Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Wewangian yang Menyehatkan

Terapi dengan aroma diminati tukang sayur hingga kalangan gedongan. Pengobatan natural ini juga berkembang di negara maju.

i

Semerbak wewangian meruap di ruang kerja Subyanto Anggadibrata, 43 tahun, praktisi aromaterapi Bel’Air, perusahaan asal Paris, Prancis. Di ruangan seluas sekitar 9 meter persegi itulah, ia terlihat serius mendeteksi kemungkinan adanya gangguan fungsi organ tubuh kliennya, A. Kristanto, 36 tahun. Alat bantu yang digunakan berupa Electrodermal Screening Device (EDSD), temuan Dr Reinhold Voll, asal Jerman.

Subyanto menyebut alatnya sebagai bioenergy test, dan penggunaannya dengan menekan titik meridian di ujung jari-jari tangan dan kaki klien. Titik-titik itu menunjuk sejumlah organ penting seperti limpa, paru-paru, usus besar, hati, ginjal, dan empedu. Penekanan dilakukan dengan sebilah tembaga yang dihubungkan dengan kabel ke alat utama. Hasilnya bisa dilihat lewat jarum penunjuk yang mengarah ke angka tertentu—laiknya voltmeter: 20, 30, 40, dan seterusnya.

”Jantung dan paru-paru bagus, tapi ginjal Anda lemah,” kata Subyanto, sembari menunjuk arah jarum ke angka 30. Organ lain yang lemah adalah empedu, limpa, dan kemih. Sebagai patokan, energi organ normal akan menunjuk angka 45-55. Kristanto pun mengangguk-angguk, dan mengakui kebiasaannya yang kurang banyak minum air putih.


Setelah hasil didapat, Subyanto meletakkan tiga tabung kaca berisi minyak aromaterapi ke dalam alas kaca berbentuk bulat yang dihubungkan ke alat tes. Sesudah dilakukan pendeteksian ulang, ketiga cairan itu mampu mendongkrak energi organ-organ tubuh Kristanto yang lemah mendekati normal. Jika hendak memakai aromaterapi alias terapi dengan aroma, ”Saya sarankan memakai fleur de lotus, green apple, dan green bamboo,” kata Subyanto, menunjuk nama tiga jenis minyak yang ditaruh di alas kaca. Kristanto kembali mengangguk, meski belum mengambil keputusan.

161831365093

Dalam daftar produk Bel’Air, minyak esensial dari tanaman lotus bermanfaat untuk mengurangi panas dalam, meningkatkan fungsi limpa dan ginjal. Adapun green apple untuk menguatkan sistem pencernaan, mengatasi melemahnya kandung empedu. Terapi ala perusahaan ini dilakukan dengan metode penguapan dari botol penguap yang sebelumnya sudah dipanaskan. Untuk terapi, harga botol paling murah Rp 750 ribu, plus minyak esensial yang 10 mililiternya dijual khusus untuk anggota sekitar Rp 300 ribu. Jenis dan banyaknya minyak, juga waktu terapi, tergantung tingkat gangguan kesehatan si klien.

Di luar Bel’Air, layanan aromaterapi jenis lain menjamur di berbagai kota besar. Manistri Tambunan, 37 tahun, misalnya, sempat membuka Anise Aromatik di kawasan Kemang, Jakarta. Manfaat yang ditawarkan juga bejibun, seperti membantu penyembuhan asma, bronkitis, radang tenggorokan, alergi, sinus, dan sebagainya. Kini ibu dua anak itu tengah menyiapkan gerai untuk menjual lebih dari 80 macam ramuan minyak aromaterapi racikannya.

Salah satu klien Manistri adalah Nyonya Nurwati, guru sebuah SMA di Jakarta. Sejak satu setengah tahun lalu, ia memanfaatkan aromaterapi untuk anaknya, Nail, kini 11 tahun, yang mengidap asma. Alternatif ini dipilih setelah bolak-balik ke dokter tapi kondisi anaknya tak jua membaik. Beruntung, setelah menjalani aromaterapi sekitar satu bulan, asma Nail sembuh. ”Saya tahu aroma-terapi Mbak Anis (panggilan akrab Manistri) dari acara televisi,” katanya, semringah.

Khasiat terapi ala Anis juga dirasakan Urchie Kusumahardiyanti, 32 tahun, yang mengaku sangat terbantu dari deraan bronkitis yang dideritanya. Pengusaha properti ini mengenal aroma-terapi pada akhir 1994, saat kuliah di Brisbane, Australia. Di Negeri Kanguru, aromaterapi dengan minyak esensial mint dan eucalyptus dijalani hingga kembali ke Indonesia pada 1998. Sempat berhenti dan bingung mencari terapi serupa, ibu dua anak ini mengaku beruntung bisa ketemu Anis.

