Profile Seno Joko Suyono

Seno Joko Suyono

Menulis artikel kebudayaan dan seni di majalah Tempo. Pernah kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Pada 2011 mendirikan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) dan menjadi kuratornya sampai sekarang. Pengarang novel Tak Ada Santo di Sirkus (2010) dan Kuil di Dasar Laut (2014) serta penulis buku Tubuh yang Rasis (2002) yang menelaah pemikiran Michel Foucault terhadap pembentukan diri kelas menengah Eropa.




  • Siapa Pembuat Relief Sarinah?
    Selingan

    Siapa Pembuat Relief Sarinah?

    PARA pekerja renovasi Sarinah tahun lalu “menemukan” relief zaman Sukarno berukuran 3 x 12 meter “disembunyikan” di ruang instalasi listrik gedung. Relief itu menggambarkan suasana pasar lama: ibu-ibu berkebaya bersama barang jajanan dan para lelaki bercaping membawa pikulan. Relief itu menarik karena sebagian berupa relief patung tiga dimensional yang menonjol.

    Tak ada arsip mengenai relief itu. Muncul spekulasi dari para pengamat seni rupa tentang siapa pembuat relief dan mengapa karya tersebut bisa dibuang di ruang genset yang pengap di Sarinah. Apakah relief itu sengaja dilenyapkan Orde Baru karena dianggap “kekiri-kirian” atau pihak Sarinah sendiri di masa lampau yang menganggap relief yang menggambarkan masyarakat pedesaan tersebut tidak cocok dengan modernisasi Sarinah?  

    Tempo mewawancarai anak-anak para perupa masyhur dari 1960-an untuk menggali kemungkinan-kemungkinan mengenai siapa pembuat relief tersebut. Tempo juga mewawancarai Menteri Tenaga Kerja zaman Orde Baru, Abdul Latief, yang pada awal pendirian Sarinah terlibat sebagai karyawan.

  • Romantisisme Seorang Astronom Tua
    Teater

    Romantisisme Seorang Astronom Tua

    Teater Koma mementaskan bagian ketiga trilogi Gemintang. Rangga Riantiarno secara kuat memainkan seorang astronom sepuh yang terombang-ambingkan cinta.

  • Lanskap-lanskap Ipe Ma’aruf
    Seni Rupa

    Lanskap-lanskap Ipe Ma’aruf

    Di usianya yang sepuh, 82 tahun, Ipe Ma’aruf mengadakan pameran tunggal di Balai Budaya Jakarta. Di masa pandemi ini ia banyak membuat lukisan-lukisan lanskap warna-warni.

  • Rusini, Bedhaya Sepuh dan Kepekaan Rasa Gending
    Tari

    Rusini, Bedhaya Sepuh dan Kepekaan Rasa Gending

    Penari Rusini menyajikan karya Bedhaya Tirta Teja di pendapa Taman Budaya Surakarta dan disiarkan secara streaming. Usia para penarinya kebanyakan di atas 60 tahun. Sebuah film dokumenter tentang Rusini garapan Fawarti Gendra Nata Utami disajikan.

  • Memori-memori Interogasi
    Teater

    Memori-memori Interogasi

    Faiza Mardzoeki menerjemahkan naskah Lene Therese Teigen, dramawan feminis Norwegia, mengenai kesaksian warga Uruguay yang pernah disiksa di zaman diktator militer. Dipentaskan lima sutradara perempuan secara daring dengan gaya beragam.

  • Lonteku, Terima Kasih...
    Bahasa

    Lonteku, Terima Kasih...

    Para pemerhati bahasa mengatakan kamus kita bias gender. Sebab, semua sinonim kata pelacur mengarah kepada perempuan. Hanya satu untuk pria, yaitu gigolo. Padahal kata melacur bersifat netral, bisa dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

  •  Yang Muda, yang Enteng, yang Bergembira
    Seni

    Yang Muda, yang Enteng, yang Bergembira

    Indonesia Dance Festival digelar online. Menonjolkan koreografer muda. Bahkan mengajak masyarakat biasa menyajikan tariannya dalam pembukaan. Pesan yang hendak disampaikan, yakni tari bisa menjadi jalan penyembuhan saat pandemi, kurang terasa.

  • Biku Anandajoti, Fotografi, dan Relief
    Buku

    Biku Anandajoti, Fotografi, dan Relief

    Ehipassiko Foundation menerjemahkan lima seri buku relief Borobudur dokumentasi Biku Anandajoti. Memuat foto relief secara lengkap beserta keterangan adegan. Sebuah seri yang memudahkan siapa pun dalam meneliti Borobudur.  

  • Suciwati, Jam Berdentang Malam Hari
    Seni

    Suciwati, Jam Berdentang Malam Hari

    Happy Salma membawakan monolog online. Memerankan Suciwati yang setelah 16 tahun kematian suaminya, Munir, tiba-tiba mengenang seluruh tragedi yang dialami keluarganya di sebuah malam.

  • 10 Jam Ugo: Kapur dan Kesementaraan
    Seni

    10 Jam Ugo: Kapur dan Kesementaraan

    Ugo Untoro menggambar dengan kapur di papan tulis hitam. Ia menghapus gambar yang sudah jadi, lantas menggambar lagi sesuatu yang baru. Begitu terus hingga 10 jam. Ia memberinya judul Homage to the Blackboards.

  • Nyawa Kedua Margasatwa dan Puspita
    Selingan

    Nyawa Kedua Margasatwa dan Puspita

    Mural karya Lee Man Fong, Margasatwa dan Puspita Indonesia, yang menjadi koleksi Hotel Indonesia Kempinski mengalami proses restorasi. Lukisan terbesar yang pernah dibuat Lee Man Fong ini digarap pada 1962 atas perintah Presiden Sukarno. Lukisan ini bertema keberagaman hayati Indonesia. Tak banyak yang tahu bahwa mural ini memiliki master berupa dua lukisan cat air yang juga dibuat Lee Man Fong. Ikuti kisah tentang lukisan ini dan lukisan lain yang menjadi koleksi Hotel Indonesia Kempinski.

  •  Menebak Batu Bata Beraksara
    Selingan

    Menebak Batu Bata Beraksara

    Sektor permakaman dianggap sebagai zona inti penggalian. Terdapat temuan-temuan lepas, tapi belum bisa dipastikan apa tepatnya bangunan yang dulu berada di situs itu.   

  • Kumitir, Katastrofe, dan Tafsir Lain
    Selingan

    Kumitir, Katastrofe, dan Tafsir Lain

    DI masa pandemi ini, selama sebulan, sejak 4 Agustus sampai 9 September lalu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi skala besar di Situs Kumitir, dekat Trowulan, Mojokerto. Penggalian yang melibatkan puluhan pekerja ini menindaklanjuti ekskavasi tahun lalu, yang berhasil menemukan sebuah struktur talut panjang di Kumitir.

    Ekskavasi ini mengundang kegairahan baru atas penelitian Majapahit. Meski penggalian baru menyingkap 30 persen dari luas keseluruhan situs, berbagai tafsir muncul menyusul kerja keras BPCB Jawa Timur ini. Tempat apakah situs Kumitir? Apakah pendarmaan? Apakah sebuah kota kecil? Apakah kedaton? Mengapa bisa terpendam? Mengapa minim temuan artefak? Apakah bencana alam atau ulah manusia yang menghancurkan kawasan situs? Tempo melaporkannya.  

     

  • Bukan Rumah Kertas
    Seni

    Bukan Rumah Kertas

    Titimangsa Foundation memproduksi sebuah drama keluarga. Seluruh penanganan pentas sebagaimana pertunjukan teater di masa normal. Disajikan secara daring berbayar. Antusiasme penonton lumayan.

     

  • Santiago, Hedda, dan Keluarga Jenderal Mannon
    Selingan

    Santiago, Hedda, dan Keluarga Jenderal Mannon

    Sapardi Djoko Damono adalah penerjemah yang ulung. Ia berprinsip terjemahannya merupakan karya Indonesia, bukan sekadar karya asing dalam bahasa Indonesia.

  • Sebuah Monumen Sukarno di Jantung Aljazair
    Selingan

    Sebuah Monumen Sukarno di Jantung Aljazair

    Sebuah patung Sukarno hasil kolaborasi Ridwan Kamil dan Dolorosa Sinaga berdiri di ibu kota Aljazair. Sukarno sangat dihormati di Aljazair karena perannya mendukung kemerdekaan negara itu. Pada 1955, Sukarno mengundang para pejuang kemerdekaan Aljazair datang ke Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Konferensi yang berpengaruh bagi politikus dan aktivis Front Pembebasan Nasional (FLN), yang menentang kolonialisme Prancis di Aljazair.

    Sedianya patung itu diresmikan pada 6 Juni 2020, bertepatan dengan peringatan kelahiran Sukarno. Namun, karena pandemi, peresmian diundur. Tempo menuliskan kisah di balik patung Sukarno di Aljazair itu. Tulisan dilengkapi esai Agus Dermawan T., yang menulis tentang persahabatan Sukarno dengan pematung berdarah Jepang terkenal, Isamu Noguchi. Dari Noguchi-lah Sukarno sadar akan pentingnya patung publik.

  • Dogot dan Sapardi
    Seni

    Dogot dan Sapardi

    Ditunggu Dogot karya Sapardi Joko Damono dirayakan di Institut Kesenian Jakarta. Sekolah Pascasarjana, S-1, dan alumnus mementaskannya secara daring.

  • Tubuh dalam Tatapan Orientalisme
    Selingan

    Tubuh dalam Tatapan Orientalisme

    Cara engraver Eropa menggambarkan orang Nusantara dalam litografi sering bias dan cenderung stereotipe.

  • Litografi VOC: Antara Realitas dan Imajinasi
    Selingan

    Litografi VOC: Antara Realitas dan Imajinasi

    Sebuah buku langka mengenai litografi di zaman kolonial terbit. Ditulis sejarawan Universiteit Leiden, Simon C. Kemper, berdasarkan koleksi print milik Kartini Collection, Jakarta. Kemper mampu menyuguhkan analisis mendalam. Ternyata, di balik gambar-gambar indah dan eksotis litografi, banyak cerita menarik yang berkelindan dengan persoalan politik, sikap romantisisme, sikap saintifik, hingga prasangka orientalisme.

  • Peci Putih Radhar
    Seni

    Peci Putih Radhar

    Radhar Panca Dahana membacakan sajak-sajak spiritual-nya di Gedung Kesenian Jakarta. Mencoba mengemas pentas dalam bentuk kolaborasi multimedia dan musik.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.