Buku 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Medan Pertempuran Kedua

Second Front adalah buku yang sarat data intelijen. Pembaca bisa memperoleh gambaran besar dan detail di sana-sini soal bangkit dan berkembangnya terorisme di Indonesia.

i

Second Front: Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network Penulis: Ken Conboy Penerbit: Equinox Publishing, 2005 Tebal: viii+238 halaman

Teroris tidak mati-mati. Dalam sebuah laporan panjangnya pertengahan Oktober lalu, majalah ini menyentuh suatu fenomena baru: regenerasi teroris. Kelompok baru telah muncul. Ideologinya sama dengan yang lama, tapi gerakan ini tumbuh dari kantong radikalisme yang terpisah dari organisasi utamanya, Jamaah Islamiyah.

Buku karya Kenneth Conboy yang diluncurkan bulan lalu, The Second Front: Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network, memang tak berbicara tentang generasi baru itu. Buku ini membawakan peringatan. Jamaah Islamiyah mendapat kesulitan dalam mendapatkan kader baru—juga bahan peledak baru—setelah penangkapan belakangan ini. Tapi, dari perkembangan akhir-akhir ini, Conboy menangkap indikasi aliran kucuran dana dari luar negeri ke para tokoh teroris yang masih bebas, serta jaringan mereka.


Dua peristiwa besar pada 1979, Revolusi Iran dan invasi Uni Soviet ke Afganistan, menurut Conboy, membuat kelompok-kelompok radikal di dalam negeri bersentuhan dengan dunia internasional. Para tokoh lokal seperti Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir mulai berkenalan dengan berbagai kelompok di luar negeri, seperti Al-Qaidah. Orientasi perjuangan juga makin luas dan rumit: dari pendirian negara Islam hingga anti-Barat, anti-Yahudi. Rekrutmen mujahidin dari berbagai penjuru dunia untuk berjihad di Afganistan melalui organisasi Maktab al-Khidmat (MAK) adalah bagian penting, karena dari pokok itulah jaringan terorisme berkembang hingga kini.

161830797312

Bagaimana interaksi antara para tokoh di Indonesia, Malaysia, Timur Tengah digambarkan dengan jelas dalam buku ini. Laporan intelijen yang jadi beking utama pelbagai tulisan Conboy memang sanggup memberikan gambaran yang detail. Pertemuan-pertemuan rahasia muncul dalam rangkaian cerita yang masuk akal. Pelarian Hambali sebelum ditangkap, termasuk ketika ia harus ke Kamboja, diceritakan secara rinci. Dan itu cukup menakjubkan. Mungkin Conboy berusaha menghindari aura konspiratif dalam tulisannya. Begitukah?

Yang jelas, Second Front adalah buku informatif yang menjelaskan fenomena Islam militan di Indonesia dan kaitannya dengan berbagai tindakan terorisme. Kendati International Crisis Group—lembaga nirlaba internasional di bidang advokasi pencegahan konflik—sudah pernah menuliskan beberapa laporan komprehensif tentang topik serupa. Laporan ICG pada akhir 2002, Al-Qaeda in Southeast Asia: the Case of the ”Ngruki Network” in Indonesia, misalnya, berhasil memberikan dasar penjelasan tentang temali Darul Islam, perpolitikan Indonesia, Komando Jihad, Afganistan, radikalisme, dan terorisme.

Ya, sebagai landasan tulisannya, Ken Conboy juga mengulas akar radikalisme di Indonesia. Ia menguraikan tumbuh dan berkembangnya Darul Islam dari tangan Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo hingga Al-Ghuraba—kelompok Rusman Gunawan, sepupu Hambali dan Abdul Rahim, anak Abu Bakar Ba’asyir. Juga, jatuh-bangunnya kekuatan Islam fundamentalis—suatu istilah yang dipilih oleh ”pihak luar”, seperti pemerintah Orde Baru.

Second Front memang merangkum banyak hal menyangkut berbagai kelompok militan Indonesia. Sayang sekali, penulis tidak menyentuh tragedi Tanjung Priok (1984) dan Talangsari, Lampung (1989, waktu itu mantan Ketua Badan Intelijen Negara, A.M. Hendropriyono, Komandan Korem Garuda Hitam). Pun dua aksi teroris awal, yaitu bom Borobudur dan bom di kantor BCA pada dasawarsa 1980-an, juga tidak masuk perhatian. Adakah mereka bukan kelompok militan?

Second Front, tak diragukan lagi, memperkaya khazanah buku-buku kita tentang terorisme. Bahkan buku ini mungkin berhasil menyingkirkan aura konspiratif dengan membeberkan begitu banyak data (baca: bukti). Tapi data intelijen, selain sangat menolong memberikan gambaran rinci, juga menerbitkan curiga. Sejarah—tak terkecuali di negeri ini—menunjukkan: intelijen bukan hanya pemasok data, tapi juga pemain politik.

Alhasil, pada dasarnya buku bertopik terorisme akan mengundang kontroversi. Dalam banyak literatur—termasuk Second Front, misalnya—Ba’asyir disebut sebagai amir Jamaah Islamiyah. Kendati yang bersangkutan menyangkalnya dan pengadilan tidak berhasil membuktikannya.

Bina Bektiati


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830797312



Buku 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.