Iqra 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Catatan tentang Pasang-Surut Hidup

AMITAV GHOSH, pengarang pascakolonial asal India. Karya-karyanya istimewa karena pengalaman bepergian dan akademisnya selama ini.

i

Cerita ini berangkat dari sebuah tempat, tak jauh dari langit. Dari ketinggian Pegunungan Himalaya, dibawa oleh Sungai Gangga melintasi daerah-daerah di India Utara, menuju Teluk Benggala, ke sebuah kepulauan yang ditumbuhi hutan-hutan bakau. Ya, kepulauan yang timbul-tenggelam secara rutin, bersama pasang-surut air laut.

Di Sundarban, kepulauan itu, segalanya bisa ada, bisa tiada. Di sana manusia tak punya pilihan kecuali harus berbagi, hidup bersama harimau, buaya, hiu, lumba-lumba air payau, dalam satu ekosistem yang kompleks dan besar. Manusia tidak berdaya dalam satu lukisan yang ironis. Atas desakan negara-negara donor dan lembaga swadaya internasional, sebuah undang-undang perlindungan harimau ditegakkan dengan tangan besi. Dan tiap-tiap tahun, ratusan penduduk tewas diterkam harimau. Satu undang-undang yang memang tidak dibuat untuk melindungi manusia.

Kita tahu, Amitav Ghosh, pengarang kelahiran Kalkuta yang kini tinggal di New York, memilih setting yang amat dikenalnya itu. Lantas, satu per satu ia mencemplungkan tokoh-tokoh dalam novelnya yang terbit tahun lalu, The Hungry Tide. Amitav Ghosh mempunyai seorang ilmuwan bernama Piya: gadis menawan, warga Amerika keturunan India, yang terjun ke Sundarban dengan satu tujuan—meneliti lumba-lumba Sungai Irawadi.


The Hungry Tide juga menyodorkan Kanai, pemuda kota dengan kepercayaan diri yang begitu melimpah, seorang pengusaha, pengelola bisnis penerjemahan yang berhasil. Sama seperti Piya, yang dididik dan dibesarkan di Amerika, Kanai menata dan menjalani hidupnya dengan perencanaan matang. Kanai datang ke Sundarban, memenuhi undangan bibinya. Sang bibi, yang ditinggal mati pamannya, mendapati sebuah amplop dengan nama Kanai di atasnya. Sebuah wasiat. Dan kini Kanai harus mengambilnya sendiri.

161831104065

Amitav Ghosh banyak mengembangkan karakter Piya dan Kanai. Tapi, dari alur dan isi cerita, kita bisa menangkap rasa simpatinya tumpah pada sosok Fokir, tukang perahu. Fokir buta huruf, tidak punya bayangan tentang masa depan hidupnya, tapi sangat menguasai setiap titik dalam dunianya. Fokir dan lingkungannya, dua hal yang menjadi satu, menghadapi ketidakpastian dengan kewajaran. Fokir sosok yang mengingatkan kita pada tukang perahu dalam novel pendek Herman Hesse, Siddharta. Hidup ini seperti sungai. Selalu berubah, juga selalu konstan. Mengalami pasang-surut, tapi juga menyimpan ritme—mengulangi ritual sama, seperti tukang perahu menyeberangi para penumpang.

Tentu saja, dengan komposisi karakter seperti ini, kita sudah bisa menebak arah cerita: cinta segi tiga, Kanai sangat tertarik pada Piya. Tapi, dalam perjalanan ketiga manusia ini di atas perahu, Piya tak bisa mengingkari hatinya. Fokir amat mempesona. Namun, inilah karya Amitav Ghosh. Cerita cinta terus bergerak, tapi ada dua hal penting yang disampaikannya. Pertama, lingkungan; kedua, politik. Manusia berbahagia bila hidup menyatu dengan lingkungan. Hal kedua, kisah orang-orang bernasib malang. Para pengungsi dari Bangladesh yang harus berhadap-hadapan dengan kekerasan pada 1979. Sayang sekali, Ghosh tak cukup dalam menggali fakta tentang pembantaian di Morichjhapi yang tak banyak orang tahu itu.

Sebenarnya Ghosh tidak termasuk pengarang fiksi yang berpijak pada imajinasi belaka. Dalam proses kreatifnya, ia banyak menggali fakta. Ia bepergian ke Burma, menetap di sana untuk sementara waktu, khusus untuk menyusun novel yang luar biasa, The Glass Palace. Sebuah epos yang ceritanya terentang sepanjang 111 tahun, dan kemudian ditutup dengan panorama yang sangat kontemporer: suasana di depan rumah Aung San Suu Kyi, perempuan perkasa pejuang demokrasi di Birma.

