Ekonomi dan Bisnis 1/7

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

Impor Beras Vietnam

Pemerintah, melalui Bulog, akhirnya mengimpor 70.050 ton beras dari Vietnam pada November ini. Langkah itu merupakan bagian dari rencana total mengimpor beras sebanyak 250 ribu ton yang dikeluarkan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Keputusan mengimpor beras Vietnam itu menuai protes dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Menurut Agusdin Pulungan, Ketua HKTI, pemberian izin impor beras Vietnam kepada Perum Bulog di-nilai tidak transparan. Bahkan dalam pertemuan antara pemerintah dan HKTI selama ini tak pernah disebut-sebut soal izin impor beras sejak 1 November. Isu impor beras yang bergulir selama ini, menurut Pulungan, telah menurunkan harga gabah kering petani Rp 100 hingga Rp 200 per kilogram.


Sekretaris Jenderal Departemen Perdagangan Hatanto Reksidipoetro mengatakan, impor itu didasarkan pada hasil rapat koordinasi terbatas pada akhir Oktober lalu. Stok beras di Bulog pada akhir Oktober sebesar 950 ribu ton dan harga beras medium Rp 3.560,85 per kilogram. ”Syarat impor beras terpenuhi,” katanya.

161830963661

Cadangan beras Bulog berkurang karena harus me-ngeluarkan berasnya untuk program Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin). Direktur Jenderal Perdagang-an Luar Negeri Diah Maulida mengatakan, setiap bulan Bulog mengeluarkan 150-200 ribu ton untuk program ini. Bulog memperkirakan stok tinggal 800 ribu ton pada November karena program Raskin.

Diah menjelaskan, dipilihnya Vietnam karena Indonesia mempunyai perjanjian government to government dengan negara itu. Beras akan masuk melalui delapan pelabuhan, yaitu Lhok Seumawe, Belawan, Dumai, Padang, Belitung, Balikpapan, Kupang, dan Ciwadan-Banten.

Agar Bisa Tetap Terbang

Perusahaan penerbang-an- PT Merpati Nusantara- Airli-nes sedang melakukan nego-siasi pembayaran utangnya de-ngan sejumlah kreditor. Res-trukturisasi ini merupa-kan salah satu syarat agar Mer-pati bisa beroperasi secara sehat dan investor baru mau menyalurkan dananya ke perusahaan penerbangan milik negara ini.

Sekretaris Perusahaan PT Merpati Nusantara Airlines Ja-ka Pujiyana mengatakan, upaya itu merupakan renca-na bisnis yang dilakukan secara paralel. Jumlah utang Merpati sekitar Rp 1,3 trili-un—55 persen utang kepada- PT Garuda Indonesia, PT PANN Multifinance, dan PT Bank Mandiri Tbk.

Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Logistik dan Pa-riwisata Hari Susetyo Nu-groho mengatakan, bentuk restrukturisasi adalah pe-nun-daan pembayaran. Merpati juga tengah menjalin pem-bicaraan dengan calon kre-ditornya, Deutsche Bank. ”Ini salah satu alternatif dan mereka meminta beberapa syarat,” kata Hari. Salah satunya adalah kepastian bahwa Merpati tidak akan dilikuidasi.

Menurut Hari, Deutsche Bank akan menyalurkan da-na- talangan yang dibutuhkan Merpati untuk mem--benahi perusahaan, yaitu- Rp- 450 miliar. Tenornya ma-sih- dalam pembicaraan.Ha--ri mengatakan, bantuan pe-merintah, dana cadangan se-besar Rp 75 miliar, akan segera dicairkan.

Bank Mega Dilirik Investor

Komisaris Utama PT Bank Mega Tbk. Chairul Tanjung mengatakan, banknya sudah ditawar beberapa calon investor dari Amerika Serikat dan Eropa. ”Mereka sudah menyampaikan surat tertulis soal keinginan mereka, harga yang ditawarkan, tapi kami tidak bisa sebutkan namanya karena terikat pada perjanjian rahasia,” kata Chairul.

Ia mengungkapkan, harga- penawaran yang dimasukkan calon investor lebih dari tiga kali nilai buku. Mereka ingin menjadi mayoritas sekaligus pemegang saham mi-lik Para Group di Bank Mega. Chairul mengingi-nkan secara bertahap 20 persen. ”Kalau cocok, baru nanti kami lepas lagi,” katanya. Para Group memiliki le-bih dari 51 persen saham di Bank Mega. Sisanya, sekitar 40 persen, dimiliki publik.

Chairul sendiri lebih suka bermitra dengan pemain glo-bal seperti Eropa dan Amerika Serikat, bukan regional. Jika dimiliki investor regio-nal, menurut dia, tidak ada kelebihannya, karena bank lain juga sudah dimiliki investor regional.

Penjualan Air Minum Turun

Penjualan air minum dalam kemasan turun 10 persen sejak kenaikan bahan bakar minyak. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia Willy P. Sidharta menduga pe-nurunan itu karena harga jualnya naik sejak perte-ngah-an Oktober. Penjualan air minum dalam kemasan pada Oktober lalu turun menjadi 700 juta liter dari biasanya 800 juta liter.

Willy, yang juga Presiden Direktur PT Aqua Golden- -Mis-sissippi, mengatakan, peng-usa-ha terpaksa menaik-kan harga jual 5 persen ka-rena biaya produksi naik. Pe-nurunan pen-jualan, menurut dia, akan berpengaruh besar pada per-usahaan kecil dan mene-ngah. ”Perusahaan besar tidak begitu terganggu.” Dia memper-kirakan bulan ini penjualan akan turun lagi dibanding Ok-tober. Kali ini penyebabnya libur Lebaran yang panjang, sekitar dua minggu.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830963661



Ekonomi dan Bisnis 1/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.