Surat 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

Presiden Gembira, Teroris Merana

PRESIDEN berkunjung ke Serang, Banten, untuk melihat pabrik ekstasi yang telah digerebek polisi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat mengajak rombongan dan para wartawan makan siang bersama di rumah makan padang di wilayah Serang. Presiden diberitakan begitu akrab dengan para wartawan sambil menjelaskan keberhasilan polisi dalam melakukan aksi penggerebekan terhadap gembong terorisme Dr Azahari dan pabrik ekstasi. Dalam waktu dekat, Presiden juga mengharapkan adanya penangkapan terhadap para koruptor kelas kakap. Presiden terlihat begitu gembira. Keberhasilan polisi memburu para teroris dan para gembong narkotik merupakan prestasi pemerintah Yudhoyono-Jusuf Kalla yang dapat dibanggakan semua pihak di tengah-tengah miskinnya prestasi yang dapat dicapai oleh aparat keamanan dan aparat penegak hukum.

Masyarakat hampir-hampir pesimistis, bahkan frustrasi, dengan kondisi ekonomi yang melilit akibat kenaikan harga bahan bakar minyak yang di atas 125 persen. Evaluasi satu tahun pemerintahan SBY-JK hampir-hampir ditandai dengan tidak adanya prestasi dari para pembantu Presiden. Namun, situasi berubah ketika media massa menyiarkan secara luas berita menggemparkan tentang tewasnya gembong teroris dalam kontak senjata dengan aparat keamanan. Sehari kemudian, masyarakat juga digemparkan dengan berita keberhasilan polisi menggerebek pabrik ekstasi terbesar ketiga di dunia. Evaluasi satu tahun pemerintahan SBY-JK menjadi begitu penting untuk dipaparkan kepada wartawan, terutama evaluasi di bidang keamanan.

ARDININGSIH Jalan Sawo Manila, Jakarta Selatan



Penangkapan Azahari

161830787870

TEWASNYA gembong teroris dan pakar pembuat bom yang paling dicari di Indonesia dan Asia Tenggara, Dr Azahari, dalam sebuah penggerebekan di sebuah vila di Jalan Flamboyan Raya, Kota Batu, Jawa Timur, membuat masyarakat Indonesia merasa gembira dan lega, setidaknya untuk sementara ini. Barangkali juga ini merupakan suatu rahmat dari Allah SWT kepada warga Indonesia setelah melewati bulan Ramadan, yang secara khusyuk telah melakukan ibadah puasanya secara penuh. Di samping itu, acungan jempol patut diberikan kepada pihak aparat keamanan, khususnya kepolisian.

Bersamaan dengan penangkapan itu, Kepala Kepolisian RI Jenderal Sutanto mengungkap para pelaku bom Bali II, meski belum secara terperinci. Masyarakat percaya, semua ini tercapai berkat koordinasi yang digelar berbagai kepolisian daerah di Indonesia, walaupun keberhasilan itu hanya dapat tercapai apabila ada koordinasi langsung dari Markas Besar Polri, apakah itu dari Badan Reserse dan Kriminal ataupun pasukan khusus Detasemen 88. Dengan begitu, berbagai kepolisian daerah yang terkait dengan para teroris bergerak secara kompak mengejar para teroris itu ke mana pun perginya.

Masyarakat Indonesia berharap penggerebekan rumah di Batu itu bisa menjadi kunci untuk menguak lebih lanjut jaringan Dr Azahari, terutama untuk menangkap Noor Din M. Top. Apalagi tertangkapnya beberapa anggota jaringan Azahari bisa memberikan penyadaran bagi semua pihak, mengapa sejumlah pemuda Indonesia sangat gampang terpengaruh oleh pemahaman salah seperti itu. Untuk itu, tugas para ulama, tokoh agama, dan masyarakatlah buat membimbing pemuda-pemudi bangsa Indonesia menuju jalan yang lurus.

SIS ANDONO Depok Timur


Solusi untuk Rakyat Papua

GUBERNUR Papua J.P. Solossa atas nama Menteri Dalam Negeri Muhammad Ma’ruf mengambil sumpah dan janji serta melantik tiga pemimpin definitif Majelis Rakyat Papua di Sasana Krida Kantor Gubernur Papua di Jayapura, Kamis (10/11). Mereka adalah Ketua Agustinus Alua, Wakil Ketua I Frans A. Wospakrik, dan Wakil Ketua II Hana Salomina Hikoyabi.

