Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Perburuan Noor Din Top

Sial buat kita semua, korban yang dianggap musuh itu ternyata bukanlah para koruptor atau penjahat kemanusiaan, melainkan orang-orang biasa.

i

Setelah Dr Azahari tewas, polisi kini giat memburu Noor Din Top. Selain disangka sebagai pelaku aksi pengeboman di berbagai wilayah di Indonesia, lelaki muda asal Malaysia ini dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam merekrut kader baru untuk menjalankan ambisinya, menghancurkan semua orang yang dianggapnya sebagai lawan. Sial buat kita semua, korban yang dianggap musuh itu ternyata bukanlah para koruptor atau penjahat kemanusiaan, melainkan orang-orang biasa. Setidaknya telah terbukti bahwa mereka yang binasa atau luka karena kelakuan Noor Din Top adalah para pelancong di Bali, sopir taksi di hotel, anggota satpam, kasir restoran yang sedang bertugas, dan orang-orang dari berbagai kalangan lainnya yang berada di lokasi bom meledak di berbagai wilayah Republik.

Rentetan aksi pembunuhan, penganiayaan, dan perusakan oleh Noor Din Top dan komplotannya ini jelas harus selekasnya dihentikan. Itu sebabnya kita berharap sukses polisi membekuk Azahari dapat berlanjut dengan penangkapan semua anggota jaringan jahatnya. Harapan bahkan tak berhenti hanya pada tertangkapnya semua anggota kawanan pasangan Azahari dan Noor Din Top. Sebab, kelompok ini hanyalah satu dari entah berapa komplotan yang tega melakukan aksi teror untuk mencapai tujuan yang mereka yakini.

Terorisme, harus kita akui, adalah sejenis penyakit sosial ganas yang belum juga dapat dienyahkan. Bahkan, seperti penyakit dalam bidang kesehatan, terorisme juga berpotensi menjadi wabah bila menemukan kondisi yang mendukung. Sebaliknya, ia akan menyurut lalu hilang jika berhadapan dengan lingkungan yang tak sesuai.


Dalam kerangka berpikir seperti ini, kelompok Noor Din Top ibarat satu jenis virus ganas yang sedang berupaya keras untuk meluas menjadi wabah. Itu sebabnya keberhasilan menangkap atau menetralkan alumni konflik di Afganistan ini hanya akan menahan laju perluasan jaringan teroris di Indonesia, tapi tak akan membuatnya musnah. Aspirasi menjadi teroris mungkin tak akan punah selama umat manusia ada, seperti hukum alam telah menunjukkan bahwa upaya mengenyahkan virus pada dasarnya adalah sebuah kemustahilan. Yang dapat secara maksimal dilakukan hanyalah membuatnya tak mampu menjadi wabah penyakit, dengan selalu mewaspadai kegiatan setiap virus berbahaya dan meminimalkan keganasannya dengan mempertinggi daya tahan tubuh setiap anggota masyarakat.

161831083743

Strategi jitu yang digunakan para pakar kesehatan dalam mengatasi kegiatan virus ganas ini diyakini dapat juga diterapkan dalam upaya mengatasi terorisme. Sebab, seperti ditulis Malcolm Gladwell dalam bukunya yang terkenal, The Tipping Point, terdapat kesamaan yang tinggi antara pola penyebaran penyakit dan penyebaran popularitas perilaku tertentu di dalam masyarakat. Jika keinginan melakukan aksi terorisme dianalogikan sebagai virus, penyebaran aspirasi laknat ini juga membutuhkan tahapan dan pelaku tertentu dengan kondisi tertentu pula. Persoalannya sekarang adalah menemukan kondisi masyarakat seperti apa yang membuat setiap upaya membangkitkan terorisme sulit berkembang, bahkan segera tertaklukkan.

Idealnya, penangkalan terhadap terorisme dilakukan dengan menghilangkan semua hal yang memicu lahirnya aspirasi melakukan tindakan kekerasan. Namun hal ini hanya dapat dicapai bila segala penyebab ”rasa diperlakukan sangat tidak adil” dilenyapkan dari bumi. Ini sebuah keadaan yang diidam-idamkan semua manusia normal tapi tak realistis untuk mengharapkannya dapat dicapai segera, bahkan pada abad ini. Kendati demikian, usaha untuk mengurangi sumber-sumber rasa ketidakadilan yang dikenal banyak orang, misalnya keadaan mengenaskan di Palestina, tetap layak didukung. Sebab, bila hal itu berhasil, akan tercipta suasana yang menyulitkan para teroris dunia merekrut anggota baru.

Selain itu, upaya semacam vaksinasi untuk memperkuat setiap anggota masyarakat agar tak terpengaruh hasutan para teroris perlu dilakukan. Pendidikan untuk menjadi anggota masyarakat yang antikekerasan, bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, dan mampu menyampaikan pikiran secara terbuka adalah vaksin yang harus diberikan kepada setiap warga sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Pengembangan pola berpikir kritis juga akan mempertinggi daya tahan masyarakat dalam menghadapi hasutan para demagog. Sedangkan di tataran pemerintahan, kegiatan penataran yang membuat para birokrat dan politisi lebih peka dan peduli pada aspirasi orang ramai sekaligus mempertinggi penghormatan pada hak asasi manusia akan berujung pada kondisi masyarakat yang tahan terhadap godaan terorisme.

Dalam kondisi seperti ini, sosok seperti Azahari dan Noor Din Top tak lagi perlu ditakuti, bahkan ditangkap. Sebab, dalam kondisi seperti itu, mereka tak akan tergoda untuk menjadi teroris.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831083743



Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.