Olahraga 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menggoreng Bola Di Atas Pasir

Tim Indonesia II menjuarai turnamen sepak bola pantai di Bali. Bertanding sambil mempelajari permainan.

i

Claudio Andres Villan Cerpa, 29 tahun, berjalan terpincang-pincang. Bintang lapangan tengah klub sepak bola Persekaba (Persatuan Sepak Bola Kabupaten Badung), Bali, itu menyeringai kesakitan. Sambil duduk di rumput Lapangan Samudera, Kuta, ia sesekali memijat-mijat kaki kirinya yang bengkak. ”Masih nyeri sekali,” katanya, Selasa pekan lalu.

Memar di kaki pria itu didapat saat bermain pada Dji Sam Soe International Beach Soccer Tournament 2005, di Kuta, Bali, 12-13 November. Pertandingan itu diikuti enam negara: Indonesia, Kamerun, Jepang, Italia, Cile, dan Prancis. Para pemain harus berlaga di lapangan berpasir tanpa sepatu. ”Medannya berat,” kata Villan.

Beach soccer alias sepak bola pantai merupakan variasi dari sepak bola yang biasanya dimainkan di lapangan rumput. Setiap tim terdiri atas lima pemain termasuk kiper. Mereka adu gocek bola dengan kaki telanjang di pantai atau lapangan pasir. Lapangan yang diperlukan hanya seluas 35 x 25 meter. Tiap pertandingan dibagi tiga babak, masing-masing berdurasi 12 menit. Waktu istirahat diberikan selama tiga menit setiap jeda pertandingan.


Kendati waktu pertandingan lebih pendek ketimbang sepak bola biasa yang mencapai 2 x 45 menit, Muhammadan, salah seorang pemain tim Indonesia II, merasa sepak bola pantai lebih meletihkan. Ia dan rekan-rekannya tak bisa berlari cepat karena pijakan kaki serasa melesak ke dalam pasir. Bola pun sulit digiring karena tertahan pasir. ”Secara fisik berat sekali,” katanya. Alhasil, pada pertandingan pertama babak penyisihan, mereka harus mengakui keunggulan tim Cile dengan skor 3-1.

161830839583

Beruntung pada pertandingan berikut mereka berhasil bangkit. Muhammadan dan kawan-kawan menggilas tim Indonesia I yang diperkuat beberapa bekas pemain tim nasional seperti Ricky Yakobi dan Aji Santoso dengan skor 10-1. Selanjutnya mereka menekuk tim Prancis dengan skor 5-1. Dua kemenangan itu menjadi tiket yang mengantar tim ini melaju ke babak perempat final.

Di babak ini, tim Indonesia II melibas tim Italia lewat adu penalti dengan skor 9-8. Di semifinal mereka bertemu lagi dengan tim Indonesia I dan kembali menang dengan skor 8-3. Gelar juara akhirnya direnggut setelah di partai puncak mereka menggulingkan tim Kamerun, Ahad pekan lalu.

Kendati menang, Villan mengakui partai final merupakan pertandingan terberat. Soalnya, pemain-pemain Kamerun memiliki stamina kuat. Di babak pertama, tim Indonesia II sempat ketinggalan 2-1, namun mereka tetap tampil bersemangat dan mendapat dukungan penuh penonton.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Di babak kedua mereka mulai bisa mengimbangi permainan lawan dan skor berubah menjadi 3-3. Akhirnya, di babak penentuan, mereka berhasil memasukkan bola lebih banyak ke gawang lawan dan menutup pertandingan dengan skor 6-5.

Kemenangan ini membuat Villan merasa senang. Terlebih ini untuk pertama kalinya mereka bermain sepak bola pantai. Persiapan mereka pun sebenarnya kurang matang. Tim ini dibentuk secara dadakan satu minggu menjelang pertandingan. Mereka yang masuk tim adalah pemain Persekaba yang tidak pulang kampung karena kompetisi Liga Indonesia dan Copa Dji Sam Soe sedang libur.

Para pemain inti tim Indonesia II terdiri atas Villan, Muhammadan, Cinik Ari Arsana, Kanang Kariyana, dan Made Wirawan (kiper). Pada barisan pemain cadangan ada Kadek Setiawan, Ango Julian, Komang Tariawan, Budi Setiawan, dan Nyoman Ariana (kiper).

