Sinopsis Guru-guru Gokil: Gading Marten dan Elemen Suspension of Disbelief - Sinema - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Sinema 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Komedi Taat, Sang Guru Gokil

Film pertama Dian Sastrowardoyo sebagai produser. Gading Marten tampil bagus. Ditayangkan di Netflix di 190 negara dalam 17 bahasa asing.

i Aktor dan aktris yang bermain dalam Guru-Guru Gokil. imdb
Aktor dan aktris yang bermain dalam Guru-Guru Gokil. imdb

MENGAPA guru-guru disatukan dengan kata “gokil”?

Ini bukan sebuah judul biasa, tapi Rahabi Mandra, penggagas dan penulis skenario film tersebut, ingin menciptakan sebuah jagat baru di desa nun di barat Jawa. Tak berpanjang-lebar, kita langsung paham bahwa harus ada kata “gokil” yang bersanding dengan kata “guru-guru” karena film ini dibuka dengan adegan Taat Pribadi (Gading Marten) dan Rahayu (Faradina Mufti)—iya, dua-duanya guru—mengendap-endap, mengutak-atik tas berisi segunung duit. Lantas kita mendengar suara Taat Pribadi mengatakan: “Di dunia ini, gua paling suka uang. Dan yang paling gua gak suka: guru.”

Dari kalimat perkenalan Taat dengan pemirsa, kita langsung paham, Taat tak sesuai dengan namanya, bukanlah seorang pribadi yang taat aturan. Dia hidup seenaknya, terus memburu duit tanpa memikirkan etika. Dia tak suka terhadap profesi guru karena ayahnya (Arswendy Nasution) adalah seorang guru baik, mengabdi, putih bersih, dan serius dengan profesinya. Pokoknya, Taat adalah antitesis dari sang bapak. Dia doyan duit, bekerja sebagai apa saja: berjualan, menjadi tukang sulap, hingga akhirnya menjadi guru substitusi—semua dilahap.


Gading Martin, Asri Welas, dan Faradina Mufti dalam Guru-guru Gokil. imdb

Tapi, seperti halnya guru-guru di pelosok Indonesia mana pun, film ini memperlihatkan betapa gaji guru yang minim dan pekerjaan yang melebihi kapasitas manusia normal; ditambah generasi masa kini semacam Ipang (Kevin Ardilova) yang berani, cerdas, sekaligus tengil menghadapi si guru yang tingkahnya dianggap mencurigakan itu.

Syahdan, di suatu hari yang sial, gaji guru raib dirampok. Lalu apa yang harus dilakukan? Para guru, tertib ataupun kacau, baik ataupun gokil, Ibu Rahayu, Taat, Ibu Nirmala, Pak Nelson, dan seterusnya, dengan segala rencana mencoba merebut kembali duit gaji itu.

Genre komedi memang pilihan berani karena, seperti yang sering saya nyatakan, urat lucu setiap orang berbeda. Sungguh, ini genre mahasulit. Jika urat lucu itu tak menjadi bagian dari penulis skenario ataupun sutradara, ini menjadi pekerjaan berat.

Mungkin yang perlu diakui adalah keberanian seluruh tim untuk membangun “jagat tak mungkin” itu menjadi sesuatu yang “mungkin”. Tim itu memutuskan memasuki sebuah kisah drama komedi yang sengaja hiperbolis: guru-guru gokil versus penjahat. Sama seperti bagaimana kita harus percaya bahwa tokoh anak-anak Sherina dan Saddam bisa mengatasi penjahat dalam film Petualangan Sherina (Riri Riza, 2000). Baik dalam film Guru-guru Gokil maupun Petualangan Sherina terselip elemen “suspension of disbelief”. Janganlah bertanya soal logika kehidupan nyata, kita harus masuk ke logika film itu untuk bisa menikmatinya.

imdb

Bagian berikutnya yang perlu diakui adalah seni peran semua pemainnya yang asyik dan pas. Gading Marten, yang pernah menjadi Aktor Pilihan Tempo karena penampilannya dalam film Love for Sale, adalah aktor yang boleh dibilang mampu bermain sebagai apa saja.

Sutradara Sammaria Simanjuntak (sebelumnya kita mengenalnya sebagai sutradara Demi Ucok, yang menjadi Film Pilihan Tempo 2012) mengaku ini pertama kalinya dia membuat film yang tidak ditulisnya sendiri. Tentu saja itu (seharusnya) bukan persoalan karena cerita dan skenario yang bagus bisa diperoleh di mana saja, tak selalu harus dari tangan sendiri. Namun catatan saya untuk film ini antara lain ada pada skenario dan ritme film. Dimulai dengan ritme yang lekas, segera, dan asyik, film ini terasa melambat pada paruh kedua karena sibuk menjalin beberapa subplot. Ada cerita guru-guru, ada soal hubungan Taat dan bapaknya, ada lagi masalah kepala sekolah, dan jangan lupa: namanya sekolah, tentu saja murid-murid juga punya cerita sendiri meski dalam film ini mereka bukan subyek. Babak kedua yang penuh kecamuk ini tak terlalu lancar.

Untung saja akhir cerita di babak terakhir menyajikan kejutan yang seru. Persoalan Taat yang “doyan duit” juga kemudian diberi penyelesaian yang bagus karena, biar bagaimanapun, Taat adalah wakil “underdog” yang pada satu titik harus muncul sebagai tokoh yang disayangi penonton. Dan dalam hal ini, Sammaria berhasil mengarahkan Gading Marten sebagai Taat yang akhirnya menjadi sosok dewasa.

LEILA S. CHUDORI


GURU-GURU GOKIL

Sutradara: Sammaria Simanjuntak
Skenario: Rahabi Mandra
Pemain: Gading Marten, Dian Sastrowardoyo, Faradina Mufti, Kevin Ardilova, Arswendy Nasution, Boris Bokir
Produksi: BASE Entertainment dan Dian Sastrowardoyo

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-28 02:50:56

Film

Sinema 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB