Profile Moyang Kasih Dewi Merdeka

Moyang Kasih Dewi Merdeka

Bergabung dengan Tempo pada 2014, ia mulai berfokus menulis ulasan seni dan sinema setahun kemudian. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara ini pernah belajar tentang demokrasi dan pluralisme agama di Temple University, Philadelphia, pada 2013. Menerima beasiswa Chevening 2018 untuk belajar program master Social History of Art di University of Leeds, Inggris. Aktif di komunitas Indonesian Data Journalism Network.




  • Kisah Boneka yang Tak Suka pada Tubuhnya
    Seni

    Kisah Boneka yang Tak Suka pada Tubuhnya

    Untuk pertama kalinya kelompok teater boneka Papermoon berpentas dengan medium keramik. Medium unik dari tanah liat itu menyimbolkan kerapuhan sekaligus keliatan, tepat untuk menyampaikan kisah kelompok marjinal seperti transpuan.

  • Rancage tanpa Ajip
    Selingan

    Rancage tanpa Ajip

    Anugerah Sastera Rancage digelar untuk ke-33 kali. Berharap dapat terus bertahan meski perintisnya, Ajip Rosidi, telah wafat.

  • Dari Dadan sampai Komang Berata
    Selingan

    Dari Dadan sampai Komang Berata

    Anugerah Sastera Rancage yang mengapresiasi karya-karya sastra terbaik dalam bahasa daerah kembali digelar ke-33 kalinya. Digagas Ajip Rosidi, anugerah ini memberi semangat kepada penulis daerah untuk melestarikan bahasa lokal yang makin pudar.

  • Absurditas Si Juki dalam Serial
    Sinema

    Absurditas Si Juki dalam Serial

    Setelah sukses dalam bentuk komik strip, buku, hingga film, si Juki mahasiswa abadi hadir kembali dalam bentuk serial animasi. Menjadi serial animasi Indonesia pertama di platform streaming, Si Juki Anak Kosan mencampuradukkan keseharian mahasiswa dan keabsurdan imajinasi.

  • Lima Sketsa Perihal Karantina
    Sinema

    Lima Sketsa Perihal Karantina

    Lima sutradara menyuguhkan lima film pendek bertema situasi wabah yang sedang kita hadapi. Quarantine Tales merekam rupa-rupa pengalaman masa pandemi dan bagaimana manusia berhadapan dengan teknologi.

     

  • Deng Deredeng Deng dari Garin
    Seni

    Deng Deredeng Deng dari Garin

    Garin Nugroho membawa tema korupsi dan oligarki ke panggung teater musikal bergaya Broadway. Pertunjukan riang tentang riwayat negeri yang malang.

  • Anak Jenius di Antara Orang Dewasa Serius
    Sinema

    Anak Jenius di Antara Orang Dewasa Serius

    Mengolok-olok kemiskinan, kejeniusan, dan privilese dalam Serious Men.

  • Bhumisodana dan Tribute untuk Suprapto Suryodarmo
    Seni

    Bhumisodana dan Tribute untuk Suprapto Suryodarmo

    Empat koreografer dan seorang perupa mengenang almarhum Suprapto Suryodarmo dalam perhelatan Borobudur Writers and Cultural Festival dengan karya-karya yang mengeksplorasi alam. Beberapa menjadi dance film yang menarik.

  • Satu atau Tujuh Pitung?
    Selingan

    Satu atau Tujuh Pitung?

    SELAMA lebih dari satu abad, riwayat jagoan Betawi, Si Pitung, telah diceritakan turun-temurun dan berkembang menjadi percampuran fakta dan mitos. Yang terbaru, Abdul Chaer menulis tentang ragam versi cerita Si Pitung dan menyangkal narasi yang paling lari dari kebenaran.

  • Pakar Bahasa dari Tenabang
    Selingan

    Pakar Bahasa dari Tenabang

    Pada usianya yang ke-80 tahun, Abdul Chaer belum surut mendokumentasikan bahasa dan ragam budaya Betawi dalam buku-bukunya.

  • Tari dari Tempuran Sungai Banyumas   
    Seni

    Tari dari Tempuran Sungai Banyumas  

    Pertunjukan pada Pekan Kebudayaan Nasional menghadirkan perpaduan tradisi dan seni kontemporer. Rianto dan Hartati menampilkan tari ketahanan tubuh dan kebebasan.

  • Dari Gerai ke Gerai dengan Kursor
    Seni

    Dari Gerai ke Gerai dengan Kursor

    Art Jakarta tahun ini berlangsung daring. Tampilan virtual Art Jakarta patut diakui lebih interaktif ketimbang pasar seni lain yang lebih dulu diadakan secara virtual, misalnya Art Basel di Hong Kong.

