Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengikuti Harry Potter yang Telah Tumbuh

Inilah episode Harry Potter yang sudah melangkah pada dunia yang lebih mandiri. Dia harus menghadapi segalanya sendiri.

i

HARRY POTTER AND THE GOBLET OF FIRE Sutradara: Mike Newell Skenario: Steve Klove Pemain: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes Produksi: Warner Bros

Di sebuah rumah yang gelap tak bernyawa itu, penduduk desa tak pernah mendapat sesuatu yang pasti. Mereka menyebutnya The Riddle House, dan mereka tak pernah mengetahui apa yang terjadi pada anggota keluarga Riddle. Bahkan, pada sebuah malam yang dingin, mereka tak tahu apa yang terjadi pada Frank, si penjaga rumah. Yang jelas, ia tewas begitu saja, tanpa pernah diketahui sebabnya. Tetapi para penonton Harry Potter and the Goblet of Fire—lazimnya adalah pembacanya yang fanatik—mengetahui malam itu ada dua lelaki yang bersimpuh di depan sebuah kursi. Kita tak tahu makhluk apa yang duduk di situ, kecuali suaranya yang dingin. Kemudian seekor ular bernama Nagini melintas dengan elok melalui Frank, yang mengintip seluruh kejadian dengan gemetar dan bingung. Dan setelah ”si suara dingin” itu menyadari bahwa ada ”muggle” alias orang biasa yang tengah mengintip seluruh diskusinya, dia kemudian mengeluarkan mantranya yang mematikan, ”Avada Kedabra”. Frank terpental dan langsung tak bernyawa.

Puluhan mil dari peristiwa itu, Harry Potter, yang kini berusia 14 tahun, bangun dengan rasa pedih di luka dahinya, luka yang dulu diberikan oleh Lord Voldermort semasa ia masih bayi, yang kemudian menumbuhkan Harry sebagai penyihir legendaris yang ditakdirkan akan melawan kekuatan Voldermort.


Sementara pada buku Harry bangun di rumah keluarga Paman Dursley yang bengis, sutradara Inggris Mike Newell memotong berbagai subplot agar buku tebal itu bisa menjadi sebuah film yang dahsyat sekaligus efisien.

161831261655

Harry Potter dan kedua kawannya, Ron dan Hermione, kini bukan hanya melalui masa pubertas—usia 14 tahun yang ”perih”—yang menjengkelkan karena perubahan bentuk tubuh, suara, dan hormon yang menggelegak, tetapi mereka memasuki sebuah petualangan yang semakin menentukan bahwa inilah langkah awal mereka pada dunia penyihir dewasa. Setelah mengarungi The International Quidditch Tournament yang memperkenalkan trio ini pada pemain Bulgaria terkenal dan ganteng Victor Krum, mereka kemudian diteror oleh satu kenyataan: di langit ada Dark Mark, tanda bahwa Lord Voldermort, penyihir jahat itu, sudah kembali dan memanggil para pengikutnya.

Maka, dunia sihir gempar. Hidup akan penuh teror dan kekelaman seperti di masa lalu. Pengamanan diperketat berlipat ganda. Dan ancaman kedatangan Lord Voldermort toh tak mengganggu rencana sekolah Hogwart untuk menjadi tuan rumah Triwizard Tournament. Inilah sebuah lomba sihir antar-sekolah sihir sedunia yang melibatkan tiga sekolah besar: Hogwart, Durmstrang (Bulgaria), dan Beauxbaton (Prancis).

