Kriminalitas 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Melacak Jaringan Mafia Narkoba

Benny Sudrajat, pemilik pabrik ekstasi di Cikande, Banten, mengaku masih pemula. Ia mampu berhubungan dengan mafia Asia dan menyogok polisi.

i

Tanpa alas kaki, lelaki kurus berkacamata minus itu menapaki lantai lima gedung Badan Narkotika Nasional di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Berkaus oblong warna kuning dan bercelana pendek krem, ia berjalan sambil menunduk diapit dua polisi, Kamis pekan lalu.

Mereka masuk ke salah satu ruang penyidik. Di sana seorang juru periksa berpangkat komisaris sudah menanti. Ditempatkan di kursi di depan penyidik, dia duduk sambil ngapurancang, melipat tangannya. Dua pria berbeda status ini sama-sama membisu. Sang komisaris tampak bersikap hati-hati.

Maklum, lelaki yang diperiksanya itu tak lain adalah Benny Sudrajat, tangkapan kakap polisi. Pria 59 tahun itu dicokok polisi dengan sangkaan sebagai pemilik pabrik ekstasi di Jalan Cikande kilometer 18, Rangkasbitung, Banten.


Jumat dua pekan lalu, sejumlah petugas dari markas besar polisi menggerebek pabrik ekstasi itu. Dari tempat ini polisi menyita jutaan butir pil ekstasi dan puluhan ton bahan baku sabu-sabu. Kini polisi telah menangkap 22 tersangka termasuk Benny. Hingga Kamis pekan lalu, Benny sudah tujuh hari ditahan Badan Narkotika.

161831015210

Selama itu Benny masih mengunci mulut, pun kepada petugas. Ia enggan berbicara jika tak didampingi kuasa hukumnya. Selang lima menit di dalam ruang penyidik, sekitar pukul 18.00 masuklah seorang wanita ke ruangan. Dia Lina Widjaja, kuasa hukum Benny.

”Maaf, apakah pemeriksaan akan dimulai?” Lina bertanya kepada penyidik. Si juru periksa mengangguk. Ia lalu mempersilakan Lina duduk di samping Benny.

Sebelum menjadi tauke ekstasi dan sabu-sabu, menurut data kepolisian, Benny adalah pengusaha batu bara. Pernah dua kali menikah, bersama istri mudanya, Lee Wen Wu, wanita asal Taiwan, ayah lima anak itu tinggal di Apartemen Tropik di Jalan S. Parman, Jakarta Barat.

Kepada Tempo, seorang penyidik mengatakan Benny mendapat ide mendirikan pabrik ekstasi sepulang berlibur ke Singapura pada 2002. Sayang, Benny lupa tanggal dan bulannya. Di sana ia berkenalan dengan Mr. Chen, pengusaha biro perjalanan, warga negara Singapura.

Perkenalan itu berlanjut. Sekembali ke Jakarta, Benny beberapa kali bertemu Chen. Dalam salah satu pertemuan, ia mengutarakan keinginan meminjam modal usaha. ”Usaha batu bara saya nyaris ambruk kekurangan dana,” katanya.

Mendengar permintaan itu, Chen mengajak Benny menemui Peter Wong, warga negara Hong Kong. Menurut Benny kepada penyidik yang menjadi sumber Tempo itu, Chen mengatakan kepadanya Wong punya banyak duit. Keduanya kemudian pergi ke Hong Kong menemui Peter Wong.

Wong tak langsung memberi uang. Ia cuma membantu dengan memesan batu bara. Ayah lima anak itu segera pulang ke Jakarta mencari modal untuk memenuhi pesanan Wong. Namun, uang tak kunjung terkumpul sehingga pesanan Wong tak dapat dipenuhi.

Setahun kemudian, akhir 2003, Benny kembali menemui Wong. Kali ini Benny meminta Wong menanamkan modalnya ke perusahaan batu baranya. Wong tak tertarik. Benny mengatakan, Wong malah menyarankannya membuka usaha ekstasi dan sabu-sabu. ”Saya tahu usaha itu haram di sini, tapi saya butuh modal usaha,” ujar Benny.

Singkat cerita, mereka akhirnya bersepakat mendirikan pabrik ekstasi di Indonesia. Dalam bekerja, mereka berbagi tugas. Peter Wong bertanggung jawab menyediakan bahan baku serta dana untuk membeli lahan pabrik.

