Kriminalitas 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Rayuan Burung Perkutut

Pembunuhan berantai di Pekanbaru terungkap. Tersangka mengaku menyodomi sebelas bocah, lima di antaranya dibunuh.

i

Petualangan pria bertubuh ceking itu berakhir di balik jeruji ruang tahanan Kepolisian Sektor Bukit Raya, Pekanbaru, Riau. Meski badan terkurung, ia tak galau. Lelaki keribo ini tetap rajin tersenyum.

Dialah Deri Harahap. Sejak dua pekan lalu pria 30 tahun itu ditahan karena diduga telah menyodomi sebelas bocah di Tampan, Pekanbaru. Dia mengaku sudah membunuh lima di antaranya.

Kisah tak elok itu mulai dilakukan setelah dia tak memiliki pekerjaan tetap. Pria yang cuma berpendidikan sekolah dasar ini pernah menjadi buruh di sebuah perusahaan kayu di Pangkalan Kerini, Pelalawan, Riau, pada 1997. Empat tahun kemudian Deri dipecat. Kehidupan rumah tangganya pun berantakan. Dua kali kawin-cerai, tapi dia tak menceritakan penyebabnya.


Setelah menduda dan menganggur, sulung dari enam bersaudara ini memboyong tiga anaknya dari Pelalawan ke Pekanbaru. Ibunya, Yusni, yang selama ini tinggal bersamanya, turut serta. Ayahnya, S. Harahap, sudah meninggal sejak dia masih kecil. Di Pekanbaru, Deri mengontrak rumah di Jalan Putri Tujuh, Sidomulyo Barat, Tampan.

161831130790

Ketika menganggur itulah, pada 2001, Deri berkenalan dengan pria separuh baya. Dia menyapanya paman. ”Namanya saya lupa,” katanya.

Si Paman menjanjikannya pekerjaan. Syaratnya, Deri harus melayaninya bersodomi. Dia tak menolak, apalagi si Paman juga memberinya uang. Hubungan tak normal ini hanya berjalan dua bulan, selanjutnya si Paman menghilang.

Sambil menunggu janji yang tak pasti, Deri bekerja serabutan. Terkadang memulung barang bekas, di lain waktu menjual pot bunga, dan pernah pula menjadi buruh bangunan. Dia pun kerepotan menyalurkan syahwatnya. Belakangan Deri mengatakan tak menyukai wanita. Malah dia sering membayangkan bersebadan sesama pria. ”Saya suka pada anak kecil,” katanya.

Deri tergiur melihat bocah berkulit putih dan berbadan montok. Anak lelaki seperti itulah yang pertama kali disodomi di Air Dingin, Marpoyan Damai, Pekanbaru, pada 2002. Setahun kemudian diulangi di Gobah, Pekanbaru, dengan korban lain. Dua bocah ini sama sekali tak dikenalnya.

Pada 2004, Deri menyodomi empat anak kecil. Kali ini perbuatannya mulai sadistis. Sebab, salah satu bocah dibunuh dulu baru disodomi. Ini terjadi di semak dekat Jalan Blora, Sidomulyo. Sejak itu, dia gemar menyodomi jasad bocah. Bahkan aksinya pada 18 Februari lalu semakin kejam. Deri membunuh lalu menggarap dua bocah dalam satu hari.

Mula-mula diculiknya Syaiful Amri. Bocah tujuh tahun ini dijemput di sekolahnya, Sekolah Dasar Negeri 39 Tampan. Jasad Syaiful setelah disodomi dicampakkan ke belukar di belakang sekolah. Tak lama kemudian, dia menculik Ibrahim, teman sebangku sekolah sekaligus tetangga Syaiful di Kelurahan Delima. Jasad Ibrahim juga disurukkan ke semak di belakang sekolah.

Gegerlah penduduk Tampan. Warga bahu-membahu mencari korban. Ronda digiatkan. Untuk menyembunyikan ulahnya, Deri pun ikut dalam tim penjaga kampung.

Warga kelurahan Delima kembali geger dengan hilangnya dua bocah lagi pada 21 April lalu. Pelakunya, ya, Deri lagi. Dia mengaku, mula-mula menculik Khairil Anwar, 11 tahun. Korban dirayu saat berpapasan di Jalan Delima. Deri bilang ada burung perkutut di belukar dekat perkampungan, dan mengajaknya menangkap bersama.

Khairil yang memang mengenal Deri tak menolak. Begitu sampai di lokasi sepi, Deri pun beraksi. Dicekiknya leher bocah itu hingga tewas. Dia lalu menyodomi jasad Khairil dua kali. Saat keluar dari semak, dia berpapasan dengan Bayu Prayuda, 9 tahun. Nasib malang pun menyergap teman sepermainan Khairil ini.

Warga Tampan jelas kalang-kabut karena kehilangan empat bocah dalam tiga bulan. Mereka sibuk mencari korban. Deri tentu saja ikut sibuk, meski cuma berpura-pura.

Belakangan, jenazah empat bocah ini ditemukan berserak di beberapa kawasan berbelukar di Tampan, pada Mei lalu. Di belakang SD Tampan, ditemukan jenazah Syaiful dan Ibrahim. Jasad Khairil dan Bayu tergolek di semak dekat Kampung Delima.

Sejak itu, warga dicekam ketakutan. Pemuda di Tampan bergiliran menjaga beberapa sekolah dasar yang ada di sana. Para orang tua pun menunggui anaknya hingga pulang sekolah.