Mike Newell adalah seorang sineas jenius (Indonesia mengenalnya dari Four Weddings and a Funeral, Notting Hill, dan Donnie Brascoe), bukan hanya karena dia mampu menciptakan dunia sihir yang sudah lama menjadi dunia imajinasi milik para penggemar Harry Potter, tetapi dia bahkan mampu mengembangkan kisah itu secara visual, sesuai dengan jiwa Rowling. Kedatangan delegasi sekolah sihir dalam film ini adalah sebuah pengembangan yang dilakukan Newell yang memang pas untuk medianya: layar putih. Para gadis vella dari sekolah sihir Beauxbaton—makhluk penyihir perempuan yang lebih mirip bidadari yang berjalan melayang dan sungguh jelita—memberi sebuah ”big entrance” seperti ”cheerleader” gaya bidadari yang kemudian membuat para siswa lelaki Hogwart (lengkap dengan jakun dan hormonnya) melonjak-lonjak. Setelah cewek-cewek cantik itu berlalu di hadapan cowok-cowok yang melongo, giliran serombongan siswa lelaki Durmstrang dari Bulgaria yang menggoyang lantai Hogwart dengan langkah tari Ukraina yang gagah, maskulin, dan akrobatik. Adegan ini tak digambarkan oleh Rowling, tetapi sebuah interpretasi sinematik yang tepat untuk novel yang penuh warna dan karakter yang begitu variatif.

Dari segi interpretasi visual dan karakter, inilah episode Harry Potter yang terbaik. Newell dan penulis skenario Steve Klove sangat efisien membuang berbagai subplot, seperti bagian perjuangan Hermione untuk mengangkat hak peri, berbagai bab ”tradisi” pembukaan yang lazimnya memperlihatkan Harry di rumah keluarga Dursley dan juga keluarga besar Weasley. Memang Harry tanpa ”persoalan keluarga” seolah menunjukkan Harry yang kini sudah menanjak dewasa dan mandiri. Dia bahkan berkomunikasi dengan bapak baptisnya, Sirius, hanya satu kali melalui cerobong asap.

Tokoh Mad Eye Moody (diperankan dengan cemerlang oleh Brendan Gleeson) kemudian menjadi ”tokoh” otoritas baru bagi Harry, sementara tokoh Rita Skeeter (Miranda Richardson) wartawan gosip, Cho Chang (perempuan yang sudah lama diincar Harry), Cedric Gregory, dan Victor Krum adalah tokoh-tokoh tambahan yang tampil seperti yang terbayangkan oleh pembaca Harry Potter.

Baru kali ini novel Harry Potter diperlakukan dengan adil, dengan penuh penghargaan dan pemahaman yang pas—tak lebih, tak kurang—oleh sineasnya.

Adegan kematian Cedric mungkin terasa lebih ”dingin” karena Rowling sempat membuat fondasi yang lebih kuat antara Harry dan Cedric, hingga kepedihan Harry ikut merobek hati pembacanya. ”Kami tadinya berniat membawa piala itu berdua,” kata Harry dengan suara parau, menahan air matanya yang tumpah. Dan ibu Weasley segera merengkuh kepala Harry seperti sepasang sayap induk burung yang melindungi anaknya. Bagian ini memang memperlihatkan Rowling sebagai Ratu Penguntai Kata yang tak tertandingi.

Kecemburuan dan kebingungan Ron terhadap perasaannya sendiri terhadap Hermione—yang sudah mulai ditanamkan di episode ini, dan akan semakin membingungkan pasangan itu di episode lima dan enam—belum terasa kental karena fokus sineas memang lebih pada sosok Harry yang tengah diincar terkaman Voldermort. Karena itu, kita juga terpaksa memaafkan bagaimana kisah-kasih Hagrid dengan pacar barunya, yang sebetulnya lucu itu, tak sempat dijelajahi dengan baik. Mike Newell sungguh tak bisa menggarap semua sub-plot yang beruntun karena terlalu ambisius.

Bagaimana Newell menggambarkan kembalinya sang Voldermort? Bayangkan Ralph Fiennes, yeah....aktor ganteng pemain utama film The English Patient itu, dengan warna tubuh perak, tanpa rambut, dan hidung yang lebih mirip hidung ular. Dingin, licin, dan bersinar.

Karena Voldermort telah resmi kembali dan mempunyai rencana menguasai dunia sihir ke pangkuannya (kembali), akhir film ini diberi warna kelabu. ”Segalanya akan berubah,” kata Hermione dengan getir.

Segalanya memang akan berubah, demikian gumam Harry, yang tengah melangkah menuju takdirnya: menghadapi Voldermort.

Leila S. Chudori


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831261655



Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.