Selain itu, Wong juga mengirim lima tenaga ahli dari Cina dalam bisnis obat terlarang ini. ”Mereka khusus membuat sabu-sabu,” kata seorang polisi. Sedangkan Benny bertugas mencari lokasi di Indonesia. Wong membekali Benny duit Rp 3,2 miliar.

Di Jakarta, Benny mengajak Budhi Cipto, temannya sesama pengusaha, untuk bekerja sama. Pengusaha akrilik ini setuju. ”Cara membuat sabu-sabu kan sama dengan cara produksi akrilik,” ujar Budhi Cipto, pengusaha asal Solo itu, sebagaimana ditirukan Benny.

Budhi pun menutup pabrik akriliknya di Solo. Pada Februari 2005, mereka mulai mencari lahan untuk pabrik. Di kawasan industri Cikande, Banten, mereka mendapat lahan bekas pabrik kabel seluas tiga hektare.

Selain di Cikande, mereka juga membeli gudang di Balaraja kilometer 22, Serang, Banten. Gudang seluas 2 hektare itu dipakai menyimpan alat-alat cetak ekstasi dan peralatan akrilik milik Budhi Cipto.

Lalu, Benny membeli lagi dua gudang di Kawasan Industri Jatake, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang. Gudang-gudang itu dipakai menyimpan bahan baku ekstasi dan sabu-sabu. Pada Februari itu juga, Budhi pindah dari Solo ke Jakarta. Di Jakarta, Budhi menempati Apartemen Mediterania Garden di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.

Kepada polisi, Benny menjelaskan, perekrutan warga negara asing berasal dari beberapa sumber. Lima orang warga negara Cina merupakan utusan Wong. Sedangkan Garnick Nicholas, 61 tahun, warga Belanda, dan Serge Atloci, 42 tahun, warga Prancis, dikenalnya dari Max, temannya yang warga Belanda.

Pada 1990-an Garnick pernah bekerja di pabrik ekstasi di Belanda. Ia bertugas meracik ekstasi. Serge, yang ahli mesin, bertugas mengawasi mesin. Kedua orang asing ini tinggal di Apartemen Mediterania Garden.

Sedangkan orang lokal hanya bertugas sebagai petugas keamanan dan pegawai administrasi, termasuk Arden Christian, putra Benny. Kepada polisi, Arden mengatakan hanya bertugas mengantar bapaknya ke Cikande. ”Kami belum tahu seberapa jauh keterlibatan dia,” kata polisi.

Setelah gudang, pabrik, dan tenaga ahli siap, peralatan untuk mencetak ekstasi pun diimpor dari Taiwan pada Mei lalu. Pada bulan yang sama didatangkan 280 kilogram ketamin dari Malawi, Afrika. Ketamin merupakan zat psikotropika yang dua bulan terakhir mulai digemari penggila klub dan pesta di Jakarta (lihat, Fly Bersama Ketamin).

Selanjutnya, sindikat ini mendatangkan lagi ratusan kilogram bahan baku ekstasi dan sabu-sabu dari Cina. Proses memproduksi ekstasi dan sabu-sabu pun dijalankan awal November. Diperkirakan, pabrik ini mampu menghasilkan sejuta pil ekstasi dalam sebulan. Namun, belum sepekan beroperasi, polisi sudah menggerebek.

Kendati lumayan runut, keterangan Benny kepada polisi ini masih banyak bolongnya. Mungkinkah dalam hitungan bulan ia sudah menjadi tokoh dalam kejahatan terorganisasi? Agak aneh jika ada bandit narkoba dari Hong Kong dalam hitungan bulan langsung percaya dan memberinya modal untuk membangun jaringan di Indonesia.

Sampai akhir pekan lalu, Benny belum memberikan keterangan lebih maju menyangkut keterlibatannya dalam dunia kejahatan berkelas internasional seperti itu. Menurut Komisaris Polisi Wenny Roza, penyidik dari Badan Narkotika Nasional (BNN), semua tersangka ketika diperiksa selalu berkelit dan membela diri. Benny, misalnya, menunjuk Budhi dan Peter Wong sebagai orang penting di pabrik ekstasi itu. Sedangkan Budhi justru mengaku dijebak Benny.

Lain lagi keterangan Agus alias Acai, penjaga gudang pabrik ekstasi di Jatake. Menurut dia, Benny dan Budhi pernah berbisnis ekstasi di Mauk, Tangerang, pada penghujung 2004. Pil ekstasi yang dihasilkan saat itu dikirim ke Filipina.

