Profile Moyang Kasih Dewi Merdeka

Moyang Kasih Dewi Merdeka

Bergabung dengan Tempo pada 2014, ia mulai berfokus menulis ulasan seni dan sinema setahun kemudian. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara ini pernah belajar tentang demokrasi dan pluralisme agama di Temple University, Philadelphia, pada 2013. Menerima beasiswa Chevening 2018 untuk belajar program master Social History of Art di University of Leeds, Inggris. Aktif di komunitas Indonesian Data Journalism Network.




  • Akhirnya Kita Punya Film Zombi
    Sinema

    Akhirnya Kita Punya Film Zombi

    Indonesia akhirnya memiliki serial bertema zombi yang digarap dengan serius. Mini seri Hitam di KlikFilm menghadirkan kisah zombi yang meneror sebuah desa dan bertumpu pada relasi ayah-anak.

  • Museum Maya Kuliner Nusantara
    Seni

    Museum Maya Kuliner Nusantara

    Sebuah museum virtual diluncurkan untuk melestarikan ragam tradisi kuliner Nusantara. Museum Gastronomi Indonesia berambisi besar menjadi pusat data sejarah berbagai makanan Indonesia dari hulu ke hilir.

  • Tatapan Kamera, Tubuh, dan Jarak   
    Seni

    Tatapan Kamera, Tubuh, dan Jarak  

    Empat koreografer muda menampilkan empat ragam tarian pada Helatari Salihara 2021. Bertumpu pada gerak yang merespons tubuh, ruang, dan jarak, juga alih wahana ke ruang virtual.

  • Nostalgia di Tujuh Ruang
    Selingan

    Nostalgia di Tujuh Ruang

    Konser 7 Ruang yang digelar di studio milik Donny Hardono menjadi pertunjukan musik masa pandemi paling konsisten. Studio Donny menjadi ajang penampilan kelompok musik lawas 1970-1990-an, seperti God Bless, Cockpit, Krakatau, Karimata, dan Powerslaves, yang pentasnya disiarkan langsung di YouTube.

     

  • Kehangatan dari Rumah Sakit Korea
    Sinema

    Kehangatan dari Rumah Sakit Korea

    Musim kedua serial Hospital Playlist masih penuh dengan kisah para dokter, pasien, dan keluarga yang membuat hati terasa hangat. Sama sekali tak berkisah tentang pandemi.

  • Cinta dan Cuan dari Korea Selatan
    Selingan

    Cinta dan Cuan dari Korea Selatan

    Kecintaan terhadap budaya Korea Selatan yang dipupuk selama satu dekade lebih melahirkan komunitas penggemar berdedikasi di Indonesia. Penggemar bersedia merogoh kocek untuk membeli barang yang dapat lebih mendekatkan kepada idola. Menjadi peluang bisnis, skala besar ataupun kecil.

  • Senyap yang Menyergap   
    Sinema

    Senyap yang Menyergap  

    Setelah setahun perilisannya tertunda, A Quiet Place II menjadi salah satu film pertama yang kembali mengisi layar bioskop pada era pandemi. Sekuel kedua dari John Krasinski yang meneror dengan kesenyapan. Lebih cepat, lebih menyergap.

  • Tjoet Nja’ Dhien, Tiga Dekade Kemudian
    Sinema

    Tjoet Nja’ Dhien, Tiga Dekade Kemudian

    Film Tjoet Nja’ Dhien yang diproduksi pada 1988 tayang kembali di layar bioskop. Kualitasnya lebih prima berkat restorasi berongkos miliaran rupiah. Momen untuk mengingat kembali capaian sinema Indonesia.

  • Scott Merrillees: Kartu Pos Kurang Dihargai Peneliti
    Selingan

    Scott Merrillees: Kartu Pos Kurang Dihargai Peneliti

    Dari ribuan kartu pos koleksinya, Scott Merrillees mengkurasi 500 kartu pos dari kurun 1900-1945 yang menampilkan keberagaman suku di seluruh Nusantara.

  • Paraphernalia Meleleh di Hong Kong
    Seni

    Paraphernalia Meleleh di Hong Kong

    Pameran seni dunia mulai bergeliat melawan Covid-19. Art Basel Hong Kong kembali digelar secara fisik, meski masih terbatas. ROH Projects Jakarta membawa proyek patung es yang meluruh.

  • Menunggu Festival Istiqlal (Lagi)
    Selingan

    Menunggu Festival Istiqlal (Lagi)

    Sebagai masjid negara, Masjid Istiqlal juga memiliki visi menjadi pusat kebudayaan Islam dan ruang toleransi. Pernah digelar Festival Istiqlal yang menampilkan beragam bentuk kesenian. Festival itu dihadiri jutaan orang.

  • Represi Rezim hingga Netizen
    Selingan

    Represi Rezim hingga Netizen

    Kartunis politik Indonesia tak jarang harus berhadapan dengan tindakan represif karena karya yang mengkritik. Yayak Yatmaka pada masa Orde Baru harus berhadapan dengan rezim. Sementara itu, kartunis media sosial masa kini punya tantangan tersendiri.

  • Dokumenter Rock and Roll untuk Bumi
    Sinema

    Dokumenter Rock and Roll untuk Bumi

    Pulau Plastik menjadi satu dari sedikit film dokumenter tentang permasalahan sampah plastik yang dibuat dengan perspektif Indonesia.

  • Kehidupan Kembali Rukiah
    Selingan

    Kehidupan Kembali Rukiah

    Setelah dilarang beredar akibat Tragedi 1965, karya-karya S. Rukiah diterbitkan kembali oleh Ultimus, Bandung.

  • Kisah Dua Sastrawan Lekra
    Selingan

    Kisah Dua Sastrawan Lekra

    MASIH berkaitan dengan peringatan Hari Kartini, 21 April lalu, Tempo menuliskan riwayat dua penulis perempuan yang dilupakan: S. Rukiah Kertapati dan Sugiarti Siswadi. Mereka dianggap terlibat dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Nama mereka hilang sejak peristiwa 1965. Seusai prahara itu, Rukiah sempat ditahan. Ia kemudian memilih bekerja di sebuah klinik di kota kecil Purwakarta, Jawa Barat. Ia melupakan semua riwayat kepenulisannya sampai akhir hayatnya. Sedangkan Sugiarti tak diketahui rimbanya sama sekali. Nama keduanya tak tertoreh dengan baik dalam sejarah sastra kita.

  • 100 Perupa di Ruang Virtual Ciputra
    Seni

    100 Perupa di Ruang Virtual Ciputra

    Seratus seniman turut serta dalam pameran virtual yang diselenggarakan Ciputra Artpreneur. Seratus karya berbeda yang merupakan respons artistik dalam menanggapi pandemi dan hidup bersama musuh.

  • Cinta pada Layar Tegak
    Sinema

    Cinta pada Layar Tegak

    Eksperimen baru sineas muda Indonesia. Serial romansa satu menit dengan format tontonan vertikal, disebarkan lewat TikTok.

  • Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial
    Selingan

    Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial

    LEWAT buku Bukan Takdir, Widjajanti W. Dharmowijono membongkar penyebaran stereotipe negatif tentang orang Cina di Nusantara yang telah mengakar selama ratusan tahun. Dia menelisik sekitar 200 karya sastra yang ditulis pada 1880-1950. Citra seperti kasar, rakus, dan penjilat dilekatkan para penulis sastra Eropa di Hindia Belanda terhadap tokoh-tokoh Cina dalam cerita mereka. Citra yang menyulut sejumlah peristiwa berdarah yang menelan korban tak berdosa.

  • Domba-domba Gembira dalam Tudung Saji
    Seni

    Domba-domba Gembira dalam Tudung Saji

    Helateater Salihara kembali digelar dengan pertunjukan ulang alih tiga kelompok teater dari tiga kota.

  • Kisah Perompak di Mata Seorang Vegan
    Sinema

    Kisah Perompak di Mata Seorang Vegan

    Dokumenter Seaspiracy memaparkan temuan mengkhawatirkan tentang industri perikanan global. Namun film ini diwarnai pengambilan kesimpulan yang ekstrem dan meletakkan kesalahan pada individu, alih-alih tata kelola industri dan pemerintahan.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.