Kriminalitas 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Fly Bersama Ketamin

Dalam dosis tinggi ketamin bisa menyebabkan depresi, pikiran tak waras, dan amnesia. Mengapa Undang-Undang Psikotropika belum mengatur obat ini?

i

Wujudnya berupa serbuk berwarna putih kekuningan seperti tawas, ada juga yang berupa cairan. Di kalangan pemakai narkotik dan obatan-obatan terlarang di Indonesia, obat bius bernama ketamin sedang menjadi mainan baru.

Jika dalam bentuk serbuk, caranya dengan disedot lewat hidung. Sedangkan yang berupa cairan disuntikkan ke pembuluh darah. Di tangan ahlinya, ketamin bisa dijadikan bahan baku ekstasi alias ”pil godek”. Jenis inilah yang ditemukan polisi saat menggerebek pabrik milik komplotan Benny Sudrajat, dua pekan lalu, di Cikande, Tangerang, Banten.

Kendati bentuk dan cara penggunaan bermacam-macam, ketamin tetap membuat fly dan memicu halusinasi. Polisi sempat mengira ketamin adalah sabu-sabu. ”Ketamin serupa psikotropika, efeknya hampir sama,” kata Sugeng Rikolo, Kepala Satuan III Obat Berbahaya, Direktorat Narkoba, Polda Metro Jaya.


Obat bius jenis baru ini diperkirakan masuk ke Jakarta dalam dua bulan terakhir. Tak aneh jika baru dua kasus yang ditangani polisi. Untuk penanganan secara nasional, Markas Besar Kepolisian RI baru mengirim surat edaran ke daerah-daerah sebulan lalu. Intinya, ketamin termasuk kategori barang narkotik tingkat pertama.

161831226021

Di dunia medis, ketamin dikembangkan sebagai obat anestesi pada 1962 sebagai upaya mencari pengganti phenylcyclohexylpiperidine alias PCP. Harapan awal, ketamin bisa lebih aman dibanding PCP. Pada mulanya, obat ini digunakan di kalangan tentara Amerika Serikat dalam Perang Vietnam. Kini ketamin jarang digunakan karena bisa menimbulkan pengalaman-pengalaman di luar tubuh yang tak mengenakan.

Meski begitu, obat ini masih banyak dipakai kalangan kedokteran hewan sebagai penenang atau pembius saat akan melakukan pembedahan. Ada tiga merek berbahan ketamin yang dijual di pasar, yakni Ketanest, Ketaset, dan Ketalar. Di Indonesia, ketamin bisa didapat di agen atau depo obat-obatan hewan, tapi tak dijual bebas. ”Penggunaannya harus dalam pengawasan dokter hewan,” kata drh Tri Satya Putri Naipospos, bekas Direktur Kesehatan Hewan, Departemen Pertanian RI.

Pemakaian untuk anestesi pada manusia harus dilakukan secara selektif. Maklum, ketamin tergolong obat keras. Anehnya, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Sampurno menyebutkan, ketamin tidak termasuk dalam Green List (Daftar Zat Kimia Psikotropika) dan Yellow List (Daftar Obat-obatan Narkotik) yang dikeluarkan International Narcotics Control Board.

Toh, Sampurno sangat mendukung penyelidikan polisi terhadap Benny dan kawan-kawan supaya keterkaitan penggunaan ketamin dalam pembuatan amphetamine type stimulant yang masuk golongan psikotropika segera diketahui. Pengusutan menjadi penting karena aturan main bahwa ketamin hanya boleh digunakan secara selektif sudah tak lagi dipatuhi.

Malah, belakangan, ketamin dipakai sebagai ”obat rekreasi” yang digemari kalangan muda pencinta ”dugem” alias dunia gemerlap. Di Amerika Serikat, menurut Drug Enforcement Administration, istilah jalanan yang biasa dipakai untuk ketamin adalah jet, super acid, Special ”K”, green, K, atau cat Valium. Di Indonesia, harga jual ketamin setara sabu-sabu, yakni Rp 200-400 ribu per gram.

Dalam dosis rendah hingga sedang, efek yang muncul pada pengguna ketamin adalah halusinasi. Ia akan dibuai mimpi dan pikirannya melayang-layang. Dalam dosis tinggi, ketamin bisa membuat mati suri. Terjadi efek seolah-olah roh keluar dari tubuh. Pengalaman mendekati kematian pun muncul dengan segala pernak-perniknya: melihat terowongan, semua serba sempurna, tak ada kata-kata, merasa benar-benar tenang dan senang, dan sebagainya.

Di balik kesenangan semu itu ada ancaman besar. Pengguna ketamin bakal didera berbagai gangguan kesehatan seperti depresi, pikiran tak waras, tekanan darah tinggi, dan amnesia. Masuk akal jika ketamin digolongkan sebagai obat berbahaya. Hingga kini Undang-Undang Psikotropika belum mengatur masalah ketamin. Toh, polisi tak surut. Untuk menjerat pihak-pihak yang menyalahgunakan ketamin, kata Sugeng, ”Kita akan pakai Undang-Undang Kesehatan.”

Dwi Wiyana, Nurlis E. Meuko


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831226021



Kriminalitas 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.