang lebih dramatis—adalah lukisan terakhir Van Gogh, kemungkinan besar karya terakhirnya adalah Tree Roots. Nyatanya, dia tidak sempat menyelesaikan kanvas ini, seperti terlihat di bagian kiri bawah lukisan”.

Van Gogh meninggal di Auvers-sur-Oise, sebuah desa di Prancis, dikelilingi sejumlah kanvas lain yang dilukisnya pada periode itu. Lebih dari seabad setelah kematiannya, tepatnya 130 tahun silam, tak ada ahli yang bisa memastikan di mana lokasi Van Gogh saat melukis Tree Roots.

Sampai kemudian sejarawan Wouter van der Veen, 46 tahun, yang meneliti Van Gogh lebih dari dua dekade, pada medio Maret lalu tiba-tiba merasa mendapat “insight” di mana lokasi Tree Roots dilukis. Saat itu, dia tengah mendekam di rumahnya di Strasbourg, Prancis. “Saya sedang berada dalam percakapan telepon yang berlarut-larut ketika mata saya terpaku pada screen saver komputer saya,” ujarnya saat dihubungi Tempo lewat telepon, pertengahan Agustus lalu.

Lokasi objek lukisanTree Roots oleh van Gogh di Rue Daubigny, Auvers-sur-Oise, Prancis, 30 Mei lalu. arthénon

Di layar komputernya terpampang screen saver kartu pos hitam-putih tahun 1905 bergambar sebuah jalan perdesaan yang dirimbuni pepohonan. Di bawah foto itu tertulis “Auvers-sur-Oise-Rue Daubigny”. “Pada detik itu, dengan jelas saya melihat akar pepohonan Tree Roots di foto tersebut,” kata Van der Veen. Dia sempat ragu. Benarkah dugaannya? Bagaimana mungkin ia melihat sesuatu yang sudah bertahun-tahun dilacak para ahli seni: lokasi tempat Van Gogh melukis karya terakhirnya?

Awalnya Van der Veen hanya mengungkapkan hipotesisnya kepada keluarga sembari mengurai kemungkinan itu dengan mendalami arsip miliknya. Baru sekitar sepuluh hari setelah itu, ia mulai menghubungi peneliti Van Gogh lain untuk bertukar pikiran. Van der Veen sesungguhnya akrab dengan Auvers-sur-Oise. Sebab, dia adalah direktur ilmiah dari Van Gogh Institute, yang berpusat di desa itu. Ia paham bahwa lokasi di kartu pos itu berjarak tidak lebih dari 150 meter dari penginapan Van Gogh di Auvers.

Van der Veen ingin segera mengecek, tapi tak mudah. Sebab, ketika itu Prancis sedang menerapkan lockdown karena pandemi Covid-19 sehingga ia tak bisa menjangkau Auvers, yang berjarak sekitar 500 kilometer dari Strasbourg. Walhasil, Van der Veen akhirnya melanjutkan penelitiannya di rumah. Dia dengan cermat menilik foto dan lukisan jalan perdesaan yang ia duga bagian Tree Roots. Menurut dia, sudut pandang foto dan lukisan tidak sama. Misalnya akar belukar di foto terlihat dari samping, sedangkan Van Gogh hampir pasti duduk atau berdiri berhadapan dengan subyek lukisannya selagi bekerja.

Lukisan Tree Roots karya Vincent van Gogh, 1890. Koleksi van Gogh Museum, Amsterdam

Baru pada 11 Mei lalu, atau setelah Prancis melonggarkan aturan lockdown, Van der Veen menempuh perjalanan ke Auvers-sur-Oise. Ketika sampai di sana, dia hampir tidak mempercayai apa yang ia lihat: pepohonan itu masih ada, praktis tidak berubah dari foto dan lukisan lebih dari seabad berselang. Ia beruntung karena akar yang dilukis Van Gogh itu adalah dari jenis pohon Rubinia pseudoacacia atau black locust. “Ini pohon dengan kayu dan akar yang amat kuat dan tidak membusuk meski pohon tersebut sudah mati,” ujar Van der Veen.

Kemujuran lain, Desa Auvers-sur-Oise, dengan sekitar 7.000 penduduk, tidak berubah banyak sejak satu abad silam. Pohon-pohon tersebut, kata Van der Veen, tumbuh di atas tanah gamping, yang tidak cocok untuk lokasi konstruksi gedung atau rumah. “Jadi itu satu kebetulan juga karena dalam seabad ini di tempat atau obyek lukisan tersebut tidak didirikan rumah atau bangunan lain.”