Meski kesehatannya sudah membaik, keluarga Nur dan Urchie tetap memakai aromaterapi buatan Anis hingga kini, baik berbentuk minyak untuk dihirup uapnya maupun krem untuk dioleskan. Alasannya, untuk jaga-jaga jika suatu saat penyakitnya kambuh. Keduanya tak mau berpaling ke produk lain karena percaya pada keasliannya, di luar harganya yang relatif terjangkau. Sebotol ukuran 75 mililiter untuk penggunaan berbulan-bulan terkadang cuma ditebus Rp 100 ribu, meski ada juga yang harganya di atas itu. Harga tersebut masih bisa dikurangi jika calon konsumennya memang kalangan kurang berada. Pernah terjadi, seorang tukang sayur datang ke Anis dan minta keringanan harga. Akhirnya, ia cukup membayar separuh harga. Lumayan!

Soal kemurnian produk, Anis dan Subyanto mengakui di pasaran memang banyak beredar produk aromaterapi yang kemurniannya diragukan. Tak sedikit di antara produk itu yang campuran airnya sangat dominan. ”Dari aromanya, saya bisa membedakan minyak itu murni atau tidak,” kata Anis. Dengan komposisi itu, wajar jika manfaat pengobatannya dipertanyakan.

Era modern aromaterapi dimulai pada 1930, saat ahli kimia Prancis, Rene Maurice Gattefosse, mengenalkan istilah aromaterapi untuk menyebut terapi dengan menggunakan minyak esensial. Awalnya, ia terpesona dengan khasiat minyak lavender yang mengobati tangannya yang terbakar tanpa meninggalkan bekas luka. Dari situ, Rene mulai meneliti efek minyak esensial yang lain untuk pengobatan.

Pada saat Perang Dunia II, dokter bedah tentara asal Prancis, Jean Valnet, menggunakan minyak esensial untuk antiseptik. Selanjutnya, Madame Marquerite Mauri, juga dari Prancis, mengangkat derajat aromaterapi sebagai salah satu terapi holistik. Dia mulai meresepkan minyak esensial untuk para pasiennya.

Sebetulnya terapi wewangian sudah dikenal lebih dari 6.000 tahun lalu. Orang Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno telah menggunakan minyak aromaterapi. Bahkan Hippocrates, yang sekarang disebut ”Bapak Kedokteran Modern”, pada 2.500 tahun yang lalu pernah menulis soal manfaat mandi dan pijat dengan wangi-wangian.

Aromaterapi ditujukan untuk memperkuat proses penyembuhan diri dengan metode pencegahan, yang secara tidak langsung menstimulasi sistem kekebalan tubuh. Para aromaterapis percaya, wewangian yang dihirup bakal sampai ke sistem limbik, bagian dari otak yang mengontrol suasana hati, emosi, dan memori seseorang. Dari sinilah, proses penyembuhan bermula.

Mereka juga meyakini, minyak esensial mengandung komponen kimia yang memiliki efek khusus bagi jiwa dan tubuh. Misalnya, aldehydes bisa dipakai sebagai antiradang atau antivirus; alcohols sebagai stimulan, antivirus, diuretik, pembunuh bakteri; dan esters untuk antiradang serta pembunuh jamur. Manfaat komponen kimia ini bisa dipetik untuk pengobatan dengan cara dihirup atau diserap organ tubuh lewat olesan ke kulit.

Kini metode pengobatan alternatif atau natural—termasuk aromaterapi—cukup berkembang, bahkan di negara maju. Di Prancis, sekadar contoh, 49 persen pasien menggunakan pengobatan natural. Sedangkan di Taiwan, 90 persen pasien memanfaatkan terapi konvensional yang digabung dengan pengobatan tradisional atau alternatif Cina. ”Di Australia, 70 persen warganya juga kembali ke pengobatan natural,” kata Anis, yang pernah belajar tentang aromaterapi di Melbourne College Natural Medicine, Australia.

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Sampurno, tak menutup mata dengan berkembangnya pengobatan aromaterapi, juga terapi alternatif lain seperti akupunktur atau pengobatan herbal ala Cina. Bahkan ia menyebut, aromaterapi juga berkembang di Jerman. Cuma, satu hal yang perlu diingatkan bagi konsumen, ”Aroma-terapi belum ada uji klinisnya,” kata Sampurno.

Itu sebabnya para ahli aromaterapi biasa menyebut khasiat penyembuhan metode ini didapat dari pengetahuan tradisional dan masa kini, serta pengalaman para penggunanya. ”Bagaimanapun, informasi (penyembuhan) ini tidak untuk diandalkan sedemikian rupa sebagai pengganti konsultasi dan diagnosis medis yang pantas. Disarankan untuk selalu meminta nasihat dari para ahlinya untuk segala kondisi kesehatan,” tulis Bel’Air dalam lembaran daftar produknya.

Health Assessment Form milik Kristanto dari Subyanto juga berisi hal senada, ”Informasi ini tidak bertujuan sebagai diagnosis, tindakan, ataupun pengobatan terhadap penyakit. Semua terapi serta saran yang diberikan berdasarkan prinsip penyembuhan natural/alami.”

Dwi Wiyana


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831365093



Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.