Nasional 4/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dua Penyidik, Satu Kasus

Tentara dan polisi melakukan penyidikan kasus pemenggalan tiga siswi di Poso. Mengapa pengungkapan kasus menjadi simpang-siur?

i

Firasat itu muncul melalui Mayor Saiful Anwar. Pada hari kedua Lebaran lalu, Komandan Batalion Infanteri 174 Sintuwu Maroso, Kabupaten Poso, itu bermimpi. ”Pelaku pemenggalan tiga siswi ditangkap,” katanya sambil berbisik kepada koleganya, Amrullah Sia, Kepala Dinas Sosial Poso, saat menghadiri acara halal bihalal di kediaman Komandan Korem 132 Palu, Kolonel Husen Malik.

Esok harinya, 5 November lalu, anak buah Saiful menemukan ceceran darah saat berpatroli di Bukit Bambu, Kelurahan Lombogia, Poso Kota. Desa tempat Alvita Polio (19 tahun), Yusrini Sampoe (15), Noviana Malewa (16), dan Theresia Morangke (16 tahun), ditebas lehernya oleh sekelompok orang bertopeng pada akhir Oktober lalu, ketika empat siswi SMA Gereja Kristen Poso itu sedang menuju ke sekolah. Dari semua korban itu hanya Noviana yang selamat dari aksi keji tersebut.

Jejak yang berupa ceceran darah itu pun ditelusuri tentara. Setelah menembus kebun cokelat milik warga sampai Lorong (jalan kampung) Sawerigading, Kelurahan Sayo, aparat negara itu bertemu Indri Halim, seorang pria bisu.


Setelah diinterogasi dengan bahasa isyarat, mengalirlah informasi penting dari Halim terkait dengan pembunuhan sadistis terhadap gadis belia itu. Berbekal informasi itu, para tentara mencokok lima warga Lorong Sawerigading. Mereka adalah Ridwan alias Oeng (25 tahun), satpam di Rumah Sakit Poso; Joni Muwala alias Papa Ulin (51 tahun), pensiunan polisi militer; Saleman Yunus alias Herman Akasi (28 tahun), yang sehari-hari sebagai ukang ojek; serta Jamiludin (25 tahun) dan Irvan Masero (23 tahun), keduanya petani. Sebagian tersangka pemeluk Islam dan sebagian Kristen.

161830999382

Halim mengaku melihat Ridwan membuka tutup kepala dan mengganti bajunya yang berlumuran darah. Ia juga melihat seorang di antara lima tersangka itu menenteng kepala korban. Hasil penyisiran lapangan, ditemukan dua golok berlumuran darah.

Kesaksian dan bukti itu ternyata tidak bisa menyeret para tersangka ke bui. Setelah tujuh hari menahan dan memeriksa para tersangka, tentara masih belum bisa menemukan bukti kuat keterlibatan lima tersangka itu. Padahal, batas waktu penahanan menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme adalah 7 x 24 jam.

Polisi yang diundang ikut membantu memeriksa pun angkat tangan. ”Golongan darah yang ada di golok berbeda dengan darah korban. Kita cuma punya satu pengakuan,” kata AKBP Rais D. Adam, juru bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Dan satu-satunya saksi, ya lelaki penyandang tunawicara alias bisu itu. Para tersangka sendiri pun gigih menyangkal. Alhasil, mereka dilepas. Tentara lantas memberikan sangu Rp 1 juta per orang, sebagai ganti penghasilan yang hilang selama ditahan.

Namun tentara tidak begitu saja ”melupakan” mereka. Akhir pekan lalu, Ridwan, Joni, dan Saleman ditangkap kembali dan diinapkan di Kodim Poso. Kali ini, tentara punya bukti kuat. Menurut Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Arif Budi Sampurno, berdasarkan tes DNA (deoxyribonucleic acid), ada kecocokan antara darah korban dan bekas darah di golok. ”Itu bukti tes darah terbaru,” katanya pekan lalu.

Namun keterangan tentara itu berbeda dengan pernyataan polisi. Menurut polisi, tiga orang itu dipanggil ulang sebagai saksi. ”Hanya dimintai keterangan soal temuan tes darah,” kata Rais D. Adam. Hingga akhir pekan lalu, polisi belum menentukan tersangka kasus pemenggalan kepala tiga siswi Poso.

Perbedaan ”persepsi” antara tentara dan polisi dinilai akan menghambat proses pengungkapan kasus yang menggemparkan itu. ”Tentara tak seharusnya ikut memeriksa kasus pemenggalan itu, sebaiknya hanya membantu,” kata Ali Mochtar Ngabalin, anggota Komisi Pertahanan DPR, yang berkunjung bersama dua rekannya ke lokasi kejadian pekan lalu.

Saksi kunci tinggallah Noviana Malewa, gadis yang kini terbaring lemah di Rumah Sakit Bhayangkara di Palu. Perlu waktu untuk membuat gadis belia itu mampu berbicara. Ia selamat karena para pembunuh itu mengira Novi sudah mati.

Sepekan setelah pemenggalan terjadi, aksi serupa terulang. Kini giliran dua siswi muslim menjadi sasaran tembak orang yang tidak bertanggung jawab. Pekan lalu polisi berhasil menciduk tersangkanya.

Situasi di Poso yang belum sepenuhnya pulih itu ikut menciutkan nyali warga untuk didapuk menjadi saksi aksi keji itu. ”Tak ada jaminan keamanan,” kata Ali.

Arif A. Kuswardono, Darlis Muhamad (Poso)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830999382



Nasional 4/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.