•••

BERPULUH tahun beredar spekulasi tentang lukisan yang menjadi karya terakhir Vincent van Gogh. Wheatfield with Crows memang lebih sering disebut, antara lain karena lukisan itu diangkat ke sejumlah film Hollywood tentang hidup sang perupa, seperti Lust for Life karya sutradara Vincente Minelli (1956). Namun, di kalangan ahli seni, tanda tanya itu definitif terjawab pada 2012 setelah muncul surat pembaca di harian Nieuwe Rotterdamsche Courant tertanggal 5 September 1893.

Dalam surat itu, Andries Bonger, sahabat dan kakak ipar Theo van Gogh, menulis, pada pagi hari sebelum Vincent van Gogh menembak dirinya, “Dia sedang melukis belukar yang penuh sinar matahari dan kehidupan.” Theo adalah adik Vincent van Gogh dan orang yang paling dekat dengan sang pelukis.

Wouter van der Veen. arthénon

Auvers-sur-Oise sendiri adalah sebuah kawasan yang tidak besar—kurang dari 13 kilometer persegi. Di sana banyak lokasi yang dipenuhi pohon belukar yang mungkin menjadi model lukisan Van Gogh. Penelitian tentang Tree Roots yang dilakukan dua ahli Van Gogh, Bert Maes dan Louis van Tilborgh, pada 2012 menyatakan, siapa pun yang mencoba mencari lereng yang tertutup belukar (seperti dalam lukisan) di Auvers sekarang, akan menemukan beberapa tempat serupa. Tapi mustahil untuk bisa memastikan apakah itu memang tempat yang dilukis Van Gogh.

Namun, setelah Wouter van der Veen menyatakan hipotesisnya, dunia seni rupa mulai melongok kembali Auvers-sur-Oise. Pada 30 Mei lalu, Bert Maes menulis, “Berdasarkan temuan Wouter van der Veen dan foto Rue Daubigny dari permulaan abad ke-20, saya pikir kemungkinan besar memang inilah lokasi Van Gogh melukis Tree Roots.”

Teio Meedendorp, peneliti senior Museum Van Gogh yang juga ikut membantu Van der Veen dalam penelitiannya, menyebutkan kebetulan sekali kartu pos kuno itu jatuh ke tangan koleganya. Kepada Tempo, dia menuturkan, akhirnya mereka cukup yakin tempat itu adalah lokasi lukisan Tree Roots. Meedendorp juga menilai masuk akal bila Van Gogh melukis pepohonan di Rue Daubigny, yang amat dekat dengan penginapannya. “Sebab, ini selaras dengan kebiasaan Van Gogh untuk melukis apa yang ada di sekitarnya.”

Lukisan potret diri Vinent van Gogh sebagai pelukis, yang dibuat antara Desember 1887-Februari 1888, di Paris. Koleksi van Gogh Museum, Amsterdam

Penemuan lokasi Tree Roots itu memperjelas napak tilas Van Gogh sejak 27 Juli 1890. Sebelumnya, para ahli meyakini Van Gogh keluar dari penginapannya di Auberge Ravoux saat pagi untuk melukis, kembali ke Auberge untuk makan siang, lalu keluar lagi. Namun tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukannya mulai sore sampai malam hari dan kapan tepatnya dia menembak dirinya. Dengan ditemukannya lokasi Tree Roots, Van der Veen mengatakan Van Gogh masih mengerjakan lukisan sore itu sebelum mencoba bunuh diri. Sebab, arah sinar matahari yang terlihat dalam Tree Roots adalah matahari sore di lokasi tersebut. Dua hari setelahnya, pelukis yang saat itu berumur 37 tahun tersebut meninggal.

•••

VINCENT Willem van Gogh lahir pada 30 Maret 1853 di Zundert, sebuah desa di selatan Belanda. Dia putra kedua dari Theodorus, seorang pendeta, dan Anna van Gogh. Walau berotak encer, Van Gogh tidak menyelesaikan sekolah menengahnya dan mulai bekerja di kantor art dealer Goupil & Cie milik pamannya pada 1869. Pekerjaan ini memperkenalkan Van Gogh kepada karya seniman-seniman penting zaman itu serta memberinya kesempatan tinggal di Den Haag, London, dan Paris. Dia keluar dari Goupil pada 1876 dan selama empat tahun mencoba bekerja sebagai guru, agen buku, bahkan penginjil. Baru pada 1880, Van Gogh mencurahkan seluruh hidupnya untuk seni.

