Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sebuah Hormon dari Sarang Tikus

Peneliti LIPI membuat hormon sintetis penumbuh sel darah merah. Bahannya ragi dan virus tanaman barley.

i

SESOSOK lelaki tertegun di depan sebuah laboratorium kusam dan gelap yang telah menjadi sarang puluhan tikus. Di ruangan itu hanya ada debu, rumah laba-laba, dan bau tak sedap yang meruap dari dalam.

”Ini ruanganku? Saya bisa berbuat apa dengan kondisi ruangan seperti itu?” lelaki yang bernama Adi Santoso bertanya kepada dirinya seolah tak percaya. Doktor bioteknologi yang telah 16 tahun melakukan riset di laboratorium Amerika Serikat itu mengenang saat hari pertama dia datang ke kantornya yang baru di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Bogor.

Ketika di Amerika, peneliti berusia 44 tahun itu dimanjakan dengan berbagai fasilitas wah. Bukan cuma lantai laboratorium yang mengkilat, tapi juga dana riset yang melimpah serta gaji yang memikat. Kembali ke Indonesia ibarat ia terpental dari surga: disodori laboratorium gelap dan kotor, minim fasilitas, dan gaji yang besarnya setara dengan gaji sopir busway, sekitar Rp 2 juta.


Awal kepulangan Adi dari negeri Abang Sam pada Oktober 2003 lalu itu memang tak memberikan kesan manis. Dua bulan lamanya ia habiskan untuk membersihkan semua tikus di ruangan berukuran 18 meter persegi tersebut. Di ruangan itu pula ia melahirkan hormon sintetis penumbuh sel darah merah.

161830937767

Sejak Juni 2004, lelaki yang selalu bercelana pendek dan berkaus oblong di dalam laboratorium itu memang melakukan penelitian serius. Dia melewatkan ratusan pagi untuk membuat erythropoietin (EPO) sintetis. EPO adalah hormon protein yang biasa diproduksi oleh ginjal manusia untuk membantu pertumbuhan sel darah merah. Pada orang yang terkena penyakit kanker, gagal ginjal, atau infeksi human immunodeficiency virus (HIV), jumlah produksi senyawa ini melorot drastis. ”Akibatnya, pertumbuhan sel darah merah juga ikut terganggu,” ujar Adi. Inilah yang juga kerap menyebabkan anemia.

Dokter umumnya mengatasi hal ini dengan menyuntikkan EPO sintetis yang harganya selangit. ”Pada pasien gagal ginjal kronis, sekali suntik bisa Rp 700 ribu,” kata Parlindungan Siregar, ahli ginjal dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Mahalnya EPO sintetis karena obat itu produk impor.

Padahal seorang pasien bisa menjalani satu hingga tiga kali penyuntikan dalam seminggu. Dosis yang diberikan jumlahnya 100 hingga 150 unit per kilogram berat tubuh si pasien. Contohnya, jika pasien memiliki berat 60 kilogram, dosis EPO sintetis yang diberikan bisa mencapai 9.000 unit. Bisa dibayangkan betapa mahalnya obat hasil rekayasa bioteknologi ini.

Dulu, yang disuntik hormon sintetis hanya penderita gagal ginjal stadium lima dan sudah menjalani cuci darah. Belakangan, pemakainya bertambah banyak karena para dokter Indonesia yakin EPO sintetis itu juga amat membantu memulihkan pasien gagal ginjal stadium empat yang belum menjalani cuci darah. ”Harapannya agar hemoglobin pasien bertambah baik,” ujar Parlindungan.

Menurut Adi, ketergantungan Indonesia terhadap obat impor hasil rekayasa bioteknologi memang cukup tinggi. Ia menuturkan, pada 2003 impor EPO sintetis ke Indonesia senilai Rp 1,1 miliar per bulan. Selain EPO sintetis, ada sederet nama obat hasil rekayasa bioteknologi lainnya. Insulin—penurun kadar gula dalam darah, biasa dipakai pasien diabetes—misalnya, dalam sebulan diimpor senilai Rp 2,1 miliar per bulan.

