Nasional 3/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengganti Tunai dengan Sapi

Sejumlah daerah ramai-ramai menolak menyalurkan bantuan langsung tunai tahap kedua. Mereka mengalami trauma akibat kericuhan sebelumnya.

i

Yahya, Kepala Desa Genteng, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tengah ketar-ketir menunggu datangnya tahun 2006. Pada Januari tahun baru nanti, tugas berat menghadangnya. Tugas itu adalah menyalurkan bantuan langsung tunai tahap kedua subsidi bahan bakar minyak kepada yang berhak. Yahya masih ingat, pada penyaluran tahap pertama November lalu sejumlah warganya murka dan merusak kantor balai desa. ”Mereka cemburu karena tak kebagian subsidi,” kata Yahya.

Saat itu memang sebagian warganya tak menerima kartu kompensasi bahan bakar minyak (BBM). Yahya mengakui, dari sekitar 800 keluarga miskin, hanya separuhnya yang beruntung menerima kartu. Maka, meluaplah amarah mereka yang tak menerima karena merasa haknya dilangkahi. Kantor desa pun jadi sasaran amukan. Akibatnya, sejumlah pintu kaca berantakan dihantam lemparan batu.

Jika mengingat hal itu, wajar saja kepala Yahya langsung pening. Ternyata tak hanya Yahya seorang yang mengidap kecemasan serupa. Hampir semua aparat desa di Provinsi Jawa Barat kini dilanda ”sindrom cemas” itu. Kawasan ini memang tercatat paling rawan masalah dalam penyaluran subsidi BBM. Pada penyaluran tahap pertama dulu, sejumlah balai desa di Kabupaten Bandung remuk jadi sasaran amarah massa.


Tidak ingin kericuhan terulang, kini muncullah benih-benih gerakan ”menentang” penyaluran subsidi. Langkah konkret sudah dilakukan. Bupati Kabupaten Majalengka, Tutty Hayati Anwar, sudah mengirim surat kepada Gubernur Jawa Barat dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. ”Saya minta penyaluran subsidi tahap kedua ditinjau ulang,” kata Tutty kepada Tempo, pekan lalu.

161830959758

Langkah itu diikuti para kepala desa se-Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pekan lalu mereka menyatakan penolakannya jika bantuan tetap diwujudkan dalam bentuk uang. ”Repot. Kita yang jadi sasaran amarah warga,” kata Abdus Salam, Ketua Forum Komunikasi Kepala Desa se-Kabupaten Banyuwangi.

Salah satu desa di kawasan Banyuwangi yang pernah dilanda kericuhan, antara lain, Desa Gontoran, Kecamatan Glagah. Saat itu Supandi, sang kepala desa, didamprat habis oleh warganya karena dinilai tidak adil. Maklum, dari 600 keluarga miskin yang diajukan oleh desa ke BPS untuk mendapat bantuan, hanya separuhnya yang di-acc. ”Itu pun ada 20 penerima yang salah sasaran,” keluh Supandi.

Menuai sederet keberatan dari aparat terbawah itu, pemerintah pusat tetap berkukuh dengan programnya. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah menegaskan, pemerintah akan tetap menyalurkan program subsidi sampai selesai. ”Ini program yang sudah diputuskan, jadi harus dijalankan,” katanya. Agar tak terjadi kekacauan, pemerintah telah meminta Polri mengawal petugas pendataan maupun penyaluran subsidi tahap kedua.

Dia mengakui kerja aparat Badan Pusat Statistik (BPS) dalam melakukan pendataan belum optimal. Di Banyuwangi, dalam penyaluran tahap pertama saja terdapat 2.526 kasus penerima kartu subsidi salah sasaran. Kini Bachtiar melihat kelengahan masih terjadi dengan bertambahnya 10,5 juta keluarga miskin di tahap kedua nanti. ”Pendataan oleh BPS tampaknya terburu-buru karena waktunya mepet,” kata Bachtiar. Hal-hal semacam ini, kalau tak segera diperbaiki, bakal menuai kericuhan lagi.

Di sisi lain Bachtiar pun tak menutup mata terhadap usul agar bantuan disalurkan dalam bentuk lain. Gubernur Jawa barat, Danny Setiawan, misalnya, mengusulkan agar bantuan diberikan berupa program pemberdayaan atau pemberian modal kesempatan kerja. ”Sejak awal saya sudah menduga akan terjadi kericuhan jika disalurkan tunai,” kata Danny.

Dari Karanganyar, Jawa Tengah, Bupati Ratna Iriani mengajukan alternatif serupa. Menurut dia, program pemberian modal bergulir akan lebih pas mengangkat posisi warga miskin ketimbang bantuan uang. Dia mencontohkan wilayahnya, yang pernah menyalurkan bantuan berupa mesin jahit atau ternak sapi. ”Sekarang mesin jahit dan sapinya terus bertambah,” kata Ratna, bangga.

Kini pilihan sudah disampaikan: apakah ingin sapinya yang bertambah, atau kericuhannya?

Zed Abidien, Ivansyah (Majalengka), Mahbub Junaidi (Jember), Imron Rosyid (Solo)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830959758



Nasional 3/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.