Profile Moyang Kasih Dewi Merdeka

Moyang Kasih Dewi Merdeka

Bergabung dengan Tempo pada 2014, ia mulai berfokus menulis ulasan seni dan sinema setahun kemudian. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara ini pernah belajar tentang demokrasi dan pluralisme agama di Temple University, Philadelphia, pada 2013. Menerima beasiswa Chevening 2018 untuk belajar program master Social History of Art di University of Leeds, Inggris. Aktif di komunitas Indonesian Data Journalism Network.




  • Mati-matian Melahirkan Jawara Badminton
    Selingan

    Mati-matian Melahirkan Jawara Badminton

    Kemenangan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo 2020 menjadi kabar menggembirakan bagi Perkumpulan Bulutangkis Jaya Raya. Bagaimana sistem pembinaan klub badminton hingga melahirkan juara?

  • Laporan dari Klub-klub Kawah Candradimuka
    Selingan

    Laporan dari Klub-klub Kawah Candradimuka

    Klub bulu tangkis yang di sejumlah kota menjadi tempat lahirnya atlet badminton tangguh dari generasi ke generasi. Kini terseok di tengah pandemi.

  • Fajar Merah dan Sajak Ayahnya
    Seni

    Fajar Merah dan Sajak Ayahnya

    Fajar Merah meluncurkan album musik Dia Ingin Jadi Peluru yang melagukan larik-larik sajak yang ditulis ayahnya, Wiji Thukul. Meniupkan nyawa pada kata yang sudah berkobar-kobar.

  • Berdakwah dengan Musik Cadas
    Selingan

    Berdakwah dengan Musik Cadas

    Sejumlah band metal Indonesia meramu musik cadas dengan lirik berdasarkan Al-Quran dan sejarah Islam.

  • Beckett yang Diburu
    Sinema

    Beckett yang Diburu

    Film Beckett berkisah tentang perburuan yang memancing paranoia. Tak ada tempat yang aman, tak ada orang yang bisa dipercaya.

  • Flores Bernyanyi, Delapan Penjuru
    Seni

    Flores Bernyanyi, Delapan Penjuru

    Festival virtual "Flores the Singing Island" yang digagas musikus Ivan Nestorman menampilkan keunikan pertunjukan vokal dari delapan penjuru Flores.

  • Imajinasi Jagat Raya Marvel yang Lain
    Sinema

    Imajinasi Jagat Raya Marvel yang Lain

    Bagaimana jika sejarah para pahlawan super berubah? Bagaimana jika semesta sinematik Marvel tak berjalan seperti yang kita kenang?

  • Mitos Rusa dan Cinta Tak Biasa
    Sinema

    Mitos Rusa dan Cinta Tak Biasa

    Film pendek Dear to Me karya Monica Tedja ditayangkan dalam program Open Doors: Shorts di Festival Film Locarno tahun ini. Dear to Me berkisah tentang benturan agama, keluarga, dan identitas seksual minoritas. Dihadirkan dengan visual dan narasi yang puitis.

  • Akhirnya Kita Punya Film Zombi
    Sinema

    Akhirnya Kita Punya Film Zombi

    Indonesia akhirnya memiliki serial bertema zombi yang digarap dengan serius. Mini seri Hitam di KlikFilm menghadirkan kisah zombi yang meneror sebuah desa dan bertumpu pada relasi ayah-anak.

  • Museum Maya Kuliner Nusantara
    Seni

    Museum Maya Kuliner Nusantara

    Sebuah museum virtual diluncurkan untuk melestarikan ragam tradisi kuliner Nusantara. Museum Gastronomi Indonesia berambisi besar menjadi pusat data sejarah berbagai makanan Indonesia dari hulu ke hilir.

  • Tatapan Kamera, Tubuh, dan Jarak   
    Seni

    Tatapan Kamera, Tubuh, dan Jarak  

    Empat koreografer muda menampilkan empat ragam tarian pada Helatari Salihara 2021. Bertumpu pada gerak yang merespons tubuh, ruang, dan jarak, juga alih wahana ke ruang virtual.

  • Nostalgia di Tujuh Ruang
    Selingan

    Nostalgia di Tujuh Ruang

    Konser 7 Ruang yang digelar di studio milik Donny Hardono menjadi pertunjukan musik masa pandemi paling konsisten. Studio Donny menjadi ajang penampilan kelompok musik lawas 1970-1990-an, seperti God Bless, Cockpit, Krakatau, Karimata, dan Powerslaves, yang pentasnya disiarkan langsung di YouTube.

     

  • Kehangatan dari Rumah Sakit Korea
    Sinema

    Kehangatan dari Rumah Sakit Korea

    Musim kedua serial Hospital Playlist masih penuh dengan kisah para dokter, pasien, dan keluarga yang membuat hati terasa hangat. Sama sekali tak berkisah tentang pandemi.

  • Cinta dan Cuan dari Korea Selatan
    Selingan

    Cinta dan Cuan dari Korea Selatan

    Kecintaan terhadap budaya Korea Selatan yang dipupuk selama satu dekade lebih melahirkan komunitas penggemar berdedikasi di Indonesia. Penggemar bersedia merogoh kocek untuk membeli barang yang dapat lebih mendekatkan kepada idola. Menjadi peluang bisnis, skala besar ataupun kecil.

  • Senyap yang Menyergap   
    Sinema

    Senyap yang Menyergap  

    Setelah setahun perilisannya tertunda, A Quiet Place II menjadi salah satu film pertama yang kembali mengisi layar bioskop pada era pandemi. Sekuel kedua dari John Krasinski yang meneror dengan kesenyapan. Lebih cepat, lebih menyergap.

  • Tjoet Nja’ Dhien, Tiga Dekade Kemudian
    Sinema

    Tjoet Nja’ Dhien, Tiga Dekade Kemudian

    Film Tjoet Nja’ Dhien yang diproduksi pada 1988 tayang kembali di layar bioskop. Kualitasnya lebih prima berkat restorasi berongkos miliaran rupiah. Momen untuk mengingat kembali capaian sinema Indonesia.

  • Scott Merrillees: Kartu Pos Kurang Dihargai Peneliti
    Selingan

    Scott Merrillees: Kartu Pos Kurang Dihargai Peneliti

    Dari ribuan kartu pos koleksinya, Scott Merrillees mengkurasi 500 kartu pos dari kurun 1900-1945 yang menampilkan keberagaman suku di seluruh Nusantara.

  • Paraphernalia Meleleh di Hong Kong
    Seni

    Paraphernalia Meleleh di Hong Kong

    Pameran seni dunia mulai bergeliat melawan Covid-19. Art Basel Hong Kong kembali digelar secara fisik, meski masih terbatas. ROH Projects Jakarta membawa proyek patung es yang meluruh.

  • Menunggu Festival Istiqlal (Lagi)
    Selingan

    Menunggu Festival Istiqlal (Lagi)

    Sebagai masjid negara, Masjid Istiqlal juga memiliki visi menjadi pusat kebudayaan Islam dan ruang toleransi. Pernah digelar Festival Istiqlal yang menampilkan beragam bentuk kesenian. Festival itu dihadiri jutaan orang.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.