Ekonomi dan Bisnis 7/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Surat Asli Rombengan

Gramarindo memakai surat kredit asli. Tujuh bank mengotentikasi.

i

SETELAH menghilang lebih dari setahun, Pauliene Maria Lumowa kembali muncul pekan lalu. Pauliene, yang kini bermukim di Belanda, menyampaikan serentetan keluh-kesah melalui saluran telepon dan surat elektronik. Intinya? ”Saya dikorbankan,” tuturnya kepada Metta Dharmasaputra dari Tempo.

Pauliene adalah pemilik sekaligus pimpinan kelompok usaha Gramarindo. Nama Pauliene dan Gramarindo, yang sebelumnya nyaris tak terdengar, mendadak populer dua tahun lalu. Melalui tujuh perusahaannya, termasuk Gramarindo, Pauliene diduga menggangsir brankas BNI sebesar Rp 1,7 triliun.

Tuduhan itu kembali dibantah oleh Pauliene. Omongan Pauliene, yang notabene sedang melarikan diri, tentu tak patut ditelan mentah-mentah. Tapi, jika Pauliene berani bersuara lagi, bukan mustahil ada sebabnya.


Beberapa waktu lalu Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia kembali memeriksa para penyidik kasus pembobolan BNI. Dua perwira, yaitu Brigadir Jenderal Samuel Ismoko dan Komisaris Besar Irman Santosa, telah ditahan. Mereka dituduh menerima suap ketika menyidik kasus BNI.

161830738161

Irman, yang ditahan pertama kali, mengakui adanya suap dari para tersangka. Pengakuan Irman yang mengejutkan adalah, uang haram tak hanya disodorkan oleh para tersangka dari kelompok Gramarindo. Seorang direksi BNI pada saat pembobolan terjadi disebut Irman ikut menyetor uang (baca Tempo 27 Oktober 2005).

Lepas dari benar-tidaknya pengakuan Irman, patut diakui bahwa aksi kriminal kerah putih di BNI belum tergambar secara utuh. Ibarat puzzle, masih banyak potongan gambar yang belum ditemukan oleh para penegak hukum.

Misteri yang masih belum terungkap itu, misalnya, menyangkut 41 lembar surat kredit berjangka (usance letter of credit), alat yang dipakai untuk membobol. Pada saat-saat awal kasus BNI terungkap, sempat beredar kabar surat kredit yang dipakai oleh Gramarindo merupakan surat kredit bodong.

Ada banyak alasan untuk kesimpulan itu. Pertama, Gramarindo tak pernah melakukan ekspor. Perusahaan yang dicantumkan sebagai pembeli pasir kuarsa dan minyak residu itu juga fiktif. Alasan kedua, nama penerbit surat kredit itu tak pernah terdengar di jagat perbankan internasional.

Belakangan, dugaan itu terpatahkan. ”Surat kredit yang dipakai memang asli,” ujar Achil R. Djajadiningrat, Direktur Kepatuhan BNI. Artinya, bank-bank penerbit surat kredit tersebut benar ada, dan memang mengeluarkan surat kredit yang digunakan Gramarindo menggangsir BNI.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: mengapa bank-bank pembuka itu mau saja dikibuli Gramarindo cs? Dalam transaksi pembiayaan ekspor-impor yang baku, bank penerbit akan kena getah jika si importir ternyata makhluk jadi-jadian.

Jangan lupa, bank penerbit harus melunasi lebih dulu tagihan dari bank pembayar. Setelah itu, baru bank penerbit melakukan penagihan ke importir (lihat infografik).

Menilik surat kredit yang digunakan Gramarindo, terungkap bahwa keempat bank itu justru tak bodoh. Mereka boleh dibilang ikut mengakali. Caranya dengan menetapkan sejumlah syarat yang mustahil dipenuhi oleh eksportir.

Menurut aturan main surat kredit yang berlaku umum di dunia, eksportir wajib memenuhi seluruh persyaratan yang tertera dalam surat kredit. Jika ada persyaratan yang tak dipenuhi, bank penerbit surat kredit akan terbebas dari kewajiban melunasi tagihan importir.

Trik ini yang dimainkan oleh keempat bank pembuka surat kredit. Seluruh surat kredit Gramarindo pasti disertai setidaknya satu syarat yang tak mungkin dipenuhi. Sebut saja persyaratan bahwa setiap surat kredit harus dilengkapi faktur yang telah ditandatangani oleh eksportir sekaligus importir.

