Iqra 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tidak Semua Hal Bersifat Politis

Penulis asal Kalkuta, Amitav Ghosh, bercerita tentang pengalamannya dan pandangan-pandangannya dalam menulis.

i

Ia lelaki berperawakan biasa. Satu hal yang cukup mencorong dari penampilannya sekarang adalah alis matanya yang hitam dan rambutnya yang putih. Amitav Ghosh lahir pada 1949 di Kalkuta—ia satu generasi dengan para penulis Indo-Pakistan yang menggunakan bahasa Inggris seperti Salman Rushdie, Rohinton Mistry, atau Vikram Seth.

Ghosh bukan Salman Rushdie yang kemudian terkenal karena gelombang politik yang ditimbulkan buku The Satanic Verses. Karya-karya Ghosh selama ini menunjukkan bahwa penulisnya seorang yang sangat telaten melakukan riset. Dan memang, ia sendiri menganggap riset bagian paling menyenangkan dalam proses menulis. Kita tahu, pada 1996 ia berangkat ke Burma, salah satu setting penting buat pengembangan satu karakternya dalam novel epos The Glass Palace. Kemudian, pada tahun 2000-an, ia khusus terbang ke sebuah kota kecil di Kamboja untuk mendapatkan gambaran yang lebih terang mengenai lumba-lumba air payau.

Ya, di kota itulah ia menggali banyak informasi yang lantas bisa disimak dalam The Hungry Tide. Piya, satu karakter utama dalam novel itu, seorang ilmuwan yang meneliti lumba-lumba di Sungai Irawadi. Ghosh tidak cukup menggambarkan kecantikan Piya, gadis Amerika keturunan India. Ia bercerita tentang lumba-lumba, mamalia air bernama Orcaella brevirostris, obyek penelitian Piya.


Ghosh sosok yang telah berjalan jauh. Ia dibesarkan di Bangladesh, Sri Lanka, Iran, dan India. Di India, Ghosh menjadi wartawan The Indian Express. Ia menyebut profesi tersebut: sebuah dunia yang gila. Tapi ia merasa yakin gairahnya melakukan penelitian di sana-sini, tumbuh dari pengalaman itu. Ia memotret detail demi detail, layaknya reportase seorang jurnalis. Di Oxford, Inggris, Ghosh melanjutkan kuliah, belajar antropologi sosial, sejarah, dan filsafat. Dari dua pengalaman itu, ia memperoleh pendekatan tentang yang partikular dan umum.

161830718775

Amitav Ghosh menerima banyak penghargaan. Misalnya Prix Medicis Etranger untuk The Circle of Reason (1896), The Sahiya Academy Award untuk bukunya The Shadow Lines (1988), The Arthur C. Clarke Prize, penghargaan khusus untuk science fiction dalam The Calcutta Chromosome (1996), the Pushcart Prize untuk esainya ”The March of the Novel Through History: My Father Bookcase”, dan Grand Prize for Fiction di Frankfurt International e-Book Awards untuk bukunya The Glass Palace. The Hungry Tide adalah buku terakhir Ghosh, diterbitkan pada 2004.

Lebih dari sebulan lalu, Ghosh muncul di Ubud, Bali, dalam acara Ubud Writers and Readers Festival 2005. Berikut adalah petikan wawancara Tempo dengan penulis itu.

Banyak bangsa yang menguasai bahasa Inggris dengan baik, seperti Malaysia, Singapura, Afrika Selatan, dan Hong Kong. Tapi mengapa hanya India yang menghasilkan banyak penulis berbahasa Inggris?

Ya, saya cenderung berpikiran, India punya tradisi bercerita yang panjang. Lihatlah Ramayana, Mahabharata. Ada koleksi cerita dalam Pancatantra, kitab yang paling banyak diterjemahkan di dunia, di samping Injil. Dan itu sudah diterjemahkan sejak abad ke-9. Dan saya pikir, masih ada karya-karya yang hilang dalam periode penjajahan India. Kini, 50 tahun setelah kemerdekaan, karya-karya itu seakan muncul kembali. Saya rasa, ini bagian dari gejala India sekarang: negeri yang lebih percaya diri, yang mendapatkan tempat di dunia internasional, dan mengalami peremajaan. Selama beratus tahun kolonialisme, India tak berdaya dalam periode gelap. Sekarang, India berhasil menyingkirkan potongan sejarah itu.

