Profile Moyang Kasih Dewi Merdeka

Moyang Kasih Dewi Merdeka

Bergabung dengan Tempo pada 2014, ia mulai berfokus menulis ulasan seni dan sinema setahun kemudian. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara ini pernah belajar tentang demokrasi dan pluralisme agama di Temple University, Philadelphia, pada 2013. Menerima beasiswa Chevening 2018 untuk belajar program master Social History of Art di University of Leeds, Inggris. Aktif di komunitas Indonesian Data Journalism Network.




  • Represi Rezim hingga Netizen
    Selingan

    Represi Rezim hingga Netizen

    Kartunis politik Indonesia tak jarang harus berhadapan dengan tindakan represif karena karya yang mengkritik. Yayak Yatmaka pada masa Orde Baru harus berhadapan dengan rezim. Sementara itu, kartunis media sosial masa kini punya tantangan tersendiri.

  • Dokumenter Rock and Roll untuk Bumi
    Sinema

    Dokumenter Rock and Roll untuk Bumi

    Pulau Plastik menjadi satu dari sedikit film dokumenter tentang permasalahan sampah plastik yang dibuat dengan perspektif Indonesia.

  • Kehidupan Kembali Rukiah
    Selingan

    Kehidupan Kembali Rukiah

    Setelah dilarang beredar akibat Tragedi 1965, karya-karya S. Rukiah diterbitkan kembali oleh Ultimus, Bandung.

  • Kisah Dua Sastrawan Lekra
    Selingan

    Kisah Dua Sastrawan Lekra

    MASIH berkaitan dengan peringatan Hari Kartini, 21 April lalu, Tempo menuliskan riwayat dua penulis perempuan yang dilupakan: S. Rukiah Kertapati dan Sugiarti Siswadi. Mereka dianggap terlibat dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Nama mereka hilang sejak peristiwa 1965. Seusai prahara itu, Rukiah sempat ditahan. Ia kemudian memilih bekerja di sebuah klinik di kota kecil Purwakarta, Jawa Barat. Ia melupakan semua riwayat kepenulisannya sampai akhir hayatnya. Sedangkan Sugiarti tak diketahui rimbanya sama sekali. Nama keduanya tak tertoreh dengan baik dalam sejarah sastra kita.

  • 100 Perupa di Ruang Virtual Ciputra
    Seni

    100 Perupa di Ruang Virtual Ciputra

    Seratus seniman turut serta dalam pameran virtual yang diselenggarakan Ciputra Artpreneur. Seratus karya berbeda yang merupakan respons artistik dalam menanggapi pandemi dan hidup bersama musuh.

  • Cinta pada Layar Tegak
    Sinema

    Cinta pada Layar Tegak

    Eksperimen baru sineas muda Indonesia. Serial romansa satu menit dengan format tontonan vertikal, disebarkan lewat TikTok.

  • Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial
    Selingan

    Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial

    LEWAT buku Bukan Takdir, Widjajanti W. Dharmowijono membongkar penyebaran stereotipe negatif tentang orang Cina di Nusantara yang telah mengakar selama ratusan tahun. Dia menelisik sekitar 200 karya sastra yang ditulis pada 1880-1950. Citra seperti kasar, rakus, dan penjilat dilekatkan para penulis sastra Eropa di Hindia Belanda terhadap tokoh-tokoh Cina dalam cerita mereka. Citra yang menyulut sejumlah peristiwa berdarah yang menelan korban tak berdosa.

  • Domba-domba Gembira dalam Tudung Saji
    Seni

    Domba-domba Gembira dalam Tudung Saji

    Helateater Salihara kembali digelar dengan pertunjukan ulang alih tiga kelompok teater dari tiga kota.

  • Kisah Perompak di Mata Seorang Vegan
    Sinema

    Kisah Perompak di Mata Seorang Vegan

    Dokumenter Seaspiracy memaparkan temuan mengkhawatirkan tentang industri perikanan global. Namun film ini diwarnai pengambilan kesimpulan yang ekstrem dan meletakkan kesalahan pada individu, alih-alih tata kelola industri dan pemerintahan.

  • Jodoh di Tangan Savitri
    Seni

    Jodoh di Tangan Savitri

    Teater Koma kembali berpentas secara daring membawa lakon Savitri dari Mahabharata. Tentang perempuan yang mendapat kemerdekaan mencari jodohnya sendiri dan mempertahankannya dari maut.