Syarat aneh bin ajaib lainnya terlihat dalam surat kredit yang diterbitkan untuk ekspor pasir kuarsa Gramarindo. Di situ disebutkan, eksportir wajib mengirimkan pasir sebanyak satu juta metrik ton dalam sekali pengapalan. Ini tak masuk akal karena kapal terbesar di dunia sekalipun hanya bisa memuat pasir 30 ribu ton.

Dari penelusuran di dunia maya, akal-akalan seperti yang dilakukan keempat bank penerbit rupanya bukan barang baru. Sejumlah portal bisnis, seperti www.ariestrade.com, www.tijari.net ataupun www.bankinstrument.net, memuat iklan yang menawarkan jasa penyediaan surat kredit berjangka, jaminan bank, dan lain-lain.

Surat kredit yang mereka tawarkan antara lain diterbitkan oleh Middle East Bank of Kenya dan Dubai Bank of Kenya. Kedua bank ini termasuk bank penerbit surat kredit yang digunakan Gramarindo.

Kredibilitas minus bank penerbit juga tercium dari alamat yang mereka gunakan. Dua di antara mereka, Rosbank dan Wall Street Banking Corporation, hanya mencantumkan alamat kotak pos. Rosbank menggunakan kotak pos di Jenewa, Swiss, WSBC memakai kotak pos di Rarotonga, Kepulauan Cook.

Surat kredit yang diterbitkan oleh Rosbank, Wall Street, Middle East, ataupun Dubai Bank sebetulnya tak laku di BNI. Alasannya sederhana: keempat bank itu bukan bank koresponden BNI. Celakanya, ada aturan yang membuka celah.

Aturan yang diakali itu berbunyi, ”Surat kredit yang dibuka oleh bank-bank nonkoresponden boleh diterima bila telah dikonfirmasi oleh first class koresponden bank, atau telah diotentikasi atau diadviskan oleh bank-bank pemerintah atau bank swasta papan atas yang telah memperoleh credit line dari BNI.”

Persyaratan mendapatkan advising dari bank pemerintah atau bank swasta yang berkelas itu yang menjadi kunci lakunya surat kredit rombengan milik Gramarindo. Setelah kasus Gramarindo meledak, BNI kemudian mengubah aturan yang rancu itu.

Berita acara pemeriksaan tiga pejabat BNI cabang Kebayoran Baru mengungkapkan kenyataan yang mengagetkan. Seluruh surat kredit milik Gramarindo ternyata diadvis oleh lima bank swasta asing (ABN Amro Bank, American Express, Standard Chartered, Commonwealth Bank, HSBC) dan dua bank swasta nasional (Bank Mega dan Bank Bumiputera).

Dua tahun lalu polisi telah memeriksa pegawai dari bank-bank pemberi advis itu. Dan para pegawai dari lima advising bank yang namanya dicatut dalam surat kredit Gramarindo membenarkan bahwa mereka telah mengotentikasi surat kredit milik Gramarindo.

Proses otentikasi surat kredit sederhananya merupakan proses mencocokkan sandi rahasia yang muncul dari mesin SWIFT. Dua bank yang memiliki hubungan koresponden biasanya bertukar pesan dengan menggunakan kode yang telah mereka sepakati.

Dengan kata lain, ketujuh advising bank itu mengakui memiliki hubungan koresponden dengan keempat bank penerbit. Secara hukum, tanggung jawab advising bank memang tak seberat confirming bank. Advising bank tak bisa dimintai pertanggungjawaban bila bank penerbit gagal melunasi.

Namun, dalam jagat perbankan, tentu luar biasa aneh jika bank dunia sekelas Standard Chartered rela menjalin hubungan koresponden dengan bank yang kredibilitasnya diragukan, seperti Wall Street Banking Corporation.

Bank kaliber dunia menghindari bank yang tak jelas, misalnya, karena aturan know your customer. Bank ecek-ecek bisa jadi tak peduli siapa saja yang menyimpan uang di tempat mereka. Tapi bank yang memiliki reputasi tentu berusaha agar bisnisnya tak tercemar kegiatan pencucian uang.

Ketika Tempo mengkonfirmasi isi berita acara pemeriksaan tiga tahun lalu, perwakilan dari HSBC, ABN Amro, Standard Chartered, dan American Express menyatakan tak tahu-menahu. Dua bank lokal membantah memiliki hubungan koresponden. ”Bank itu tidak jelas,” ujar Harsya Deny Suryo, Corporate Secretary Bank Bumiputera. ”Itu bukan koresponden kita,” kata Presiden Direktur Bank Mega, Yungy Setiawan.

Bantahan itu menyisakan satu pertanyaan: siapa yang mengotentikasi surat kredit milik Gramarindo? Satu sumber Tempo meyakini adanya jaringan yang membantu kelompok Gramarindo. Kerja sindikat ini adalah memasok surat kredit dan memuluskan proses otentikasi.

