Album 1/1

Sebelumnya
text

Slamet Gundono Raih Prince Claus Awards

i

Dalang kontemporer Ki Slamet Gundono, 39 tahun, meraih penghargaan The 2005 Prince Claus Awards dari Prince Claus Fund, Belanda. Jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo yang mempopulerkan wayang suket ini mendapat hadiah uang sebesar 25 ribu gulden

Penghargaan yang akan diterimanya pada 8 Desember di kediaman Duta Besar Belanda di Jakarta itu diberikan Prince Claus Fund karena Gundono dianggap memiliki komitmen terhadap tradisi dan dalam waktu bersamaan memodernkan keseniannya.

Di dalam surat yang ditujukan kepada Gundono, pihak Prince Claus Fund menyatakan aktivitas kesenian Gundono selama ini telah menunjukkan bahwa tradisi bisa menjadi sumber ekspresi kontemporer. Dalam karyanya, Slamet Gundono selalu menekankan vitalitas kaum marginal, orang desa, dan yang terpinggirkan dengan idiom dan gaya sesuai dengan kondisi saat ini. ”Penghargaan ini melecut saya untuk terus melakukan proses kreatif,” kata Gundono


Gundono mendapat The 2005 Prince Claus Awards di bidang seni teater bersama sejumlah seniman dari berbagai negara, seperti Lenin el-Ramly (Mesir), Edgar Langeveldt (Zimbabwe), dan Michael Poghosian (Armenia). Seniman Indonesia yang pernah mendapat penghargaan serupa adalah koreografer Sardono W. Kusumo, yang kini menjadi Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

161830911288

Dalang bertubuh tambun ini mengaku senang dengan penghargaan berupa uang tunai tersebut. Rencananya, dengan jumlah uang sebesar itu, Gundono ingin membangun Sanggar Wayang Suket agar dapat lebih bermanfaat ke khalayak. ”Misalnya dengan membangun sebuah perpustakaan dan ruang teater mini,” ujar Gundono.


”Tidak ada istilah mendamaikan, karena Mahkamah Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi tidak dalam keadaan perang.” —Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu lalu, di Istana Negara, menjelaskan alasan pemanggilan Ketua MA Bagir Manan dan Ketua KPK Taufiequrachman Ruki.

”Jangan sampai kita terjebak pada penyangkalan yang tidak produktif. Ini berbahaya dari sisi policy making karena akan memperburuk keadaan, menambah ketidakpastian, dan menurunkan kepercayaan apa yang akan dilakukan pemerintah.” —Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Iman Sugema, soal pernyataan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla yang menyebut data inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) tidak akurat atau terlalu tinggi.


TEMPO DOELOE

21 November 1969 Presiden Amerika Serikat Richard Nixon dan Perdana Menteri Jepang Eisaku Sato menyepakati pengembalian wilayah Okinawa kepada Jepang. Amerika tetap diizinkan membuka pangkalan militer dengan syarat bebas nuklir.

23 November 1971 Dewan Keamanan PBB mengalihkan kursi keanggotaan Republik Cina (atau dikenal sebagai Taiwan) kepada Cina Daratan (Republik Rakyat Cina). Pengalihan ini didasari klaim Cina sebagai penguasa negara tersebut karena menguasai daratan utama Cina.

24 November 1991 Freddy Mercury, bintang rock Inggris yang juga vokalis grup musik Queen, meninggal dunia di London. Sehari sebelumnya, ia mengumumkan dirinya mengidap AIDS, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

25 November 1975 Suriname, koloni Belanda di Amerika Selatan, merdeka dan menjadi republik setelah hampir 375 tahun dijajah. Setahun sebelumnya, negara di Karibia tersebut mendapat status otonomi.

26 November 1941 Enam kapal pengangkut pesawat Jepang di bawah pimpinan Laksamana Muda Chuichi Nagumo meninggalkan Pelabuhan Hitokapu untuk menyerang Pearl Harbour, pangkalan Angkatan Laut Amerika.

27 November 1946 Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru menyampaikan protes ke PBB atas uji coba nuklir Uni Soviet. Nehru menjadi pemimpin dunia pertama yang mengecam Uni Soviet dan menyerukan pelucutan senjata nuklir.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830911288



Album 1/1

Sebelumnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.