  • Empat Jam Superhero Snyder
    Sinema

    Empat Jam Superhero Snyder

    Justice League garapan Zack Snyder, yang dituntut kemunculannya selama bertahun-tahun, akhirnya datang juga. Berdurasi empat jam, ini adalah film yang khusus dibuat untuk memenuhi hasrat penggemar.

  • Saadawi Telah Pergi
    Selingan

    Saadawi Telah Pergi

    KETIDAKADILAN dialami Nawal El Saadawi sebagai perempuan sejak napas pertamanya. Di Desa Katr Tahla, tempat dia lahir pada 27 Oktober 1931, kehadiran anak perempuan dianggap sebagai dosa dan kemalangan, sementara kelahiran anak laki-laki patut dirayakan. Yang paling traumatis baginya adalah pengalaman saat secuil daging klitorisnya diambil dalam sunat perempuan. Dia menjadi pejuang hak perempuan yang bersuara paling lantang melawan patriarki dan penindasan terhadap perempuan. Buku-bukunya yang sebagian besar berlatar belakang di Mesir dapat dibaca sebagai permasalahan universal. Gelombang perjuangannya menyentuh para perempuan di sudut-sudut lain dunia, tak terkecuali di Indonesia. Saadawi wafat pada 21 Maret 2021, meninggalkan jejak dalam gerakan perempuan dan hak asasi manusia di seluruh dunia.

  • Usmar Ismail, Film, dan Kita
    Selingan

    Usmar Ismail, Film, dan Kita

    SERATUS tahun lalu, Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat. Seabad usia sineas yang dianggap sebagai bapak perfilman Indonesia itu diperingati di mana-mana. Tempo mewawancarai sanak keluarga Usmar, juga membaca ulang kiprahnya.

  • Jagoan Perempuan Disney Berkeris
    Sinema

    Jagoan Perempuan Disney Berkeris

    Film animasi Disney tentang putri pejuang yang bercaping dan bersenjata keris. Banyak meminjam tradisi Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

  • Sanusi Pane: Sebuah Pleidoi untuk Bahasa Indonesia
    Selingan

    Sanusi Pane: Sebuah Pleidoi untuk Bahasa Indonesia

    Nama sastrawan angkatan Pujangga Baru, Sanusi Pane, tak banyak diingat dalam kajian sejarah Kongres Pemuda. Padahal, dalam kongres pertama, dia bersama Mohammad Tabrani berperan dalam mengusung istilah nahasa Indonesia ketimbang bahasa Melayu yang diusulkan Mohammad Yamin. Sanusi juga mencetuskan ide pendirian institut dan perguruan tinggi kesusastraan Indonesia dalam Kongres Bahasa Indonesia Pertama. Untuk kiprahnya itu, Sanusi Pane diusulkan menjadi pahlawan nasional.

  • Kisah Boneka yang Tak Suka pada Tubuhnya
    Seni

    Kisah Boneka yang Tak Suka pada Tubuhnya

    Untuk pertama kalinya kelompok teater boneka Papermoon berpentas dengan medium keramik. Medium unik dari tanah liat itu menyimbolkan kerapuhan sekaligus keliatan, tepat untuk menyampaikan kisah kelompok marjinal seperti transpuan.

  • Rancage tanpa Ajip
    Selingan

    Rancage tanpa Ajip

    Anugerah Sastera Rancage digelar untuk ke-33 kali. Berharap dapat terus bertahan meski perintisnya, Ajip Rosidi, telah wafat.

  • Dari Dadan sampai Komang Berata
    Selingan

    Dari Dadan sampai Komang Berata

    Anugerah Sastera Rancage yang mengapresiasi karya-karya sastra terbaik dalam bahasa daerah kembali digelar ke-33 kalinya. Digagas Ajip Rosidi, anugerah ini memberi semangat kepada penulis daerah untuk melestarikan bahasa lokal yang makin pudar.

  • Absurditas Si Juki dalam Serial
    Sinema

    Absurditas Si Juki dalam Serial

    Setelah sukses dalam bentuk komik strip, buku, hingga film, si Juki mahasiswa abadi hadir kembali dalam bentuk serial animasi. Menjadi serial animasi Indonesia pertama di platform streaming, Si Juki Anak Kosan mencampuradukkan keseharian mahasiswa dan keabsurdan imajinasi.

  • Lima Sketsa Perihal Karantina
    Sinema

    Lima Sketsa Perihal Karantina

    Lima sutradara menyuguhkan lima film pendek bertema situasi wabah yang sedang kita hadapi. Quarantine Tales merekam rupa-rupa pengalaman masa pandemi dan bagaimana manusia berhadapan dengan teknologi.

     

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.