Bau keberadaan sindikat terendus dari transfer uang hasil pembobolan BNI ke tiga perusahaan di Singapura, yaitu Cadmus Pacific, Capital Gain Ventures, dan Supreme Impex Agency. Ketiganya kebagian jatah US$ 46 juta.

Dua tahun lalu, polisi sempat melacak jejak ketiga perusahaan itu. Nota dinas dari Sekretaris NCB Interpol Indonesia tertanggal 3 Maret 2004 untuk Direktur Ekonomi Khusus Badan Reserse Polri menyebut nama dua warga negara Singapura, Moonshee Kassam Mohamed dan Venkaseta Prasad. Usaha penyidikan terhenti karena kedua orang itu mengaku tak tahu-menahu tentang uang BNI.

Nama Moonshee sebenarnya tak asing. John Hamenda, pemilik kelompok usaha Petindo yang juga dihukum karena pembobolan BNI, pernah menyebut nama Moonshee. John waktu itu berkilah bahwa Moonshee merupakan pemilik sebenarnya dari Jaka Sakti Buana, perusahaan yang menerbitkan standby letter of credit senilai US$ 12,5 juta.

Thomas Hadiwinata, M. Nafi, Agriceli, Mawar Kusuma, Maria Ulfah


Dari Kertas Menjadi Tunai

DI atas kertas, pembobolan bank melalui transaksi surat kredit mudah tercium. Transaksi pembiayaan ekspor-impor lazim memiliki gembok pengaman berlapis, dari test key hingga segepok dokumen pihak ketiga.

Skandal Gramarindo memperlihatkan transaksi serumit itu masih bisa diakali. Berikut ini alur sederhana yang bermula dari penerbitan L/C hingga pelunasannya, serta proses yang dibengkokkan oleh komplotan Gramarindo hingga berhasil membobol BNI Rp 1,7 triliun.

ALUR TRANSAKSI

Opening/Issuing Bank (bank yang menerbitkan L/C)

  • Menerbitkan surat kredit (letter of credit/LC) berdasarkan permintaan importir.
  • Mengirimkan LC ke advising bank, atau bisa juga langsung ke negotiating bank, melalui jalur SWIFT, surat, ataupun teleks.
  • Melunasi tagihan dari bank pembayar.

Dalam kasus Gramarindo:

  • Penerbitan LC bukan atas permintaan importir karena Gramarindo tak pernah melakukan kegiatan ekspor.
  • Persyaratan LC sulit, bahkan mustahil dipenuhi, sehingga bank penerbit tak menanggung kewajiban melunasi LC.

Advising Bank (bank perantara)

  • Mengotentikasi sandi rahasia (test key) LC.
  • Menyampaikan LC ke eksportir dan bank pembayar.

Dalam kasus Gramarindo:

  • Advising bank mengotentikasi LC dengan membaca sandi rahasia yang dikirim melalui sistem SWIFT.
  • Advising bank yang digunakan adalah bank asing dan swasta yang memiliki nama serta berlokasi di Jakarta.

Beneficiary LC (eksportir)

Menerbitkan wesel ekspor berjangka ke bank yang disertai oleh LC dan dokumen pendukung yang dipersyaratkan oleh LC, seperti faktur (invoice), dokumen pengapalan (bill of lading), surat keterangan asal (certificate of origin).

Dalam kasus Gramarindo:

  • Eksportir selalu menggunakan dokumen pelengkap fiktif.

Negotiating Bank (bank pembayar)

  • Mengaksep (maksudnya membeli) wesel ekspor berjangka, apabila eksportir telah memenuhi seluruh persyaratan LC.
  • Mengirimkan dokumen eksportir ke bank pembuka sekaligus menagih pembayaran.

Dalam kasus Gramarindo:

  • Pejabat BNI Kebayoran Baru selalu mengaksep wesel ekspor berjangka Gramarindo, kendati persyaratan LC tak dipenuhi.
  • BNI tak pernah mengirim dokumen eksportir ke bank penerbit. Otomatis, BNI tak pernah menagih bank penerbit.

Apa yang Dimaksud dengan SWIFT?

SWIFT merupakan perusahaan yang menyediakan sistem pertukaran pesan antarlembaga keuangan. Pesan yang diantarkan melalui sistem SWIFT bisa sekadar referensi hingga sandi surat kredit. Saat ini ada 7.800 lembaga keuangan di 200 negara yang menggunakan sistem SWIFT.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830738161



Ekonomi dan Bisnis 7/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.