Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tafsir Hujan Teater Garasi

Repertoar Hujan tampil dalam Physical Theater Festival di Tokyo, 11 dan 14 November. Begitu tiba di Jakarta, langsung dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta.

i

Sebuah ember, sebuah meja mungil, dan ruangan dengan tangkai-tangkai bunga tergantung di atap. Mulanya perempuan itu menyiram kuncup bunga yang ”mekar” di ember. Lalu dimulailah ”krisis” terjadi. Lelaki itu menggeliat. Menerjang, menyusuri sang perempuan. Lalu datang wanita lain. Bertiga mereka terlibat dalam sebuah cengkerama, pergulatan, konflik.

Repertoar Hujan adalah karya Teater Garasi yang berangkat dari hal-hal personal. Ini sebuah impresi tentang kesepian dan hujan. Sebuah teater tanpa kata-kata sama sekali. Hanya mengandalkan gerak tubuh yang ingin mengatakan di luar hujan deras—dan di dalam tiba-tiba hasrat melonjak, tubuh bergairah, tapi hambar, penuh luka, penuh keterasingan satu sama lain.

Disutradarai Gunawan Maryanto dan Yudi Tajudin sebagai penyelia artistik, karya sepanjang 45 menit ini bertolak dari frase puisi Gunawan Maryanto: …seorang lelaki melintas di sela hujan dan seorang perempuan menyiram pot bunganya….


Empat tahun silam, tepatnya September 2001, di sebuah gudang pabrik tegel di Yogyakarta, yang berlantai semen, pertama kali karya ini ditampilkan. Tiga aktor: Jamaludin Latif, Sri Qadariatin, Bernadeta Verry Handayani—mereka bergulingan, bertangkupan, ”melampiaskan birahi”, membuat seluruh pakaian kotor.

161831075891

Seolah memang di luar hujan lebat dan di sini tanah becek. Sedari awal akting Jamaluding Latif memperagakan gerak anjing binal. Mendengus, merangkak dengan kaki terangkat satu, seolah itulah luapan paling instingtif ketika hujan deras dan di dalam rumah kita kesepian. Ada adegan ia menggigit sisir, lalu menyisir rambut Sri Qadariatin. Ada adegan Bernadetta menjilati rok merah Sri Qadariatin.

Dengan digarap ulangnya Repertoar Hujan, mereka yang pernah menyaksikan di Yogya dan juga di Teater Utan Kayu, Jakarta, tentunya mengharapkan tontonan ini lebih eksploratif, terutama interaksi di antara ketiga aktor, mengingat wilayah koreografi tari telah banyak menggarap kelindan tubuh dan erotika. Maka, tentu harus ada kejutan-kejutan lain. Teater Garasi memiliki peluang itu karena dikenal berani menerabas wilayah teater, tari, dan musik. Dan penonton bisa melihat perbedaan karya ”baru” dari yang sebelumnya.

Dengan unsur bunga-bunga, set kini terasa lebih manis dan mengasosiasikan suatu interior. Segera yang tertangkap, yang ingin ditampilkan, adalah ”kekacauan” tubuh yang muncul dari kehampaan rumah tangga. Sebuah tubuh yang mengalami anomali dari saat makan sampai bersetubuh.

Duet Jamaludin Latif dan Sri Qadariatin mengalir. Gerak-gerak mereka ditimba dari gerak sehari-hari pencak silat, jathilan, atau butoh, yang pernah mereka pelajari dari master butoh Jepang, Yukio Waguri. Gairah maupun konflik antarmereka diinterupsi terus-menerus oleh Bernadetta. Seluruh adegan diiringi ramuan musik dari semacam instrumen elektrik, sayup-sayup musik ronggeng sampai respons gitar listrik yang dimainkan dari belakang.

Dengan gerak tingkah seperti anjing, Jamaludin Latif mendengus, terengah-engah melompat ke atas meja memperagakan adegan percumbuan. Patut dipuji keseimbangan tubuh aktor ini, tapi porsi ”percumbuan” ini terlalu besar. Mengapa tidak mengeksplorasi hal-hal lain yang bila digali akan lebih bisa menggigit, seperti adegan topeng itu? Tiba-tiba, Sri Qadariatin mengenakan topeng Panji putih bersepuh keperakan. Dan mereka duduk bersitatap berdua di meja sembari diiringi Rain Song, lagunya Led Zeppelin. Berdua, dengan gerak lambat, mata mereka saling tatap dingin, dan sendiri-sendiri menyuapkan makanan ke mulut. Terasa di sini situasi keretakan itu.

Empat puluh lima menit tidak terasa melelahkan. Antara diam dan ketegangan cukup rapi. Namun, karena sedemikian asyiknya mengelola adegan konflik eros itu, Teater Garasi seolah lupa bahwa yang mengikat keseluruhan pertunjukan adalah hujan. Bahwa di luar hujan deras dan tiba-tiba di dalam kehampaan merongrong tubuh. Mematikan percintaan. Itu kesan utama yang seharusnya terasa ketika penonton pulang. Tapi itu tak membekas.

Seno Joko Suyono


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831075891



Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.