Kebutuhan inilah yang meletupkan minat Adi meneliti hormon penumbuh sel darah. Ia lantas mencoba membuat terobosan baru. Selama ini, EPO sintetis dibuat dengan menggunakan sel rahim hamster cina (Chinese hamster ovary atau CHO), dan ginjal bayi hamster (baby hamster kidney atau BHK). Tapi Adi berusaha membuatnya dengan menggunakan ragi (pichiapastoris) dan tanaman barley (Hordeum vulgare) yang diinfeksi oleh barley stripe mosaic virus (BSMV).

Adi memilih banting setir meneliti menggunakan ragi karena terbentur mahalnya sel rahim hamster dan ginjal bayi hamster. EPO yang disintesis dengan sel rahim hamster harganya bisa mencapai US$ 2.200 atau sekitar Rp 2,2 juta per miligram (jumlah itu setara dengan gaji para peneliti di LIPI).

Selain dengan ragi, Adi juga menjajal pembuatan EPO sintetis dengan menggunakan virus barley, tanaman yang di Indonesia dikenal untuk memberikan rasa pada permen. Penelitian dengan virus itu dilakukan pada Januari hingga Juni 2005. Caranya, virus barley yang memiliki tiga genom (alfa, beta, dan gama) diinfeksikan ke tanaman barley—kelak tanaman ini akan dibudidayakan secara massal di Lembang, Bandung, Jawa Barat.

Sedangkan EPO asli yang berasal dari gen ginjal manusia, hadiah dari koleganya di Prancis, Dr Emmanuel Payen. Hormon itu hanya menumpang pada virus barley di genom gama. ”Proses infeksi berlangsung empat hari, dan ditandai dengan berubahnya warna tanaman menjadi lebih muda,” katanya. Setelah itu, untuk mendapatkan EPO sintetis, tanaman yang sudah terserang virus diekstrak. Caranya, digerus dan diambil airnya.

Selain memanfaatkan virus pada barley, Adi juga tergoda membuat hormon sintetis dengan menggunakan ragi. Penelitian itu dimulai pada Agustus lalu. Kali ini EPO yang berasal dari gen ginjal manusia dimasukkan ke plasmid (molekul DNA yang terpisah dari kromosomnya). Dengan diberi tegangan 1.800 volt, plasmid ditembakkan ke dalam ragi. Setelah melalui penyaringan, diperolehlah EPO sintetis.

Setelah berpuluh kali melakukan percobaan, Adi memperoleh 25 bagian EPO yang berasal dari ragi dan satu bagian EPO yang berasal dari virus barley. Demi memuaskan rasa penasarannya, pada Oktober lalu pria asal Jember, Jawa Timur, itu melakukan pengujian.

Ternyata, setelah delapan jam pengujian, Adi nyaris melompat kegirangan. Bermalam-malam dia berkutat di laboratorium dan telah membuahkan EPO sintetis yang mirip dengan hormon serupa yang dia beli dari perusahaan farmasi di Amerika Serikat. ”Ukurannya sama,” Adi terkejut senang.

Lelaki yang merampungkan doktor di North Dakota State University, Amerika Serikat, itu sadar bahwa jalan untuk mengubah EPO temuannya menjadi obat buat manusia masih panjang. Kini ia pun tengah ancang-ancang melakukan pemurnian terhadap EPO sintetis yang sudah diperoleh. Pemurnian itu direncanakan bulan depan. Setelah itu baru dilakukan uji klinis pada sel mamalia. ”Bila berhasil, baru meningkat pada tikus dan kelinci,” ujarnya.

Untuk penelitian dengan memakai ragi, Adi mendapat bantuan dana dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Penelitian itu memang terpilih sebagai Riset Unggulan Terpadu (RUT) 2005. Adapun penelitian yang menggunakan virus BSM merupakan program kompetitif LIPI 2004. Seluruh dana penelitian diberikan selama tiga tahun.

Temuan Adi itu juga membuat gembira Dr Endang Sukara APU, Deputi Kepala LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati. Prospek penelitian itu, kata dia, amat menggembirakan. ”Memang sudah saatnya penelitian di Indonesia difokuskan pada tingkat gen.”

Jika penelitian Adi ini sukses melahirkan obat yang siap pakai, Endang yakin sederet penelitian pembuatan obat hasil rekayasa bioteknologi lainnya bisa dilakukan. Endang berharap, kelak Indonesia juga bisa memproduksi insulin sendiri.

Yandhrie Arvian


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830937767



Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.