Ekonomi dan Bisnis 6/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Upaya Berkelit dari Jerat Pidana

Dari persembunyiannya di Belanda, Maria Lumowa berkirim surat ke Kapolri. Dua perusahaan asing disebut-sebut terkait pembobolan BNI Rp 1,7 triliun.

i

SERANGAN balik telah disiapkan Pauliene Maria Lumowa. Lewat sepucuk surat yang dilayangkan ke Kepala Kepolisian RI, Jenderal Sutanto, akhir September lalu, buron kasus pembobolan BNI senilai Rp 1,7 triliun ini meminta megaskandal ini diusut ulang.

Surat dilayangkan lewat pengacara Otto Cornelis Kaligis, kuasa hukumnya. ”Saya minta rekening BNI di Bank of New York diselidiki. Saya bukanlah pembobol BNI Rp 1,7 triliun,” katanya emosional kepada Tempo, dari tempat persembunyiannya di Belanda, Jumat dua pekan lalu (baca Saya Siap ke Indonesia).

Dalam surat bertanggal 29 September 2005 itu, Kaligis menyebutkan, jika rekening itu dibuka, akan terungkap ke mana sesungguhnya aliran dana letter of credit (L/C) yang dikucurkan BNI ke Grup Gramarindo, kepunyaan Maria, bermuara.


Menurut versi Maria, ujung-ujungnya dana itu balik ke brankas BNI sendiri. Sebab, BNI cabang Kebayoran Baru telah mendebit rekening Gramarindo untuk membayar sejumlah L/C macet yang telah jatuh tempo. Dana pembayaran dialirkan ke rekening BNI di Bank of New York dengan nomor rekening 003-3167-564.

161831317269

Pembayaran L/C itu tak lain bagian dari aksi ”gali lubang tutup lubang” skandal pembobolan BNI yang meruyak dua tahun lalu. Saat itu, tersingkap kabar bahwa bank pelat merah terbesar kedua ini telah dibobol transaksi L/C bodong, yang berbasiskan ekspor fiktif, senilai Rp 1,7 triliun.

Aksi patgulipat ini bisa mulus berkat bantuan Edy Santoso, mantan Kepala Pelayanan Konsumen Luar Negeri BNI Kebayoran Baru. Singkat cerita, Maria pun dinyatakan sebagai salah satu otak pembobolan ini.

Tudingan itulah yang kini mati-matian disangkal Erry—begitu Maria biasa disapa. Menurut wanita pengusaha yang kabarnya mengelola dana investasi dari negeri Yahudi ini, keterlibatannya justru karena dimintai tolong oleh BNI.

Awalnya, kata Maria, Gramarindo mengajukan kredit Rp 40 miliar untuk pembangunan pabrik marmer. Namun Edy Santoso belakangan meminta bantuannya untuk menutup L/C macet sejumlah perusahaan senilai total US$ 21,8 juta, dengan membuka L/C baru atas nama Gramarindo. ”Dari rekening di New York itulah akan ketahuan, berapa yang digunakan Gramarindo sendiri dan berapa oleh BNI,” kata Maria.

Satu lagi senjata pamungkas sudah disiapkan Maria untuk bisa berkelit dari jerat hukum pidana. Ia kini tengah ”menjajakan” akta pengakuan utang yang diteken Gramarindo dan BNI Kebayoran Baru pada 26 Agustus 2003. Dengan adanya akta ini, ”Mengapa dikatakan BNI dibobol?” ujarnya.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Aryanto Boedihardjo, mengaku belum tahu-menahu ihwal surat Maria. ”Saya tanya Pak Gorries Mere (Wakil Kepala Badan Reserse Ekonomi dan Kriminal), dia belum pernah menerima, tuh,” katanya kepada Tempo. Aryanto malah balik menantang, kalau memang Maria ingin membantu penyidikan, ”Harusnya pulang ke sini.”

Pihak BNI pun tak gentar. Direktur Utama BNI, Sigit Pramono, menyatakan bahwa Maria memang sedang membangun persepsi bahwa dia ”korban” BNI, bukan pelaku kejahatan. Alasannya, cuma menikmati dana L/C US$ 40 juta. ”Bagaimana logikanya, orang yang menerima US$ 40 juta merasa menjadi korban?” katanya.

Terlepas dari perdebatan itu, menarik untuk diteliti laporan Maria bahwa ada aliran dana pembayaran L/C ke Cadmus Pacific (Singapura) dan Capital Gain Ventures (Hong Kong), sebelum berujung ke rekening BNI di New York.

Kedua perusahaan ini milik Venkaseta Prasad, warga negara Singapura keturunan India, dan Monshee Kasam, orang Pakistan berkewarganegaraan Singapura. ”Setahu saya, Monsee bekerja di Grup Petindo (Jakasakti Buana—Red.), yang juga mendapat fasilitas L/C,” kata Maria.

Menurut sumber Tempo, dari merekalah sesungguhnya instrumen L/C ekspor itu disuplai. Dan konon, perusahaan ini terbiasa memberikan L/C di luar negeri. Untuk melacaknya, ”Kami bisa meminta bantuan Fincent (Finnish Defence Forces International Centre) di Amerika,” kata Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, Junus Husein.

Metta Dharmasaputra, Maria Ulfah


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831317269



Ekonomi dan Bisnis 6/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.