Sebagai seniman, jalur yang dilewati Van Gogh boleh dibilang jauh dari lazim: dia otodidaktik dan baru mulai melukis pada umur 27 tahun. Selain mengagumi pelukis-pelukis Belanda, seperti Rembrandt dan Frans Hals, dia banyak dipengaruhi para maestro Prancis, termasuk Jean-François Millet dan Claude Monet. Baru ketika pindah dari Belanda ke Prancis pada 1886, Van Gogh melukis dengan warna-warna terang dan mulai mengenal seni lukis Jepang. Walau kadang ikut dalam pameran, lukisan Van Gogh kurang menarik perhatian publik ataupun pengamat seni.

Sejak muda, Van Gogh yang sensitif dan idealis sudah dihantui depresi. Dalam bukunya, Het Oor van Vincent (Telinga Vincent), Antoon Erftemeijer menulis, dalam surat-suratnya, Van Gogh kerap mengeluh tentang “depresi, kegelisahan, kebingungan, dan neurosis”. Banyak psikiater dan ahli jiwa mencoba menganalisis kelabilannya dan mengatribusikan berbagai kondisi, dari skizofrenia, manic depression, sampai borderline personality disorder, seperti ditulis Erftemeijer, yang juga kurator Museum Frans Hals di Haarlem. Kondisi itu tak hanya mengganggu hubungan Van Gogh dengan sekelilingnya, tapi juga dengan dirinya sendiri, seperti kala dia memotong sebagian telinganya.

Van Gogh juga gagal dalam cinta: paling tidak, tiga perempuan menampik lamarannya dan hubungannya dengan sejumlah perempuan berakhir buruk. Tapi kelabilan jiwanya tidak bisa membendung kreativitasnya yang luar biasa. Dalam satu dasawarsa, Van Gogh menghasilkan 900 lukisan serta lebih dari 1.000 gambar dan sketsa. Dalam 70 hari terakhir hidupnya, yang dilewati di Auvers-sur-Oise, dia melukis lebih dari 70 lukisan dan puluhan sketsa.

Lukisan Wheatfield with Crows karya Vincent van Gogh, 1890. Koleksi van Gogh Museum, Amsterdam

Ada satu orang yang senantiasa setia mendampingi Vincent van Gogh secara moral dan material, yakni adiknya, Theo, yang juga bekerja untuk Goupil & Cie. Sang adiklah yang selalu mengongkosi Vincent, yang tidak berpenghasilan sebagai seniman. Sebagian besar dari 800 surat yang ditulis Vincent sepanjang hidupnya ditujukan kepada Theo. Saat Vincent menembak dirinya pada 27 Juli 1890, darahnya menodai kertas di kantong bajunya: surat untuk Theo yang belum sempat dia kirim. Theo juga berada di sisinya ketika ia mengembuskan napas terakhir di kamarnya di Auberge Ravoux, dua hari kemudian.

Semangat hidup Theo ikut hilang dengan kematian kakaknya. Ia meninggal enam bulan kemudian, meninggalkan istrinya, Johanna Bonger, dan bayinya, yang diberi nama Vincent Willem. Setelah Theo meninggal, Johanna-lah yang menyimpan karya Van Gogh dan tetap berjuang supaya lukisan-lukisan tersebut dikenal publik.

Hingga kini, karya-karya Van Gogh juga masih terus menjadi bahan penelitian para sejarawan dan pengamat seni. Dengan ditemukannya lokasi spesifik Tree Roots, perhatian kembali tertuju pada lukisan tersebut. “Kita bisa melihat bagaimana Van Gogh memanipulasi perspektif subyeknya di atas kanvas,” tutur Teio Meedendorp.

Yang tak kalah penting, menurut Antoon Erftemeijer, Tree Roots berbeda dengan kebanyakan karya Van Gogh yang lain. “Lukisan ini menunjukkan Van Gogh mulai melukis dengan lebih abstrak.”

LINAWATI SIDARTO (AMSTERDAM)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-29 12:11:33

Lukisan

Selingan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB