Profile Seno Joko Suyono

Seno Joko Suyono

Menulis artikel kebudayaan dan seni di majalah Tempo. Pernah kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Pada 2011 mendirikan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) dan menjadi kuratornya sampai sekarang. Pengarang novel Tak Ada Santo di Sirkus (2010) dan Kuil di Dasar Laut (2014) serta penulis buku Tubuh yang Rasis (2002) yang menelaah pemikiran Michel Foucault terhadap pembentukan diri kelas menengah Eropa.




  • Septina, Tatyana, dan Panyuwunan
    Seni

    Septina, Tatyana, dan Panyuwunan

    Sejumlah penyanyi menyanyikan sajak Romo Kuntara Wiryamartana, “Panyuwunan”. Seperti doa untuk mengusir kegelisahan di masa pandemi Covid-19.

  • Gusti, Kula Nyuwun…
    Seni

    Gusti, Kula Nyuwun…

    Romo Gregorius Budi Subanar SJ dan perupa Samuel Indratma mencetuskan gagasan musikalisasi sajak-sajak Jawa mendiang Romo Kuntara Wiryamartana SJ. Salah satunya sajak Panyuwunan. Dinyanyikan berbagai kalangan, dianggap sebagai doa di tengah pandemi.

  • Ubud, Suara-suara Cak dalam Kegelapan
    Seni

    Ubud, Suara-suara Cak dalam Kegelapan

    Happy Salma mementaskan Taksu Ubud, yang disiarkan melalui kanal YouTube. Komunitas-komunitas seni Ubud bahu-membahu berkolaborasi mendukung pertunjukan semikolosal tersebut. Christine Hakim dan Reza Rahadian terlibat.

  • Merayakan Leopold Bloom, Merayakan Bloomsday
    Selingan

    Merayakan Leopold Bloom, Merayakan Bloomsday

    NOVEL Ulysses karya James Joyce selalu dipestakan di seluruh dunia oleh para pencinta penulis Irlandia itu setiap 16 Juni. Hari perayaan itu disebut Bloomsday. Disebut demikian karena tokoh fiktif utama dalam novel itu bernama Leopold Bloom. Ulysses pernah disebut sebagai salah satu novel paling berbahaya di dunia dan lama dilarang terbit di Amerika Serikat. Novel ini juga dianggap memiliki tingkat eksperimental tinggi dari sudut penceritaan dan bahasa—hingga menantang untuk terus dipelajari sampai sekarang.

    Tahun ini, Bloomsday sampai ke Jakarta. Kedutaan Besar Irlandia di Jakarta merayakan Bloomsday dengan membuat beberapa program berkenaan dengan karya Joyce itu.

  • Persada, Sebuah Legenda
    Selingan

    Persada, Sebuah Legenda

    Selama tinggal di Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi membesarkan komunitas penyair Persada Studi Klub. Bisa menembus rubrik puisi yang dikelolanya adalah suatu kebanggaan bagi penyair Yogyakarta saat itu. 

  • Tonil-tonil Realis Usmar
    Selingan

    Tonil-tonil Realis Usmar

    Mendahului film-filmnya, Usmar Ismail menulis sejumlah naskah teater yang dipentaskan bersama kelompok Sandiwara Penggemar Maya. Naskah-naskah realis yang tentu menjadi basis bagi kemunculan sederet filmnya.

  • Siapa Pembuat Relief Sarinah?
    Selingan

    Siapa Pembuat Relief Sarinah?

    PARA pekerja renovasi Sarinah tahun lalu “menemukan” relief zaman Sukarno berukuran 3 x 12 meter “disembunyikan” di ruang instalasi listrik gedung. Relief itu menggambarkan suasana pasar lama: ibu-ibu berkebaya bersama barang jajanan dan para lelaki bercaping membawa pikulan. Relief itu menarik karena sebagian berupa relief patung tiga dimensional yang menonjol.

    Tak ada arsip mengenai relief itu. Muncul spekulasi dari para pengamat seni rupa tentang siapa pembuat relief dan mengapa karya tersebut bisa dibuang di ruang genset yang pengap di Sarinah. Apakah relief itu sengaja dilenyapkan Orde Baru karena dianggap “kekiri-kirian” atau pihak Sarinah sendiri di masa lampau yang menganggap relief yang menggambarkan masyarakat pedesaan tersebut tidak cocok dengan modernisasi Sarinah?  

    Tempo mewawancarai anak-anak para perupa masyhur dari 1960-an untuk menggali kemungkinan-kemungkinan mengenai siapa pembuat relief tersebut. Tempo juga mewawancarai Menteri Tenaga Kerja zaman Orde Baru, Abdul Latief, yang pada awal pendirian Sarinah terlibat sebagai karyawan.

  • Romantisisme Seorang Astronom Tua
    Teater

    Romantisisme Seorang Astronom Tua

    Teater Koma mementaskan bagian ketiga trilogi Gemintang. Rangga Riantiarno secara kuat memainkan seorang astronom sepuh yang terombang-ambingkan cinta.

  • Lanskap-lanskap Ipe Ma’aruf
    Seni Rupa

    Lanskap-lanskap Ipe Ma’aruf

    Di usianya yang sepuh, 82 tahun, Ipe Ma’aruf mengadakan pameran tunggal di Balai Budaya Jakarta. Di masa pandemi ini ia banyak membuat lukisan-lukisan lanskap warna-warni.