Karena tidak ada yang mencurigainya, Deri pun leluasa bekerja seperti biasa, memulung barang bekas. Tong sampah yang paling sering disambangi berada di salah satu rumah di Jalan Pelita, Perumahan Sidomulyo, Tampan. Rupanya, dia mengintai gerak-gerik Toni (bukan nama sebenarnya), bocah 10 tahun di rumah itu. Keduanya sudah saling mengenal. Sulung tiga bersaudara ini menyapa Deri dengan sebutan ”om”.

Hari nahas Toni pun datang pada awal November lalu, setelah ibunya, Gusmanio, menyuruhnya membeli pakan ternak. Begitu Toni keluar rumah, Deri sudah menunggu di pintu pagar sambil menyapa ramah. ”Hendak ke mana?” pria berkulit cokelat ini bertanya. Toni menjawab seadanya sambil terus berjalan. Deri lalu memancal sepedanya, membuntuti.

Deri pun mengatakan temannya ada yang menjual pakan ternak murah. Tak lupa dia cerita, di tempat temannya itu ada burung perkutut yang boleh diambil Toni secara cuma-cuma.

Rayuan Deri mujarab. Toni mengangguk saat disuruh loncat ke sadel sepeda. Deri sigap mengayuh, lalu belok ke arah semak di Permata Paus Panam. Lokasi ini sudah masuk kecamatan Bukit Raya. Sidomulyo adalah desa yang berada di perbatasan antara Tampan dan Bukit Raya.

Saat berada di tempat sunyi, dia langsung menjatuhkan sepedanya. Toni ikut tersungkur. Saat itulah Deri mengeluarkan seutas tali sepatu dari sakunya. Dijeratnya leher korban hingga semaput. Setelah Toni tak bergerak, dia pun melampiaskan nafsunya. Selanjutnya Deri menyurukkan tubuh bocah yang dikiranya sudah tewas itu ke belukar.

Anak yang tak kunjung pulang hingga sore membuat keluarga gelisah. Akhirnya keluarga, dibantu warga, mencari korban. ”Waktu itu yang terbayang hanya soal sodomi. Kami cemas bukan kepalang,” kata Hasyim, kerabat Gusmanio.

Salah seorang tetangga Gusmanio melihat Toni dibawa lelaki bersepeda menuju semak di belakang perumahan. Ke sanalah warga mencari Toni. Menjelang magrib, warga mendengar rintihan bocah. Mereka pun berhamburan ke sumber suara di semak belukar. Semua terpana melihat Toni yang telanjang duduk menangis. ”Tali sepatu masih melilit di lehernya,” kata Hasyim.

Hari itu juga mereka melapor ke Kepolisian Sektor Bukit Raya. Setelah jiwanya agak tenang, Toni dapat memberikan gambaran orang yang menyakitinya, yakni seorang pemulung berambut keribo bertubuh kerempeng. Ciri ini gampang dikenal. Malam itu juga, 12 polisi menjemput Deri di rumah kontrakannya.

Deri tak melawan. ”Tersangka gelagapan saat disebut korbannya masih hidup. Dia pun mengakui perbuatannya,” kata Ajun Komisaris Polisi Des Ando, perwira dari Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, yang memimpin penangkapan Deri.

Setelah menjalani pemeriksaan dua pekan, akhirnya Deri mengaku menyodomi 11 bocah, dan lima di antaranya dibunuh. Pengakuan ini berbeda dengan data Polresta Pekanbaru bahwa dalam empat tahun terakhir ada 16 kasus sodomi bocah, enam di antaranya tewas. Tapi Deri berkukuh dengan keterangannya.

Tertangkapnya Deri amat mengguncang warga Putri Tujuh. Mereka tak menyangka Deri sekejam itu. Amri Leo, koordinator keamanan Putri Tujuh, Tampan, mengatakan Deri rajin salat. ”Dia selalu ramah jika berpapasan dengan kami,” kata Amri Leo.

Beberapa warga yang bertetangga dengan Deri melihatnya sebagai pria yang rajin menolong. Misalnya, Asmiati mengatakan sering menyuruh Deri membersihkan halaman dan memotong rumput. ”Dia menurut tanpa mematok harga,” katanya.

Bahkan Amrizal terpana begitu mengetahui dialah pembunuh Ibrahim, putranya. Beberapa hari sebelum ia ditangkap polisi, Amrizal sempat menyuruh Deri menghitung pembuatan pagar rumahnya. ”Dia juga tukang. Kami sering salat bersama, termasuk salat Idul Fitri,” kata Amrizal, pegawai negeri di Pekanbaru.

Ibu Deri, Yusni, yang akrab disapa Ibu Yus, juga dikenal ramah. Warga sering melihatnya salat magrib dan isya di masjid. Kini, Yus dan tiga cucunya harus menjadi tumbal kelakuan Deri. ”Setelah anaknya ditangkap, kami minta mereka pindah. Kami tidak mau ada ekses negatif,” kata Amri Leo. Kini mereka sudah hengkang dari Putri Tujuh. ”Entah ke mana.”

Keluarga korban meminta agar Deri dihukum berat. ”Sebaiknya dia dihukum mati saja. Dia harus dibunuh juga,” kata Netty Sitanggang, ibu Ibrahim.

Polisi menuduh tersangka bersalah melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak. Dia bisa dihukum mati atau penjara seumur hidup. Ancaman hukuman ini tak membuat Deri pucat. Dia hanya menunduk. Dua tangannya memegang jeruji besi erat-erat.

Nurlis E. Meuko, Jupernalis Samosir (Pekanbaru)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831130790



Kriminalitas 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.