Sebenarnya bagaimana sih cara Anda memandang sejarah? Yakinkah Anda sejarah dunia punya pengaruh mendalam terhadap orang per orang, layaknya dalam novel Anda The Glass Palace?

Sering terjadi benturan antara sejarah dan kehidupan individu. Dalam suasana tertentu seperti perang, revolusi, evakuasi, atau pemindahan massa besar-besaran, tak seorang pun sanggup menghindar dari sejarah. Abad ke-20 melalui peristiwa-peristiwa memilukan, dan The Glass Palace berusaha memperlihatkan akibat dari kejadian-kejadian itu pada keluarga dan individu-individu di dalamnya. Lihat saja sejarah keluarga saya, contohnya. Keluarga saya terpisah ketika India-Pakistan berpisah, juga ketika Jepang menaklukkan Burma pada 1942.

Bukankah pengalaman sebagai sejarawan, wartawan, dan antropolog juga ikut memberikan bentuk dalam karya-karya Anda?

Bagi saya, nilai sebuah novel adalah kemampuannya merangkum, meliputi segenap elemen hidup ini—sejarah, retorik, politik, keyakinan, agama, cinta, seksualitas. Jadi, novel melampaui batas-batas penulisan seorang sejarawan, wartawan, antropolog, dan seterusnya.

Anda tinggal di New York. Sebagai penulis yang sensitif, bagaimana Anda melihat akibat peristiwa 11/9 terhadap Amerika dan masyarakatnya?

Saya di New York sewaktu peristiwa itu terjadi. Anak perempuan saya di sekolah yang letaknya setengah mil dari menara kembar World Trade Center. Jadi, peristiwa itu sangat berpengaruh pada saya. Saya sudah hidup bersama terorisme, sewaktu di India dulu. Satu hal yang harus digarisbawahi: Benar Amerika mungkin telah melakukan banyak kesalahan. Tapi negara-negara lain yang punya power juga melakukan hal serupa. Namun itu tidak bisa dijadikan pembenaran teror.

Tapi, di lain pihak, apa yang dilakukan teroris itu sangat jahat. Saya sendiri punya keterikatan dengan Amerika. Istri saya orang Amerika. Tapi, kalau kita pikir-pikir apa yang mereka perbuat setelah 11/9 itu gila. Perang Irak. Ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ini akan memperburuk keadaan. Saya rasa mereka tidak bisa menang dalam perang ini, bahkan saya bisa lihat kekalahan. Kenyataan yang buruk sekarang: para teroris dalam posisi menang. Ini realitas. Kita memang harus bertindak lebih tegas, tapi kalau kita lihat orang-orang Amerika ini terlibat dalam proses, saya tak melihat jalan keluar.

Pernah menulis tentang 11/9?

Ya, sebuah tulisan kecil di The New Yorker. Tapi yang menyedihkan adalah sejak 11/9 Amerika berubah. Sekarang saya tidak bisa lagi menulis tentang itu. Setelah mengkritik Perang Irak, penerbit menolak mempublikasi karya saya. Ini aneh sekali. Pengaruh perang ini, Amerika menutup diri terhadap suara-suara yang berbeda, seperti suara saya.

Tapi, menyimak karya-karya Anda, tampaknya Anda tak tergolong orang yang menganggap segalanya di dunia ini bersifat politis. Benarkah?

Ya, karena tidak semua hal bersifat politis. Bahkan orang yang menganggap segalanya bersifat politis tidak sungguh-sungguh bermaksud begitu. Yang mereka maksudkan adalah etis, bukan politis. Saya pikir masalah etika, dilema etika, kedudukan etika, semua itu bentuk seni yang sangat penting. Itu yang indah dari sebuah novel. Argumen-argumen etika dalam sebuah keluarga, misalnya, sangat menarik disimak.

Dalam karya Anda, beberapa karakter berhasil melintasi batas negara dan kelas sosial. Bukankah ini tidak begitu realistis? Lihat Rajkumar yang ”naik kelas” dalam The Glass Palace.

