Teknologi Informasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Internet (Tak Lagi) Mengalir sampai Aceh

Bantuan pemancar nirkabel di Aceh terancam menganggur karena pada Desember 2005 tak ada lagi bantuan koneksi Internet. Ada yang ingkar janji.

i

Seorang pria datang ke kampung yang muram di Aceh setelah tsunami menghantam. Larik-larik pohon kelapa yang menggapai langit dan tiga bangunan berdinding anyaman bambu menyambutnya. Ia datang dan berkata, ”Saya akan membantu.”

Anjar Ari Nugroho namanya. Ia bukan sukarelawan biasa. Ia tak datang dengan truk-truk obat. Dia juga tak tiba dengan berkarung-karung penganan instan. Ia hanya membawa sebuah antena. Bentuknya semiparabola. Koordinator Lapangan dari Yayasan Air Putih itu bersama rekannya langsung sibuk mencari tempat untuk memasang antena.

Antena itu kelak diharapkan akan mengalirkan internet dari Universitas Syiah Kuala ke kampung itu lewat gelombang radio 5,8 Gigahertz, sehingga para ”penghuni” tiga bilik bambu, yakni siswa Sumber Pendidikan Mental Agama Alloh (SPMAA), bisa belajar komputer.


Mereka memanjat pohon kelapa yang tingginya hampir 20 meter, tapi tetap gagal. ”Tak ada sinyal,” ujar Anjar sambil geleng-geleng kepala. Setelah berusaha mencari-cari sinyal selama sebulan dan mendatangkan menara berbentuk segitiga setinggi 32 meter, barulah internet mengalir deras. ”Bisa untuk sarana pelatihan anak-anak,” kata Anjar senang.

161831138545

Senyum Anjar mengembang. Dia dan teman-temannya dari Yayasan Air Putih—organisasi yang didirikan para ahli komputer Indonesia untuk membantu korban tsunami Aceh dan Nias—sejak tsunami sampai sekarang telah memasang 45 pemancar jaringan nirkabel di Banda Aceh dan sekitarnya. Dari jaringan inilah banyak aktivis lembaga swadaya masyarakat, wartawan, bahkan juga pejabat bisa memakai internet.

Namun, senyum Anjar itu tak berlangsung lama. Kini pikirannya terusik. Desember ini bantuan koneksi internet dari Indonet dan Yogya itu akan berakhir, setelah setahun berjalan. Jika itu terjadi, 45 pemancar nirkabel bantuan Intel dan sejumlah pemancar bantuan perusahaan lain bisa menganggur. Tak ada lagi internet gratis.

”Bantuan internet ini sangat membantu kami,” kata Teuku Ambral Thaib Fonda, 25 tahun, pengelola Radio Suara Perempuan di Aceh. Ambral saat ditemui Tempo sedang mencari bahan-bahan siaran dari internet. Bersama kawan-kawannya, enam bulan setelah tsunami, Ambral membangun radio ini untuk membangkitkan semangat rakyat Aceh. Dia juga telah membagikan 12 ribu unit radio untuk para pengungsi. ”Kalau bantuan ini putus, kami akan kehilangan,” katanya.

Berakhirnya bantuan internet itu, kata Edwardo Rusfid, Koordinator Yayasan Air Putih, meleset dari rencana semula. Dulu, skenarionya adalah Aceh akan dijadikan surga nirkabel. Warga Aceh bisa mengakses dunia maya dari mana saja, dari madrasah, pasar, bahkan kedai kopi di tepi jalan. Itu karena Intel Corp. menjanjikan teknologi Pre-WiMAX yang bisa menebar jaringan nirkabel seluas radius 50 kilometer.

Global Marine Satelit System Limited (GSML) asal Inggris juga berencana memasang kabel optik yang menghubungkan Medan, Lhok Seumawe, Banda Aceh, Calang, dan Meulaboh. Di tiap kota itu, internet dari kabel optik ini akan dipancarkan lewat akses nirkabel Alvarion Breeze Access VL bantuan Intel.

Rencana itu rupanya batal. Global Marine Satelit System Limited urung menyumbangkan kabel optiknya. AsiaSat juga batal memberi bantuan koneksi Internet. Skenario pun berantakan.

Menurut Edwardo, untuk menyelamatkan infrastruktur jaringan nirkabel itu, mereka sedang melobi Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh. Skenario yang diajukan Air Putih adalah pemancar-pemancar Pre-WiMAX itu akan dimanfaatkan untuk menjadi tulang punggung jaringan yang menghubungkan kota-kota di Aceh. Internetnya sebagian ditanggung BRR. Setiap kota minimal mendapat satu pemancar. Warga yang ingin menikmati jaringan ini bisa terhubung dengan pemancar ini.

Selain rencana itu, ada rencana lain, yakni melobi Intel Corp. agar kembali menyumbangkan pemancar Pre-WiMAX. ”Kami akan mengganti kabel laut yang gagal itu dengan pemancar, mengalirkan internet dari Medan ke Aceh,” ujar Anjar. Untuk itu mereka butuh sekitar 40 pemancar lagi. Bila bantuan ini terwujud, warga Desa Krueng, Kabupaten Aceh Besar, akan kembali tersenyum karena bisa terus belajar internet.

Burhan Sholihin, Yuswardi A. Suud (Banda Aceh)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831138545



Teknologi Informasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.