Fakta lainnya, Benny sudah menjalin hubungan dengan dua perwira polisi untuk menjadi beking bisnisnya. Ia bahkan sesumbar sudah menyogok perwira itu Rp 3 miliar. Dua perwira polisi yang dimaksud adalah anggota Direktorat Antinarkoba Markas Besar Kepolisian, Ajun Komisaris Girsang dan Komisaris Damanik. Keduanya kini mendekam di balik sel Badan Reserse dan Kriminal Polri. Tentu bukan sembarang bandit yang mampu bermain mata dengan perwira.

Itu sebabnya, Direktur IV Narkoba Badan Reserse dan Kriminal Polri, Brigadir Jenderal Polisi Aryanto Sutadi, yakin Benny bukan pemula dalam bisnis narkoba. ”Dia sudah membangun jaringan dengan sindikat narkoba di Hong Kong,” katanya. Benny, menurut Aryanto, telah lama berhubungan dengan Peter Wong. ”Peter Wong kini menjadi buron polisi Hong Kong,” katanya.

Jika ditelisik lebih jauh, boleh jadi pemain yang menjadi simpul sindikat adalah Max, orang yang diakui Benny sebagai temannya. Tokoh Max ini mirip Jaap, pria asal Utrech, Belanda, yang selalu muncul dalam beberapa kasus pabrik ekstasi di Indonesia.

Nama Jaap pertama kali muncul saat penangkapan Burhan Tahar pada 2 September 1998. Burhan alias Tjan Bak Han, 58 tahun, dituduh sebagai pemilik pabrik ekstasi di Kreo Batas, Cileduk, Tangerang.

Burhan, yang saat itu cuma dihukum empat bulan penjara, ternyata punya koneksi dengan Ang Kim Soei, 52 tahun, pemilik pabrik ekstasi di Tangerang. Pabrik Ang Kim Soei yang mampu mencetak 12 ribu butir ekstasi per hari itu digerebek polisi pada April 2002. Majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang sudah menjatuhkan hukuman mati pada 13 Januari 2003.

Burhan dan Ang Kim Soei ternyata memiliki jejaring dengan Hans Philip, pemilik pabrik ekstasi di Jasinga, Bogor, yang digerebek polisi April lalu. Pemilik pabrik yang mampu mencetak 840 butir ekstasi per menit ini telah tewas ditembak polisi.

Menurut data Kepolisian Daerah Metro Jaya, simpul jejaring tiga mafia narkoba ini adalah Jaap. Ia selalu terkait dengan pabrik ekstasi milik tiga bandit itu. Jaap hingga kini belum tertangkap. Burhan alias Tjan Bak Han, yang belakangan diketahui memiliki beberapa pabrik ekstasi, juga sedang dikejar-kejar polisi.

Apakah jaringan Benny ini berdiri sendiri atau bertali-temali dengan tiga bandit itu? Polisi belum punya jawaban pasti. ”Dugaan itu masih dalam tahap penyelidikan,” kata Jenderal Sutanto, Kepala Polri yang juga masih menjadi Kepala Pelaksana Harian BNN.

Sutanto curiga kasus Benny ini juga melibatkan mafia Hong Kong. ”Pabrik itu pernah mengirim ekstasi ke Hong Kong,” katanya. Lantaran itu, dalam menyelidiki kasus ini polisi juga melibatkan aparat penegak hukum negara lain, seperti Hong Kong, Taiwan, Singapura, Amerika, Belanda, dan Prancis. ”Karena berkaitan semua. Ini kejahatan global,” ujarnya.

Seorang perwira polisi dari kepolisian Jakarta menduga, dalam kasus Benny berlaku aturan baku dunia mafia, yaitu jaringan sistem sel yang terputus. Para bandit tak saling kenal saat berhubungan sehingga sulit dikaitkan secara hukum.

Di ruang pemeriksaan Badan Narkotika Nasional, Benny terlihat lelah setelah diinterogasi sampai tengah malam. Seusai pemeriksaan, ia berjalan gontai diapit dua polisi kembali ke sebuah ruangan di lantai lima yang menjadi tempat penahanan sementara. Jika semua cerita itu benar, pria kelimis itu kemungkinan besar diancam hukuman mati.

Nurlis E. Meuko, Eni Saeni (Rangkasbitung), Erwin Daryanto


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831015210



Kriminalitas 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.