Luar Negeri 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kontroversi yang Bermartabat

Rencana perombakan Undang-Undang Perburuhan dari Perdana Menteri Australia John Howard mendapat tentangan keras. Targetnya, akhir tahun ini berlaku undang-undang baru.

i

DEMONSTRASI itu berlangsung serentak di seantero Australia. Dari Kota Darwin yang bercuaca tropis sampai Tasmania di bagian selatan yang sejuk, ribuan manusia memadati jalanan, Senin pekan lalu. Di Melbourne, ada lebih dari 100 ribu manusia dari berbagai profesi berkumpul. Guru, pekerja sipil, pemadam kebakaran, kelompok-kelompok agama. Semuanya bergabung bersama, menyuarakan protes terhadap rencana pemerintah mengegolkan perubahan Undang-Undang Tenaga Kerja.

Respons di sekujur benua itu sampai mengagetkan Ketua Serikat Buruh Sharon Burrow. ”Menakjubkan. Kami meramalkan banyak orang akan bergabung memperjuangkan perubahan. Tapi ini lebih baik lagi,” ujarnya. ”Mereka menyuarakan, Australia yang bermartabat adalah hak mereka dan anak-anak mereka. Tak seorang pun boleh mengambil warisan itu,” Burrow melanjutkan sembari menyindir pemerintahan Partai Liberal yang dikendalikan John Howard.

Sudah bertahun-tahun lamanya Howard dipusingkan oleh soal ini. Biasanya tantangan muncul dari partai-partai minoritas di senat negara bagian. Bagi Howard, undang-undang lama yang dibuat pada 1993, ketika Partai Buruh berkuasa, sudah ketinggalan zaman dan tak bisa diandalkan lagi. Lebih-lebih jika Negeri Kanguru ingin tetap berada di jajaran lini terdepan pertumbuhan ekonomi. Selama ini ia tak begitu bernafsu melempar paket itu ke masyarakat. Perubahan baru terjadi sejak ia menang dalam pemilu untuk ketiga kalinya pada Oktober 2004. Sejak itu Howard getol mengkampanyekan idenya.


Mei silam ia mulai menjajakan rancangan paket reformasi yang disebutnya akan meningkatkan produktivitas dan daya saing. Beberapa hal yang akan dirombak secara radikal adalah jumlah minimum hari libur, cuti hamil, dan mekanisme penuntutan karyawan terhadap perusahaan. Dalam rancangan undang-undang (RUU) yang baru, hanya karyawan yang bekerja pada perusahaan yang memiliki pegawai lebih dari 100 orang yang bisa melakukan tuntutan hukum. Itu pun setelah enam bulan bekerja.

161830667585

”Paket reformasi akan membuat pasar tenaga kerja menjadi lebih fleksibel, untuk menjamin kemakmuran dan martabat Australia,” ujar Howard optimistis. Menurut Perdana Menteri, Australia harus mengambil langkah ini dan bersiap menghadapi tantangan masa depan. Dia juga menjamin, perombakan radikal itu tak akan terjadi pada pemotongan upah dan meningginya pajak pendapatan.

Kian bersemangat Howard memasarkan idenya, kian besar kritik yang diterimanya. Para penentang berpendapat, RUU itu akan membuat perusahaan-perusahaan kecil bakal makin tergencet karena semangat RUU yang berpihak pada perusahaan besar. Para pengusaha besar memang beramai-ramai menyetujui usul Howard.

Dari kelompok pemimpin serikat kerja, RUU tersebut dipandang memiliki potensi ancaman terbesar bagi tenaga kerja sepanjang sejarah Australia. Terutama karena menyangkut keamanan kerja, meminimalkan pengaruh serikat kerja, dan melihat karyawan hanya sebagai individu. ”Kalau RUU ini gol menjadi undang-undang, perusahaan akan semakin mudah dalam memecat karyawan,” teriak Burrow disambut aplaus meriah dari kerumunan manusia di Melbourne.

Komentar tajam juga muncul dari juru bicara Partai Buruh, Stephen Smith, yang kini menjadi partai oposisi pemerintah. ”Howard ingin mendesakkan pengaruhnya sampai pada level individual karyawan,” katanya. Terhadap semua protes itu, kabinet Howard menyatakan akan terus berjuang agar legislasi baru itu bisa tembus di parlemen paling lambat akhir tahun.

Itu artinya, enam pekan terakhir menjelang tahun baru 2006, jalan-jalan utama di seantero Australia bisa-bisa menjadi ajang demonstrasi yang meriah.

Akmal Nasery Basral (BBC)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830667585



Luar Negeri 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.