Menurut Ketua Panitia Turnamen, Vata Matanu Garcia, sepak bola pantai sudah sangat populer di Amerika Serikat dan Eropa (lihat Dari Pantai di Negeri Samba). Dari sana terbersit gagasan untuk menggelar pertandingan serupa di Bali, pulau yang terkenal dengan pantainya yang indah. Awalnya, ajang ini dimaksudkan sebagai kegiatan amal untuk membantu korban bom Bali I tiga tahun lalu sambil memancing kedatangan wisatawan asing.

Niat Vata yang mantan pemain klub Benfica Portugal 1980-an itu mendapat dukungan. Teman-temannya pemain sepak bola pantai di Spanyol, Jerman, Portugal, Brasil, dan Turki sudah memastikan ikut serta. Turnamen semula dijadwalkan berlangsung 8-9 Oktober 2005, tapi rencana itu berantakan. Para peserta yang semula telah bersedia hadir langsung menyatakan mundur gara-gara meletupnya bom Bali II, 1 Oktober lalu.

Situasi itu tak membuat Vata patah semangat. ”Turnamen ini penting untuk menunjukkan Bali cukup aman bagi turis,” katanya. Ia tetap melanjutkan gagasannya dengan melobi para pemain asing yang bermain di Liga Indonesia. Ternyata idenya memperoleh sambutan antusias. Pengunduran waktu pertandingan membuat sebagian temannya dari Eropa akhirnya bersedia tampil.

Lis Yuliawati, Rofiqi Hasan (Bali)


Dari Pantai di Negeri Samba

Beach soccer atau sepak bola pantai diilhami permainan sepak bola akrobatik di atas pasir yang lembut di pantai-pantai Brasil. Permainan dilakukan dalam tempo cepat dan banyak menggunakan sundulan kepala. Artinya, bola lebih banyak berada di udara dan karena itu menghasilkan atraksi yang menarik untuk ditonton.

1992 Permainan ini semula dimainkan dalam berbagai bentuk sebagai ajang rekreasi saja. Sampai 1992, diselenggarakan ajang percontohan di Los Angeles, Amerika Serikat. Di musim panas berikutnya, kompetisi sepak bola pantai profesional digelar pula di pantai Miami, AS. Pesertanya tim-tim dari Amerika, Brasil, Argentina, dan Italia.

1994 Pada April 1994, ajang pertama yang diliput jaringan televisi diselenggarakan di pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil. Satu tahun kemudian, kota itu menjadi tuan rumah pengukuhan Kejuaraan Dunia Sepak Bola Pantai. Kompetisi dimenangkan Brasil yang sekaligus menjadi juara dunia sepak bola pantai yang pertama.

1996 Suksesnya kejuaraan itu membuat olahraga baru ini kian berkembang. Pada 1996, diselenggarakan tur sepak bola pantai profesional. Kejuaraan ini meliputi 60 pertandingan, melintasi tiga benua (Amerika, Eropa, dan Asia) selama dua tahun.

1998 Pada 1998, digelar liga sepak bola pantai profesional Eropa. Empat tahun setelah itu dibuat struktur kompetisi tingkat dunia untuk sepak bola pantai profesional.

Hingga saat ini kejuaraan dunia sepak bola pantai sudah diselenggarakan 10 kali. Brasil mendominasi dengan merebut sembilan gelar. Portugal berhasil mencuri satu gelar. Secara resmi, sepak bola pantai sekarang tergabung dalam keluarga Federation International Football Association (FIFA).

2005 Pada Mei lalu, Kejuaraan Dunia Sepak Bola Pantai Piala FIFA yang pertama digelar di pantai Copacabana. Kejuaraan ini diikuti berbagai negara, antara lain Brasil, Prancis, Portugal, Spanyol, dan lain-lain. Pada kejuaraan itu, Prancis berhasil menggondol gelar juara.

Kini, dari pantai-pantai di Negeri Samba Brasil, sepak bola pantai telah menyebar ke mana-mana. Partisipasi para bekas pemain sepak bola internasional kenamaan turut membantu cepat populernya olahraga ini. Mereka antara lain pemain flamboyan asal Prancis, Eric Cantona. Striker legendaris dari Spanyol, Michel dan Julio Salinas, serta tiga legenda sepak bola Brasil, Romario, Junior, dan Zico.

Keikutsertaan mereka membuat sepak bola pantai memperoleh liputan jaringan televisi yang luas di 170 negara. Sepak bola pantai pun menjadi olahraga profesional yang perkembangannya sangat pesat.

Lis Yuliawati (berbagai sumber)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830839583



Olahraga 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.