Luar Negeri 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kontroversi Baru Dick Cheney

Dokumen pertemuan rahasia Wakil Presiden Amerika Serikat Dick Cheney dengan sejumlah perusahaan energi beredar di Washington. Pemerintahan Bush kian tersudut.

i

Kisruh ini datang dari empat tahun lampau. April 2001, aktivis lingkungan Amerika Serikat habis-habisan menghujat Wakil Presiden Dick Cheney. Pasalnya, kebijakan energi besutan Pak Cheney begitu telanjang memihak pengusaha. Aneka tuduhan bertaburan di media massa. Gugus Tugas, penyusun kebijakan energi yang dikendalikan secara penuh oleh Wakil Presiden disebut-sebut bersekongkol dengan sejumlah perusahaan raksasa di bidang energi. Para petinggi perusahaan itu berkali-kali keluar-masuk Gedung Putih. Dick Cheney membantah keras semua tudingan. Dia menyebutnya berita bohong.

Pekan lalu, berita bohong itu menikam jantung kekuasaan sang Wakil Presiden. Sebuah dokumen berisi detail pertemuan itu dimuat oleh The Washington Post, sebuah koran besar di negeri itu. Dari dokumen ini diketahui bahwa pertemuan itu benar terjadi. Pada 14 Februari 2001 sejumlah petinggi Exxon Mobil menghadap tim Gugus Tugas secara khusus.

Sebulan kemudian, pada 21 Maret, giliran raksasa Conoco Phillips yang diundang ke Gedung Putih. Dua perusahaan lain yang diajak dalam pertemuan lanjutan sebulan kemudian adalah British Petroleum dan Shell. Bukti kuat soal pertemuan itu tak cuma datang dari dokumen. Bekas Manajer Conoco, Allan Huffman, memberi kesaksian bahwa kumpul-kumpul para bos perusahaan energi di Gedung Putih itu benar adanya. Huffman mencontohkan, pertemuan dengan Conoco berlangsung di Executive Office Building, Gedung Putih.


Dokumen dan kesaksian itu mendadak sontak melambungkan suhu politik Washington sepanjang dua pekan terakhir. Politisi Demokrat dan Republik saling hujat di media massa. Kaum Demokrat, yang dalam pemilu lalu dikalahkan Republik, mendesak agar kasus ini diusut tuntas. Senator Frank Lautenberg dari Partai Demokrat meminta Departemen Kehakiman memprioritaskan penyelidikan kasus ini. Tuntutan serupa diserukan oleh anggota Kongres lainnya.

161830683635

Untuk sementara, kaum Republik terpojok. Maklum, semua perusahaan yang terkait kasus ini adalah kasir tetap Partai Republik dalam setiap kampanye pemilihan presiden. Kuat diduga, kebijakan yang pro kepada pengusaha itu sengaja dibikin sebagai politik balas budi, dan Dick Cheney dituding sebagai dalang politik balas budi. Dia menjadi bulan-bulanan media massa.

Sesungguhnya bukan kali ini saja Dick Cheney terbenam di pusaran kontroversi. Sejak bertakhta di Gedung Putih, pria berusia 64 tahun ini kerap dihujat aktivis lingkungan dan kaum oposisi. Bekas petinggi Halliburton—sebuah raksasa energi dan konstruksi—itu dituding lebih sering mewakili kepentingan pengusaha ketimbang rakyat Amerika. Cheney juga dituding memerintah dengan gaya saudagar. Proyek jumbo diberikan ke kolega pengusahanya, bahkan ada yang sonder tender.

Maret 2003, misalnya, Kellogg Brown and Root, anak perusahaan Halliburton, ditimpa rejeki nomplok. Tanpa tender, perusahaan ini mendapat proyek memadamkan api pada sejumlah kilang minyak di Irak. Dua perusahaan lain mendapat proyek pembangunan Pelabuhan Umm Qasr, juga tanpa tender. Konon, semua ini berkat jasa Dick Cheney.

Gerah dengan hujatan media massa, Badan Pembangunan Amerika Serikat (USAID) menendang Halliburton dari daftar perusahaan yang mendapat proyek membangun Irak. Walau terdepak, sejumlah perusahaan yang mendapat kue pembangunan kembali Irak tak jauh-jauh dari kolega Bush dan Cheney juga.

