Sosok Hendrika Mayora, Bruder yang Menjadi Transpuan dan Menduduki Jabatan Publik - Sosok - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Sosok 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Transpuan di Kampung Halaman

Bertahun-tahun Hendrika Mayora melawan dorongan hatinya bersikap feminin seperti perempuan. Menjadi transpuan pertama yang menduduki jabatan publik.

i Hendrika Mayora (kiri) bersama pasukan pengibar bendera, 17 Agustus 2020. Dok. Hendrika Mayora
Hendrika Mayora (kiri) bersama pasukan pengibar bendera, 17 Agustus 2020. Dok. Hendrika Mayora
  • Hendrikus Kelan sudah merasa feminin sejak ia masih bocah, tapi dorongan tersebut ia lawan. .
  • Memutuskan menjadi bruder karena mengikuti kegiatan gereja sejak masih kecil.
  • Namun akhirnya ia keluar, mengikuti kata hatinya menjadi seorang transpuan. .

MENJADI pembina upacara Hari Kemerdekaan Indonesia di Lapangan Karya Misi Center, Kota Maumere, Nusa Tenggara Timur, Hendrika Mayora Victoria Kelan membahas transgender perempuan alias transpuan. Ketua komunitas transpuan Fajar Sikka itu mengatakan, meski Indonesia sudah 75 tahun merdeka, tak demikian dengan mereka.

Banyak transpuan masih tertindas, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun sebagai warga negara. “Padahal kita hidup di negara yang berdasar Pancasila, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” Mayora, 34 tahun, mengisahkan apa yang ia sampaikan dalam upacara tersebut, Selasa, 18 Agustus lalu.

Semua petugas dalam upacara tersebut adalah transpuan. Ini upacara pengibaran bendera Merah Putih pertama yang diinsiasi kelompok mereka. Ada 30 transpuan dan 15 perempuan yang bergabung dalam upacara tersebut.


Mayora menuturkan, transpuan menjadi kelompok yang paling rentan dipersekusi, bahkan ada yang sampai dibunuh. Pada April lalu, seorang waria dibakar hidup-hidup di Cilincing, Jakarta Utara, setelah dituduh mencuri. Setelahnya pun ada video prank yang dibuat oleh seorang YouTuber yang melecehkan transpuan.

Mereka kesulitan mengurus dokumen kependudukan. Tak sedikit transpuan yang diusir dari rumah sendiri dan kehilangan dokumen kependudukan. “Tapi saat mengurusnya justru dipersulit birokrasi,” kata Mayora. Akibatnya, para transpuan kesulitan mencari pekerjaan hingga mengakses layanan dasar, seperti layanan kesehatan dan pendidikan yang telah disediakan pemerintah.

Mayora adalah transpuan pertama yang menjadi pejabat publik di Indonesia. Ia terpilih menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Maret lalu. Ia mengalahkan para pesaingnya yang semuanya laki-laki. “Rival saya ada yang ketua karang taruna, ketua RT, ketua RW, mantan calon kepala desa, bekas pegawai negeri. Tapi puji Tuhan, masyarakat memilih saya,” ujar Mayora, yang hijrah ke Sikka dua tahun lalu.

Ia dijagokan oleh ibu-ibu setempat. Meski sempat dicemooh karena pilihannya menjadi transpuan, Mayora kerap turun membantu mereka, seperti memasak saat ada hajatan, ikut merias pengantin, dan membina anak-anak di sekolah Minggu. “Meski dirisak, dia tetap membantu masyarakat,” ucap Agustina Merlin, warga Sikka.

***

HENDRIKUS Kelan, itulah nama asli Mayora. Saat masih bocah, ia dan keluarganya pindah dari Sikka ke Merauke, Papua. Hendrikus, yang beragama Katolik, sudah akrab dengan kegiatan rohani sejak bocah. “Saya ke gereja, ke sekolah Minggu. Saya rajin beribadah,” tuturnya.

Hendrikus merasa ada yang janggal dengan dirinya. Ia sudah merasa feminin sejak kecil. Ia galau lantaran keluarganya menanamkan prinsip bahwa laki-laki harus bersikap gagah. Ia berupaya melawan dorongan bersikap feminin dengan menekuni olahraga bela diri, seperti taekwondo dan karate. Tapi upayanya tak membuahkan hasil. Ia malah naksir sesama pria ketika beranjak remaja. “Teman-teman meneriaki saya, ‘Homo! Homo!’”

Ia lalu memutuskan menjadi bruder, rohaniwan Katolik yang tidak ditahbiskan. Ia pindah ke Yogyakarta pada 2008 untuk mengambil pendidikan pastoral. Hendrikus kemudian menjadi bruder di sana dan mendapat nama Victor.

