Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ke Mana Larinya Rusa Timor

Populasi rusa timor di Taman Nasional Wasur, Merauke, kian susut. Pemerintah daerah perlu memberlakukan aturan ketat.

i

Lelaki setengah baya dengan sebilah parang di tangan menyibak kabut dan pepohonan di Taman Nasional Wasur, Merauke, Papua, pagi itu. Busur dan anak panahnya menggelantung di punggung. Dialah Yusuf Balagaize, sang pemburu dari Kampung Yereuw, Rawabiru, Merauke. ”Berangkat pagi atau malam menyenangkan, terlebih kalau bisa membawa rusa dan saham (kanguru),” ujarnya.

Berbekal sebuah noken (tas tradisional masyarakat Papua) yang berisi bahan (kopi, gula, senter, rokok, lempeng, lampion, dan pinang), hampir setiap hari Yusuf mencari satwa, terutama rusa timor (Cervus timorensis) atau kanguru, tergantung permintaan pengumpul. Perburuan dilakukan secara berkelompok, biasanya terdiri dari empat orang.

Sekembali dari perburuan, Yusuf sering membawa enam ekor rusa, meski ia tak selalu seberuntung itu. Malah beberapa bulan terakhir, misalnya, buruannya sering tak tampak satu pun, padahal perjalanannya sudah mencapai prem (pedalaman hutan). Kenyataan ini memang berbeda dengan 10 tahun lalu. Pada masa itu, ia tak perlu mencari hingga jauh ke dalam hutan jika hanya ingin mendapat seekor atau dua ekor. Dekat perkampungan, hewan-hewan buruannya suka berkeliaran. ”Ketika mendengar suara anjing menggonggong saja, kitorang (kami) su (sudah) tau anjing menggigit rusa,” katanya.


Beny Saroy, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Papua memperkirakan, populasi rusa timor mengalami penurunan luar biasa sejak perburuan merajalela di daerah itu, terutama sejak hadirnya pemburu luar (pendatang) yang menggunakan peralatan berburu berupa kendaraan roda empat dan senjata api. Kenyataan ini mengancam eksistensi satwa khas Indonesia bagian timur itu.

161830606186

Wakil Direktur WWF Indonesia Wilayah Sahul Papua di Merauke, Marco Wattimena, menjelaskan, pada 2002, rusa timor tinggal sekitar 21 ribu ekor saja. Ini jauh berkurang dari data survei udara pada 1991 yang mencatat sekitar 47,5 ribu ekor di taman yang luasnya 413.810 hektare itu. ”Penurunan drastis terjadi pada 1997, sekitar 50 persen dari enam tahun sebelumnya,” kata dia.

Pemburu yang terus bertambah jumlahnya tak lepas dari harga daging rusa yang mencapai Rp 9.000 per kilo dan tanduk rusa timor Rp 30 ribu per kilogram. Apalagi, di Kampung Rawabiru ada pengumpul yang selalu siap menerima hasil buruan. ”Biasanya pembeli menunggu di sekitar Jembatan Mbeo. Tawaran harga yang kami berikan sekitar 12 ribu per kilo,” kata Marwan Hamid, si penampung.

Pemerintah daerah setempat sudah mengupayakan berbagai cara untuk mengurangi dampak perburuan, terutama dari pemburu modern. Mereka mempersulit izin angkut. Izin pemanfaatan tanduk dan kulit rusa juga diprioritaskan bagi masyarakat setempat. Diharapkan cara ini akan mengurangi penurunan jumlah rusa timor di pulau ini.

WWF pun telah melakukan sosialisasi pentingnya eksistensi rusa timor di Papua. Mereka memberi dukungan kepada Balai Taman Nasional Wasur lewat program penjagaan keamanan. Setidaknya, penjagaan ini bisa menekan aksi perburuan liar. Pada 2003, BTN menangkap 5–10 kasus perburuan. ”Kasus perburuan liar ini lebih dominan melibatkan anggota aparat,” ujar Marco.

Meskipun jumlahnya menurun, Kepala Balai Taman Nasional Wasur, Abraham Kaya, tak menganggap rusa timor terancam punah. Di daerah Ondo, padang rumput savana, masih dapat dijumpai puluhan ekor. Menurut dia, pengurangan jumlah satwa lebih disebabkan suara bising kendaraan yang lalu-lalang. ”Tidak benar populasinya punah; tapi, memang, jumlahnya di Papua menurun,” ujar Abraham. ”Ini bisa jadi rusa timor hanya beringsut mencari tempat yang memiliki banyak makanan, seperti lari ke Papua Nugini.”