Sebagian besar rakyat Papua berharap banyak terhadap eksistensi majelis ini. Soalnya, majelis ini menjadi representasi kultural orang asli Papua yang dapat memperjuangkan hak-hak dasar orang Papua, bukan sebaliknya. Apalagi banyak pihak di Papua yang menyoroti secara subyektif eksistensi lembaga tersebut.

Hal itu menandakan beban tugas yang dipikul majelis itu sangat berat. Karena itu, semua anggota majelis jangan mudah terpengaruh, terprovokasi, dipolitisasi, apalagi menjadikan lembaga tersebut ajang untuk mencari keuntungan ekonomis semata. Ini amanat rakyat Papua yang harus dijaga dan dipelihara dengan benar oleh para anggotanya.

Pembentukan majelis yang sempat tertunda beberapa kali ini sangat mendesak. Lembaga ini antara lain berfungsi mengesahkan calon-calon Gubernur Papua dan Irian Jaya Barat, sebagaimana diamanatkan UU Nomor 21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.

Rayuan untuk mendapatkan uang haram, harta benda, ataupun kesenangan lainnya sangat menantang bagi anggota majelis di masa mendatang. Karena itu, penjabaran UU Otonomi Khusus, pasal demi pasal harus dipahami secara baik oleh semua anggota. Dengan demikian, implementasi di tengah masyarakat tidak asal jadi.

FANNY S. DOANSIBA Jakarta


Zina dalam Kolom Syu’bah

SANGAT menarik membaca kolom Syu’bah Asa berjudul Generasi Da’i Kue Bolu dalam Tempo No. 36, 6 November 2005, yang mengkritik ”cara beragama model sinetron” dalam kaitannya dengan perlombaan da’i di TPI.

Di antara kritikannya adalah tentang jawaban seorang penceramah kepada seorang perempuan yang bertanya apakah dosanya dapat diampuni setelah menyesal karena terus-menerus melakukan perbuatan zina dengan bekas pacarnya. Jawaban penceramah adalah, ”Seharusnya Ibu ini sudah tidak bertanya lagi. Karena bila hukum Islam ditegakkan, Ibu ini sudah mati dirajam.”

Syu’bah Asa tampaknya tidak setuju dengan hukum rajam untuk ibu yang sering berzina tersebut, dengan alasan ”Nabi sendiri menghindar-hindar melaksanakan hukum rajam”. Dia lebih memilih ketentuan dalam Al-Quran surat 4 ayat 24 yang berlaku bagi budak perempuan yang berzina setelah dikawinkan.

Sebagai orang awam mengenai hukum Islam, izinkan saya bertanya, mengapa untuk kasus itu Syu’bah Asa mendasarkan pendapatnya pada Al-Quran 4:25? Padahal, saya pikir ibu yang bertanya itu bukan budak perempuan. Bukankah ada ketentuan lebih tegas (yang mungkin menjadi dasar jawaban penceramah itu), yaitu Al-Quran 24:2, yang terjemahannya (Al-Quran dan Terjemahannya, Departemen Agama Republika Indonesia, 1978) berbunyi: ”Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. Jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” Meskipun demikian, saya tidak tahu apakah ”dera” dalam ayat tersebut sama dengan rajam.

M. SANOESI Jalan Lamtoro, Cinere, Depok


Terima Kasih, Makro

Ceritanya begini. Pada 10 November 2005 lalu, saya belanja minuman kemasan dalam gelas senilai Rp 59 ribu menggunakan kartu debit BCA di Makro Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tanpa saya sadari, kasir jaga menginput data senilai Rp 59 juta. Sampai di sini tak ada persoalan. Namun keesokannya saya tercengang saat Ibu Tiomas R. (leader cashier) memberi tahu bahwa uang di rekening BCA saya terkuras Rp 59 juta akibat kesalahan kasir Makro Kelapa Gading. Mendengar kabar tersebut, tentu saja saya kaget. Saya bergegas mengecek kebenaran kabar tersebut. Syukurlah, setelah bertemu dengan Mbak Tiomas dan dijelaskan masalah yang sebenarnya, saya merasa lega. Uang saya kembali tanpa berkurang sepeser pun.

Saya berterima kasih kepada IbuTiomas dan juga pihak Makro. Di tengah kehidupan warga Jakarta yang menjunjung paham kebendaan ini, saya bisa menemukan seseorang yang memiliki kejujuran dan bermoral tinggi.

JEFF SUPITH Tanjung Priok, Jakarta Utara


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830787870



Surat 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.