  • Detektif Feminis Bernama Enola 
    Sinema

    Detektif Feminis Bernama Enola 

    Dalam suatu dunia fiksi paralel, Sherlock Holmes memiliki adik perempuan yang sama brilian dengan dirinya, tetapi jauh lebih riang dan jenaka. Inilah Enola Holmes, yang memecahkan kasus sekaligus mematahkan pagar yang membatasi perempuan. 

     

  • Dari Flying Balloons Puppet sampai Chicago Puppet Studio
    Seni

    Dari Flying Balloons Puppet sampai Chicago Puppet Studio

    Festival Pesta Boneka oleh Papermoon Puppet Theatre, Yogyakarta, tahun ini berlangsung secara virtual. Para seniman boneka mencoba beragam format pertunjukan di tengah pandemi yang melanda seluruh dunia.

  • Rambut Bob Marley dan Kaca Patri
    Seni

    Rambut Bob Marley dan Kaca Patri

    Pameran virtual perupa Antonius Kho menampilkan lukisan-lukisan bertema pandemi. Dengan teknik mosaik serupa kaca patri, Kho hendak menyebarkan cinta untuk melawan corona.

     

     

  • Tarian Kontroversial Geng Cuties
    Sinema

    Tarian Kontroversial Geng Cuties

    Cuties dituduh sebagai film provokatif yang mendukung eksploitasi seksual anak. Perlu kepala dingin untuk memahami persoalan lebih besar yang harus diselesaikan di baliknya.

  • Sinema Persahabatan Perempuan Eks Tapol
    Selingan

    Sinema Persahabatan Perempuan Eks Tapol

    SATU lagi karya sineas muda Indonesia mendapat penghargaan internasional. Film dokumenter You and I besutan sutradara Fanny Chotimah asal Solo, Jawa Tengah, dinobatkan sebagai film terbaik dengan meraih Asian Perspective Award dalam 12th DMZ International Documentary Film Festival di Korea Selatan. Fanny merekam persahabatan dua perempuan, Kaminah dan Kusdalini, yang merupakan mantan tahanan politik peristiwa 1965. Setelah dibebaskan, mereka ditolak keluarga sehingga memutuskan tinggal bersama. Film ini merekam hari-hari terakhir kehidupan mereka yang masih diwarnai stigma. 

    Ini bukan pertama kalinya sineas membuat film dokumenter tentang peristiwa 1965 yang menjadi lawan narasi Orde Baru. Namun munculnya sineas-sineas muda perempuan memberikan perspektif baru dalam melihat sejarah. Sebelum You and I, Kartika Pratiwi membuat film dokumenter animasi berjudul A Daughter's Memory. Film ini mengangkat kisah Svetlana Dayani, putri Njoto, salah seorang pemimpin Partai Komunis Indonesia. Berangkat dari kedua film ini, Tempo merekonstruksi kehidupan eks tapol perempuan dan bagaimana stigma yang mereka hadapi pada masa sekarang. Juga bagaimana sineas muda memaknai kembali sejarah yang simpang-siur di sekitar kita.

  • Svetlana dalam Animasi        
    Selingan

    Svetlana dalam Animasi    

    A Daughter’s Memory mendekati kisah penyintas 1965 dengan cara berbeda. Cerita Svetlana Dayani, putri pemimpin PKI yang turut dipenjara pada usia 9 tahun, dituturkan lewat animasi.

  • Ketika Mudik Berujung Pelik
    Sinema

    Ketika Mudik Berujung Pelik

    Mudik tak selamanya menjadi ritual pengobat kerinduan. Bagi Aida dan Firman, perjalanan mudik yang seharusnya sederhana dapat menyimpang tiba-tiba. 
     

  • Tilik dan Bangkitnya Marwah Film Pendek
    Selingan

    Tilik dan Bangkitnya Marwah Film Pendek

    ANGKA 20 juta penayangan yang diraih Tilik membuka banyak kemungkinan untuk sebuah karya film pendek. Mulai tumbuh pada awal 1970-an, film pendek sering tak mendapat sorotan publik dan jamak dipandang sebagai batu loncatan sebelum sineas mengerjakan proyek panjang “sebenarnya”. Padahal banyak sineas yang mendapat piala utama dalam berbagai festival bergengsi dunia dengan karya singkatnya.

    Sejumlah persoalan memperlambat proses produksi dan kesempatan film pendek bertemu dengan penonton. Momentum yang diciptakan Tilik patut dimanfaatkan untuk menyuburkan ekosistem perfilman pendek kita.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.