Indikator 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text
i
Apakah Anda yakin Umar al-Faruq melarikan diri dari Penjara Bagram, Afganistan?
(9—16 November 2005)
Ya
26,83%77
Tidak
60,63%174
Tidak tahu
12,54%36
Total100%287

Lengkap sudah keangkeran sosok Umar al-Faruq. Beberapa tahun silam, intelijen Amerika menyebut Faruq sebagai tangan kanan Usamah bin Ladin—dan pimpinan Al-Qaidah—di Asia Tenggara. Pada awal bulan ini, Faruq diberitakan meloloskan dari Penjara Bagram, Afganistan.

Pelarian Al-Faruq terungkap dalam persidangan Sersan Allan Driver, seorang prajurit Amerika yang dituduh menganiaya tahanan di Kamp Bagram. Pengacara Driver mempertanyakan ketidakhadiran Faruq, yang diajukan sebagai saksi. Jawaban sang jaksa sungguh mengagetkan: Faruq tak bisa dihadirkan karena ia telah melarikan diri bersama tiga tahanan lain pada Juli.

Amerika selama ini tak pernah mengungkap kabar tentang adanya pelarian tahanan dari Bagram yang awalnya ditangkap oleh aparat intelijen Indonesia tiga tahun silam itu.


Kisah pelarian Faruq semakin dipertanyakan karena penjagaan Bagram yang ekstraketat. Selain dikelilingi kawat duri, penjara itu juga dikepung ranjau darat. Sepanjang hari tentara koalisi Amerika dan Afganistan mengawasi Bagram.

161830815564

Keengganan Amerika mengakui kaburnya Faruq membersitkan spekulasi lama tentang siapa sesungguhnya Faruq. Saat Faruq ditangkap, tak sedikit yang meragukan keterkaitan Faruq dengan jaringan teror. Keluarga Faruq yang berdiam di Cijeruk, Bogor, selama ini hanya mengenal Faruq sebagai pedagang.

Artikel tentang kiprah Faruq sebagai teroris pernah dimuat di majalah Time, tiga tahun lalu. Dalam artikel itu, karier Faruq dalam dunia teror bermula dari pelatihan di kamp Al-Qaidah di Khaldan, Afganistan.

Faruq sempat ditugasi oleh Al-Qaidah untuk membantu Front Pembebasan Islam Moro, Filipina Selatan. Kiprah Faruq melebar ke Indonesia. Faruq dilukiskan dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo. Ba’asyir sendiri berkali-kali membantah mengenal Faruq.

Tak sedikit responden Tempo Interaktif yang menduga ada udang di balik kisah pelarian Faruq. ”Pihak yang mengumumkan pelarian Faruq pasti memiliki tujuan lain,” ujar Willy, responden Tempo Interaktif di Medan.

Indikator Pekan Ini:

Setelah mengungkap kasus penyuapan di KPU, bidikan Komisi Pemberantasan Korupsi kini mengarah ke Mahkamah Agung. Para penyidik KPK tengah melacak kemungkinan persekongkolan yang melibatkan para petinggi MA dalam kasus tindak pidana korupsi senilai Rp 100,9 miliar dengan terdakwa Probosutedjo.

Tersangka penyuap adalah Harini Wijoso, pengacara Probosutedjo yang juga merupakan mantan hakim tinggi. Harini, saat diperiksa KPK, mengaku menemui Ketua MA Bagir Manan pada awal September tahun ini. Dalam pertemuan itu, Harini, yang baru pensiun dari jabatan hakim, mengaku tak sekadar berpamitan dengan Bagir. Kala itu Harini juga menyinggung kasus dugaan korupsi kliennya.

Setelah mendengar keterangan Harini, KPK merasa perlu memanggil Bagir. Namun, Bagir tak datang hingga panggilan kedua KPK, awal pekan lalu. ”Keterangan sudah diberikan oleh wakil ketua (Mahkamah Agung Marianna Sutadi),” ujar Bagir tanpa menjelaskan secara rinci alasan ketidakhadirannya.

Menurut Anda, apakah sikap Bagir Manan yang tidak memenuhi panggilan KPK pada Senin (14/11) menghambat upaya pemberantasan korupsi? Kami tunggu jawaban dan komentar Anda di www.tempointeraktif.com


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830815564



Indikator 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.