”Bagiku, panorama di depan rumah Aung San Suu Kyi itu adalah awal sekaligus akhir buku itu. Awal, karena ketika pertama kali berkunjung ke Burma, setibanya di Kota Rangoon, saya langsung bergegas mengunjungi pertemuan di depan pagar rumah Suu Kyi dan itulah pertemuan yang meninggalkan kesan mendalam. Pemandangan di sana waktu itu masih sangat hidup di dalam memori ini,” kata Ghosh dalam sebuah wawancaranya.

Amitav Ghosh kini 56 tahun. Ia penulis istimewa, tapi tidak muda lagi. Regenerasi di antara para penulis India terjadi begitu cepat, dan satu per satu para penulis muda brilian memetik aneka penghargaan internasional: Booker Prize, Pulitzer. Sementara itu, persaingan di antara sesama penulis generasinya berlangsung ketat. Salman Rushdie, yang terkenal lewat The Satanic Verses, lebih mudah mengundang perhatian. Karya Ghosh, The Glass Palace, yang dahsyat dan menjadi best-seller di Jerman, sama sekali tidak menggetarkan Amerika Serikat, negeri tempat ia menetap sekarang. Mengapa demikian?

The Glass Palace novel yang meliputi setting Asia Tenggara sangat luas: termasuk Birma dan Malaysia. Tapi itulah dunia yang terletak di luar perhatian publik Amerika. Dan Ghosh tak begitu memikirkannya. Ia bahkan mengajak pembacanya melintasi era modern, memasuki setting sejarah tahun 1855. Narasinya meliputi berbagai peristiwa: invasi Inggris ke Burma, kemenangan Jepang dalam perang laut melawan Rusia, masa-masa awal kemunduran Eropa, tumbuhnya gerakan-gerakan kemerdekaan para era 1920-an sampai 1930-an, dan kembali mengunjungi Burma pada 1996. Ya, sukar dibantah, di antara para penulis fiksi sejarah, kesanggupan Ghosh melakukan riset sejauh ini hanya bisa ditandingi oleh pemenang hadiah Nobel setaraf V.S. Naipaul.

Dalam The Glass Palace, para tokoh yang diangkat Ghosh berasal dari tiga generasi. Buku itu sendiri dimulai dengan narasi tentang tokoh Rajkumar, seorang anak 10 tahun yang tinggal di jalan-jalan Kota Mandalay, ibu kota Burma saat itu. Rajkumar bernasib baik, dirawat dan dibesarkan pengusaha Cina yang gesit di kota itu. Ia tumbuh menjadi orang kaya dan sangat mencela politik. Sebaliknya, tokoh Uma, seorang janda yang lalu menjadi pejuang kemerdekaan. Pandangan Uma khas. Ia mengkritik pemerintah kolonial Inggris yang memperkenalkan modernisasi kepada India, namun pada dasarnya lebih tertarik mengeksploitasi India.

Amitav Ghosh menghabiskan lima tahun menulis novel ini. Gambaran yang begitu terang tentang Birma banyak diperolehnya dari masa kecil. Waktu itu, menjelang tidur, ayahandanya sering berdongeng tentang Birma. Sang ayah seorang kolonel yang pernah bertugas di negeri itu. Kini, menurut seorang kritikus surat kabar The Hindu, buku ini merupakan kritik yang paling tajam atas kolonialisme Inggris selama ini. The Glass Palace kemudian mendapat Commonwealth Writer’s Prize 2001 dengan hadiah 10 ribu poundsterling.

Commonwealth Writer’s Prize adalah penghargaan sastra tahunan untuk para penulis dari negara-negara bekas jajahan Inggris. Tapi Ghosh menampik. Ia menarik bukunya dari pencalonan itu. Di mata Amitav Ghosh, konsep hadiah itu sama sekali tak seiring-sejalan dengan semangat novelnya.

Amitav Ghosh sastrawan dengan kacamata ilmuwan yang memukau. Dalam In an Antique Land, ia seorang sastrawan dengan pandangan seorang antropolog yang memiliki kedalaman akademis hebat. Buku itu berisi memoar catatan perjalanan selama di Mesir. Pada 1980 ia menetap di Latifa, Mesir, untuk menyelesaikan disertasi antropologinya. Ia menyerap semua dan berinteraksi dengan masyarakat yang digambarkannya ”seumur-umur tak pernah melihat orang India”.

Amitav Ghosh seorang yang merangkum pengalamannya sebagai sejarawan, bekas wartawan, dan antropolog dalam satu predikat: sastrawan. Ia memulai itu dengan sketsa-sketsa perjalanan, lantas mengembangkannya dengan semua pengalamannya selama ini.

Idrus F. Shahab


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831104065



Iqra 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.