Sepak terjang Dick Cheney juga nyaris membuat Gedung Putih menjadi terdakwa di pengadilan. Para penggugat tak lain dan tak bukan adalah anggota Kongres dari Demokrat. Gugatan bermula dari beberapa pertemuan antara petinggi Enron—suatu korporasi raksasa bidang energi yang bangkrut pada akhir 2001—dengan tim Gugus Tugas pimpinan Dick Cheney pada awal 2001.

Anggota Kongres menuding bahwa Enron, yang ikut menyumbang dana kampanye Partai Republik, turut menentukan kebijakan energi Amerika Serikat. Kebijakan yang disebut-sebut kena pengaruh Enron antara lain masalah lingkungan hidup, ratifikasi Protokol Kyoto, dan perjanjian internasional untuk mengurangi gas emisi. Anggota Kongres mendesak Gedung Putih membuka dokumen hasil pertemuan-pertemuan itu.

Selain kepada pemerintah, Enron juga royal kepada orang-orang dekat Dick Cheney. Perusahaan ini, misalnya, selama bertahun-tahun mengucurkan dana kepada lembaga penelitian milik Lynne Cheney, istri sang Wakil Presiden. Dick Cheney membantah tuduhan tak sedap itu: ”Enron tak pernah mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah.” Belakangan, Enron jatuh bangkrut karena dililit utang.

Selain di bidang ekonomi, sepak terjang Dick Cheney di bidang politik dan keamanan juga kerap membikin suhu politik Washington panas dingin. Beberapa pensiunan perwira intelijen Amerika Serikat pernah mendesak Presiden Bush memecat Dick Cheney. Alasannya? Cheney dituduh sebagai otak di balik serbuan terhadap Irak pada 2003.

Tuduhan itu bermula dari dugaan bahwa Irak membeli uranium dari sebuah negeri di Afrika untuk mengembangkan senjata nuklir. Belakangan diketahui bahwa negara yang dimaksud adalah Niger, negeri yang 65 persen pendapatannya berasal dari tambang bahan pembuat nuklir. Seorang diplomat senior bernama Joseph Wilson, mantan duta besar Amerika Serikat di Gabon, dikirim ke Niger untuk menelisik benar-tidaknya dugaan itu.

Wilson pulang dengan kabar gembira bahwa isu jual-beli uranium itu bohong belaka. Entah kenapa dalam pidato di depan Kongres sebelum menyerbu ke Irak, Presiden Bush dengan lantang menguar-uarkan bahwa jual-beli uranium itu benar terjadi. Artinya, Irak jelas-jelas adalah negara yang berbahaya dan pantas diserbu. Inilah alasan Kongres merestui perang terhadap Saddam Hussein. Padahal, menurut para pensiunan intelijen tadi, Central Information Agency (CIA) sendiri tidak percaya dengan isu jual-beli uranium itu. Lalu bagaimana Presiden bisa percaya? Tak jelas, memang.

Sampai kemudian muncullah berita di koran The New York Times mengenai kasus ini. Judith Miller, wartawan media itu, mewawancarai sejumlah pejabat Gedung Putih. Dari si pejabat itu muncul nama Valerie Plame, seorang agen CIA yang disebut-sebut memasok informasi soal uranium itu ke Gedung Putih.

Namun, sumber berita di Gedung Putih itu tak mau namanya ditulis. Artinya, tanggung jawab informasi sepenuhnya di pundak Miller. Wartawan ini kemudian ditahan karena membocorkan nama agen CIA melanggar Undang-Undang Federal. Belakangan, si sumber yang tak tega melihat Miller dibui, bersedia membuka jati dirinya.

Publik Amerika pun heboh karena ternyata pembocor informasi adalah Lewis Libby, Kepala Staf Wakil Presiden. Wawancara Miller dan Libby dilakukan melalui sambungan telepon pada Juli 2003. Sejumlah perwira intelijen menuduh Dick Cheney di balik skandal ini. Kabar sumir soal pembelian uranium, kata para perwira itu, menyusup ke pidato resmi Presiden Bush atas desakan Dick Cheney.

Belum lagi jelas posisi Dick Cheney dalam kasus ini, dokumen tentang pertemuan dengan sejumlah perusahaan energi yang dilansir The Washington Post datang mengurung. Hingga akhir pekan lalu, sang Wakil Presiden belum menjawab perihal benar-tidaknya dokumen itu. Lea Anne McBride, juru bicara Dick Cheney, yang biasanya royal bicara, mengambil langkah setali tiga uang: dia menolak menjawab tudingan baru media massa terhadap junjungannya.

Wenseslaus Manggut (Washington Post, AFP/whitehouse.org)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830683635



Luar Negeri 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.