Iqra 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

Ghosh dalam Esai

The Imam and The Indian Kumpulan Esai (2002)

Dalam The Imam and The Indian, Ghosh bersikap sebagai antropolog, Hindu India non-Barat sekaligus sastrawan. Dia juga tidak bisa lepas dari konteks ikatan India dan Mesir sebagai negara Hindu dan Islam. Buku kumpulan esai Ghosh ini didasarkan pada pengalamannya melakukan riset di Mesir pada awal 1980-an.


Dalam Categories of Labour and the Orientation of the Fellah Economy, misalnya, Ghosh menelaah sejarah dan metafisika berbagai ragam kehidupan pedesaan. Pendekatannya, di mata sejumlah kalangan, sekelas Clifford Geertz. Sedangkan The Ghat of the Only World, menunjukkan Ghosh sebagai sastrawan. Dia menulis tentang puisi-puisi Agha Shahid Ali, mendiang penyair Kashmir-Amerika yang lahir di New Delhi dan besar di Kashmir. Dalam The Ghat, Ghosh menuliskan kritik sekaligus obituari dan dia menuliskannya secara liris sekaligus analitis.

161831092269

Dia juga menuliskan pengalamannya di Mesir sebagai kritik diri, yaitu ketika dia berdebat dengan seorang kiai puritan di sebuah desa. Ghosh beradu argumentasi tentang cara pemakaman Islam dengan cara dikuburkan sedangkan dalam Hindu dibakar. Sang imam menuduh kremasi mayat sebagai primitif. Ghosh pun berargumentasi bahwa di negara-negara Barat pun mayat dibakar, bahkan mereka punya peralatan khusus untuk itu. Ya, meskipun sebagai antropolog, akademisi, dan aktivis, Ghosh memiliki rasa ”suka dan tidak suka” yang kuat; tapi sebagai penulis sastra, kelasnya tidak diragukan lagi.

Batas Gelas Tanah Bengal

The Shadow Lines Novel (1998)

Hubungan antarmanusia tidak dapat dipisahkan oleh batasan politik buatan manusia. Itulah pesan besar novel kedua Amitav Ghosh, The Shadow Lines. Pasca-kemerdekaan Pakistan dan India, Bengal terbagi dua, yang kemudian mengarah ke pembentukan negara Bangladesh sebagai buntut Perang Sipil Pakistan pada 1971. Buku ini fokus pada kisah keluarga yang menjadi korban—bagaimana kehidupan mereka berubah drastis—akibat pemisahan politis ini.

Ghosh yang dikenal sebagai penulis sastra yang sensitif terhadap pemisahan ”paksa” yang berdampak pada jiwa manusia itu, dengan nyata mengekspresikan kesakitannya sendiri melalui buku ini. Dia menggambarkan keluarga yang ingin pergi dari Kalkuta, India, menuju Dhaka, Bangladesh. Seorang nenek—salah satu anggota keluarga itu—ingin ditunjukkan batas antara India dan Pakistan Timur dari pesawat. Sang nenek sama sekali tidak mengerti mengapa harus ada batas itu jika sebenarnya batas itu tidak ada.

Ini adalah buku berharga untuk memahami budaya India sekaligus humanisme. Tapi ada kritik, dalam buku ini, Ghosh membuat India penting secara berlebihan.

Sejarah Eksentrik dari Latavia

In Antique: Land History in the Guise of a Traveler’s Tale Buku Sejarah

Cerita ini terjadi di Latavia, sebuah desa kecil di kawasan delta Sungai Nil, Mesir, yaitu ketika Amitav Ghosh melakukan penelitian antropologi tentang manuskrip pedagang Yahudi yang hidup di abad ke-12 yang berisi cerita tentang budak-budak India. Setiap pagi hingga siang, Ghosh disibukkan dengan lembar-lembar dokumen era medieval. Di malam hari, dia marah-marah, meneriaki pemilik rumah kosnya yang suka menyalakan radio keras-keras.

Maka, jadilah buku yang seharusnya menjadi buku sejarah ”serius” menjadi sebuah cerita menarik tentang kehidupan sehari-hari sebuah desa kecil di delta Sungai Nil. Ada kisah Khamees the Rat, seorang yang jelas-jelas impoten tapi doyan kawin. Lalu Zaghoul yang terobsesi pergi ke India mengendarai keledai. Mohammad bermata satu yang tergila-gila pada seorang gadis sehingga rela bermalam di luar tembok rumah si perempuan hanya demi mendengarkan desah napasnya. Ada juga kisah Amm Taha, dukun paruh waktu yang bersedia mengeluarkan mantra-mantra demi sedikit uang. Ghosh sendiri dikenal sebagai dokter India yang tidak disunat, seorang kafir pemuja sapi yang menolak menjadi muslim.