Namun ilmu agama yang diterimanya justru membuatnya makin galau. Dorongan batinnya untuk bersikap seperti perempuan bertentangan dengan kodratnya sebagai laki-laki. Ia takut berdosa karena hal ini. “Saya menderita vertigo bertahun-tahun karena menentang hati saya,” ujarnya.

Putus asa dengan kondisinya, Hendrikus lantas memilih keluar dari asrama biara. Ia mudik ke Merauke dan menjadi guru. Tapi hatinya tetap resah. Ia memutuskan kembali ke Yogyakarta.

Setelah pergulatan batin yang panjang itu, Hendrikus akhirnya belajar menerima kondisinya. Ia memutuskan menjadi waria pada 2017. Ia mengubah penampilannya. Ia mengenakan rok, berdandan, dan memanjangkan rambut. Perilakunya pun diubah seperti perempuan. Sejak saat itu, ia mengaku tak pernah diserang vertigo.

Ia mengganti namanya menjadi Hendrika Mayora Victoria Kelan. Ia mengubah Hendrikus menjadi Hendrika dan Victor menjadi Victoria serta menambahkan nama Mayora. “Mayora adalah nama pilihanku, artinya perempuan yang kuat dan ia harus menjadi orang yang baik dan besar,” katanya.

Tak mudah bagi Mayora menjadi waria. Ia mencukupi kebutuhan hidupnya dengan mengamen dan nyebong alias menjadi pekerja seks. Berulang kali ia dikejar satuan polisi pamong praja karena kedapatan mengamen dengan berpakaian seperti perempuan. Teman-teman warianya yang tertangkap biasanya dimasukkan ke panti sosial, tapi ia melawan.

Menurut dia, jika orang lain diperbolehkan mengamen, sebagai manusia, ia dan kawan-kawan transpuan lain pun bisa. “Saya pernah digebuki, saya gebuki balik mereka. Sisa-sisa karate, taekwondo, masih ada, ha-ha-ha…,” tuturnya.

Namun pernah suatu kali, akibat pengejaran itu, Mayora terjatuh saat kabur dengan sepeda motor. Tangan kirinya patah dan harus dipasangi pen. Sampai saat ini pen tersebut belum dikeluarkan lantaran ia tak memiliki uang. “Saya masih punya ‘tanda mata’ betapa jahatnya di Yogya,” ujarnya.

Kerasnya hidup sebagai transpuan di Yogyakarta mendorong Mayora pulang ke kampung halamannya di Sikka pada 2018. Agustina Merlin ingat, Mayora tak punya apa pun ketika datang ke Sikka. Ia menumpang tinggal di tempat orang. “Mandi pun numpang di kafe saya,” ucapnya.

Hendrika Mayora (tengah) saat menemui warga yang kurang beruntung untuk diberi bantuan. Dok. Hendrika Mayora

Semula, kata Merlin, masyarakat Sikka juga tak begitu menerima Mayora. Kadang ia diminta mengusir Mayora dari kafenya karena membuat pelanggan enggan datang. Tapi, melihat Mayora tak berusaha mengganggu orang lain dan malah sering menolong orang, ia membiarkannya. “Dia mengajari anak-anak kecil menyanyi. Saat anak saya buka baby spa, dia pun mau menjadi MC (master of ceremony).”

Mayora membaurkan diri dengan masyarakat. Ketika ada yang menggelar hajatan, ia akan membantu membuat dekorasi, memasak, atau merias. Ia pun terlibat dalam kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK dan ikut membimbing anak-anak sekolah Minggu. Pada 2018 itu, ia bergabung dengan Fajar Sikka. “Saya usahakan agar teman-teman transpuan juga terlibat dalam kegiatan di masyarakat, termasuk memberikan bantuan kepada anak balita yang stunting.

“Mama-mama” tersebut mendorongnya mencalonkan diri menjadi anggota BPD. Tugas BPD Habi antara lain menyusun peraturan desa, mengawasi penggunaan dana desa, dan memantau kinerja perangkat desa. Mayora bersedia mencalonkan diri dengan syarat tidak mengubah penampilannya. Ia tetap menjadi transpuan, jika terpilih. Tak dinyana, ia mendapatkan 60 suara, terbanyak dibanding calon lain.

Lewat BPD, Mayora antara lain berencana menghidupkan kembali hukum adat. Ia ingin membawa lagi kearifan lokal yang sudah ditinggalkan warga. “Sekarang kalau ada masalah sedikit-sedikit ke polisi. Kami ini orang desa, kenapa tak diselesaikan dulu di RT, RW, baru lembaga adat,” ucapnya.

Ia pun menginginkan kebijakan desa lebih berpihak kepada perempuan dan kaum minoritas, termasuk transpuan. “Sekarang sudah jadi anggota BPD, saya bisa menyuarakan suara mereka yang selama ini tidak diperhatikan,” ujarnya.

NUR ALFIYAH

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-27 13:18:49

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur | NTT Kabupaten Sikka Kota Maumere

Sosok 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB