Ekonomi dan Bisnis 2/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menjaring Untung di Nada Sambung

Penggunaan lagu sebagai ring back tone makin mewabah. Menyumbang pendapatan terbesar di industri musik.

i

EKA mengangguk-anggukkan kepalanya begitu menempelkan telepon di kuping. ”Saya jadi betah menelepon Yohana,” kata mahasiswa sebuah sekolah tinggi di Jakarta itu. ”Abis, nada sambungnya asyik, TTM.”

Begitulah nada sambung—alias ring back tone—masa kini. Bukan lagi sekadar tut... tut... tut..., melainkan banyak mainnya. Seperti TTM tadi, yang tiada lain daripada judul lagu, Teman tapi Mesra, dari kelompok musik Ratu.

Main ring back tone memang sedang mewabah di Indonesia. Datangnya dari Korea Selatan, mulai September tahun lalu. Adalah PT Telkomsel, operator seluler terbesar di Indonesia, yang memulai menjalankan bisnis ini di Indonesia. Lalu disusul Indosat, Fleksi, dan XL.


Hasilnya mengejutkan. Lihat saja pengakuan Erik Meijer, Vice President Marketing PT Telkomsel. Perusahaan seluler yang pendapatannya pada 2004 mencapai Rp 14,7 triliun itu, dari bisnis ini bisa meraup keuntungan sekitar Rp 19 miliar tiap bulannya. Padahal investasi yang ditanamkan hanya US$ 1,5 juta—untuk membeli peralatan sistem integrasi dari Korea Selatan.

161830639649

Seperti dijelaskan Erik, dari 23 juta pelanggannya, lebih dari 10 persen langsung kepincut program ini, meski biaya sekali unduh Rp 9.000 untuk kartu Halo, dan Rp 9.900 untuk kartu Simpati per lagu per 30 hari.

Excelcomindo Pratama, yang mengeluarkan kartu XL, masuk ke bisnis ini sejak Juni 2005. Menurut General Manager Value Added Services XL, Suanta P. Bukit, mereka sudah menjaring 350 ribu pelanggan dengan tarif unduh Rp 7.000 per lagu. Di Korea sendiri bisnis ini mampu menjaring pendapatan US$ 100 juta setiap bulannya.

Lagu yang disediakan macam-macam, mulai dari pop, rock, dangdut, hingga kasidahan atau tausiyah dari album teranyar kelompok musik yang sedang ngetop, atau lagu lawas penyanyi senior seperti Chrisye, Vina Panduwinata, Koes Plus. Para operator telepon menyediakan 3.000-4.000 lagu dari sekitar 30 penyanyi.

”Pola bisnis ini bagi hasil,” kata Erik Meijer, ”antara operator seluler dan record label (perusahaan rekaman), atau content provider.” Besarnya sesuai dengan kesepakatan. Tapi record label juga punya kewajiban membayar royalti kepada artis.

Sayangnya, berapa porsi bagi hasil dan royalti untuk artis, Erik Meijer tak mau menyebutkan. Begitu pula Indrawati Wijaya, Managing Director PT Musica Studio’s. Bahkan Joy, manajer kelompok musik Peterpan, menghindar. ”Tanya Musica saja,” katanya. Lagu-lagu Peterpan adalah yang paling laku diunduh sepanjang tahun ini.

Yang jelas, ”Kami senang dengan bisnis ini,” kata Erik. ”Bisnis inilah yang kini bisa membuat kami bertahan, di tengah maraknya pembajakan,” Indrawati menimpali. Dan bagi para artis penyanyi, dompet juga makin berisi.

Untuk bisnis ini, kata Indrawati, Musica Studio’s telah menjalin kerja sama dengan tiga operator telepon: Telkomsel, XL, dan Fleksi. Hasilnya, ”Bisa menyumbang hingga 35 persen pendapatan,” katanya.

Bahkan Erik mengatakan, bisnis ini telah menjadi penyumbang terbesar terhadap pendapatan industri musik. Lebih besar daripada penjualan kaset dan CD. ”Itu pengakuan beberapa perusahaan rekaman kepada saya,” katanya.

Bisnis ini juga dikelola secara transparan. Proses pengunduhan direkam secara otomatis. ”Jadi, datanya akurat,” kata Awal Rachman Chalik, Manajer Mobile Data Development PT Telkomsel.

Bisnis ring back tone, menurut Indrawati, juga cukup aman. Tidak mungkin dilakukan secara ilegal, seperti bisnis ring tone (nada panggil) yang bisa dijual di mal-mal tanpa mengantongi izin dari lembaga Karya Cipta Indonesia (KCI). Sebab, pengaktifan lagu dilakukan oleh operator seluler.

Rinny Srihartini


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830639649



Ekonomi dan Bisnis 2/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.