Ada karakter perempuan, Uma, yang banyak bepergian. Secara finansial ia mampu melakukan itu. Dan memang pada akhir abad ke-19, banyak perempuan India yang belajar ke luar negeri. Sedangkan Rajkumar berasal dari kelas yang berbeda. Saya rasa, kalau saja Rajkumar hidup di India, mustahil baginya menyeberangi batas itu. Tapi ia hidup di luar sana, dan hal itu mungkin terjadi. Saya rasa ini berlaku di banyak tempat—di Indonesia, Filipina. Mobilitas manusia, mereka ke luar negeri, bekerja di kapal dan di negeri-negeri lain. Tapi tentang Rajkumar, pada akhirnya ia kehilangan segalanya, dan ia juga tidak menyesalinya.

Tampaknya Anda menyukai karakter ini, Rajkumar?

Saya menyukainya seperti ketertarikan saya pada karakter tertentu.

Sebenarnya, apa yang mendorong Anda menulis?

Bila saya memandang panorama gunung, hutan lebat, pohon-pohon kelapa misalnya, dengan cara tertentu saya bisa mengingatnya. Kalau saya mulai duduk di kursi kerja—saya kerja di ruang tertutup, tanpa jendela—dan mulai melukiskan perasaan ini dengan kata-kata, saat itulah saya benar-benar melihatnya. Maksudnya, melihat dengan batin dan pikiran. Itulah, menulis sesuatu yang membuat kita hidup.

Anda dikenal sebagai penulis yang rajin melakukan riset. Dalam The Hungry Tide, Anda menggali dalam-dalam kehidupan lumba-lumba. Dari mana ide ini berasal?

Sudah sejak dahulu, saya memutuskan untuk menulis segala sesuatu yang menarik perhatian saya. Yang tak menarik, persetan saja. Lima belas tahun silam di Benares, saya dan istri menyaksikan sekolah lumba-lumba. Dan selama 15 menit itu, saya benar-benar terpesona. Kini, untuk menulis buku tentang ini, saya singgah dan tinggal bersama seorang peneliti lumba-lumba Irawadi. Saya rasa, latar belakang akademis saya memang telah mendorong untuk menggali lebih dalam akan hal-hal yang menarik.

Tentang menulis. Mengapa Anda menulis mengenai India dalam bahasa Inggris, bukan dalam bahasa yang dipakai di India?

Kita ini memang selalu berhadapan dengan pertanyaan mendasar: apa artinya kalau kita menyodorkan satu realitas dalam realitas (baca: bahasa) lain. Secara otomatis, bahasa terjemahan cukup sentral dalam tulisan-tulisan saya. Tapi, dalam buku ini, The Hungry Tide, saya mesti berhadapan dengan satu persoalan yang lebih kompleks. Masalahnya tidak terletak pada menulis sesuatu dalam bahasa setempat. Ini adalah masalah versi belaka dan bukan masalah bahasa yang lebih tinggi dan lebih rendah. Meski begitu, dalam buku itu saya mencoba menggunakan ritme, ketukan—dalam menceritakan legenda Bon Bibi, misalnya (Bon Bibi, dewi yang diyakini sangat berpengaruh dalam pasang-surut di daerah hutan bakau, setting The Hungry Tide—Red.).

Bagaimana Anda biasanya memulai sebuah karya? Dari visualisasi?

Sering. Ya, tulisanku banyak berakar pada teknik meditasi, meditasi yang acap melibatkan visualisasi. Jadi, kalau dalam proses penulisan saya tak dapat melihat kembali di depan mata, tulisan itu tak akan jadi.

Kenapa menulis fiksi?

Saya selalu tertarik pada karakter, manusia, kepribadian. Dan fiksi memberi kita ruang untuk menjelajahi ini semua. Kehidupan seorang individu sangat kompleks dibanding hal-hal lainnya. Fiksi adalah sebuah bentuk sempurna dari ekspresi sastra, ekspresi manusia. Fiksi tak punya batas, ia memberi kita kebebasan untuk melacak apa saja yang kita suka, emosi manusia, sejarah, geologi, dan segalanya. Fiksi adalah lahan yang mempersatukan kita—seperti dikatakan Einstein.

Pernahkah Anda merasa mandek ketika menulis?

Ya. Sepanjang hidupku, saya selalu ingin menulis naskah drama. Beberapa kali saya mencobanya, tapi selalu gagal, ha-ha-ha....

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830718775



Iqra 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.