  • Rusini, Bedhaya Sepuh dan Kepekaan Rasa Gending
    Tari

    Rusini, Bedhaya Sepuh dan Kepekaan Rasa Gending

    Penari Rusini menyajikan karya Bedhaya Tirta Teja di pendapa Taman Budaya Surakarta dan disiarkan secara streaming. Usia para penarinya kebanyakan di atas 60 tahun. Sebuah film dokumenter tentang Rusini garapan Fawarti Gendra Nata Utami disajikan.

  • Memori-memori Interogasi
    Teater

    Memori-memori Interogasi

    Faiza Mardzoeki menerjemahkan naskah Lene Therese Teigen, dramawan feminis Norwegia, mengenai kesaksian warga Uruguay yang pernah disiksa di zaman diktator militer. Dipentaskan lima sutradara perempuan secara daring dengan gaya beragam.

  • Lonteku, Terima Kasih...
    Bahasa

    Lonteku, Terima Kasih...

    Para pemerhati bahasa mengatakan kamus kita bias gender. Sebab, semua sinonim kata pelacur mengarah kepada perempuan. Hanya satu untuk pria, yaitu gigolo. Padahal kata melacur bersifat netral, bisa dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

  •  Yang Muda, yang Enteng, yang Bergembira
    Seni

    Yang Muda, yang Enteng, yang Bergembira

    Indonesia Dance Festival digelar online. Menonjolkan koreografer muda. Bahkan mengajak masyarakat biasa menyajikan tariannya dalam pembukaan. Pesan yang hendak disampaikan, yakni tari bisa menjadi jalan penyembuhan saat pandemi, kurang terasa.

  • Biku Anandajoti, Fotografi, dan Relief
    Buku

    Biku Anandajoti, Fotografi, dan Relief

    Ehipassiko Foundation menerjemahkan lima seri buku relief Borobudur dokumentasi Biku Anandajoti. Memuat foto relief secara lengkap beserta keterangan adegan. Sebuah seri yang memudahkan siapa pun dalam meneliti Borobudur.  

  • Suciwati, Jam Berdentang Malam Hari
    Seni

    Suciwati, Jam Berdentang Malam Hari

    Happy Salma membawakan monolog online. Memerankan Suciwati yang setelah 16 tahun kematian suaminya, Munir, tiba-tiba mengenang seluruh tragedi yang dialami keluarganya di sebuah malam.

  • 10 Jam Ugo: Kapur dan Kesementaraan
    Seni

    10 Jam Ugo: Kapur dan Kesementaraan

    Ugo Untoro menggambar dengan kapur di papan tulis hitam. Ia menghapus gambar yang sudah jadi, lantas menggambar lagi sesuatu yang baru. Begitu terus hingga 10 jam. Ia memberinya judul Homage to the Blackboards.

  • Nyawa Kedua Margasatwa dan Puspita
    Selingan

    Nyawa Kedua Margasatwa dan Puspita

    Mural karya Lee Man Fong, Margasatwa dan Puspita Indonesia, yang menjadi koleksi Hotel Indonesia Kempinski mengalami proses restorasi. Lukisan terbesar yang pernah dibuat Lee Man Fong ini digarap pada 1962 atas perintah Presiden Sukarno. Lukisan ini bertema keberagaman hayati Indonesia. Tak banyak yang tahu bahwa mural ini memiliki master berupa dua lukisan cat air yang juga dibuat Lee Man Fong. Ikuti kisah tentang lukisan ini dan lukisan lain yang menjadi koleksi Hotel Indonesia Kempinski.

  •  Menebak Batu Bata Beraksara
    Selingan

    Menebak Batu Bata Beraksara

    Sektor permakaman dianggap sebagai zona inti penggalian. Terdapat temuan-temuan lepas, tapi belum bisa dipastikan apa tepatnya bangunan yang dulu berada di situs itu.   

  • Kumitir, Katastrofe, dan Tafsir Lain
    Selingan

    Kumitir, Katastrofe, dan Tafsir Lain

    DI masa pandemi ini, selama sebulan, sejak 4 Agustus sampai 9 September lalu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi skala besar di Situs Kumitir, dekat Trowulan, Mojokerto. Penggalian yang melibatkan puluhan pekerja ini menindaklanjuti ekskavasi tahun lalu, yang berhasil menemukan sebuah struktur talut panjang di Kumitir.

    Ekskavasi ini mengundang kegairahan baru atas penelitian Majapahit. Meski penggalian baru menyingkap 30 persen dari luas keseluruhan situs, berbagai tafsir muncul menyusul kerja keras BPCB Jawa Timur ini. Tempat apakah situs Kumitir? Apakah pendarmaan? Apakah sebuah kota kecil? Apakah kedaton? Mengapa bisa terpendam? Mengapa minim temuan artefak? Apakah bencana alam atau ulah manusia yang menghancurkan kawasan situs? Tempo melaporkannya.  

     

  • Bukan Rumah Kertas
    Seni

    Bukan Rumah Kertas

    Titimangsa Foundation memproduksi sebuah drama keluarga. Seluruh penanganan pentas sebagaimana pertunjukan teater di masa normal. Disajikan secara daring berbayar. Antusiasme penonton lumayan.

     

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.