Cara Ghosh menulis begitu blak-blakan, tanpa sensor dan merupakan gabungan dari percakapan sehari-hari, riset, imajinasi, dan antropologi. Jadilah The Antique Land sebagai buku sejarah eksentrik tentang hubungan antara Mesir dan India.

Inspirasi Dari Kalkuta

The Calcutta Chromosome Science Fiction

Ghosh lancar menuturkan roman misteri ini dari alur cerita variasi dan masa berlainan. Ada Antar, pria berdarah Mesir di abad ke-20 yang merantau ke New York, atau petualangan ”orang hilang” L. Murugan yang terobsesi pada Ronald Ross, peraih Nobel 1902. Yang tak kalah menarik, Urmila Roy, wartawan India yang meneliti penulis Phulboni yang memproduksi alur cerita ganjil pada 1930-an.

Alur cerita melompat dari satu tempo ke tempo lain, dari Kota Apel Besar di New York, padatnya Kalkuta, hingga kejenakaan kehidupan ras India abad ke-19. Lihat juga bagaimana Ghosh menampilkan Antar yang pernah hidup di masa kelam, dibandingkan era kehidupan cyber saat ini.

Teguh pada nalar, dibumbui teori ilmiah tentang malaria, fiksi murni ini miskin narasi. Karya ini, konon, lebih komersial, tak seperti The Hungry Tide yang diganjar penghargaan Hutch Crossword Book Prize, hadiah sastra bergengsi India, Januari lalu.

Kabarnya, karya ”keturunan Kalkuta” ini dilirik sutradara Italia, Gabriele Salvatores yang memegang hak cipta film, tiga tahun ke depan, namun belum pasti kapan akan dirilis. Yang jelas, bila jadi difilmkan, karya Ghosh, yang termasuk penulis pascakolonial ini mengikuti jejak penulis asal Afrika Selatan, Antjie Krogg, lewat Country in My Skull.

Dua Sejarah Kelam

Dancing in Cambodia, At Large in Burma (1998) Kumpulan Esai (1998)

Kamboja dan Burma sama menariknya. Penuh sejarah masa lalu, kelam dan penuh tekanan—Burma masih ditekan oleh junta militer. Demikian catat Ghosh dalam buku itu.

Tulisan perjalanan agak panjang ini bersumber dari kumpulan cerita Kamboja pada 1906. Cerita mengenai pelayaran raja dan penari istana ke Marseillaise, Prancis—lama sebelum Pol Pot. Revolusi di kerajaan dan hubungan dengan Prancis merupakan tema tulisan ini.

Sebagai ahli antropologi, Ghosh mendapati kesaksian Chea Samy, mantan penari istana, direkrut sejak usia 6 tahun. Itu masa keemasan istana Kamboja sebelum negeri itu porak-poranda oleh rezim Pol Pot—ipar Samy yang masih kerabat selir Raja.

Saloth Sar—nama asli pemimpin kejam ini—pernah tinggal di istana sebelum mempelajari ideologi tokoh puritan Prancis Robespierre yang dikenal dengan teror dan paham pemusnahan manusia yang kemudian hari diterapkan di Kamboja. Bahkan ia menghabisi kerabatnya sendiri.

Setelah berakhirnya rezim Pol Pot, kehidupan berkesenian—tari klasik—pulih. Ini tak bisa dihancurkan sekalipun terjadi pemusnahan manusia. Pada 1988, dengan penuh kesedihan dan kebahagiaan, masyarakat menengah ke atas menampilkan kembali seni tari yang membawa nama harum hingga ke Prancis.

Pada tulisan At Large in Burma, Ghosh menampilkan bagaimana sebuah negara di Asia masih terasing dari dunia luar hingga kini. Figur utama Aung San Suu Kyi dan Kanenni menjadi sorotan Ghosh.

Kanenni, sebuah kamp pengungsian di perbatasan Thailand yang dikunjungi turis, dikenal dengan keunikan para wanita yang memakai kalung demikian banyaknya sehingga ”memaksa” leher mereka memanjang bak leher jerapah. Para turis datang melihat mereka seraya melupakan ketertindasan penduduk sederhana pedesaan itu, yang menjadi komoditas tontonan belaka.

Kepedulian Ghosh menjadi tema besar dalam bukunya The Shadow Lines. Banyak wilayah dari beragam etnis di perbatasan Burma yang tidak ingin menjadi negara terpisah.

Apa yang jadi pemikirannya adalah bagian dari sejarah mikro yang masih bisa diperbincangkan: berpegang pada cermin peradaban masa kini, berpijak pada kasus Kanenni, sejarah harus berubah.

Bina Bektiadi dan Evieta Fadjar P.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831092269



Iqra 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.