Guna menyelamatkan populasi hewan khas Papua ini, agaknya seruan Marco agar pemerintah daerah perlu memberlakukan aturan ketat perlu ditekankan kembali. Salah satunya dengan cara memberi pengertian kepada masyarakat setempat perihal pentingnya berburu dengan peralatan tradisional.

Purwanto, Lita Oetomo (Merauke)


Yang Terancam dan Punah

Punah

1. Rusa Schomburgh (Cervus schomburgki)Hidup di hutan tropis Schomburgh. Kepunahan spesies ini karena penggundulan habitat.

Terancam Punah

2. Rusa Timor (Cervus timorensis) Panjang kepala dan badan 130–210 cm. Tinggi pundak 80–110 cm. Panjang tanduk 10–30 cm. Berat 50–115 kg. Jumlah di Papua belum pasti.

3. Rusa Kuhl atau Bawean (Axis kuhlii) Mirip rusa calamian, tetapi kepala lebih kecil dan kaki lebih pendek. Habitat Pulau Bawean.

4. Rusa Pére David (Elaphurus davidianus) Panjang kepala dan badan 140–230 cm. Tinggi badan 130 cm. Panjang ekor sekitar 60 cm. Berat jantan lebih dari 200 kg; berat betina lebih dari 115 kg. Ditemukan pada 1865. Habitat asli wilayah barat dan utara Cina. Keberadaan sekarang kebun binatang di Inggris. Beberapa di antaranya sudah dikembalikan ke habitat aslinya di Cina.

5. Rusa Calamian (Axis calamiansis) Panjang kepala dan badan 105–115 cm. Tinggi badan 60–75 cm. Panjang ekor 17–21 cm. Berat 50–110 kg. Keberadaan di Kepulauan Calamian (sebelah barat Filipina). Populasi terbesar di Kepulauan Busuanga dan Culion. Jumlah sekitar 500 ekor.

6. Rusa Philippine Spotted atau Rusa Alfred (Cervus alfredi) Panjang kepala dan badan 120–130 cm Tinggi badan 60–80 cm Panjang ekor 8–13 cm Berat 40–60 kg Memiliki kaki pendek dan kecil. Keberadaan di empat pulau besar di Kepulauan Visayan Chain, Filipina.

Reproduksi: Masa kawin November–December. Masa melahirkan 8 bulan kemudian atau Mei–Juni. Menyusui selama 6 bulan. Mandiri setelah berumur setahun. Usia sekitar 15 tahun.

7. Rusa Sika (Cervus nippon) Panjang kepala dan badan 110–166 cm. Tinggi badan 74–95 cm. Panjang ekor 10–15 cm. Berat 40–70 kg. Warna berubah sesuai musim. Jantan memiliki tanduk yang tanggal tiap musim panas. Habitat asli bagian timur Asia: Vietnam, Jepang, Taiwan, Ussuri (Russia), dan Machuria (Cina). Keberadaan sekitar 5.000 ekor di Eropa (Inggris, Irlandia, Polandia, Republik Ceko, Denmark, Jerman, Austria, Rusia) dan tersebar di beberapa wilayah Asia.

8. Rusa Andean Selatan (Hippocamelus bisulcus) Panjang kepala dan badan 140–160 cm. Tinggi badan 75–85 cm. Panjang ekor 10–15 cm. Berat 45–65 kg. Disebut juga chilean guemel atau chilean huemel. Keberadaan di sebelah tenggara Amerika Selatan, Pegunungan Andes (Cile), Pampas di barat daya Argentina. Jumlah 2.000 ekor.

9. Rusa Mesophatanian Fallow (Dama mesopotamica) Ukuran serupa dengan rusa-rusa di Eropa. Bahkan sebagian mengatakan rusa ini sejenis. Keberadaan di sebelah barat Iran dan Israel. Punah pada 1875 di selatan Eropa dan utara Afrika.

Perjalanan Si Lincah

1928 pegawai pemerintah Belanda memperkenalkan rusa timor.

1950 Populasi rusa timor berkembang pesat sampai Distrik Okaba, Distrik Muting, Distrik Kimaam, Distrik Bade, Distrik Mindiptana, bahkan ke Papua Nugini. Perburuan dimulai, tetapi pemerintah Belanda membuat aturan ketat.

1962 Perburuan besar-besaran dimulai. Aturan mulai diabaikan.

1990 Pemerintah menetapkan Rawabiru dan Wasur sebagai kawasan cagar alam dan suaka margasatwa.

1991 Proyek pembangunan Taman Nasional Wasur mulai dilakukan WWF.

1997 Perburuan mulai bisa dikendalikan.

2002–sekarang Rusa Timor mulai jarang terlihat. Ada kemungkinan mereka bermigrasi ke Papua Nugini dan mati diburu.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830606186



Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.