Luar Negeri 3/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Awan Gelap Menyungkup Ellen

Ellen Johnson-Sirleaf menang dalam pemilu Liberia. Dia akan menjadi presiden wanita pertama dari Benua Afrika. Para pendukung George Weah menolak hasil ini dan membikin rusuh.

i

Pemilu Liberia sudah usai. Hasil resmi belum diumumkan, namun hasil penghitungan suara sementara mencatat Ellen Johnson-Sirleaf unggul hampir 20 persen suara. Hasil ini membikin para pendukung George Weah—pesaing Johnson-Sirleaf—berdemo di jalanan Monrovia, ibu kota Liberia, selama tiga hari hingga Senin pekan lalu.

Seribu orang menyatroni kantor perwakilan PBB dan Kedutaan Besar Amerika Serikat sembari menguaruarkan amarahnya. Pecah bentrokan. Batu beterbangan ke arah pasukan perdamaian yang mengawal kantor PBB dan Kedutaan Amerika. Tiga orang cedera. Toh, rusuh itu tak membantu mendongkrak suara Weah. Perhitungan suara hingga Rabu pekan lalu mencatat Ellen Johnson-Sirleaf meraih 59,6 persen suara dan George Weah 40,4 persen suara.

Yang membikin kecewa pendukung Weah, pujaan mereka unggul jauh dari lawan-lawannya dalam putaran pertama pemilu: dia unggul 28,3 persen suara dari dua kandidat lain. Sirleaf ketika itu malah hanya mampu memetik 19,8 persen suara. Mereka lalu mengusung spanduk bertuliskan ”Tak ada Weah, tak ada perdamaian”. Ancaman pun mulai terlontar. ”Kami pernah dicurangi, tapi kali ini kami tak akan tinggal diam,” kata Worjlor Odee, salah seorang demonstran.


Dari markas Partai Kongres untuk Perubahan Demokratis (CDC)—ini partai pendukung Weah—muncul tuduhan telah terjadi kecurangan. Modusnya berupa perusakan kertas suara, intimidasi, dan gangguan yang merugikan Weah. ”Pemilu berlangsung dengan curang,” kata pemain sepak bola terbaik dunia 1995 itu dalam pernyataan tertulisnya. Weah melayangkan pengaduan resmi kepada Komisi Pemilu dan menuntut diadakan pemilihan ulang.

161830728254

Tuduhan Weah membuat gerah Ellen Johnson-Sirleaf, 67 tahun. Dia menahan diri, meski para pendukungnya mendesak agar kemenangan segera dirayakan. ”Mereka meminta saya menari di jalan,” ujarnya. Komisi Nasional Pemilu baru akan mengumumkan secara resmi pemenang pemilu setelah penyidikan terhadap tuduhan Weah selesai. Itu sebabnya, Johnson-Sirleaf merasa perlu menunda perayaan kemenangannya.

Jika dia dinyatakan sebagai pemenang pemilu, Johnson-Sirleaf memecahkan rekor sebagai perempuan pertama yang menjadi presiden di Afrika. Dan dia akan menghadapi kondisi yang berat. Negeri yang didirikan oleh bekas budak Amerika pada 1847 itu sejarahnya diwarnai dengan keributan pemilu dan pergolakan politik. Liberia sarat kudeta berdarah. Perang sipil mengoyaknya sejak 1980. Sekitar 200 ribu orang tewas dan jutaan warga sipil mengungsi.

Thomas Jaye, peneliti Liberia di Universitas Birmingham, Inggris, menyatakan Johnson-Sirleaf tak akan mudah memerintah Liberia. Janda empat anak itu akan berurusan dengan para bekas panglima perang dan 70 ribu bekas pejuang yang tak puas. Mereka ini adalah kelompok yang sudah biasa mengobral peluru dalam 14 tahun perang sipil. ”Ellen harus mengkhawatirkan mereka,” kata Jaye. Dia menambahkan, calon pemimpin Liberia ini perlu melaraskan upaya mengejar keadilan dan rekonsiliasi.

Sirleaf menyadari hal itu. Karena itu, ia akan meminta Weah bergabung dalam kabinetnya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga atau duta besar. Ia pun akan membujuk para bekas pemimpin milisi agar tidak lagi mengangkat senjata. ”Saya akan mencoba meyakinkan bahwa saya tak memusuhi mereka,” kata bekas Menteri Keuangan itu. Bagi mereka yang punya kualifikasi, pengalaman, dan pendidikan, ia menawarkan beberapa kursi di pemerintahannya.

Beban lain yang harus ditanggung calon presiden ini adalah ekonomi yang berdarah-darah. Dengan pengangguran 80 persen dan utang luar negeri US$ 3,5 miliar (Rp 35 triliun), Liberia hanya punya anggaran belanja US$ 80 juta (Rp 800 miliar) per tahun. Johnson-Sirleaf akan mengupayakan keringanan dengan meminta negara-negara donor dan organisasi moneter menunda jadwal pembayaran utang Liberia.

Berbagai tantangan itu akan menanti wanita ini di kursi presiden. Mengutip kata-kata Thomas Jaye: ”Ellen akan melangkah ke kantor kepresidenan di bawah awan gelap.”

Raihul Fadjri (Washington Post, CS Monitor, AFP)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830728254



Luar Negeri 3/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.