Ekonomi dan Bisnis 4/7

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

SEBAGAI Direktur Kepatuhan BNI yang juga membawahkan bidang hukum, Achil R. Djajadiningrat tampaknya bakal kebagian repot menangkis serangan terbaru Pauliene Maria Lumowa, buron kasus pembobolan BNI. Dalam suratnya ke Kapolri Jenderal Sutanto, bos Grup Gramarindo itu meminta polisi meneliti ulang kasus ini.

Ia juga mengaku telah menjadi ”korban” kebobrokan BNI. Untuk menjawab itu semua, Achil menerima Metta Dharmasaputra dan Thomas Hadiwinata dari Tempo di kantornya, di lantai 30 gedung BNI di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu pekan lalu.

BNI sudah mendengar adanya laporan Maria Lumowa ke Kapolri?


Sudah. Mereka pun sedang melakukan penyelidikan. Tapi kami tidak tahu apakah ini karena laporan dari Maria.
161831046882

Maria menolak dituding sebagai aktor pembobol BNI. Tanggapan Anda?

Inti laporan kami ialah dugaan tindak pidana penipuan dan pemalsuan dokumen, yang diduga dilakukan oleh Grup Gramarindo dan melibatkan mantan pegawai BNI cabang Kebayoran. Aparat hukum tentu memeriksa kebenaran laporan ini. Juga ada pemeriksaan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Ini kan negara hukum. Kalau ada sanggahan-sanggahan, seharusnya muncul dalam proses pemeriksaan.

Benarkah akta pengakuan utang selama ini disembunyikan BNI?

Dalam proses peradilan Edy Santoso (mantan Kepala Pelayanan Konsumen Luar Negeri BNI Kebayoran Baru), akta pengakuan utang itu ada sebagai salah satu data. Jadi, tidak ada yang kami sembunyikan.

Maria menyatakan, akta itu membuktikan kasus ini tak bisa dipidanakan....

Yang bisa menetapkan bisa atau tidak adalah proses hukum. Kami sebagai warga negara kan bisa menuntut apa saja.

Sebenarnya berapa kewajiban Gramarindo?

Seperti yang kami laporkan, sekitar US$ 85 juta dan euro 56 juta. Itu juga yang disebutkan dalam keputusan pengadilan sebagai kerugian negara.

Tapi, angka itu sedikit berbeda dengan akta (US$ 81,9 juta dan euro 56 juta)?

Tahapannya kan berbeda-beda, sementara angka juga terus bergulir. Akta itu kan dibuat Agustus 2003, setelah itu baru ada laporan ke polisi yang angkanya sudah berbeda lagi.

Jadi, angka pada akta belum final?

Belum. Itu dalam proses.

Maria menyebut, dalam pertemuan dengan BNI di Singapura, November 2003, sebetulnya sudah ada kesepakatan. Benarkah?

Saya tak mengalami, jadi saya tak tahu persis. Tapi, yang dilaporkan kepada saya, khususnya dari Pak Mohammad Arsjad (mantan Direktur Kepatuhan BNI), pertemuan itu untuk mengklarifikasi permasalahan.

Hadir pula Direktur Utama BNI Saifuddien Hasan?

Semula, pertemuan akan diadakan di hotel. Tapi kemudian di kantor cabang. Kedatangan Pak Saifuddien sebetulnya tidak direncanakan, karena sedang ada acara lain. Yang direncanakan itu Pak Arsjad dan Soehandjono, pengacara kami. Tapi, karena ada waktu senggang, dia mampir ke kantor. Dan di sana dia tidak bikin kesepakatan apa-apa.

Menurut versi Maria, di Singapura justru disepakati kewajiban Gramarindo cuma US$ 40 juta. Benarkah?

Tidak sampai ke situ. Semestinya jumlahnya sesuai dengan akta.

Jadi, apa hasil pertemuan itu?

Ibu Maria menyadari ada kesalahan dan bersedia menyerahkan aset-asetnya. Tapi penyerahan aset itu belakangan gagal karena mereka tidak memenuhi janjinya. Karena itu, kami serahkan ke polisi sebagai bukti. Semula, bukti penyerahan aset akan kami serahkan ke pengadilan sebagai bukti mereka kooperatif.

Ada kecurigaan kasus Gramarindo hanya bagian dari rentetan kejadian sebelumnya?

Dari pemeriksaan kami, tidak ada kejadian-kejadian sebelumnya. Dari pemeriksaan BPKP dan akuntan publik pun tidak pernah ada.

Bukankah sebelumnya ada kasus pembobolan di BNI cabang Magelang?

Modusnya memang ada kesamaan. Tapi, ada-tidaknya konektivitas, kami tidak tahu. Yang jelas, kami sudah melaporkannya juga ke polisi.

Maria menyebut-nyebut rekening BNI di New York. Bisa dijelaskan?

Rekening itu digunakan sebagai sarana pembayaran L/C. Ini teknik pemenuhan kewajiban (para pembobol) agar tidak menarik perhatian.

Maria keberatan menanggung semua beban. Alasannya, BNI yang memintanya menutup L/C macet perusahaan lain. Tanggapan Anda?

Kita baca saja vonis pengadilan, bahwa telah terjadi kolusi antara orang dalam BNI dan para terdakwa. Dulu juga pernah ditanyakan, kok Maria mau menanggung beban orang lain? Saya tidak tahu apakah ada perjanjian utang-piutang di antara mereka. Teknisnya bagaimana, hanya mereka yang tahu. Saya tidak bisa kasih comment. Nah, ketika jadi masalah, biasalah, terjadi tuding-menuding.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831046882



Ekonomi dan Bisnis 4/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.